Rabu, 13 Januari 2010

KESULITAN BELAJAR membaca (DISLEKSIA)


Analisa Kasus
KESULITAN BELAJAR membaca (DISLEKSIA)
Oleh : Fitriyana Fauziah S.Psi

Abstrak

Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia dari semua makhluk hidup di dunia ini, cuma manusia yang dapat membaca. Membaca merupakan fungsi yang paling penting dalam hidup dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Anak-anak dapat membaca sebuah kata ketika usia mereka satu tahun, sebuah kalimat ketika berusia dua tahun, dan sebuah buku ketika berusia tiga tahun dan mereka menyukainya.

Istilah disleksia berasal dari bahasa Yunani, yakni dys yang berarti sulit dalam dan lex berasal dari legein, yang artinya berbicara. Jadi secara harfiah, disleksia berarti kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Kelainan ini disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan dan tertulis, atau kesulitan mengenal hubungan antara suara dan kata secara tertulis.

Gejalanya, anak memiliki kemampuan membaca di bawah kemampuan yang seharusnya dilihat dari tingkat inteligensia, usia dan pendidikannya. Hal ini dikarenakan keterbatasan otak mengolah dan memproses informasi tersebut. Disleksia merupakan kesalahan pada proses kognitif anak ketika menerima informasi saat membaca buku atau tulisan.

Jika pada anak normal kemampuan membaca sudah muncul sejak usia enam atau tujuh tahun, tidak demikian halnya dengan anak disleksia. Sampai usia 12 tahun kadang mereka masih belum lancar membaca. Kesulitan ini dapat terdeteksi ketika anak memasuki bangku sekolah dasar.

BAB I

PERMASALAHAN KASUS

a. Identifikasi Kasus

Proses menemukan klien diawali dengan adanya tugas studi kasus dan memilih tempat. Tempat yang dipilih adalah SD N Kota Lama V Kedung Kandang Malang. Dari situ konselor mengobservasi dan mengidentiikasi siswa-siswi yang bermasalah dalam belajarnya. Dari hasil observasi dan identifikasi yang dilakukan oleh konselor diketahui siswa-siswi yang menujukkan adanya masalah belajar yang sedang dihadapi klien dan menurut konselor masalah tersebut perlu segera diselesaikan. Dari masalah yang dimiliki klien, konselor meminta peneliti untuk mengangkat masalah yang dihadapi oleh klien untuk dijadikan stusi kasus.

b. Identifikasi subyek

§ Identitas klien

Nama klien : Manan (fiktif)

TTL : Malang, 02 November 1996

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Alamat : Jl. Muharto gang 7 RT:04/Rw:10 Kec. Kedung Kandang Kab. Malang.

Kelas : V (lima)

Anak ke : 3 dari 6 bersaudara

Hobi : Bersepeda

Cita-cita : Lulus perguruan tinggi dan Guru

§ Keterangan fisik

Tinggi badan : 124cm

Berat badan : 25 kg

Warna kulit : Sawo matang

Warna rambut : Hitam

Jenis rambut : Lurus

Bentuk muka : Lonjong

§ Identitas orang tua

Ayah

Nama : Malik (fiktif)

Alamat : Jl. Muharto gang 7 RT:04/Rw:10 Kec. Kedung Kandang Kab. Malang

Pekerjaan : Tukang becak

Agama : Islam

Pendidikan : SMP

Ibu

Nama : Siti (fiktif)

Alamat : Jl. Muharto gang 7 RT:04/Rw:10 Kec. Kedung Kandang Kab. Malang

Pekerjaan : Pemulung

Agama : Islam

Pendidikan : SD

§ Penampilan fisik

Klien memiliki postur tubuh yang tinggi, badan kurus dan agak tegap, warna kulit sawo matang, bentuk wajah lonjong, dalam berpakaian klien kurang rapi, nada bicaranya keras dan suka berteriak ketika bicara.

§ Penampilan psikis

Klien merupakan anak yang mudah untuk bersosialisasi oleh karena itu klien mempunyai banyak teman, saat dikelas klien terlihat sibuk bermain dengan alat tulis yang dimiliki, tidak mengindahkan perintah.

§ Keagamaan

Klien beragama Islam, klien kadang-kadang sholat, perhatian orangtua terhadap kegiatan keagaman klien kurang perhatian. Dirumah klien mengaji iqro satu minggu empat kali.

§ Lingkungan Sosial

Atap rumah klien terbuat dari genteng, rumah terbuat dari tembok, sedangkan lantainya keramik. Lingkungan sekitar klien penduduknya bekerja sebagai pemulung dan pedagang. Teman bermain klien adalah tetangganya silvi. Lingkungan banyak orang penggangguaran suka main kartu atau judi. Keluarga klien sering minum minuman keras.

§ Sekolah

Klien tidak pernah tidak naik kelas. Pelajaran yang disenangi adalah IPS sedangkan pelajaran yang tidak disukai adalah Matematika. Uang saku klien sehari-hari Rp.1.000,00. Jarak dari rumah ke sekolah dekat. Guru yang disenangi adalah Bu Ida sedangkan guru yang tidak disukai adalah Bu Suci

§ Kesehatan

Klien lahir secara normal. Proses kelahiran dibantu oleh bidan. Berat badan klien 25 kg sedangkan tinggi badan 124 cm. Pemenuhan kebutuhan MCK menggunakan air PDAM. Klien mengalami gangguan pada telingga dan rambut berkutu.

§ Potensi Dan Kemauan

Klien ingin bersekolah sampai lulus perguruan tinggi. Cita- cita klien adalah ingin menjadi seorang guru. Hobi klien adalah bersepeda.

§ Psikologi

Test Sikap:

1. Sikap kebersihan dan kerapian : 69

2. Sikap terhadap tanggung jawab sosial : 71

3. Sikap terhadap sopan santun : 62

4. Sikap terhadap tanggung jawab pribadi : 67

5. Sikap terhadap waktu dan kondisi : 63

Test IQ: 85 (dibawah rata-rata)

BAB II

METODE

Metode adalah alat yang digunakan dalam sutu penelitian. Ada banyak metode yang dapat digunakan dalam suatu penelitian, disini peneliti menggunakan dua metode, yaitu observasi dan wawancara.

a. Observasi adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan pengamatan yang bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu masalah sehingga diperoleh suatu pemahaman. Dalam observasi yang dilakukan oleh peneliti ditemukan berbagai tanda atau ciri-ciri yang tampak pada klien, yaitu:

§ Sulit konsentrasi dalam mengikuti mata pelajaran.

§ Sering membuat gaduh atau ramai dalam kelas.

§ Tidak mau melakukan tugas yang diberikan oleh guru.

§ Diam saat klien disuruh membaca dalam kelas.

b. Wawancara adalah sutu metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan dilampiaskan pada tujuan tertentu, (Hadi, 1993). Peneliti melakukan wawancara dengan guru, teman, dan orang tua. Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan berbagai pihak, dapat disimpulkan bahwa:

  • Klien sering membantah atau tidak mengerjakan perintah yang diberikan.
  • Pekerjaan rumah yang diberikan guru sering tidak dikerjakan, dengan alasan lupa.
  • Klien sangat suka diperhatikan.
  • Sering bertengkar dan membuat gaduh.
  • Tidak mau disuruh membaca, dan ketika membaca pasti gagap.
  • Memiliki masalah dalam mengingat.
  • Pengucapan kata dengan bantuan guru.

BAB III

KAJIAN TEORI

Ø Pengertian Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai dengan hambatan-hambatan tertentu, dalam mencapai tujuan belajar. Kondisi ini ditandai kesulitan dalam tugas-tugas akademik, baik disebabkan oleh problem-problem neurologis, maupun sebab-sebab psikologis lain, sehingga prestasi belajarnya rendah, tidak sesuai dengan potensi dan usaha yang dilakukan.

Kesulitan belajar pada dasarnya suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis manifiestasi tingkah laku (bio-psikososial) baik secara langsung atau tidak, bersifat permanen dan berpotensi menghambat berbagai tahap belajar siswa.

Tidak seperti cacat lainnya, sebagaimanan kelumpuhan atau kebutuaan gangguan belajar (learning disorder) adalah kekurangan yang tidak tampak secara lahiriah. Ketidakmampuan dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang normal lainnya. Kesulitan belajar adalah keterbelakangan yang mempengaruhi kemampuan individu untuk menafsirkan apa yang mereka lihat dan dengar. Kesulitan belaja juga merupakan ketidakmampuan dalam menghubungkan berbagai informasi yang berasal dari berbagai bagian otak mereka. Kelemahan ini akan tampak dalam beberapa hal, seperti kesulitan dalam berbicara dan menuliskan sesuatu, koordinasi, pengendalian diri atau perhatian. Kesulitan-kesulitan ini akan tampak ketika mereka melakukan kegiatan-kegiatan sekolah, dan menghambat proses belajar membaca, menulis, atau berhitung yang seharusnya mereka lakukan.

Kesulitan belajar dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Bebarapa kasus memperlihatkan bahwa kesulitan ini memengaruhi banyak bagian dalam kehidupan individu, baik itu di sekolah, pekerjaan, rutinitas sehari-hari, kehidupan keluarga, atau bahkan terkadang dalam hubungan persahabatan dan bermain. Beberapa penderita menyatakan bahwa kesulitan ini berpengaruh pada kebahagiaan mereka. Sementara itu, penderita lainnya menyatakan bahwa gangguan ini mengahambat proses belajar mereka, sehingga tentu saja pada gilirannya juga akan berdampak pada aspek lain dari kehidupan mereka.

Dari sejumlah pendapat di atas, kesulitan belajar mempunyai pengertian yang luas dan terjabarkan dalam istilah-istilah, seperti:

a) Learning Disorder (ketergantungan belajar), adalah keadaan di mana proses belajar siswa terganggu, karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya siswa, yang mengalami gangguan belajar seperti ini, prestasi belajarnya tidak terganggu, akan tetapi proses belajarnya yang terlambat, oleh adanya respon-respon yang bertentangan. Dengan demikian, hasil belajar yang dicapai akan lebih rendah dari potensi yang dimiliki.

b) Learning Disabelities (ketidakmampuan belajar), adalah ketidakmampuan seorang siswa, yang mengacu kepada gejala di mana siswa tidak mampu belajar (menghindari belajar), sehingga hasil belajarnya di bawah potensi intelektualnya.

c) Learning Disfunction (ketidak_fungsian belajar), adalah gejala di mana proses belajar tidak berfungsi dengan baik, meskipun pada dasarnya tidak ada tanda-tanda subnormalitas mental, gangguan alat dria atau gangguan-gangguan psikologis yang lainnya.

d) Under Achiever (pencapaian randah), yang mengacu kepada anak-anak atau siswa yang memiliki tingkat potensi intelektual di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Terbukti, pada hasil belajar (sekolah) yang buruk.

e) Slow Learner (lambat belajar), adalah siswa yang lambat dalam proses balajarnya, sehingga membutuhkan waktu lebih lama, dibandingkan dengan anak-anak yang lain memilih taraf potensial intelektual yang sama.

Ø Strata Jenis Kesulitan Belajar

Mengenali kesulitan belajar jelas berbeda dengan mendiagnosis penyakit cacar air atau campak. Cacat air dan campak tergolong penyakit dengan gejala yang dapat dikenali dengan mudah. Berbeda dengan kesulitan belajar (learning disorder) yang sangat rumit dan meliputi begitu banyak kemungkinan penyebab, gejala-gejala, perawatan, serta penanganan. Kesulitan belajar yang memiliki beragam gejala ini, sangatlah sulit untuk didiagnosis dan dicari penyebab secara pasti. Hingga saat ini belum ditemukan obat atau perawatan yang sanggup menyembuhkan mereka sepenuhnya.

Faktor hereditas (genetik) dan lingkungan (environmental) siswa, sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajarnya. Artinya, potensi intelligensi, bakat, minat, motivasi, kurikulum, kualitas dan model pembelajaran guru, turut memberikan andil bagi keberhasilan anak didiknya di sekolah.

Ø Macam-macam Kesulitan Belajar Siswa

Tidak semua kesulitan dalam proses belajar dapat disebut learning disorder. Sebagian anak atau siswa mungkin hanya mengalami kesulitan dalam mengembangkan bakatnya. Kadang-kadang, seseorang memperlihatkan ketidak wajaran dalam perkembangan alaminya, sehingga tampak seperti penderita berkesulitan belajar, namun ternyata hanyalah keterlambatan dalam proses pendewasaan diri saja. Sebenarnya, para ahli telah menentukan kriteria-kriteria pasti dimana seseorang dapat dinyatakan sebagai penderita kesulitan belajar.

Kriteria yang harus dipenuhi sebelum seseorang dinyatakan menderita kesulitan belajar, tertuang dalam sebuah buku petunjuk yang berjudul DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder). Diagnosis yang didasarkan pada DSM umumnya dilakukan ketika individu mengajukan perlindungan asuransi kesehatan dan layanan perawatan. Wood (2005), menyebutkan kesulitan belajar dapat dibagi menjadi tiga kategori besar, diantaranya:

a. Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa

b. Permasalahan dalam hal kemampuan akademik

c. Kesulitan lainnya, yang mencakup kesulitan dalam mengordinasi gerakan anggota tubuh serta permasalahan belajar yang belum dicakup oleh kedua kategori di atas.

Masing-masing kategori itu mencakup pula kesulitan-kesulitan lainnya yang lebih spesifik, dan pada makalah ini akan dipaparkan tentang kesulitan belajar membaca (disleksia).

Ø Pengertian disleksia

Istilah disleksia berasal dari bahasa Yunani, yakni dys yang berarti sulit dalam dan lex berasal dari legein, yang artinya berbicara. Jadi secara harfiah, disleksia berarti kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Kelainan ini disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan dan tertulis, atau kesulitan mengenal hubungan antara suara dan kata secara tertulis.

Bryan & Bryan (dalam Abdurrahman, 1999: 204), menyebut disleksia sebagai suatu sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, mengintegrasikan komponen-komponen kata dan kalimat dan dalam belajar segala sesuatau yang berkenaan dengan waktu, arah dan masa. Sedangkan, menurut Lerner seperti di kutip oleh Mercer (1979: 200), mendefinisikan kesulitan belajar membaca sangat bervariasi, tetapi semuanya menunjuk pada adanya gangguan fungsi otak.

Pada kenyataannya, kesulitan membaca dialami oleh 2-8% anak sekolah dasar. Sebuah kondisi, dimana ketika anak atau siswa tidak lancar atau ragu-ragu dalam membaca; membaca tanpa irama (monoton), sulit mengeja, kekeliruan mengenal kata; penghilangan, penyisipan, pembalikan, salah ucap, pengubahan tempat, dan membaca tersentak-sentak, kesulitan memahami; tema paragraf atau cerita, banyak keliru menjawab pertanyaan yang terkait dengan bacaan; serta pola membaca yang tidak wajar pada anak.

Ø Karakteristik disleksia

Ada empat kelompok karakteristik kesulitan belajar membaca, yaitu kebiasaan membaca, kekeliruan mengenal kata, kekeliruan pemahaman, dan gejala-gejala serba aneka, (Mercer, 1983) .

Dalam kebiasaan membaca anak yang mengalami kesulitan belajr membaca sering tampak hal-hal yang tidak wajar, sering menampakkan ketegangannya seperti mengernyitkan kening, gelisah, irama suara meninggi, atau menggigit bibir. Mereka juga merasakan perasaan yang tidak aman dalam dirinya yang ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau melawan guru. Pada saat mereka membaca sering kali kehilangan jejak sehingga sering terjadi pengulangan atau ada barisyang terlompat tidak terbaca.

Dalam kekeliruan mengenal kata ini memcakup penghilangan, penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap, perubahan tempat, tidak mengenal kata, dan tersentak-sentak ketika membaca.

Kekeliruan memahami bacaan tampak pada banyaknya kekeliruan dalam menjawab pertanyaan yang terkait dengan bacaan, tidak mampu mengurutkan cerita yang dibaca, dan tidak mampu memahami tema bacaan yang telah dibaca. Gejala serb aneka tampak seperti membaca kata demi kata, membaca dengan penuh ketegangan, dan membaca dengan penekanan yang tidak tepat.

Ø Gejala

Gejala disleksia, anak memiliki kemampuan membaca di bawah kemampuan yang seharusnya dilihat dari tingkat inteligensia, usia dan pendidikannya. Hal ini dikarenakan keterbatasan otak mengolah dan memproses informasi tersebut. Disleksia merupakan kesalahan pada proses kognitif anak ketika menerima informasi saat membaca buku atau tulisan.

Jika pada anak normal kemampuan membaca sudah muncul sejak usia enam atau tujuh tahun, tidak demikian halnya dengan anak disleksia. Sampai usia 12 tahun kadang mereka masih belum lancar membaca. Kesulitan ini dapat terdeteksi ketika anak memasuki bangku sekolah dasar.

Ciri-ciri disleksia:

§ Sulit mengeja dengan benar. Satu kata bisa berulangkali diucapkan dengan bermacam ucapan.

§ Sulit mengeja kata atau suku kata yang bentuknya serupa, misal: b-d, u-n, atau m-n.

§ Ketika membaca anak sering salah melanjutkan ke paragraph berikutnya atau tidak berurutan.

§ Kesulitan mengurutkan huruf-huruf dalam kata.

§ Kesalahan mengeja yang dilakukan terus-menerus. Misalnya kata pelajaran diucapkan menjadi perjalanan.

Banyak faktor yang menjadi penyebab disleksia antara lain genetis, problem pendengaran sejak bayi yang tidak terdeteksi sehingga mengganggu kemampuan bahasanya, dan faktor kombinasi keduanya. Namun, disleksia bukanlah kelainan yang tidak dapat disembuhkan. Hal paling penting adalah anak disleksia harus memiliki metode belajar yang sesuai. Karena pada dasarnya setiap orang memiliki metode yang berbeda-beda, begitupun anak disleksia.

Ø Apa yang dapat dilakukan

  • Adanya komunikasi dan pemahaman yang sama mengenai anak disleksia antara orang tua dan guru
  • Anak duduk di barisan paling depan di kelas
  • Guru senantiasa mengawasi / mendampingi saat anak diberikan tugas, misalnya guru meminta dibuka halaman 15, pastikan anak tidak tertukar dengan membuka halaman lain, misalnya halaman 50
  • Guru dapat memberikan toleransi pada anak disleksia saat menyalin soal di papan tulis sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk menyiapkan latihan (guru dapat memberikan soal dalam bentuk tertulis di kertas)
  • Anak disleksia yang sudah menunjukkkan usaha keras untuk berlatih dan belajar harus diberikan penghargaan yang sesuai dan proses belajarnya perlu diseling dengan waktu istirahat yang cukup.
  • Melatih anak menulis sambung sambil memperhatikan cara anak duduk dan memegang pensilnya. Tulisan sambung memudahkan murid membedakan antara huruf yang hampir sama. Murid harus diperlihatkan terlebih dahulu cara menulis huruf sambung karena kemahiran tersebut tidak dapat diperoleh begitu saja. Pembentukan huruf yang betul sangatlah penting dan murid harus dilatih menulis huruf-huruf yang hampir sama berulang kali. Misalnya huruf-huruf dengan bentuk bulat:g, c, o, d, a, s, q, bentuk zig zag:k, v, x, z, bentuk linear:j, t, l, u, bentuk hampir serupa:r, n, m, h.
  • Guru dan orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda ketika belajar matematika dengan anak disleksia, kebanyakan mereka lebih senang menggunakan sistem belajar yang praktikal.
  • Aspek emosi. Anak disleksia dapat menjadi sangat sensitif, terutama jika mereka merasa bahwa mereka berbeda dibanding teman-temannya dan mendapat perlakukan yang berbeda dari gurunya. Lebih buruk lagi jika prestasi akademis mereka menjadi demikian buruk akibat perbedaan yang dimilikinya tersebut. Kondisi ini akan membawa anak menjadi individu dengan self-esteem yang rendah dan tidak percaya diri. Dan jika hal ini tidak segera diatasi akan terus bertambah parah dan menyulitkan proses terapi selanjutnya. Orang tua dan guru seyogyanya adalah orang-orang terdekat yang dapat membangkitkan semangatnya, memberikan motivasi dan mendukung setiap langkah usaha yang diperlihatkan anak disleksia. Jangan sekali-sekali membandingkan anak disleksia dengan temannya, atau dengan saudaranya yang tidak disleksia.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Disleksia adalah kesulitan belajar, khususnya membaca, yang dialami oleh anak yang bukan disebabkan oleh kecacatan tertentu. Anak yang mengalami disleksia ini biasanya memiliki kecerdasan rata-rata. Mereka mengalami kesulitan membaca bukan karena penglihatan atau pendengaran mereka terganggu. Namun, terjadinya kesulitan membaca ini disebabkan oleh adanya gangguan pada otak.

Tidak sedikit diantara anak-anak kita mengalami disleksia yang ditandai diantaranya dengan lambatnya belajar membaca karena kesulitan membedakan huruf-huruf tertentu. Kasus disleksia sebenarnya banyak terjadi di seluruh dunia. Namun belum ada laporan jumlah yang kongkrit. Dalam kasus yang sangat berat disleksia bisa terbawa hingga usia dewasa.

Dari beberapa informasi tentang disleksia ditemukan bahwa kebanyakan anak diketahui mengalami disleksian agak terlambat, biasanya dikarenakan baru belajar membaca di usia lebih dari 6 tahun. Akibatnya, orang tua agak terlambat menyadari dan baru datang pada kami di akhir semester 2 (kelas 1 SD) menjelang kenaikan kelas atau setelah diultimatum oleh guru kelasnya bahwa apabila di akhir tahun pelajaran anaknya belum dapat membaca dengan lancar maka anak tersebut terpaksa tidak naik kelas.

Ternyata benar apa yang ditemukan oleh Glenn Doman dari penelitiannya selama berpuluh-puluh tahun di 100 negara di 5 benua bahwa seorang anak akan belajar membaca lebih cepat apabila mereka belajar di usia yang lebih muda (How to Teach Your Baby to Read; 1987). Hanya memang mengajar anak yang lebih muda memerlukan kesabaran ekstra, selain pengetahuan kependidikan yang cukup.

Gejala yang biasanya nampak yaitu pada saat anak itu mulai belajar membaca atau mulai mengenal bentuk-bentuk awal, dia sudah mengalami kesulitan. Sering kali anak tersebut salah mendengar atau mengucapkan huruf.

Anak dengan disleksia akan kesulitan dalam membaca. Misalnya, ketika membaca sering ada huruf yang terlompati, atau terbalik, atau bahkan ada yang bisa membaca tapi mereka tidak mengerti apa yang mereka baca. Pada kasus yang lain, ketika membaca, anak dengan disleksia ini melihat tulisan seperti berbayang. Hal ini bukan karena ada gangguan pada matanya, tapi karena pemprosesannya yang tidak benar. Kondisi tersebut hanya bisa dideteksi oleh dokter dengan menggunakan alat yang disebut "Erlen Lens". Pada kondisi lain, anak dengan disleksia menulis secara terbalik. Kita baru bisa memahami tulisannya jika kita membacanya dengan kaca. Kasus ini disebut dengan "Mirror Writing".

Kesulitan membaca pada anak penderita disleksia tentu saja akan berpengaruh pada kemampuannya memahami mata pelajaran yang lain. Dalam pelajaran matematika, misalnya, anak akan kesulitan memahami symbol-simbol. Karena anak yang mengalami disleksia, akan berpengaruh ke seluruh aspek kehidupannya. Kadang-kadang dalam berbicara pun maksud mereka sulit dipahami.

Pada kasus yang dialami oleh klien diatas, maka dapat diketahui bahwa klien mengalami kesulitan belajar membaca (disleksia). Hal ini dapat dibuktikan melalui asesmen informal, yang didalamnya terdapat kemampuan membaca lisan, dan membaca pemahaman.

§ Membaca lisan

Menurut Hargrove dan Poteet, 1984, ada 13 jenis perilaku yang mengindikasikan bahwa anak berkesulitan belajar membaca lisan, dibawah ini adalah perilaku yang dialami oleh klien, yaitu:

1) Menunjuk tiap kata yang sedang dibaca. Hal ini dialami oleh klien, tiap kali klien disuruh membaca dia pasti menunjuk tiap kata yang dibaca.

2) Menelusuri tiap baris yang sedang dibaca dari kiri ke kanan dengan jari. Selain menunjuk tiap kata klien juga menelusuri tiap baris yang dibaca dengan jari atau alat tulis yang dibawanya.

3) Menggerakkan kepala, bukan matanya yang bergerak. Setiap klien membaca pasti kepalanya ikut bergerak sama dengan posisi kata yang dibacanya.

4) Menempatkan buku dengan cara yang aneh. Hal ini terlihat ketika klien akan mulai membaca, klien sering meletakkan buku terbalik.

5) Menempatkan buku terlalu dekat dengan mata. Buku yang dibaca oleh klien letaknya sangat dekat dengan matanya, seringkali klien menutup wajahnya dengan buku jika dia kelelahan belajar membaca.

6) Sering melihat gambar. klien lebih tertarik dengan buku yang terdapat gambar didalamnya, meskipun klien sudah duduk dikelas V, klien masih suka memperhatikan gambar daripada tulisan yang ada disebelah gambar.

7) Mulutnya komat-kamit waktu membaca. Sebelum membaca dengan bersuara, klien terlebih dahulu komat-kamit dengan kata yang akan dibacanya.

8) Membaca kata demi kata. Meskipun klien saat ini sudah kelas V, klien masih tetap mengeja tulisan yang dibaca, bahwan memerlukan waktu yang lama.

9) Membaca tanpa ekspresi. Setiap klien disuruh membaca maka akan membaca tulisan tersebut, namun dia tidak bisa mengekspresikan apa yang dia baca.

10) Adanya suara aneh atau tegang, hal ini sering terjadi jika klien disuruh membaca satu kalimat yang sama akan tetapi masih tetap tidak lancar.

Dari 10 jenis perilaku yang dialmi klien, sudah cukup membuktikan bahwa sebagian perilaku klien sudah tergolong dalam kesulitan membaca lisan.

§ Membaca pemahaman

Menurut Ekwall, 1984 ada tujuan kemampuan yang ingin dicapai melalui membaca pemahaman, yaitu:

1) Mengenal ide pokok suatu bacaan

2) Mengenal detail yang penting

3) Membangkitkan imajinasi visual

4) Meramalkan hasil

5) Mengikuti petunjuk

6) Mengenal organisasi karangan

7) Membaca kritis

Untuk melatih membaca pemahaman, biasanya anak diberi tugas untuk membaca yang dikenal dengan membaca dalam hati. Yang tujuan membaca dalam hati sama dengan membaca pemahaman. Dalam hal ini klien tidak dapat melakukannya, jika klien disuruh membaca dalam hati, klien justru diam dan mengalihkan perhatiannya.

Selain membaca dalam hati. Membaca pemahaman juga dapat diketahui jika anak dapat menjawab pertanyaan yang sesuai dengan data dalam bacaan. Klien juga belum bisa menjawab pertanyaan jika dia tidak dibantu.

Kondisi yang dialami oleh klien diatas, maka klien memerlukan bantuan agar klien bisa sembuh. Penanganan anak disleksia ini berbeda pada setiap individu. Seorang guru sebaiknya memberikan system pengajaran yang individual. Untuk itu, kerjasama antara orang tua, guru dan psikolog sangat diperlukan untuk menangani disleksia pada anak. jika masalah disleksia pada anak tidak ditangani secara tuntas, akan memberikan dampak yang buruk terhadap masa depan anak. Banyak anak yang mengalami disleksia yang tidak mendapatkan penanganan menjadi frustasi dan drop out dari sekolah.

Kurangnya pengetahuan para orang tua mengenai masalah disleksia menyebabkan kasus disleksia pada anak sering tidak terdeteksi. Jika ditangani secara dini kondisi ini dapat diatasi. Oleh karena itu, para orang tua dituntut untuk lebih perhatian pada anak-anak, terutama ketika mereka mulai belajar membaca. Dengan begitu, kelainan seperti disleksia dapat dideteksi dan ditangani sejak dini.

KESIMPULAN

Bryan & Bryan (dalam Abdurrahman, 1999: 204), menyebut disleksia sebagai suatu sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, mengintegrasikan komponen-komponen kata dan kalimat dan dalam belajar segala sesuatau yang berkenaan dengan waktu, arah dan masa. Sedangkan, menurut Lerner seperti di kutip oleh Mercer (1979: 200).

Ciri-ciri disleksia:

§ Sulit mengeja dengan benar. Satu kata bisa berulangkali diucapkan dengan bermacam ucapan.

§ Sulit mengeja kata atau suku kata yang bentuknya serupa, misal: b-d, u-n, atau m-n.

§ Ketika membaca anak sering salah melanjutkan ke paragraph berikutnya atau tidak berurutan.

§ Kesulitan mengurutkan huruf-huruf dalam kata.

§ Kesalahan mengeja yang dilakukan terus-menerus. Misalnya kata pelajaran diucapkan menjadi perjalanan.

Klien mengalami ciri-ciri yang telah disebutkan diatas. Bahkan dalam asesmen informal, klien terdeteksi mengalami kesulitan belajar membaca. Dalam asesmen informal, didalamnya terdapat kemampuan membaca lisan, dan membaca pemahaman.

§ Membaca lisan

Menurut Hargrove dan Poteet, 1984, ada 13 jenis perilaku yang mengindikasikan bahwa anak berkesulitan belajar membaca lisan, dibawah ini adalah perilaku yang dialami oleh klien, yaitu:

1) Menunjuk tiap kata yang sedang dibaca.

2) Menelusuri tiap baris yang sedang dibaca dari kiri ke kanan dengan jari.

3) Menggerakkan kepala, bukan matanya yang bergerak.

4) Menempatkan buku dengan cara yang aneh.

5) Menempatkan buku terlalu dekat dengan mata.

6) Sering melihat gambar.

7) Mulutnya komat-kamit waktu membaca.

8) Membaca kata demi kata.

9) Membaca tanpa ekspresi.

10) Adanya suara aneh atau tegang.

§ Membaca pemahaman

Menurut Ekwall, 1984 ada tujuan kemampuan yang ingin dicapai melalui membaca pemahaman, yaitu:

1) Mengenal ide pokok suatu bacaan

2) Mengenal detail yang penting

3) Membangkitkan imajinasi visual

4) Meramalkan hasil

5) Mengikuti petunjuk

6) Mengenal organisasi karangan

7) Membaca kritis

Oleh karena itu, klien harus secepatnya dibantu agar klienbisa disembuhkan. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi anak disleksia yaitu pengajaran remedial dengan beberapa metode yang cocok untuk anak disleksia.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bersama Rineka Cipta.

Porwanto Ngalim. 2003. Psikologi Pendidikan. Rosdakarya: Jakarta

Rahayu Iin Tri, tristiadi Ardi Ardani. 2004. Observasi dan Wawancara. Malang: Bayumedia.

Http://Cyberwoman.Cbn.Net.Id/Cbprtl/Cyberwoman/Pda/Detail.Aspx?X=Hot+Topic&Y=Cyberwoman%7c0%7c0%7c8%7c20



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar