Tampilkan postingan dengan label Psikologi Kepribadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Kepribadian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Februari 2022

APAKAH LAYANGANKU SUDAH PUTUS ?


Oleh : Muhammad Iqbal, Ph.D Psikolog

IG @muhammadiqbalpsy


Dalam beberapa bulan terakhir ini, serian TV Layangan Putus menyodot perhatian masyarakat, kisah perselingkuhan suami yang diam-diam selingkuh dengan wanita lain membuat hati sang istri terluka


Kisah nyata yang diambil dari sebuah postingan seorang istri yang suaminya diam-diam menikah lagi dan berbulan madu ke Turki merupakan fenomena yang sedang terjadi di masyarakat


Era digital dan media sosial saat ini telah menjadi sarana yang efektif untuk melakukan selingkuh. Pengalaman saya sebagai seorang konselor pernikahan, kasus selingkuh adalah kasus yang paling banyak terjadi, namun bukan hanya suami saja, beberapa kasus selingkuh juga dilakukan sang istri, walaupun prosentase selingkuh lebih banyak di lakukan suami


Namun di era modern ini selingkuh bukan hanya dilakukan kepada lawan jenis, namun juga kepada pasangan sejenis (homoseksual/biseksual)


 *Ciri-Ciri Layangan sudah putus* 


Banyak pasangan yang tidak menyadari ketika suaminya atau istrinya selingkuh, mereka terlena dengan akitfitas dan rutinitas, namun orang selingkuh tentu saja dia menyembunyikan sesuatu yang tentu saja akan terlihat dari perubahan sikap, berdasarkan pengalaman kisah  klien-klien saya, berikut adalah ciri-ciri pasangan yang selingkuh  : 


 *1. Lebih sibuk dari biasanya :* 

Pasangan yang selingkuh lebih banyak menghabiskan waktu di luar, dengan alasan pekerjaan, bahkan ada kasus dimana istri sering mengantarkan suaminya untuk rapat di hotel, dan belakangan akhirnya ketahuan kalau ke hotel untuk bertemu dengan selingkuhannya


 *2. Gelisah, cemas dan mudah marah* : Rasa gelisah dan cemas akan terlihat dari pasangan yang selingkuh, sering menerima telpon dan berbicara menjauah/bisik-bisik, tidur tidak nyenyak, dan lebih sensitif (mudah marah) dan suka mencari kelemahan pasangannya, sehingga hubungan tanpa emosi dan tidak ada bonding

 

 *3. Sangat ketat dengan Handphone** : Hp dan media sosial menjadi salah satu sarana yang digunakan dalam selingkuh, biasanya orang selingkuh melarang pasangannya untuk membuka HP nya dengan alasan banyak rahasia pekerjaan, dan orang selingkuh biasanya menyimpan no Hp selingkuhannya dengan nama-nama aneh, yang tak dapat di duga pasangannya misal : Tukang, Satpam, Atasan, OB , dll


4. *Hubungan Seksual Menurun* : Orang selingkuh juga biasanya agak dingin dalam hubungan seksual, intensitas dan keintiman mulai berkurang, karena ia sudah mendapatkannya di luar, ia sering mengeluh capek dan menghindar


 *5. Penampilan Berubah* : Biasanya orang selingkuh sangat konsen dengan penampilan, harum, wangi dan terlihat perubahan yang drastis


 *6. Tidak terbuka masalah keuangan :* Orang selingkuh terpaksa membagikan penghasilannya kepada selingkuhannya, sehingga ia harus bisa mengeluarkan biaya lebih dan ia tidak mau pasangannya mengetahuinya, sehingga banyak pendapatan yang ia rahasiakan, atau bahkan dia terpaksa bekerja sampingan atau bahkan 'korupsi' untuk menghidupi selingkuhannya


 *7. Menjauh dari lingkungan sosial* : Orang yang selingkuh biasanya ia akan menjauh dari pertemanan karena menyimpan rahasia, bahkan tidak mengaktifkan media 🙏sosialnya untuk sementara, karena ia sedang menikmati hubungan spesial dan penuh rahasia


 *8. lebih detail dan suka menyalahkan* : Karena orang selingkuh sudah punya pembanding di luar, akhirnya ia suka menyalahkan (dalam hatinya membandingkan dengan selingkuhannya), ia terlihat lebih detail terhadap sesuatu yang tidak ia lihat.


Dari 8 ciri diatas, namun ada juga selingkuh tidak mengikuti ciri-ciri diatas, yaitu selingkuh dengan orang terdekat : asisten rumah tangga/pembantu, ipar, tetangga. Saya pernah mendapati kasus dimana seorang suami didapati selingkuh dengan asisten rumah tangganya hingga 21 Tahun, dan istrinya tidak menyadarinya.


Ada juga selingkuh hingga 16 tahun tidak ketahuan, karena selingkuhan suaminya adalah laki-laki, dan istrinya tidak menyangka


Ada pepatah yang mengatakan " Sepandai-pandai Tupai Melompat Akhirnya Jatuh Ke Tanah Juga" sepandai-pandai orang menyimpan rahasia pasti akan ketahuannya juga


Wallahu'alam


 www.rumahkonseling.online

Selasa, 18 Agustus 2015

3 STEPS FOR LBGHT

Pertama, sebagai guru,teman atau ortu kita mesti memahami kalau lesbi, gay, biseksual dkk itu bukan penyakit atau kelainan, tapi itu pilihan yang disadari atau tidak disadari baik pengaruh teman maupun media lainnya.

Kedua, prilaku-prilaku negatif itu biasanya berawal dari kurangnya kasih sayang dari orangtua, kerabat, dan orang dekat  baik berupa perhatian, pengajaran, maupun teladan, maka

Ketiga, berdasarkan asumsi ini saya berpendapat solisi penanganan nya adalah kasih sayang orangtua atau keluarga  mutlak ada, atau kerabat dan orang dekat jg wajib memberikan kasih sayangnya padanya dengan perhatian, pengajaran dan teladan yang benar padanya.
Wallahu'lam Bisshowab

BEST REGARD
RIDHO HUDAYANA

Senin, 06 Agustus 2012

Psikologi Kebahagiaan

by. Deka


Selama 60 tahun terakhir psychology berkonsentrasi pada hal2 negatif (depresi, pobia, trauma, Skizophrenia & penyakit2 psikologis lainnya = victimology & pathology). Mungkin Psikologi hendak mengkuti jejak ilmu kedokteran modernyang sejak 200 tahun terakhir berfokus pada penyakit.

Dan prestasi yg telah diraih selama 60 tahun terakhir (menurut mantan ketua asosiasi psikologi amerika: Martin Seligm
an): 14 macam penyakit psikologis bisa diobati (tidak sepenuhnya sembuh) dan 2 macam penyakit psikologis dapat disembuhkan total. Jadi prestasi terjauh dari psikologi negatif, adalah membawa orang sakit menjadi berkurang sakitnya (from miserable to less miserable) atau paling mentok, menjadikan orang sakit psikologis jadi hilang sakitnya (dari minus menjadi "nol").

Lalu timbul pertanyaan, kalau orang sehat bagaimana? apakah ilmu psikologi bisa membantu orang yg sehat secara psikologis menjadi lebih bahagia dan lebih berprestasi?. Tidak ada, sampai didirikannya cabang ilmu baru, Positive Psychology, oleh Prof. Martin Seligman, yang saat itu baru dipilih sebagai presiden American Psychological Association, pada tahun 1998.

Menurut Prof. Seligman, ada tiga cara untuk bahagia:

1. Have a Pleasant Life (life of enjoyment): milikilah hidup yg menyenangkan, dapatkan kenikmatan sebanyak mungkin. ini mungkin cara yg ditempuh oleh kaum hedonis. tapi jika ini cara yg kita tempuh, hati2 dengan jebakan hedonic treadmill (= semakin kita mencari kenikmatan, semakin kita sulit dipuaskan) dan jebakan habituation (kebosanan karena terlalu banyak, misalnya ; makan es krim pada jilatan pertama sangat nikmat, tapi pada jilatan keduapuluh, kita jadi pengin muntah). tapi pada takaran yg pas, cara ini bisa sangat membahagiakan.

2. Have a Good Life (life of engagement): dalam bahasa aristoteles disebut eudaimonia, terlibatlah dalam pekerjaan, hubungan atau kegiatan yg membuat kita mengalami "flow". merasa terserap dalam kegiatan itu, seakan2 waktu berhenti bergerak, kita bahkan tidak merasakan apapun, karena sangat "khusyu'". fenomena ini diteliti secara khusus oleh rekan Seligman, Mihaly Csikzentmihalyi. dan memberikan 7 ciri2 kita dalam kondisi flow:
a. Sepenuhnya terlibat pada apa yg kita lakukan (focused, concentrated, khusyu')
b. Merasakan "a senses of ecstasy" (seperti berada di luar realitas sehari-hari)
c. Memiliki "kejernihan yg luarbiasa" (benar2 memahami apa yg harus dikerjakan dan
bagaimana mengerjakannya)
d. Menyadari bahwa tantangan pekerjaan yg sedang ia hadapi benar2 dapat ia atasi
(bahwa skill yg kita miliki cukup memadai untuk mengerjakan tugas tersebut)
e. Merasakan "kedamaian hati" ( tidak ada kekhawatiran dan merasakan diri kita sedang
bertumbuh melampaui ego kita sendiri)
f. Terserap oleh waktu (karena khusyu' mengerjakan dan benar-benar terfokus pada
"saat ini dan disini", waktu seakan2 berlalu tanpa terasa)
g. Motivasi Intrinsik (dimana merasakan "flow" itu sendiri sudah merupakan hadiah yg
cukup berharga untuk melakukan pekerjaan itu)

3. Have A Meaningful Life (life of Contribution): milikilah semangat melayani, berkontribusi dan bermanfaat untuk orang lain atau mahluk lain. menjadi bagian dari organisasi atau kelompok , tradisi atau gerakan tertentu. merasa hidup kita memiliki "makna" yang lebih tinggi dan lebih abadi dibanding diri kita sendiri.

Tiga hal ini-lah yg menjadi fokus kajian positive psychology.. yaitu bagaimana memiliki hidup yang bermakna, pekerjaan yang membuat "flow" dan aktivias yg kita nikmati. Dalam istilah pelopor positive psychology di Monash University, Dr Dianne A Vella-Brodrick : Bake A Cake (life of engagement=flow), Eat A Cake (life of enjoyment) or Give A Cake (life of contribition).

Jadi, manakah yg membuat anda paling bahagia? proses membuat kue, memakan kue, atau berbagi kue ke tetanga anda?

Sumber: Catatan Ahmad Faiz Zainuddin (Pendiri LoGos Institute)

Sabtu, 23 Juni 2012

PSIKOLOGI WANITA


ž ž OLEH
ž Ridho Hudayana

ž Filosofi Wanita
  • ž Wanita memiliki dunianya yang khas
  • ž Wanita tampil sebagai dunia “yang memelihara”
  • ž Wanita sebagai personal yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa dunianya, tanpa komunikasi dan partisipasinya dalam kehidupan sehari-hari, tanpa mengekspresikan aspek jiwanya dalam bentuk gejala fisik
  • ž Wanita merupakan bentuk AKU yang mencari Engkau (orang lain, anak-anak dan suaminya)
  • ž Wanita yang paling baik adalah wanita yang mau membuka diri sendiri bagi orang lain dan berusaha untuk membahagiakan orang lain


ž Wanita dan “MISTERI”
  • ž Nasib dan kedudukan wanita tergantung pada hubungan kerja, relasi keluarga, masyarakat kota atau desa, dan kelompok etnis
  • ž Banyak hal pada diri wanita masih berupa misteri yang belum bisa dipecahkan

  
ž Sifat Khas Wanita
  • ž Wanita mampu bekerja sama baiknya dengan kaum laki-laki, bahkan lebih
  • ž Wanita cenderung pasif (mengalah) ditengah masyarakat laki-laki yang dominan
  • ž Wanita dalam sorotan masyarakat : keindahan, kelembutan, dan kerendahan hati
  • ž Sifat memelihara yang bersumber dari cinta kasih tanpa pamrih, disertai pengorabanan dan penyerahan diri
  • ž Wanita memandang laki-laki sebagai anak kecil yang harus ia bimbing dan semua anak-anak serta orang yang dipandang menderita


ž Fenomena Wanita
  • ž Wanita tidak bisa mengingkari keperempuanannya melalui ciri-ciri kelaminnya, melalui kebutuhhannya terhadap pria dan anaknya
  • ž Dunia wanita penuh “misteri” berbeda dengan dunia pria yang “tanpa rahasia”


ž Wanita Remaja
  • ž Sebagai masa narsistik (ke-AKU-an)
  • ž Fantasi-fantasi cinta
  • ž Sebagai masa penemuan nilai-nilai hidup
  • ž Wanita Dewasa
  • ž Mampu mengkaitkan realitas dunia luar yang objektif dengan AKU-nya sendiri
  • ž Mampu mengendalikan dorongan-dorongan dari dalam, untuk diarahkan pada tujuan yang berarti




Senin, 10 Oktober 2011

MANAJEMEN WAKTU dan PENYELESAIAN TUGAS


PENGARUH MANAJEMEN WAKTU
TERHADAP PENYELESAIAN TUGAS-TUGAS PERKULIAHAN
By 
Ziyadatur Rahmah
Nur Rodiyah
Sadid al Muqim

A.    LATAR BELAKANG
Apa yang dimaksud dengan manajemen waktu? Pernahkah kita dikejar-kejar dengan waktu, misalnya saja deadline pengumpulan tugas, atau sedang ujian masa kuliah yang waktunya kurang cukup? Ataukah kita sedang mengerjakan suatu project yang waktunya sangat singkat?
Pasti semua individu pernah mengalami hal-hal seperti itu, termasuk juga dengan para mahasiswa yang tidak akan lepas dengan tugas perkuliahan. Beberapa individu merasa belum bisa mengatur jadwal sesuai dengan apa yang akan dilakukan, misalnya saja memakai agenda. sudah tertulis pada hari senin misalnya kita harus mengerjakan sesuatu dan harus selesai pada sore harinya, ternyata ada beberapa sebab yang yang menjadi problem atau masalah untuk mencapai target tersebut, baik itu yang kita bentuk sendiri sebagai upaya rasionalisasi atau secara nyata terdapat halangan. Mungkin kurang disiplin, kurang motivasi, dan kurang gigih untuk mencapainya.
Pada dasarnya hal-hal tersebut mereupakan pemicu kegagalan untuk mencapai target-target tujuan yang akan kita capai atau yang kita inginkan. Seringnya seseorang menganggap remeh suatu persoalan atau menunda-nunda pekerjaan, hingga terlena dan pada akhirnya pada waktu yang ditentukan selalu mengerjakan dengan terburu-buru dengan hasil yang tidak maksimal.

Minggu, 09 Oktober 2011

DEPRESI PADA ANAK

Review Jurnal

Oleh :
M. Hafidz Bahtiar (05410090)

Depresi pada Anak

Depresi adalah suatu gangguan kedaan tonus perasaan yang secara umum ditandai oleh rasa kesedihan, apati, pesimisme, dan kesepian1. Keadaan ini sering disebutkan dengan istilah kesedihan (sadness), murung (blue), dan kesengsaraan.
Gangguan alam perasaan (mood atau afek) pada anak dan remaja semakin dikenali sehingga insiden depresi meningkat secara dramatis dalam 40--50 tahun terakhir ini. Depresi pada anak dan remaja jarang dikenal di Amerika Utara sebelum 1970, karena anak dianggap terlalu muda untuk mengalami yang berhubungan dengan depresi atau alam perasaan, rasa bersalah, dan percaya diri yang rendah. Di Amerika, penyakit ini dilaporkan telah mengenai beribu-ribu anak di bawah usia 18 tahun. Remaja diharapkan dapat melalui periode ketegangan dan badai kehidupan (storm and stress) yang ditandai dengan perubahan alam perasaan sebagai bagian dari perkembangan normal.

Sabtu, 17 September 2011

BUNUH DIRI

by Makalah Psikologi Team 
            Sebelum membahas lebih lanjut tentang bunuh diri, perlu di ketahui pengertian bunuh diri, bunuh diri adalah segala perbuatan yang sengaja di lakukan oleh seseorang yang dapat membinasakan dirinya dalam waktu yang singkat.

Hampir semua orang sekali waktu dalam hidupnya pernah mempunyai pikiran untuk lebik baik mati saja. Motivasi ini sangat kompleks. Apakah buah pikiran itu akan menjadi  perbuatan atau tidak, tergantung pada keadaan lingkungan sosial serta juga keadaan jiwa maupun badan orang itu.

            Di negara Amerika Serikat, umur puncak rawan bunuh diri adalah antara 24 dan 44 tahun. Kasus ini lebih banyak sungguh-sungguh dilakukan oleh kaum lelaki ketimbang kaum perempuan, namun lebih banyak dicoba dilakukan oleh kaum perempuan ketimbang kaum lelaki. Cara yang populer untuk mencoba bunuh diri baik di kalangan kaum lelaki lebih suka memilih cara yang lebih letal atau mematikan, seperti menggantung diri.

Selasa, 29 Maret 2011

KOMUNIKASI NONVERBAL

Oleh  : M. Hafidz Bahtiar

KOMUNIKASI NONVERBAL
A. Definisi
Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara. Penggunaan ekspresi wajah merupakan salah satu komunikasi nonverbal.
Para ahli di bidang komunikasi nonverbal biasanya menggunakan definisi "tidak menggunakan kata" dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi non-verbal dengan komunikasi nonlisan. Contohnya, bahasa isyarat dan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi nonverbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya berbicara tergolong sebagai komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal juga berbeda dengan komunikasi bawah sadar, yang dapat berupa komunikasi verbal ataupun nonverbal.

Jumat, 28 Januari 2011

FUN AND ALTRUISM ACTIVITY

Oleh:
M. Hafidz Bahtiar            (05410090)
Sadid Al Muqim              (05410065)

Dosen Pembimbing: Dra. Ika Widiyarini, MLHR.

ABSTRAK
Bismillahirrahmanirrahim. Puja-puji syukur hanya terlimpah kepada rabb kita, Allah SWT, yang memberikan dan menciptakan bumi sebagai lahan ilmu dan berkembang setiap waktu. Sholawat serta salam semoga tetap mengalir kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, selaku pemberi suri tauladan yang baik untuk ummat sepanjang zaman. Amin.
Manusia adalah hasil ciptaan terhebat dengan segala kemampuan yang akan terus berkembang disetiap masanya. Dia akan terus mengenal dan memberikan sumbangan pada dunia keilmuan, juga penelitian, karena hanya manusialah yang tercipta lengkap dengan akal dan nafsu yang kemudian dapat dikolaborasikan untuk menemukan hal yang baru, baik yang dicermati atau dirasakan.
Kita dapat melihat bahwa kegiatan manusia sering kali tidak disadari dan terjadi begitu saja, apa motivasinya dan lain sebagainya. Salah satu kegiatan itu adalah bersenang-senang (fun) mementingkan kepentingan orang lain dari pada pribadi (altruism). Keduanya seakan berbeda jika dipandang sekilas saja, namun tidak demikian. Pernahkah kita memikirkan bahwa kegiata menolong orang lain tanpa memikirkan diri sendiri itu menyenangkan? atau lainnya, sehingga apa yang terjadi tidak mengubah atau mengganggu kondisi sosial yang ada.
Dalam kesempatan kali ini, kita mencoba membahasnya dalam bentuk jurnal tentang kegiatan yang menyenangkan dan perhatian untuk lebih mempedulikan orang lain dari pada diri sendiri. Berawal dari penjelasan yang merupakan kegiatan dan pengalaman pribadi, dibantu pemahaman kami pada beberapa tokoh.
Tulisan ini kami dedikasikan untuk diri kita sendiri, sekaligus sebagai tugas mata kuliah Psikologi Kepribadian II yang dibimbing langsung oleh Ibu Dra. Ika Widiyarini, MLHR. Dengan harapan dapat ikut menyumbang dan ikut memberi pada dunia ilmu pengetahuan.

DESKRPSI ACTIVITAS
Fun Activity - Main “Poker”
Main kartu atau dalam hal ini poker bagi kami merupakan hal yang menyenangkan. Biasanya ini dilakukan oleh empat orang dengan jumlah kartu 52 kartu, masing-masing orang mendapatkan 13 kartu. Kami beranggapan bahwa permainan ini melibatkan strategi yang bagus, pengambilan keputusan yang tepat disamping memang terdapat keberuntungan yang memihak pada pemain tersebut serta kejujuran. Terlebih lagi apabila terdapat punishment dalam permainan tersebut, maka permainan akan semakin hidup dan menegangkan. Disini kita dilatih untuk menghadapi kehidupan yang sesungguhnya yang melibatkan beberapa hal diatas.
Memang banyak yang bisa kita proyeksikan sikap kita dalam permainan itu dengan kehidupan kita. Seperti halnya membantu orang lain yang memang ingin kita bantu, merasa senang apabila teman susah, kepuasan pemenang, perasaan lega apabila lepas dari punishment, karena sekali salah dalam mengambil keputusan maka itu dapat berakibat fatal. Meskipun ini hanyalah permainan, setidaknya kita dapat belajar dari itu. Semua orang menginginkan kesuksesan dalam kehidupannya, akan tetapi banyak hal yang terkait dalam keberhasilannya. Tidak hanya dari diri kita sendiri, lingkungan akan tetapi keberuntungan juga mempengaruhinya.
Biasanya kami lakukan malam hari, walau tidak jarang juga melakukannya pada siang hari, saat waktu benar-benar senggang. Adapun aturan akmi kolaborasikan satu dengan lainnya, karena biasanya tiap daerah memiliki aturan permainan poker yang beragam, sehingga akan didapat permainan yang tidak memihak pada satu golongan. Dan sepengetahuan kami, pemain yang melakukan ini jarang sekali dengan wajah menjengkelkan, karena suasana dengan sendirinya terbangun, setidaknya mekanisme sosial, dalam hal ini, interaksi sejawat, semakin kuat dan tertanam dengan tidak membedakan pribadi satu dengan lainnya.
Selain hal diatas, permainan ini dapat menjadi spa, relaksasi dari kejenuhan yang menumpuk. Setidaknya bisa melupakan sejenak permasalahan yang dihadapinya terlebih lagi bisa mengurangi sedikit beban yang sedang dipikulnya.
Altruistic Activity – “Mak Comblang”
Kita semua tahu bahwa manusia dalam menjalani kehidupannya membutuhkan rasa kasih sayang dan cinta terhadap sesamanya, baik itu sesama jenis (dalam interaksi sosial), terlebih lagi dengan lawan jenis.
Menurut Stenberg, dewasa awal adalah masa yang berpengaruh dengan kondisi ini, sehingga dalam mencapai hubungan cinta dengan lawan jenis, terkadang seseorang membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan pendekatan, tidak menutup kemungkinan juga orang bisa menjalin cinta tanpa bantuan orang lain.
Mak comblang, itulah sebutan bagi orang yang membantu dalam mempertemukan atau mendekatkan seseorang dengan orang lain yang berbeda jenis. Entah  jalinan tersebut kandas ditengah jalan atau melaju sampai jenjang pernikahan. Hal ini biasanya dapat dilakukan oleh orang yang mengenal kedua belah pihak dari awal atau dalam perjalanannya.
Kegiatan dalam nyomblangi tidak terlalu sulit juga tidak mudah, sesaat juga membutuhkan banyak ide untuk berhasil. Karena secara kasar, keberhasilan kita tidak akan mendapat balasan, tapi jika temui kegagalan, maka tidak bisa lari lagi dari kesalahan. dalam metode ini misalnya yang kami lakukan adalah:
1.       Setiap kegitan yang dilakukan bersama-sama, berusaha mengajak kedua belah pihak. Contoh: nonton bioskop, jalan-jalan ke pasar minggu yang terletak di Stadion Gajayana, dll.
2. Melalui SMS.
3. Saat berkumpul, kita ‘gojloki’ mereka.
Masih banyak kegiatan yang mendukung lancarnya acara tersebut, akan tetapi tidak bisa saya rinci dalam tulisan ini.

Perbandingan Keduanya
Kedua kegiatan tersebut memberikan gambaran bahwa untuk mencapai tujuan yang serius tidak selalu melalui proses yang serius pula. Untuk mengahadapi kehidupan yang serba ruwet, kita bisa belajar dari permainan dan untuk mencoba menjodohkan seseorang dengan orang lain juga bisa dilakukan melalui kegiatan yang  fun juga.
Kegiatan menyenangkan yang kami lakukan, mayoritas tidak hanya bermanfaaat bagi kami sendiri, akan tetapi juga bermanfaat bagi orang lain. Selain itu juga dalam melakukan kegiatan tersebut, senda gurau atau ‘guyon’ mendominasi daripada serius dan menegangkan.
Disisi lain, kegiatan altruism (membantu orang lain), perioritas kami adalah memberikan manfaat bagi orang lain (yang saya bantu) dan kami sebenarnya mendapat manfaat juga. Disamping itu keseriusan dan senda gurau berbanding sama (50:50).
Namun secara spesifik, keduanya sama membutuhkan pemikiran yang matang, karena kesalahan yang tersadari oleh orang lain akan sangan berpengaruh sekali, walaupun kegiatan fun lebih nisa ditoleran. Kenapa begitu?
Fun adalah kegiatan yang tidak mempertimbangkan kondisi psikis, sehingga jika memperoleh hal yang sebaliknya, gagal (setidak dalam permainan ini), tidak menimbulkan down yang urgen, karena saat menang akan kembali lagi. Tapi begitukah dengan Altruism, setidaknya dengan kegiatan ini? Konsekwensi yang mungkin diterima akan semakin besar, dan bukan tidak mungkin jika konflik sosial akan terjadi.

ANALISA TEORI
Al-Qur’an & Hadits
Y      Fun Activity - Main Poker
Dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 32, Allah berfirman:
وما الحيوة الدنيا إلا لعب و لهو وللدار الأخرة خير للذين يتقون أفلا تعقلون
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al Ankabut: 64)
Dalam tafsair al-Qurtuby dikemukakan bahwa “senda gurau dan main-main” yang dimaksudkan adalah gurauan dan permainan saja, yang bersifat duniawi dan Allah hanya memberikan pada orang-orang berkategorikan “al-Aghniya”, bisa diartikan orang yang memiliki harta benda lbih banyak (kaya raya), tapi juga bisa diartikan dengan orang yang diberikan kesempatan untuk memahami dunia secara lebih maksimal. Sebagian ulama’ berpendapat “Dunia yang jika ditetapkan untukmu (manusia), maka kamulah yang tidak menetap”.
Dalam menjalani kehidupan kita tidak dituntut selalu untuk serius, ada kalanya kita bersenda gurau untuk merilekskan pikiran, melepas kejenuhan, melupakan sejenak masalah. 
Y      Altruistic Activity - ‘Mak Comblang’
Allah berfirman dalam surat al-Hujurat: 13
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (al Hujurat: 13)
Dari ayat diatas, pada kata “ta’arofu” terdapat beberapa pendapat, diantaranya adalah untuk memperkuat silaturrahmi antar etnis yang berbeda-beda, sehingga islam adalah satu anggota yang tidak terpisahkan dengan pengkotak-kotakan segala perbedaan, hanya islam. Namun ada pula yang beranggapan lain, bahwa itu adalah jalan awal untuk mengikuti sunnah Adam yang di karuniai Hawa dari tulang iga kiri yang terkecil (al Jalalain).
Dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 21, Alloh berfirman:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar-Rum: 21)
Firman lainnya:
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma`ruf. Dan janganlah kamu ber`azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis `iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (al Baqoroh: 235)
Dari semua ayat diatas, kami simpulkan bahwa laki-laki dan perempuan yang telah mengenal satu dengan lainnya, dalam waktu kapan dan dimanapun, dapat berorientasi pada perkawinan, dan bukan tidak mungkin jika kita membantu untuk benar-benar terjadi di antara pasangan yang belum memiliki hak secara norma dan agama. Dan tujuan tersebut bukan untuk memotong takdir dengan membuat takdir baru bahwa pasangan tersebut akan cocok, namun sekedar membantu dengan harapan cocok dikemudian hari. Setidaknya akan membuat kecocokan yang ada pada keduanya.

George Kelly
George Kelly berpendapat bahwa dengan hidup manusia memiliki motivasi. Dalam menjelaskan tentang kepribadian manusia, Kelly mempunyai istilah yang disebut sebagai construct. Dari 8 sifat construct yang dikemukakan, terdapat sifat choice corollary, dan sifat ini dibagi menjadi dua, yaitu:
Y      Definition (dalam hal ini kegiatan yang  fun - Pokeran)
Merupakan pilihan biasa, sudah pernah dilakukan. Dalam hal ini pilihan kami untuk memutuskan main kartu (pokeran)adalah hal yang pernah kita lakukan, karena menyenangkan, maka kita mengambilnya.
Y      Extension (dalam hal ini kegiatan yang  altruistic – ‘Mak Comblang’)
Merupakan pilihan kegitanyang belum pernah kita lakukan. Karena kita menginginkan adanya variasai dalam melakukan kegiatan, maka kegiatan yang memberikan pengalaman baru-lah yang kita pilih.
Carl Rogers
Pendapat Carl Rogers mengenai kepribadian, adalah sebagai berikut:
1.      Tingkah laku seseorang hanya dapat dipahami dari bagaimana dia memandang relita secara subjektif
2.      Manusia mempunyai kemampuan untuk memenuhi keinginannya (tidak ada takdir).
3.      Pada dasarnya manusia itu baik, mampu menyempurnakan kekurangannya.
4.      Semua itu terbentuk karena sujektivitas tidak ada objektivitas.
Menurut teori Carl Rogers, bahwa manusia dalam melakukan setiap aktivitas hanya untuk memenuhi aktualisasi diri (Actualizing Tendency), yaitu suatu kecenderungan yang dimiliki oleh organisme untuk mengembangkan kapasitas dirinya dalam cara-cara yang berfungsi untuk memeihara dan menigkatkan orang tersebut. Sehingga kita melihat, bahwa dalam kegiatan yang menyenangkan (fun) dan kegiatan untuk membantu orang lain (altruistic) merupakan bentuk aktualisasi diri dari pelakunya. Dengan melakukan setiap kegiatan, kita berupaya agar keberadaan kita diakui. Karena pada dasarnya semua manusia itu baik, selayaknyalah kita saling menghibur dan membantu.

Henry Murray
Menurut Murray, need merupakan konstruk mengenai kekuatan (di bagian otak) yang mengorganisir dan memberi arah berbagai proses seperti persepsi, berpikir dan berbuat sehingga kondisi keadaan yang tidak memuaskan dapat diperbaiki. Dan need yang membuat organisme aktif dan terus aktif sampai situasi organime dan lingkungan diubah untuk mereduksikan need tersebut. Beberapa need disertai dengan oleh emosi-emosi atau perasaan-perasaan tertentu dan seringkali disertai pula oleh tindakan-tindakan instrumental tertentu yang efektif untuk menghasilkan keadaan akhir yang diinginkan.
Manusia memiliki motiv yang sangat kompleks sehingga membutuhkan variabel yang banyak untuk dapat melaksanakannya. Dalam pembahasan kali ini, terdapat 26 macam need menurut Murray, yang diantaranya terdapat beberapa need tersebut berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan kelompok ini, diantaranya:
Ø  Fun Activity - Main Poker
Need to Play (Permainan)
Deskripsi: Bersenang-senang tanpa tujuan lain, tertawa dan berkelakar. Relaksasi dari stress secara menyenangkan, ikut dalam permainan, sport, menari, minum dan berjudi.
Infavoidance - Menghindari rasa hina.
Deskripsi:  Menghindari penghinaan, situasi yang memalukan, kondisi yang bisa menimbulkan pelecehan, makian, ejekan atau sikap masa bodoh. Menahan diri untuk bertindak karena takut gagal

Ø  Altruistic Activity - ‘Mak Comblang’
Need to Nurturance (Merawat, memelihara)
Deskripsi:  Memberi simpati, membantu, melindungi, menyenangkan orang yang tidak berdaya, bayi atau orang yang lemah, tidak mampu, lelah, sendirian, sakit, membantu orang dalam bahaya.
Need to Deference (Menghormati)
Deskripsi: Mengagumi dan menyokong atasan, memuji, menghormati, menyanjung. Bersedia tunduk kepada orang lain, berbuat lebih baik dari contohnya, menyetujui kebiasaan.

Abraham Maslow
Abraham Maslow (1908-1970) berpendapat bahwa manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan tersebut adalah:
Y        Kebutuhan fisik/biologis
Y        Kebutuhan akan rasa aman
Y        Kebutuhan akan rasa dimiliki (sense of belonging) dan cinta
Y        Kebutuhan akan penghargaan dan harga diri
Y        Kebutuhan aktualisasi / perwujudan diri
Kebutuhan-kebutuhan tersebut mempunyai urutan hierarki. Keempat Kebutuhan pertama disebut kebutuhan “deficiency”. Kedua Kebutuhan berikutnya (aktualisasi diri dan estetik atau transendentasi) disebut kebutuhan “being”. Proses perwujudan diri erat kaitannya dengan kreativitas. Bila  bebas dari neurosis, orang yang mewujudkan dirinya mampu memusatkan dirinya pada yang hakiki. Mereka mencapai “peak experience” saat mendapat kilasan ilham (flash of insight).
 Menurut teori humanisme, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan sudut pandang pengamatnya.
Dengan menggunakan teori Maslow tentang motivasi dan hierarki kebutuhan, kegiatan yang dilakukan kelompok ini dapat digolongkan kedalam dua bentuk needs, yaitu:
Y      Fun Activity - Main Poker
Dalam permainan ini, kita melihat bahwa kebutuhan akan penghargaan dan harga diri dipertaruhkan untuk mencapai kemenangan, meskipun dalam permainan. Sehingga para pemain berlomba-lomba untuk menang yang pertama kali, minimal tidak ngocok. Apalagi bila didalam permainannya terdapat punisment terhadap yang kalah, pasti permainan itu menjadi seru dan menarik.
Y      Altruistic Activity - ‘Mak Comblang’
Cinta merupakan anugerah terindah yang dimiliki oleh manusia, dan harus dinikmati olehnya. Dalam kegiatan ini kami mencoba membantu dua insan untuk bisa menikmati indahnya cinta, karena kebutuhan akan rasa dimiliki (sense of belonging) dan cinta antar sesamanya semaksimal mungkin terpenuhi.

diary
Hafidz…
Malang, kontrakan 590, sewaktu-sewaktu!!!
Bengong adalah hal yang paling tidak kusukai, daripada demikian mendingan melakukan permainan untuk menghilangkan kejenuhan. Permainan yang kita pilih adalah pokeran, biasanya permainan ini kita lakukan pada malam hari karena suasananya lebih mendukung, akan tetapi terkadang kita lakukan setiap waktu saat senggang.
Setelah kartu dibagikan, mulailah para pemain mengatur strategi untuk memenangkan permainan ini. Meskipun mulai agak tegang tapi canda tawa dari kita turut meramaikan suasana. Kartu yang mereka pegang ada yang bagus dan ada juga yang kurang bagus, tapi ini bukan satu-satunya yang menjadi factor kemenangan para pemainnya, factor yang mempengaruhi diantaranya adalah letak/posisi pemain, strategi, dll.
Kesenangan baru saya rasakan ketika kartu yang saya pegang kurang bagus tapi saya menjadi winner, disamping melihat teman yang kalah berturut-turut. Pokoknya senang apabila semaua pemain saat itu merasa enjoy…!

Malang, sekitar lingkungan, akhir-akhir ini!!!
Temanku namanya….. sebenarnya suka adiknya teman perempuanku, tapi memang dia agak pemalu, apalagi untuk mengungkapkan rasa cinta. Nah kebetulan ada tugas dari Ibu Ika mengenai altruistic, langsung terbesit dalam pikiranku mencoba membuat acara untuk nyomblangin mereka bersama dengan  petnerku (Sadid).
Dengan kegiatan yang kami rancang sedemikian rupa (nonton bioskop, jalan-jalan pagi-meskipun ngga’ jadi tapi sempat apel setidaknya, rekreasi ke Bendungan Sutami-foto berduaan), kelihatannya mereka semakin dekat. Terbukti dari obrolan mereka, seringnya sms-an dan semangatnya kepingin ketemu, dll.
Tak terasa seiring dengan waktu, mereka semakin lengket saja…! 


Sadid…
Malang, kontrakan 590!!!
Buatku malam adalah waktu paling nikmat untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan, walaupun sekedar aku yang merasakan, maen komputer atau segala macam, bahkan sampai pagi… walah yang otre-etre aja, sendiri sekalipun.
Namun tak jarang juga aku yang terjaga tiap malam, dan tak jarang juga bingung tuk lakukan apa, ditemani beberapa teman untuk bermain kartu 888, main poker. Awalnya permainan ini terlihat biasa aja, tapi ternyata taktik jitu bisa buat suasana lebih hidup, tak heran jika beberapa senyum seolah keluar sendiri dari rumahnya, tak pikirkan akan terjadi apa nanti, atau esok.
“kapooook”
Itu yang selalu keluar dari mulutku ketika melihat teman (yang bertindak sebagai lawan pertandingan) kalah, dan selanjutnya mendapat giliran kocok kartu dan membaginya ke yang lain. He he
Tapi… ternyata permainan ini ga’ hanya berlanjut saat malam aja, sepulang kuliah sambil tunggu dzuhur pun bisa digunain. Sekali lagi teriak bangga liat temen kocok kartu, palagi yang langganan kocok…
“menyenangkan banget liat teman menderita…yaquin” dalam hati.

Malang, akhir-akhir ini!!!
Aku punya temen yang malu-malu nyukai adek cewek temenku lainnya. Nah kebetulan ada tugas mis. Ika, aku ma petnerku langsung aja bikin strategi untuk coba deketin mereka berdua. Tapi tetep ja aku yang banyak polahnya, duh berarti aku dong yang bayak dosanya, tapi… ga’ pa-pa lah.
En wal hasil… whua ha ha, semakin sering dah mereka sms-an, aku she ga’ pengen ngerti pa isinya, yang jelas mereka makin deket aja, bahkan waktu nonton bioskop bareng sekalipun.
“ssst…” seruku panggil si kakak waktu pulang dari bioskop dengan jalan, eh malah mereka keasyikan ngobrol.
Beh… kurang ajar, tanpa terima kasih tuh.

Kamis, 19 Agustus 2010

CONTROLLING ANGER

CONTROLLING ANGER
Aminah Permata Ummu Hanifah Burhanuddin, S.Psi


Anger is a negative experience so closely bound to pain and depression that it can sometimes be hard to know where one of these experiences ends and the others begin. Pain is never just about the body—it has emotional and physical components. The emotions play a huge role in the experience of pain, and pain is intimately associated with depression. It's long been known that the psychic pain of depression feeds anger. But, just as often, anger fuels depression.

A powerful emotion physiologically and emotionally, anger often feels good—but only for the moment. It can be the motivating force that moves people to action. But, there are good actions and bad actions, and it is important to distinguish between the two. Anger is usually anything but subtle. It has potent physiological effects. You feel it in your chest. You feel it in your head. You feel it coursing through your body. Nevertheless, anger can be insidious. Anger confers an immediate sense of purpose. At least in the short run, anger is a shortcut to motivation. So, we spend lots of energy on righting "wrongs," but anger also creates a cycle of rage and defeatism.

When you feel anger, it provides an impulse to pass the pain along to others. The boss chews you out, and you then snap at everyone in your path. Anger, however, can eventually lead you into self-pity, because you can't slough off the self-hurt.

Anger is classically a way of passing psychic pain on to others. It's a way of making others pay for your own emotional deficits. It is wise to change that tendency. Whether or not anger fuels depression, it isn't good for the enjoyment of life. There are a number of actions you can take to keep anger from eroding your life:
First, of course, is to identify anger and to acknowledge it. Anger is one of those emotions whose expression is sometimes subject to taboos, so people can grow up unable to recognize it. They feel its physical discomfort but don't know how to label it. Build a lexicon for your internal states. Feelings are fluid. You need to stop and capture them in a word, or else you lose them and don't know you have them.

View your anger as a signal. It is not something to be escaped. It is not something to be suppressed. It is something to be accepted as a sign that some deeper threat has occurred that needs your attention. 

Make yourself aware of the purpose your anger serves. Things that have a positive purpose seek betterment, growth, love, enhancement and fulfillment. Things that have a negative purpose are motivated by a sense of deficiency. Your boss yells at you, and you feel diminished. The anger you express towards others is driven by the blow you've just received. In order to identify your motivation, you need to look within. 

Tune into the inner dialogue you customarily have with yourself. If your anger is deficiency-motivated (driven by a desire to rectify a wrong you believe was done to you), work on acceptance. Give up your obsession about the wrong. Uproot mistaken beliefs that underlie your response. Very often anger is the result of beliefs that lead you to place unreasonable demands on circumstances, such as the belief that life must be fair. The belief that you are entitled to fairness results from the mistaken idea that you are special. 

Insisting that life be fair is not only irrational, it will cause you to collect injustices done to your noble self. Even if you are experiencing nothing more than your fair share of unfairness, such a belief can still fuel rage and lead to depression. The rage is totally inert, because you believe there is nothing you can do about the unfairness. Self-pity is another description of the same feelings of helplessness. Notice your own complaining. Listen for both overt and covert complaining. Overt complaining hassles others. It's really a manipulative strategy. Know when it's becoming a downer and a barrier to a strategy of effectiveness—like complaining about a fly in your soup. Covert complaining hassles you. It drags you down into passivity and inertia. Once you notice it, determine to give it up. Once you can accept that life sometimes is unfair, then you can pursue positive purpose. You can work constructively against injustice to rectify the unfairness you find, your anger into passion. Or, you can pursue fulfillment in spite of the unfairness that exists.

Minggu, 01 Agustus 2010

KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT ABRAHAM MASLOW DAN ERIC FROMM

“KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT ABRAHAM MASLOW DAN ERIC FROMM”
Dosen pembimbing :
Tristiadi ardi ardani M,Si
Oleh:
Ahmad Faiz Guzairi 
immarotin shofiah
M. yusuf latif
Abdul hamid mujadid
M.fahmi
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
FAKULTAS PSIKOLOGI
2009

PENDAHULUAN
Dalam banyak teori yang ada dalam disiplin ilmu psikologi tidak pernah luput dari yang namanya contraversi dan semua itu adalah sebuah dinamika yang sangat patut di tiru karna selain memiliki kelebihan pada teori yang ada dan kontrversi tersebut melahirkan teori bari dan makin mengisi khzanah keilmuan dalam psikologi itu sendiri
pembahasan yang luas dalam ilmu psikologi tidak akan muat jika di bicarakan dalam makalah ini namun dengan mengambil salah satu keilmuan yang ada dari “belantara ilmu” psikologi maka aspek kesehatan mental dan bagaimana pandangan para tokoh tentang apa yang di namakan sehat secara mental secara keseluruhan maka kita mrngambil dua tokoh ternama yang mengkaji kesehatan mental dengan pandangan aliran Humanistik
Beberapa psikolog pada waktu yang sama tidak menyukai uraian aliran psikodinamika dan behaviouristik tentang kepribadian. Mereka merasa bahwa teori-teori ini mengabaikan kualitas yang menjadikan manusia itu berbeda dari binatang, seperti misalnya mengupayakan dengan keras untuk menguasai diri dan merealisasi diri. Di tahun 1950-an, beberapa psikolog aliran ini mendirikan sekolah psikologi yang disebut dengan humanisme.
Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka cenderung untuk berpegang pada prespektif optimistik tentang sifat alamiah manusia. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka
Dua psikolog tersebut adalah , Abraham Maslow dan Eric Fromm yang sangat sangat terkenal dengan teori humanistik mereka.

Teori Kepribadian Sehat Menurut abraham Maslow
A.Individu sebagai Kesatuan Terpadu

Sebelum menguraikan teori tentang Hirarki Kebutuhan, Maslow dalam karya masyhurnya, Motivation and Personality, memaparkan terlebih dahulu sejumlah proposisi yang harus diperhatikan sebelum seseorang menyusun sebuah teori motivasi yang sehat. Maslow mengakui sendiri bahwa sejumlah proposisi sangat benar dalam arti dapat diterima oleh banyak kalangan. Sejumlah proposisi lain barangkali kurang dapat diterima dan dapat diperdebatkan. Hal ini mencerminkan kelegowoan Maslow untuk tidak begitu saja memutlakkan teorinya. Berhubung teori ini berkenaan dengan manusia yang dinamis multidimensional, lumrah kiranya bahwa pandangan tertentu kurang universal. Berikut ini sejumlah proposisi awal untuk memahami jalan pikiran Maslow.
Maslow pertama-tama menekankan bahwa individu merupakan kesatuan yang terpadu dan terorganisasi. Pernyataan ini hampir menjadi aksioma yang diterima oleh semua orang, yang kemudian sering dilupakan dan diabaikan tatkala seseorang melakukan penelitian. Penting sekali untuk selalu disadarkan kembali hal ini sebelum seseorang melakukan eksperimen atau menyusun suatu teori motivasi yang sehat

B.Hirarki Kebutuhan

Maslow mengembangkan teori tentang bagaimana semua motivasi saling berkaitan. Ia menyebut teorinya sebagai “hirarki kebutuhan”. Kebutuhan ini mempunyai tingkat yang berbeda-beda. Ketika satu tingkat kebutuhan terpenuhi atau mendominasi, orang tidak lagi mendapat motivasi dari kebutuhan tersebut. Selanjutnya orang akan berusaha memenuhi kebutuhan tingkat berikutnya. Maslow membagi tingkat kebutuhan manusia menjadi sebagai berikut:
1. Kebutuhan fisiologis: kebutuhan yang dasariah, misalnya rasa lapar, haus, tempat berteduh, seks, tidur, oksigen, dan kebutuhan jasmani lainnya.
2. Kebutuhan akan rasa aman: mencakup antara lain keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik dan emosional.
3. Kebutuhan sosial: mencakup kebutuhan akan rasa memiliki dan dimiliki, kasih sayang, diterima-baik, dan persahabatan.
4. Kebutuhan akan penghargaan: mencakup faktor penghormatan internal seperti harga diri, otonomi, dan prestasi; serta faktor eksternal seperti status, pengakuan, dan perhatian.
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri: mencakup hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuannya sendiri, menjadi apa saja menurut kemampuannya.
Maslow menyebut teori Hirarki Kebutuhan-nya sendiri sebagai sintesis atau perpaduan teori yang holistik dinamis. Disebut demikian karena Maslow mendasarkan teorinya dengan mengikuti tradisi fungsional James dan Dewey, yang dipadu dengan unsur-unsur kepercayaan Wertheimer, Goldstein, dan psikologi Gestalt, dan dengan dinamisme Freud, Fromm, Horney, Reich, Jung, dan Adler.

Identifikasi Kebutuhan Fisiologis

Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan. Bagi masyarakat sejahtera jenis-jenis kebutuhan ini umumnya telah terpenuhi. Ketika kebutuhan dasar ini terpuaskan, dengan segera kebutuhan-kebutuhan lain (yang lebih tinggi tingkatnya) akan muncul dan mendominasi perilaku manusia.
Tak teragukan lagi bahwa kebutuhan fisiologis ini adalah kebutuhan yang paling kuat dan mendesak. Ini berarti bahwa pada diri manusia yang sangat merasa kekurangan segala-galanya dalam kehidupannya, besar sekali kemungkinan bahwa motivasi yang paling besar ialah kebutuhan fisiologis dan bukan yang lain-lainnya. Dengan kata lain, seorang individu yang melarat kehidupannya, mungkin sekali akan selalu termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan ini.

Identifikasi Kebutuhan Rasa Aman

Segera setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan.


Identifikasi Kebutuhan Sosial
Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini, dan belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.

Identifikasi Kebutuhan akan Penghargaan

Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Karenanya, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri. Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.

Identifikasi Kebutuhan Aktualisasi Diri

Menurut Maslow, setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya. Kebutuhan manusia untuk bertumbuh, berkembang, dan menggunakan kemampuannya disebut Maslow sebagai aktualisasi diri. Maslow juga menyebut aktualisasi diri sebagai hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuan sendiri, menjadi apa menurut kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini biasanya muncul setelah kebutuhan akan cinta dan akan penghargaan terpuaskan secara memadai.
Kebutuhan akan aktualisasi diri ini merupakan aspek terpenting dalam teori motivasi Maslow. Dewasa ini bahkan sejumlah pemikir menjadikan kebutuhan ini sebagai titik tolak prioritas untuk membina manusia berkepribadian unggul. Belakangan ini muncul gagasan tentang perlunya jembatan antara kemampuan majanerial secara ekonomis dengan kedalaman spiritual. Manajer yang diharapkan adalah pemimpin yang handal tanpa melupakan sisi kerohanian. Dalam konteks ini, piramida kebutuhan Maslow yang berangkat dari titik tolak kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri diputarbalikkan. Dengan demikian perilaku organisme yang diharapkan bukanlah perilaku yang rakus dan terus-menerus mengejar pemuasan kebutuhan, melainkan perilaku yang lebih suka memahami daripada dipahami, memberi daripada menerima. Dalam makalah ini, gagasan aktualisasi diri akan mendapat sorotan lebih luas dan dalam sebelum masuk dalam pembahasan penerapan teori.

Ciri-ciri Pribadi Aktualisasi Diri

Dari hasil penelitian yang merupakan proses analisis panjang, Maslow akhirnya mengidentifikasikan 19 karakteristik pribadi yang sampai pada tingkat aktualisasi diri.
1. Persepsi yang jelas tentang hidup (realitas), termasuk kemampuan untuk mendeteksi kepalsuan dan menilai karakter seseorang dengan baik. Berkat persepsi yang tajam, mereka lebih tegas dan jitu dalam memprediksikan peristiwa yang bakal terjadi. Mereka lebih mampu melihat dan menembus realitas-realitas yang tersembunyi dalam aneka peristiwa; lebih peka melihat hikmah dari pelbagai masalah.
2. Pribadi demikian melihat hidup apa adanya dan bukan berdasarkan keinginan mereka. Mereka lebih obyektif dan tidak emosional. Orang yang teraktualisasi diri tidak akan membiarkan harapan-harapan dan hasrat-hasrat pribadi menyesatkan pengamatan mereka. Sebaliknya kebanyakan orang lain mungkin hanya mau mendengarkan apa yang ingin mereka dengar dari orang lain sekalipun menyangkut hal yang tidak benar dan jujur.
3. Mempunyai spontanitas yang lebih tinggi. Mereka lebih peka terhadap inner life yang kaya dan tidak konvensional, serta memiliki kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang baru dan menghargai keindahan dalam hal-hal yang biasa. Biasanya mereka tidak merasa perlu menyembunyikan perasaan atau pikiran mereka, atau bertingkah laku yang dibuat-buat. Pribadi teraktualisai punya selera yang tinggi terhadap seni, musik, dan masalah-masalah politik dan filsafat.
4. Keterpusatan-pada-masalah. Mereka amat konsisten dan menaruh perhatian pada pertanyaan dan tantangan dari luar diri, memiliki misi atau tujuan yang jelas sehingga menghasilkan integritas, ketidakpicikan, dan tekun introspeksi. Mereka mempunyai komitmen yang jelas pada tugas yang harus mereka kerjakan dan mampu melupakan diri sendiri, dalam arti mampu membaktikan diri pada pekerjaan, tugas, atau panggilan yang mereka anggap penting.
5. Merindukan kesunyian. Selain mencari kesunyian yang menghasilkan ketenteraman batin, mereka juga dapat menikmatinya.
6. Mereka sangat mandiri dan otonom, namun sekaligus menyukai orang lain. Mereka punya keinginan yang sehat akan keleluasaan pribadi yang berbeda dari kebebasan neurotik (yang serba rahasia dan penuh rasa takut). Terkadang mereka terlihat sangat otonom, karena mereka menggantungkan diri sepenuhnya pada kapasitas sendiri. Inilah paradoksnya: mereka adalah orang yang paling individualis sekaligus sosial dalam masyarakat. Bila mereka menaati suatu aturan atau perintah, hal itu didasarkan pada pemahaman akan manfaat yang dapat dicapai dari pemenuhan aturan yang bersangkutan, dan bukan karena ikut-ikutan.
7. Ada kalanya mereka mengalami apa yang disebut “pengalaman puncak” (peak experience); saat-saat ketika mereka merasa berada dalam keadaan terbaik, saat diliputi perasaan khidmat, kebahagiaan dan kegembiraan yang mendalam atau ekstase. Hal ini berkaitan dengan kemampuan mereka untuk berkonsentrasi secara luar biasa. Kadang-kadang kemampuan ini membuat mereka seolah linglung. Tidak jarang mereka mengalami flow dalam kegiatan yang mereka lakukan.
8. Rasa kekeluargaan terhadap sesama manusia yang disertai dengan semangat yang tulus untuk membantu sesama.
9. Pribadi unggul ini lebih rendah hati dan menaruh hormat pada orang lain. Mereka yakin bahwa dalam banyak hal mereka harus belajar dari orang lain. Hal ini membuat mereka mampu untuk mendengarkan orang lain dengan penuh kesabaran. Keutamaan (virtue) ini lahir dari pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri. Sama seperti anak-anak, mereka mampu mendengarkan orang lain tanpa apriori atau penilaian sebelumnya. Maslow menyebut keunggulan ini sebagai “Being cognition” atau “B-cognition”; pengamatan yang pasif dan reseptif.
10. Mereka memiliki etika yang jelas tentang apa yang baik dan apa yang jahat. Namun bagi mereka, pertentangan antara yang baik dan yang buruk tidaklah menjadi masalah. Secara konsisten, mereka akan memilih dan lebih menyukai nilai-nilai yang lebih luhur.
11. Selera humor yang baik. Mereka tidak tertarik pada pelbagai lelucon yang melukai atau menyiratkan inferioritas yang membuat orang lain merasa dilecehkan. Mereka lebih menyukai humor yang filosofis, kosmik, atau yang nilai humornya terkandung dalam logika kata-kata. Mereka juga menonjol dalam hal toleransi terhadap kelemahan-kelemahan alamiah orang lain. Namun mereka sangat anti terhadap ketidakjujuran, penipuan, kebohongan, kekejaman, dan kemunafikan.
12. Kreatif dalam mengucapkan, melakukan, dan menyelesaikan sesuatu. Sifat ini dikaitkan dengan fleksibelitas, tidak takut membuat sesuatu yang di kemudian hari ternyata adalah kesalahan, dan keterbukaan. Seperti seorang anak yang lugu, mereka tidak takut berkreasi karena cemoohan orang lain. Mereka kreatif dan melihat aneka peristiwa secara segar tanpa prasangka. Menurut Maslow, hampir setiap anak mampu membuat lagu, sajak, tarian, lakon, atau permainan secara mendadak, tanpa direncanakan atau didahului oleh maksud tertentu sebelumnya. Demikian jugalah kira-kira kreativitas orang yang teraktualisasi diri.
13. Mereka memiliki penghargaan yang sehat atas diri sendiri bertolak dari pengenalan akan potensi diri mereka sendiri. Mereka bisa menerima pujian dan penghargaan tetapi tidak sampai tergantung pada penghargaan yang diberikan orang lain. Mereka tidak mendewakan kemasyhuran dan ketenaran kosong.
14. Ketidaksempurnaan. Mereka tentu juga mempunyai perasaan bersalah, cemas, bersalah, iri dan lain-lain. Namun perasaan itu tidak seperti yang dialami orang-orang yang neurotis. Mereka lebih dekat dengan cara pikir positif. Mereka tidak selalu tenang, kadang-kadang bisa meledakkan amarah pula; bosan dengan obrolan basa-basi , omong-kosong, dan hiruk-pikuk suasana pesta.
15. Mereka mempunyai “hirarki nilai” yang jelas. Mereka mampu melihat dan membedakan mana yang lebih penting dan harus diprioritaskan dalam situasi tertentu. Kadar konflik dirinya rendah. Mereka memiliki lebih banyak energi untuk tujuan-tujuan yang produktif daripada menghabiskan waktu untuk menyesali diri dan keadaan. Bagi mereka, pertentangan antara yang baik dan yang buruk tidaklah menjadi masalah. Secara konsisten, mereka akan memilih dan lebih menyukai nilai-nilai yang lebih luhur, dan dengan tulus mengikutinya. Bagi orang-orang ini, disiplin diri relatif mudah sebab apa yang ingin mereka lakukan sejalan dengan apa yang mereka yakini benar. Nilai-nilai mereka didasarkan pada apa yang nyata bagi mereka, bukan pada apa yang dikatakan orang lain kepada mereka.
16. Resistensi terhadap inkulturisasi. Mereka mampu melihat hal-hal di luar batasan kebudayaan dan zaman. Maslow menyebut mereka mempunyai apa yang disebut “kemerdekaan psikologis”. Hal itu tercermin dari keputusan-keputusan mereka yang terkadang “melawan arus” pendapat khalayak ramai. Mereka tidak segan menolak kebudayaan mereka jika memang tidak sejalan dengan akal sehat. Untuk hal-hal kecil seperti sopan-santun, bahasa, dan pakaian, makanan, dan sebagainya tidak dipermasalahkan. Tapi bila menyangkut hal-hal yang dirasa melawan prinsip-prinsip dasar, mereka dapat bersikap bebas mandiri dan bertindak di luar kebiasaan.
17. Mereka cenderung mencari persahabatan dengan orang yang memiliki karakter yang sama, seperti jujur, tulus hati, baik hati dan berani, namun tidak menghiraukan ciri-ciri superfisial seperti kelas sosial, agama, latar belakang ras, dan penampilan. Dalam hal ini mereka tidak merasa terganggu oleh perbedaan-perbedaan. Makin matang kepribadiannya, mereka makin tidak peduli dengan penampilan ayu, tubuh tegap, badan montok, dan sebagainya. Sebaliknya mereka amat menjunjung tinggi soal kecocokan, kebaikan, ketulusan, dan kejujuran.
18. Secara umum dapat dikatakan bahwa orang yang teraktualisasi diri cenderung membina hidup perkawinan yang kokoh, bahagia, dan berlangsung seumur hidup. Dalam pribadi yang sehat, perkawinan yang terbina memungkinkan kedua belah pihak saling meningkatkan kepercayaan dan harga diri, saling memberikan manfaat.
19. Mereka itu sangat filosofis dan sabar dalam menuntut atau menerima perubahan yang perlu secara tertib. Sementara kebanyakan orang dalam masyarakat cenderung bersikap sangat praktis atau sangat teoritis, orang yang teraktualisasi diri lebih condong bersikap praktis sekaligus teoritis tergantung kondisi yang bersangkutan. Mereka berusaha mencintai dunia apa adanya, dengan tetap membuka mata pada kekurangan yang ada seraya berupaya memperbaikinya.

Teori Kepribadian Sehat Menurut Eric Fromm
Teori eric fromm adalah teori yang menggunakan pendekatan sosial psikologis dimana pemusatan perhatianya pada penguraian cara-cara dimana struktur dan dinamika-dinamika masyarakat tertentu membentuk para anggotanya sehingga karakter para anggota tersebut sesuai dengan nilai yang ada pada masyarakat
Karena pada dasarnya manusia terpisah dari alam dan dari sesamanya maka cara mempersatukan adalah melalui belajar bagaimana mencitai atau bagaimana meemukan keamanan dengan menyelaraskan keinginannya dengan masyarakat yang otoriter , karna manusia adalah mahluk yang memiliki kesadran pikiran akal sehat daya akal, kesanggupan untuk mencintai , perhatian tanggung jawab integritas bisa di lukai mengalami kesedihan sehingga apbila dalam kaitanya manusia kurang dalam menanggapi hal yang di sebutkan tersebut maka manusia tersebut bisa di katakan tidak sehat secara mental menurut Eric fromm
Kebutuhan dasar manusia menurut eric fromm
Kebutuhan akan keberhubungan kebutuhan ini adalah secara spesifik aktif dan produktif mencintai orang lain
Kebutuhan akan trandensi mengungguli alam menjadi mahluk yang kreatif
Kebutuhan akan kemantapan ingin meiliki rasa bersahaja pada dunia dan orang lain supaya dapat beradaptasi di dunia
Kebutuhan akan idenditas brusaha untuk memiliki rasa idenditas personal dan keunikan guna menciptakan rasa yang terlepas dari dunia
Kebutuhan akan kerangka orientasi untukmencptakan rasa yang terlepas dari dunia
Hal kebutuhan tersebut adalah sifat alamiah dari manusia menurut fromm dan ini berubah saat evolusi namun manivestasi dari kebutuhan ini adalah akan memunculkan potensi-potensi batiniah di tentukan oleh aturan-aturan sosial di mana ia hidup dan kepribadian seseorang berkembang menurut kesempatan-kesempatan yang di berikan kepadanya oleh masyarakat tertentu
Sehingga kepribadian sehat menurut Eric from adalah penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat merupakan kompromi antara kebutuhan-kebutuahn batin dan tuntutan dari luar dan seseorang menerapkan kerakter sosial untuk memenuhi harapan masyarakat kepribadian sehat juga adanya keinginan untuk mencintai dan di cintai dalam bukunya Art Of Love erik Fromm mengutarakan :
Dalam Civilization and Its Discontents (1930), seperti dikutip oleh Eric Fromm dalam Masyarakat yang Sehat (Terjemahan Thomas Bambang Murtianto, 1995) ia menulis:
"Manusia, setelah menemukan lewat pengalamannya bahwa cinta seksual (genital) memberinya kepuasan puncak, maka makna cinta seksual-genital menjadi prototipe bagi semua bentuk kebahagiaan manusia. Karenanya manusia terdorong mencari kebahagiaan yang ada kaitannya dengan hubungan seks, menempatkan erotisme genital sebagai titik pusat kehidupannya…. Dengan melakukan itu manusia menjadi sangat tergantung pada dunia luar, pada obyek cinta pilihannya, atau sungguh merasa kehilangan bila ditinggal mati atau ditinggal kabur."
Di mata Fromm, Freud memostulatkan, orang yang mencinta mengalami dirinya terlanda oleh dambaan dan rasa kekurangan, sehingga harga dirinya direndahkan. Sebaliknya, orang yang dicinta, karena dibalas cintanya dan memiliki obyek cinta, harga dirinya naik. Mencinta membuat Anda lemah. Yang membuat Anda bahagia ialah bila Anda dicinta.
Berbeda dengan Freud, konsep cinta menurut From dalam The Art of Loving (1956) menegaskan bahwa cinta bukanlah afeksi pasif, melainkan suatu tindakan aktif, yang bercirikan memberi. Cinta pertama-tama adalah urusan memberi, bukan menerima. Adalah salah menyamakan memberi dengan kehilangan. Oleh pribadi yang wataknya masih dalam fase orientasi reseptif, eksploitatif, dan nafsu menimbun, tindakan memberi dialami secara negatif seperti itu. Pribadi dengan orientasi pasar hanya siap memberi sebagai pertukaran untuk menerima. Memberi tanpa menerima berarti tertipu.
Bagi orang berwatak produktif, memberi mengungkapkan potensi tertinggi. Dalam memberi, ia justru mengalami kekuatannya, kekayaannya. Ini membuatnya gembira. Di bidang materi, memberi berarti kaya. Orang kaya bukanlah yang memiliki banyak harta, melainkan yang memberi banyak. (Alfon Taryadi dalam Ziarah ke Negeri Cinta, Kompas 5 Oktober 2001).