Jumat, 21 Agustus 2015

Kekurangan dan Kelebihan Hypnosis Secara Ilmiah

Oleh: D.Denis P. Putrantya, S.Psi, Trainer JAN Center (Lembaga pendidikan dan pengembangan SDM)

MENURUT Kamus Besar Bahasa Indonesia, Hipnosis: keadaan seperti tidur karena sugesti yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali.

Hipnosis berasal dari kata “hypnos”,  nama dewa tidur orang Yunani Kuno. Kata “hypnosis” pertama kali diperkenalkan seorang dokter Inggris , James Braid  (1795 – 1860). Meski demikian, hypnosis bukanlah tidur. Hipnosis adalah kondisi pikiran, dimana pikiran sadar menjadi kurang kritis, sehingga menjadikan pikiran “bawah sadar” menerima sugesti dengan lebih baik (menurut IACH/ International Association of Clinical Hypnotherapy).

Hipnosis dikelompokkan ke dalam dua kategori: klasik dan modern. Hipnosis klasik itu menyelami dan mempengaruhi pikiran orang secara mistis, klenik, dan syirik dalam pandangan Islam, misalnya sesajian, membakar kemenyan, ramu-ramuan tertentu, dan lainnya guna mendatangkan bantuan jin. Praktek hipnosis bahkan dilakukan sejak zaman kuno (seperti  Yunani dan Mesir) untuk berhubungan dengan arwah para leluhur dan keperluan mistis lain.

Hipnosis modern menurut APA (American Psychological Association) Divisi 30 (Komunitas Hipnosis Psikologis) adalah prosedur dimana seorang ahli kesehatan atau peneliti memberi sugesti ketika tritmen/perlakuan,  sehingga pasien mengalami perubahan sensasi, persepsi, pikiran, dan perilaku. Meski beberapa hipnosis digunakan untuk membuat seseorang semakin siaga, kebanyakan hipnosis mensugesti agar rileks, tenang, dan merasa nyaman.

Kita akan fokus pada pengkajian “hipnosis modern”.

Apa yang terjadi ketika seseorang terhipnosis?

Dari beberapa referensi komunitas maupun asosiasi hipnosis internasional (seperti IACH, APA, IMDHA), ketika seseorang terhipnosis, kondisinya bukanlah tidur. Secara fisik, memang memenuhi ciri-ciri orang tidur (nafas melambat, mata terpejam, otot rileks, gerakan berkurang) Tetapi secara mental, orang terhipnotis dalam kondisi rileks sekaligus siaga. Kondisinya nyaman dan dapat berfikir, berbicara, dan bahkan bergerak jika dibutuhkan.

Ada yang menyebutkan jika terhipnotis adalah kondisi yang sama ketika seseorang sedang sangat asyik dalam suatu aktivitas, seperti menonton TV atau melakukan sebuah hobi. Atau ketika sedang terbawa suasana yang menenangkan dan melenakan, seperti melihat matahari terbenam di pantai. Kondisi hipnosis juga disamakan dengan kondisi meditasi. Kondisinya bukan tertidur, tetapi sadar dan fokus (focused awareness) sekaligus rileks dan nyaman.

Secara neuroscience (ilmu otak/syaraf), terhipnotis adalah kondisi dimana otak meningkat aktivitas gelombang otak lambat (alpha dan theta), dan menurunnya aktivitas gelombang otak cepat (beta). Akibatnya, pikiran menjadi sibuk dengan “menikmati” perasaan nyaman dan rileks sehingga berkurangnya pikiran cemas dan penuh pertimbangan akan suatu hal. Jika rasa nyaman dan tenang itu berlanjut, seseorang bisa menuju aktivitas otak gelombang delta (tidur).

Maka, kondisi hipnosis (gelombang otak lambat/ alpha dan theta) dianggap sebagai kondisi sehari-hari yang kita rasakan ketika bangun tidur dan akan tidur.

Bagaimana seseorang bisa terhipnosis?

Pada dasarnya, hipnosis adalah suatu kondisi mental yang khusus. Untuk mencapainya, seseorang menggunakan teknik yang disebut induksi hipnosis. Induksi ini dapat dilakukan oleh orang lain maupun diri sendiri. Diantara jenis induksi sudah banyak diketahui orang, seperti menepuk dengan tangan (ini dilakukan pada praktek gendam), menjentikkan jari, membisikkan atau mengatakan kata-kata yang mengkondisikan perasaan nyaman (seperti “Anda akan merasa nyaman dan mengantuk”), Mengajak obyek untuk membayangkan tempat yang nyaman (“Bayangkan Anda bersandar di bawah pohon yang rindang”), dan banyak variasi yang lain.

Setelah seseorang sudah berada dalam kondisi hipnosis, selanjutnya sugesti diberikan. Sugesti dapat berupa hal yang absurd (“Anda adalah ayam”) sampai terapi medis (“Anda tidak merasakan sakit” atau “Di tangan Anda ada tulisan “sakit”, sekarang saya hapus tulisan itu”).

Namun, kondisi hipnosis tidaklah harus berarti seseorang berada dalam kondisi seperti tidur. Hal ini ditunjukkan dengan adanya praktek hipnosis ketika seseorang dalam kondisi sadar (mata terbuka) bahkan sedang melakukan aktivitas fisik.

Apa prinsip-prinsip hypnosis?

Tidak semua orang bisa dihipnotis. Lebih tepatnya, kemampuan seseorang merespon sugesti hipnosis berbeda-beda.

Psikolog Amerika di Universitas Stanford (Ander M. Weitzenhoffer dan Ernest R. Hilgard) membuat skala yang dapat mengukur seberapa tingkat seseorang dapat dihipnotis, yang disebut Stanford Hypnotic Susceptibility Scales. Ada 12 sugesti yang dilakukan. Jika skor 0 – 4, tergolong rendah. Jika skor 5-7, tergolong menengah. Jika skor 8 -12, tergolong tinggi atau mudah mendapat sugesti hipnosis.

Diantara bentuk sugesti hipnotisnya: tangan berpegangan dan menempel (yang terhipnotis, tidak bisa melepaskan tangan), tangan diulurkan kemudian disugesti terasa berat (yang terhipnotis, tangannya akan turun karena “merasa” berat), peserta diminta melupakan hal yang familiar (seperti nama sendiri), dan sugesti panca indera lain (seperti mencium sesuatu yang tidak ada, mendengar suara lalat yang tidak ada, dan lain sebagainya).

Beberapa prinsip yang ditemukan dari penelitian adalah sbb:

1. Kemampuan seseorang untuk merespon sugesti hipnosis cenderung tetap pada usia dewasa.
2. Kemampuan peng-hipnotis tidak mempengaruhi tingkat respon orang yang dihipnotis.
Bahkan, ketika seseorang menghipnotis dirinya sendiri, responnya pun akan cenderung sesuai tingkatnya.
3. Tingkat respon seseorang yang dihipnotis tidak dipengaruhi oleh karakter personal, seperti agresif- submisif nya seseorang, kemampuan berimajinasi, atau kemampuan bersosialisasi.
4. Orang yang dihipnotis tidak bersikap pasif. Yang terjadi adalah justru, seseorang yang dalam kondisi hipnotis secara aktif mengelola keyakinan dan pemahamannya agar dapat melakukan atau memenuhi sugesti yang diberikan.

5. Hipnosis, ilmiah atau tidak?

Meski para peneliti menemukan alat untuk mengukur tingkat respon seseorang terhadap hipnotis, hal ini tidak membantu menjelaskan proses llmiah apa yang terjadi ketika seseorang dihipnosis dan diberi sugesti.

Selain sugesti belum tentu berhasil karena tingkat respon yang berbeda pada tiap orang, peneliti tidak bisa memahami proses otak apa yang terjadi ketika seseorang dihipnotis/ diberi sugesti dalam kondisi hipnosis.

Maka, tidak heran kalau hipnosis tidak diterima sebagai bentuk psikoterapi oleh APA/ Asosiasi Psikologi Amerika. Dalam Psikologi, hipnosis masuk dalam bidang ilmu Pseudoscience Psychology (Psikologi Semu).

Keilmiahan hipnosis tertolak karena tidak dapat diterapkan pada semua orang dan belum tentu berhasil pada kasus medis atau psikologis yang sama.

Namun, karena banyak yang mengaku dan menunjukkan praktek hipnosis yang dapat membantu kasus-kasus medis maupun psikologis, penggunaan hipnosis semakin meluas.

6. Apa kelebihan dan kekurangan hypnosis?

Kelebihan yang saya sebutkan, sejatinya adalah hal yang diaku oleh pelaku hipnosis. Diantaranya kelebihan yang diaku adalah bahwa hipnosis praktis dan sukses. Kenyataannya, keberhasilan hipnosis sangat tergantung tingkat respon orang yang dihipnotis. Kalaupun berhasil dihipnotis, kondisi masalah atau penyakit pada pasien tidak disembuhkan tetapi pasien dibuat (disugesti) untuk merasa sembuh dan sehat. Sehingga ketika sugesti itu hilang, masalah akan kembali muncul.

Kekurangan lain dari hipnosis adalah tidak ada dasar ilmiah jelas (apalagi dalil dari agama Islam). Selain itu, yang dihipnotis riskan mendapatkan sugesti yang tidak sesuai norma masyarakat maupun agama. Dan sebagaimana yang kita ketahui, sugesti tidak berlaku bagi semua orang (hypnotizable tiap orang berbeda-beda).

7. Bagaimana hipnosis menurut Islam?

Hipnosis klasik jelas haram. Hipnosis klasik termasuk kategori perdukunan. Lembaga Fatwa Saudi, Lajnah Daimah, pernah mengeluarkan fatwa:

“Hipnosis adalah termasuk jenis tenung (sihir) dengan menggunakan jin…

Menggunakan hipnosis dan menjadikannya cara untuk mengetahui tempat barang yang dicuri atau barang yang hilang, atau penyembuhan penyakit, atau melakukan pekerjaan tertentu dengan perantaraan orang yang dihipnosis adalah tidak boleh, bahkan termasuk syirik… juga ini termasuk bergantung kepada selain Allah” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 1/348).

8. Jika Hipnosis modern dalam Islam?

Hipnosis sejatinya adalah teknik atau prosedur dengan kunci satu: memberi sugesti pada yang dihipnosis (proses bawah sadar).

Jika sugesti yang diberikan bertentangan dengan Islam, maka jelas bermasalah. Misal, seseorang disugesti agar bermaksiat atau berkeyakinan kafir.

Nah, jika sugesti yang diberikan sesuai Islam, apakah metodenya diperbolehkan? Misalnya, seseorang dihipnosis agar rajin sholat atau menjauhi maksiat?

Jika sugesti bertujuan mengubah “bawah sadar” sehingga seseorang berubah tidak secara sadar, maka ada kekurangan besar dalam amalnya, yaitu “niat”. Islam mengajarkan untuk beramal dengan niat yang BENAR. Betapa pentingnya masalah niat, sehingga ulama-ulama Islam menyebutkan perkara niat di bagian awal kitab-kitab karya mereka.

Mengapa kita menerapkan hipnosis sebagai solusi permasalahan kita, ketika Allah sudah memberikan jawaban atas permasalahan hidup dengan Islam?

Sebagai penguat akan bermasalahnya hipnosis, sejatinya hipnosis adalah satu diantara metode penyebaran atau program NAM (New Age Movement), meskipun hipnosis tidak lahir dari NAM. Selain itu,program NAM lainnya ada Energi Prana, Fengshui, Huna, NLP, dan bentuk lain yang intinya sama meski namanya berbeda.

Kesamaan program-program NAM adalah percaya pada kekuatan bawah sadar, kehebatannya dan pentingnya kekuatan bawah sadar, dan berlatih untuk masuk ke “kesadaran berbeda” untuk memaksimalkan potensi yang terpendam agar bisa melakukan perubahan.

Sumber:

1. “Menguak New Age Movement” oleh F.A. Kurdi
2. “Self-Hypnosis Techniques for Management of Pain, Relaxation and Sleep” By Mark P. Jensen, PhD.
3. “Science and Pseudoscience in Clinical Psychology” edited by S.O. Lilienfield, S.J. Lynn, J.M. Lohr.
4. “The Truth and the Hype of Hypnosis” By Prof. Michael R. Nash

Redaktur: Eva Fatmah Hasan

Rabu, 19 Agustus 2015

Penyakit itu 90% berasal dari pikiran

Penyakit itu 90% berasal dari pikiran, 10%-nya dari pola makan. Gak Percaya?? Lihat Orang Gila, makan apa pun fisiknya sehat karena pikirannya selalu Happy.

Berikut korelasi daftar penyakit dengan pikiran negatif:

1) MARAH, selama 5 menit akan menyebabkan sistem imun tubuh kita mengalami depresi 6 jam.

2) DENDAM & MENYIMPAN KEPAHITAN akan menyebabkan imun tubuh kita mati.. Dari situlah bermula segala penyakit, seperti STRESS, KOLESTEROL, HIPERTENSI, SERANGAN JANTUNG, RHEMATIK, ARTHRITIS, STROKE (perdarahan / penyumbatan pembuluh darah).

3) Jika kita sering membiarkan diri kita STRESS, maka kita sering mengalami GANGGUAN PENCERNAAN.

4) Jika kita sering merasa KHAWATIR, maka kita mudah terkena penyakit NYERI PUNGGUNG.

5) Jika kita MUDAH TERSINGGUNG, maka kita akan cenderung terkena penyakit INSOMNIA (susah tidur).

6) Jika kita sering mengalami KEBINGUNGAN, maka kita akan terkena GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH.

7) Jika kita sering membiarkan diri kita merasa TAKUT yang BERLEBIHAN, maka kita akan mudah terkena penyakit GINJAL.

8) Jika kita suka ber-NEGATIVE THINKING, maka kita akan mudah terkena DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna).

9) Jika kita mudah EMOSI & cenderung PEMARAH, maka kita bisa rentan terhadap penyakit HEPATITIS.

10) Jika kita sering merasa APATIS (tidak pernah peduli) terhadap lingkungan, maka kita akan berpotensi mengalami PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH.

11) Jika kita sering MENGANGGAP SEPELE semua persoalan, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit DIABETES.

12) Jika kita sering merasa KESEPIAN, maka kita bisa terkena penyakit DEMENSIA SENELIS (berkurangnya memori dan kontrol fungsi tubuh).

13) Jika kita sering BERSEDIH & merasa selalu RENDAH DIRI, maka kita bisa terkena penyakit LEUKEMIA (kanker darah putih).

Sumber : Buku “The Healing & Discovering the Power of the Water” (by : Dr. Masaru Emoto).

Salah satu terapinya dengan berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu daripada sifat pengecut dan sifat kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari terjebak oleh hutang-hutang dan didholimi oleh penguasa”

[Agus Santoso]

Selasa, 18 Agustus 2015

3 STEPS FOR LBGHT

Pertama, sebagai guru,teman atau ortu kita mesti memahami kalau lesbi, gay, biseksual dkk itu bukan penyakit atau kelainan, tapi itu pilihan yang disadari atau tidak disadari baik pengaruh teman maupun media lainnya.

Kedua, prilaku-prilaku negatif itu biasanya berawal dari kurangnya kasih sayang dari orangtua, kerabat, dan orang dekat  baik berupa perhatian, pengajaran, maupun teladan, maka

Ketiga, berdasarkan asumsi ini saya berpendapat solisi penanganan nya adalah kasih sayang orangtua atau keluarga  mutlak ada, atau kerabat dan orang dekat jg wajib memberikan kasih sayangnya padanya dengan perhatian, pengajaran dan teladan yang benar padanya.
Wallahu'lam Bisshowab

BEST REGARD
RIDHO HUDAYANA

Sabtu, 18 April 2015

CARA SETAN MEMBUAT IMAJINASI, FANTASI, KHAYALAN DAN HALUSINASI

Seri Psikoterapi Ruqyah.......
Disusun oleh :
Perdana Akhmad,S.Psi
Pengertian dari imajinasi, fantasi, khayalan dan halusinasi adalah :
1.Imajinasi ( imagination)
Imajinasi itu sendiri kan kata serapan dari Imagination, berasal dari kata dasar Image dan kata kerja Imagine. Image sendiri artinya gambar, Imagine artinya membayangkan gambar. Imajinasi : daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dsb) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang.
Batas imajinasi adalah DAYA imajinasi itu sendiri, saat seseorang berimajinasi BEBAS LEPAS, yang membatasinya hanyalah daya dari imajinasi orang tersebut, dalam arti SEJAUH apa ia mampu "TERBANG" dengan imajinasinya yang bebas merdeka tersebut.
2. Fantasi
Fantasi merupakan sebuah mimpi yang berkembang di luar jangkauan manusia sehingga tidak memiliki parameter yang real dalam mewujudkannya. Lain halnya dengan imajinasi, fantasi lebih bersifat TERLALU mengada-ada. Pasalnya, antara impian dan kenyataan benar-benar tidak dapat dikoneksikan. Yah misalnya saja kita ingin kembali ke kehidupan kita di masa yang lalu atau merubah dirinya menjadi seekor cacing.
3. Khayalan
Khayalan atau ilusi merupakan wujud dari kepalsuan. ilusi merupakan persepsi yang salah dan palsu. Secara terminologis, ilusi berarti ide, keyakinan, atau kesan tentang sesuatu yang jelas-jelas keliru. Pada dasarnya berkhayal bukan hal yang baik karena dapat membuat orang menjadi bingung dan memiliki tekanan batin atau bahkan dapat menyebabkan orang menjadi kehilangan jati dirinya dan cenderung gila2an. Contohnya seorang yang buntung pada kakinya berkhayal dia memiliki kaki yang tidak pernah buntung, maka hakikatnya dia sedang membohongi disi sendiri dan tidak menerima kenyataan lalu hidup dalam kepalsuan.

Senin, 10 Maret 2014

Aktualisasi Tasawuf Sebagai Media Penyadaran Hati dan Diri Manusia

PENDAHULUAN

Tasawuf dalam kamus bahasa Inggris diartikan sebagai " mysticism". Dalam beberapa persoalan, kosa kata ini berkesan negatif, seperti halnya dunia perdukunan atau "klenik" yang penuh dengan khurafat. Introspeksi arti tasawuf meliputi misi, visi, pertumbuhan, faktor pendorong kemunculan, dan posisinya sebagai bagian dari epistimologi. Ada beberapa definisi tasawuf, antara lain didefinisikan sebagai bukan gerak lahir dan bukan pengetahuan, tetapi kebijakan. Al-Junaid al-Baghdadi menyatakan bahwa tasawuf adalah penyerahan diri pada Allah. Ada juga yang berpendapat bahwa tasawuf adalah makan sedikit demi mencari kedamaian dalam zat Allah dan menarik diri dari khalayak. Hati yang sehat dapat menyesuaikan diri dari situasi apapun yang dialaminya tanpa resisrensi bila ia tidak diikatkan pada situasi tertentu.
Dalam pandangan tasawuf, hati ditafsirkan sebagai unsur ilahi yang halus yang diletakkan pada organ fisik jantung (heart). Unsur halus inilah hakekat dari kesejatian seorang manusia. Hati merupakan sumber segala perasaan, emosi, nafsu dan keinginan kita. Tapi hati juga tempat bermukimnya sifat rendah manusia, oleh karena itu hati menjadi pusat dari pertempuran  atau pertarungan antara nafsu mulia dan nafsu rendah., tempat beremanasinya daya dorong dan daya tarik. Hati juga sering dianggap sebagai sumber kekuatan dari manusia, dalam hal ini kemudian hati diistilahkan sebagai “diri”. Sebuah pandangan juga menyatakan bahwa pengertian dan pemahaman tentang hati, yaitu bahwa otak terkait dengan hati. Jadi, sesuatu pengertian dan pemahaman itu berhubungan langsung dengan hati. Pandangan yang menitik beratkan sebagai pusat kesadaran berdasar rujukan dari Al Qur’an
Ajaran tawakal dalam al-Quran mendorong timbulnya tasawuf yang bercerita zuhud. Tawakal adalah penyerahan diri. Pentingnya pengalaman spiritual yang ditekankan dalam al-Quran juga memberikan pengaruh bagi timbulnya tasawuf. Menurut Fazlur Rahman, Nabi saw benar-benar diperintah oleh Allah menjadi Rasul tatkala beliau menyaksikan sesuatu melalui pengalaman-pengalaman spiritual. Jadi, kesadaran kerasulan justru dimulai dari pengalaman spiritual. Fazlur Rahman melihat ayat-ayat yang berisi hal-hal spiritual umumnya sebagai ayat-ayat yang diturunkan di Mekah. jarang dijumpai ayat-ayat Madaniyah yang berisi pentingnya pengalaman-pengalaman spiritual. Menurut Rahman, kenyataan ini mengharuskan adanya dasar-dasar keyakinan dari dorongan pengalaman spiritual terlebih dulu yang kelak menjadi landasan bagi pembangunan umat Islam di Madinah.
Bagi umat Islam, metode atau jalan untuk mensucikan hati yang  tepat adalah menjalani dan mengamalkan latihan-latihan spiritual (mujahadah) untuk menyembuhkan hati, pikiran dan jiwa . Latihan-latihan  ibadah ini seperti dzikir, tafakkur, muhasabah, khalwah, bahkan  akan mampu membawa seseorang berpikir dan berprilaku dengan benar dengan peng-amalan akhlak mulia (akhlakul karimah). Pendidikan diri untuk mencapai pengembangan jiwa dalam rangka mencapai kebahagiaan kehidupan dan pendekatan diri kepada Allah  dalam skala yang lebih luas adalah mengamalkan ajaran-ajaran tasawuf. Tasauwuf adalah disiplin keagamaan yang menyentuh dimensi batin manusia yang lebih bersifat adikodrati sehingga hanya mungkin didekati dengan pendekatan spiritual. Tasawuf mengandung tema-tema  spiritual menyangkut makna cinta, pendekatan dan penyatuan diri dengan Tuhan, pencarian makna hidup, kebahagiaan, kedamaian, prilaku terpuji dan tidak terpuji.
Dari suatu penjelasan sekilas tersebut, motivasai yang diangkat dalam tema “Tujuan Tasawuf Membentuk Kesadaraan Manusiayang kemudian penulis mengangkat judul “Aktualisasi Tasawuf Sebagai Media Penyadaran Hati dan Diri Manusia  adalah memahami peran tasawuf terhadap hati dan diri manusia sendiri yang nantinya akan menimbulkan kesadaran diri manusia sebagai mahluk yang bertuhan, sehingga dapat dijadikan suatu kajian yang mampu menambah khasanah keilmuan.

KAJIAN TEORI

*        Pengertian Hati dan Diri pada Manusia
Hati atau dalam bahasa Arab disebut qalb, menurut Prof Qurais Syihab, berasal dari kata qalaba yang berarti “berubah atau berputar”. Ini mengindikasikan bahwa hati berfungsi secara normal saat keadaan berubah-ubah. Hati yang sehat dapat menyesuaikan diri dari situasi apapun yang dialaminya tanpa resisrensi bila ia tidak diikatkan pada situasi tertentu. Dalam tasawuf hati sering didifinisikan sebagai unsur ilahi yang halus yang diletakkan pada organ fisik jantung (heart). Unsur halus inilah hakekat dari kesejatian seorang manusia. Hati merupakan sumber segala perasaan, emosi, nafsu dan keinginan kita. Tapi hati juga tempat bermukimnya sifat rendah manusia, oleh karena itu hati menjadi pusat dari pertempuran  atau pertarungan antara nafsu mulia dan nafsu rendah., tempat beremanasinya daya dorong dan daya tarik. Hati juga sering dianggap sebagai sumber kekuatan dari manusia, dalam hal ini kemudian hati diistilahkan sebagai “diri”. Sebuah pandangan juga menyatakan bahwa pengertian dan pemahaman tentang hati, yaitu bahwa otak terkait dengan hati. Jadi, sesuatu pengertian dan pemahaman itu berhubungan langsung dengan hati. Pandangan yang menitik beratkan sebagai pusat kesadaran berdasrkan pada Al-Qur’an yang artinya:
            “Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar ? Karena sesungguhnya, bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada.”  (QS Al-Hajj 22;46).
Timbulnya tasawuf dalam Islam bukan sesuatu yang aneh, bahkan menurut “Fazlur Rahman” Kurang keislamannya bila seseorang tidak mengambil tasawuf, kira-kira demikian. Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi Rasulpun, adalah seorang sufi. Beliau hidup sederhana, memikirkan kebenaran, merenungkan alam, dan bertapa (uzlah). Ia juga mengatakan bahwa permulaan gerakan sufi berhubungan dengan satu kelompok muslim yang senang melakukan pertapaan. Mereka senang membaca al-Quran dengan cara menangis. Mereka juga senang bercerita. Cerita-cerita mereka sangat mempengaruhi para pendengarnya. Akan tetapi, yang penting di sini adalah bahwa Nabi saw. Sebelum menjadi Rasul maupun sesudahnya adalah seorang sufi. Demikian juga halnya para sahabat beliau. Hanya saja, waktu itu belum dikenal yang namanya tasawuf (Urutan Riyadhah-nya belum dikodifikasikan dan belum dibuat rumusan-rumusan).

NB: untuk Lanjutan makalah ini silahkan komen di bawah ini dan hubungi admin via FB, WA, BB, atau Twitter yang dicantumkan di banner

Jumat, 07 Maret 2014

PERBEDAAN FAKTOR LINGKUNGAN BAWAAN TERHADAP PERILAKU MAHASISWA DARI DAERAH ASAL

By. Miftahus Surur

BAB I
PENDAHULUAN

I.  LATAR BELAKANG
Pada dasarnya manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk ciptaan Tuhan lainya, kesempurnaanya yang berupa akal, pikiran, perasaan, hati nurani dan hasrat untuk selalu berubah telah menjadikan manusia menjadi mahluk yang disegani diantara mahluk-Nya. Pandangan manusia sebagai mahluk yang dapat berfikir dengan baik sehingga sesuai dengan perilakunya telah mendapatkan respon tersendiri bagi individu lainnya.
Perilaku individu satu dengan individu lain sangat berbeda, salah satunya adalah lingkungan bawaan yang dapat membedakan antara individu yang berasal dari daerah satu dengan daerah lain. Konsekuensi factor lingkungan bawaan yang mendapat porsi khusus terhadap perilaku ini dapat diketahui dengan perilaku individu dalam menjalankan aktivitas ditempat atau daerah yang berbeda, sehingga hal ini akan dapat membedakan antara individu yang berasal dari daerah asal dengan daerah lain. Perilaku yang nampak dari seorang individu akan muncul ketika ia berada dalam suatu tempat atau daerah yang berbeda dari prilaku aslinya begitu juga sebaliknya.
Dalam hubunganya dengan perilaku bawaan terhadap lingkungan yang telah melekat terhadap dirinya sebagai individu yang bertingkah laku maka disini akan diungkapkan berdasarkan teori dari miller dan Dollar yang berpandangan bahwa tingkah laku manusia adalah dipelajari, karena itu untuk memahami tingkah laku social dan proses belajar social, kita harus mengetahui prinsip-prinsip psikologi belajar yang meliputi, dorongan, isyarat, tingkah laku balasdan ganjaran. Dari keempat prinsip ini sangat berhubungan satu diantara yang lain dan dapat saling dipertukarkan.
Berangkat dari teori yang didasarkan oleh Miller dan Dollar tersebut penulis tertarik untuk meneliti perbedaan prilaku individu terhadap lingkungan bawaan dengan membandingkan antara daerah asal dengan daerah individu lain. Dalam penulisan laporan ini penulis mengambil judul " Perbedaan Faktor Lingkungan Bawaan Terhadap Perilaku Mahasiswa Dari Daerah Asal" dengan memfokuskan pada studi kasus mahasiswa dan mahasiswi dari daerah yang berbeda yang sedang studi di Universitas Islam Negeri (UIN)  Malang.
II. RUMUSAN MASALAH
1. Faktor lingkungaan bawaan apa yang membetuk prilaku individu terhadap individu lain sehingga dapat dikatakan berbeda?
2. Bagaimana pandangan Miller dan Dollar terhadap prilaku mahasiswa atau mahasiswi dari beberapa daerah yang berbeda?
3. Bagaimana tinjauan dari psikologi mengenai prilaku mahasiswa atau mahasiswi terhadap lingkungan bawaan dari daerah asal terlepas dari Miller dan Dollar?

III. TUJUAN PENELITIAN
Adapun yang ingin dicapai oleh peneliti dalam tujuan penulisan laporan ini, antara lain adalah:
1. Untuk mendiskripsikan adanya perbedaan faktor lingkungan bawaan terhadap prilaku mahasiswa dari daerah asal.
2. Untuk mengetahui pandangan dan pendapat tiap-tiap mahasiswa atau mahasiswi dari daerah asal dan membandingkanya dengan daerh lain.
3. Untuk mengetahui tinjauan psikologi dengan adanya prilaku bawaan dari lingkungan sehingga prilakunya berbeda.
 
IV.    BATASAN PENELITIAN
 Dalam pembahasan laporan penelitian ini yang dijadikan obyek penelitian oleh penulis adalah factor perilaku bawaan dari lingkungan dari daerah asal berupa: perilaku dalam logat bahasa, berbicara, bersosialisasi, dan tingkat agresifitas prilakunya dengan membedakan prilaku dari daerah lain. Namun difokuskan pada mahasiswa atau mahasiswi yang berasal dari daerah Kediri, Malang, Madura, Jakarta dan Yogyakarta dan sedang melakukan studi dikampus Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, dipandang berdasarkan konsep teori Psikologi Miller dan Dollar.

 
BAB II
LANDASAN TEORI

Prilaku yang telah melekat pada diri Individu terhadap lingkungan bawaan telah memberikan respon tersendiri bagi individu lain. Fenomena tersebut sangat jelas ketika orang yang sedang berada dalam lingkungan yang berbeda individu tersebut cenderung lebih dominan dengan tingkah laku dari bawaanya. Miller dan Dollar salah satu tokoh yang mengembangkan teori behavioristik berpandangan bahwa tingkah laku manusia adalah dipelajari, oleh karena itu untuk memahami tingkah laku social dan belajar social, kita harus mengetahui prinsip-prinsip psikologi belajar. Menurut  Miller dan Dollar terdapat 4 prinsip dalam belajar yaitu dorongan (drive), isyarat (cue), tingkah laku-balas (response), dan ganjaran (reward). Keempat prinsip ini sangat kait-mengkait dan dapat saling dipertukarkan, yaitu dorongan menjadi isyarat, isyarat menjadi ganjaran dan seterusnya.
Dorongan adalah rangsang yang sangat kuat yang mendorong organisme (manusia atau hewan) untuk bertingkah laku. Stimulus-stmulus yang cukup kuat biasanya bersifat biologis seperti: lapar, haus, seks, kejenuhan dan sebagainya. Hal ini disebut dorongan primer (primary drive) dan menjadi dasar utama untuk motivasi. Pada manusia yang berbudaya tinggi, dorongan primer jarang menjadi kepentingan pokok kecuali dalam keadaan perang, bencana, kemiskinan, dan keadaan-keadaan darurat lainnya. Pada manusia yang berbudaya tinggi, dorongan-dorongan primer disosialisasikan menjadi dorongan sekunder (secondary drive), misalnya lapar disosialisasikan menjadi dorongan untuk makan-makanan tertentu (nasi atau roti), seks diasosiasikan menjadi hubungan suami istri dalam perkawinan, dorongan-dorongan primer lain disosialisasikan menjadi dorongan uang, pujian dan sebagainya. Menurut Miller dan Dollar semua tingkah laku didasari oleh dorongan, termasuk tingkah laku tiruan.
Isyarat adalah rangsang yang menentukan bila dan dimana suatu tingkah laku-balas akan timbul dan tingkah laku balas apa yang akan terjadi, isyarat disini dapat disamakan dengan rangsang diskriminatif. Dalam belajar social, isyarat yang terpenting adalah tingkah laku orang lain, baik yang langsug ditunjukkan kepada orang lain tertentu maupun yang tidak. Misallan; uluran tangan merupakan isyarat untuk berjabat tangan.
Mengenai tingkah laku balas Miller dan Dollar berpendapat bahwa organisme mempunyai hierarki bawaan dari tingkah laku-tingkah laku (innate hierarchy responses). Pada waktu organisme dihadapkan untuk pertama kalinya pada suatu rangsang tertentu, maka tingkah laku balas yang timbul berdasarkan hierarki tersebut. Baru setelah beberapa kali terjadi ganjaran dan hukuman, maka akan timbul tingkah laku balas yang sesuai dengan factor-faktor penguat tersebut. Tingkah laku balas yang sudah disesuaikan dengan factor-faktor penguat tersebut disusun menjadi hierarki resultan (resultan hierarchy of responses). Disinilah pentingnya belajar dengan cara coba dan ralat (trial and error learning). Dalam tingkah laku social, belajar coba dan ralat dikurangi dengan belajar tiruan (imitation learning) dimana seorang anak tinggal meniru tingkah laku orang dewasa untuk dapat memberikan tingkah laku balas yang tepat, sehingga ia tidak perlu membuang waktu untuk belajar dengan cara coba dan ralat. Di sinilah peran guru, orang tua dan orang dewasa dalam mendidik anak-anak dan generasi muda. Sedangkan ganjaran sendiri menurut Miller dan Dollar  adalah rangsang yang menetapkan apakah suatu tingkah laku balas akan diulang atau tidak dalam kesempatan lain.
Selanjutnya  Miller dan Dollar mengungkapkan ada tiga mekanisme tiruan, yaitu:
" Tingkah laku sama
Tingkah laku yang dimaksudkan, tingkah laku sama terjadi bila dua orang bertingkah laku balas sama terhadap rangsang atau isyarat yang sama. Misalnya: dua orang naik bis yang sama karena mereka sejurusan. Tingkah laku sama ini tidak selalu merupakan hasil tiruan, oleh karena itu tidak dibicarakan lebih lanjut oleh Miller dan Dollar .
" Tingkah laku tergantung
Tingkah laku tergantung timbul dalam hubungan antara dua pihak dimana salah satu pihak adalah lebih pintar, lebih tua atau lebih mampu dari pada pihak lain. Dalam hal ini pihak yang lain itu akan menyesuaikan tingkah lakunya (match) dan akan tergantung (dependent) pada pihak pertama. Misalnya: kakak adik sedang bermain menunggu ayah pulang, biasanya ayah membawa permen. Terdengar suara langkah kaki ayah, kakak segera berlari ke pintu. Adik ikut-ikutan lari, ternyata ayah membawa permen dan diberikan kepada adiknya. Adik yang semula hanya meniru tingkah laku kakaknya mendapat ganjaran, dilain waktu kalau adik mendengar langkah kaki ayahnya, ia langsung berlari kepintu walaupun kakak tidak ada.
" Tingkah laku salinan
Pada tingkah laku ini, seperti halnya pada tingkah laku tergantung, pada tingkah laku salinan, si peniru bertingkah laku atas dasar isyarat (berupa tingkah laku juga) yang diberiakan oleh model, demikian juga dalam tingkah laku salinan ini pengaruh ganjaran dan hukuman sangat besar terhadap kuat atau lemahnya tingkah laku tiruan.  
Tingkah laku tergantung dapat terjadi dalam empat situasi yang berbeda, yakni:
1. Tujuan (goal) sama tetapi tingkah laku balas bebeda, dalam keadaan ini kalau orang pertama mendapat ganjaran, sedangkan orang kedua tidak, maka orang kedua akan meniru tingkah laku orang pertama.
2. Si peniru mendapat ganjaran (berupa ganjaran sekunder) dengan melihat tingkah laku orang lain. Misalnya: anak kecil merasa senang melihat ibunya mengajak bermain ciluk-ba karena senang maka ia menirukan prbuatan ibunya dan ternyata ibunya lebih senang lagi dan tertawa atau memuji anak tersebut (ganjaran yang lebih luas lagi).
3. Si peniru membiarkan orang yang ditiru untuk melakukan tingkah laku balas terlebih dahulu, kalau berhasil, barulah ditiru.
4. Dalam hal ganjaran terbatas (hanya untuk peniru atau yang ditiru), maka akan terjadi persaingan antara model dan peniru. Peniru akan menirukan tingkah laku model untuk mendapat ganjaran.


BAB III
METODE PENELITIAN

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang dihasilkan dari tulisan atau ungkapan berupa tingkah laku yang dapat diobservasi dari individu. Sehingga pendekatan ini memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan dari satuan gejala dan prilaku yang ada dalam kehidupan individu.  Adapun alasan penelitian ini meggunakan pendekatan kualitatif karena dalam penelitian ini data yang dihasilkan berupa data deskriptif atau uraian dan bukan berupa angka-angka. Data-data yang diperoleh berupa tulisan dan kata-kata yang berasal dari sumber-sumber atau informan yang dapat dipercaya.
Sedangkan jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dimana peneliti menggambarkan data dari hasil penelitian dengan kata-kata atau kalimat yang dipisah-pisah menurut kategori dan dianalisis untuk memperoleh kesimpulan yang jelas. Sebelum dianalisis, data yang dihasilkan dari penelitian akan dideskripsikan terlebih dahulu. Sehingga dalam penelitian ini dapat memudahkan peneliti untuk mengkaji lebih dalam dengan sudut pandang psikologi.
2. Sumber Data
Adalah subyek dari mana data diperoleh dan sumber data dalam penelitian ini terdiri dari:
a. Data Primer atau data dasar (primary atau basic data); ialah data dasar yang diperoleh peneliti dari orang pertama, dari sumber asalnya yang belum diolah dan diuraikan oleh orang lain. Dalam penelitian ini yang menjadi data primer adalah data yang diperoleh dari hasil observasi dan interveuw dengan obyek di lokasi penelitian, yakni dari tiap daerah mahasiswa atau mahasiswi yang studi dikampus Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.
b. Data Sekunder (Secondary data); yaitu sumber data yang diperoleh dari bahan pustaka, mencakup antara lain seperti yang terdapat dalam buku-buku, majalah, internet serta catatan-catatan yang berkaitan dengan pengaruh lingkungan bawaan terhadap prilaku individu.
3. Teknik Pengumpulan Data
Untuk melancarkaan proses penelitian dan pengolahan data, peneliti   menggunakan beberapa teknik, antara lain:
a. Observasi ialah metode yang dilakukan dengan cara mengamati secara langsung terhadap obyek yang diteliti guna mendapatkan gambaran yang nyata tentang perilaku yang berkaitan dengan pandangan tiap daerah mahasiswa atau mahasiswi dari adanya perbedaan faktor lingkungan bawaan terhadap prilaku individu. Sutrisno Hadi menganggap bahwa metode observasi sangat tepat untuk mengetahui obyek secara langsung, disamping itu observasi adalah teknik pengumpulan secara sistematis terhadap obyek yang diamatinya (fenomena). Dalam penelitian ini metode observasi digunakan untuk mencari informasi dan mengetahui kebenaran data yang benar-benar berasal dari daerah aslinya dan dimana ia dilahirkan, dengan melalui pendekatan personal dan dilanjutkan dengan interview atau wawancara dengan obyek yang diteliti.
b.   Alat-alat Penelitian
Untuk lebih memberikan kemudahan peneliti, hal ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi penelitian, maka peneliti mempergunakan metode alat Rating Skala, yakni suatu metode pencatatan gejala menurut tingkatan-tingkatanynya. Dalam Rating skala ini, akan diungkapkan beberap tingkah laku bawaan yang berupa perilaku dalam logat berbahasa, berbicara, bersosialisasi, dan tingkat agresifitas prilakunya.
4. Gambaran Obyek Dan Lokasi Penelitian
   Dalam penelitian pada tiap-tiap mahasiswa atau mahasiswi yang berbeda dari daerah asal dengan daerah lain, maka obyek yang dapat diteliti disini adalah mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari daerah Kediri, Malang, Madura, Jakarta dan Yogyakarta yang akan tampak prilakunya dalam suatu perkumpulan atau perbincangan biasa dikampus. Sedangkan lokasi yang dijadikan penelitian oleh peneliti disini adalah di dikampus Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, yang mahasiswanya berasal dari beberapa daerah yang berbeda.

NB: untuk Lanjutan makalah ini silahkan komen di bawah ini dan hubungi admin via FB, WA, BB, atau Twitter yang dicantumkan di banner

Minggu, 02 Februari 2014

Kursus Psikologi


Anda senang dengan Psikologi? dan mau belajar psikologi tapi bingung dmn belajarnya?
Ayooo.. hadir di Free General Class nya Psychology For All pada tanggal 10 Februari jam 15.30-17.00
So.. Don't Miss It!