Tampilkan postingan dengan label Psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Desember 2013

Bimbingan Konseling Islam

Insan Kamil Menurut Murtadha Muthahhari Dalam Hubungannya Dengan Kesehatan Mental (Analisis Bimbingan Dan Konseling Islam)

 Oleh: Sugi Hartono (1199046)

Berbicara tentang insan kamil tidak bisa dipisahkan dengan keadaan dewasa ini yaitu tentang kesehatan mental manusia. Dalam sebuah laporan hasil studi yang dimuat di majalah American Journal of Psychiatry and Archives of General Psyichiatry, menunjukkan, sebagian besar responden menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara komitmen agama dan kesehatan mental. Sebagian besar responden menyatakan persetujuannya bahwa keimanan agama adalah hal yang terpenting dalam mempengaruhi kehidupan mereka. Dalam perspektif Murtadha Muthhahari, Insan Kamil adalah manusia teladan atau manusia ideal.

Yang menjadi masalah dari skripsi ini ialah bagaimana insan kamil Murtadha Muthahhari dalam perspektif bimbingan konseling Islam. Dalam metode penelitian ini, sebagai sumber primernya, karya-karya ilmiah yang disusun Murtadha Muthahhari terutama karya ilmiah beliau berjudul The Perpect Man; Keadilan Ilahi, Konsep Takdir; Manusia dan Alam Semesta; Filsafat Dalam Perspektif Manusia, Insane Kamil yang berhubungan dengan dakwah. Sedangkan data sekunder digunakan kepustakaan lainnya yang relevan dengan judul di atas. Sebagai metode pengumpulan data digunakan teknik liberary risearch. Sedangkan metode analisis data menggunakan: metode inferensial.

Hasil dan pembahasan: Konsep Murtadha Muthahhari tentang Insan Kamil. Menurut Murtadha Muthahhari, insan kamil (manusia sempurna) itu adalah manusia teladan, unggul, luhur pada semua nilai-nilai insani dan selalu menang di medan-medan tempur kemanusiaan. Di samping itu manusia tersebut seluruh nilai insaninya berkembang secara seimbang dan stabil serta tidak satupun dari nilai-nilai yang berkembang itu tidak selaras dengan nilai-nilai yang lain. Dengan demikian menurut Murtadha Muthahhari manusia yang kamil memiliki jiwa dan mental yang sehat yaitu yang seluruh nilai insaninya berkembang secara seimbang dan stabil dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai yang lain.


Relevansi konsep insan kamil Murtadha Muthahhari dengan kesehatan mental ditinjau dari Bimbingan Konseling Islam dapat dijelaskan dengan kenyataan bahwa konsep insan kamil yang ditawarkan Murtadha Muthahhari bertujuan untuk melahirkan manusia yang sehat jasmani dan rohani agar dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Hal ini sejalan dengan tujuan bimbingan dan konseling Islam yaitu membantu individu mewujudkan dirinya sebagai manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Selain dari itu, konsep Murtadha Muthahhari relevan dengan fungsi bimbingan dan konseling Islam yang bersifat preventif, kuratif atau korektif, preservative, dan developmental atau pengembangan.

Jumat, 08 Juli 2011

MOTIVASI

Motivasi berpangkal dari kata "motif" yang dapat diartikan sebagai daya  penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas  tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai  suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).
Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah  perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling"  dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang  dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi  itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai  dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.

Jumat, 01 Juli 2011

Defense Mechanism

By. Sadid Al Muqim

           
Represi (juga senjata seorang anxiety disorder)
Represi didefinisikan sebagai upaya individu untuk menyingkirkan frustrasi, konflik batin, mimpi buruk, krisis keuangan dan sejenisnya yang menimbulkan kecemasan. Bila represi terjadi, hal-hal yang mencemaskan itu tidak akan memasuki kesadaran walaupun masih tetap ada pengaruhnya terhadap perilaku. Jenis-jenis amnesia tertentu dapat dipandang sebagai bukti akan adanya represi. Tetapi represi juga dapat terjadi dalam situasi yang tidak terlalu menekan. Bahwa individu merepresikan mimpinya, karena mereka membuat keinginan tidak sadar yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Sudah menjadi umum banyak individu pada dasarnya menekankan aspek positif dari kehidupannya. Beberapa bukti, misalnya:

Sabtu, 17 Juli 2010

Psikologi Konseling Bersifat Personal

Psikologi Konseling Bersifat Personal
by Faiz dkk

Konseling berpusat pada person dikembangkan oleh Carl Person Rogers salah seorang Psikologi klinis yang sangat menekuni bidang konseling dan psikoterapi.
Konseling bagi memandang berpusat pada person (person centerad) yang memandang klien sebagai partner dan perlu adanya keserasian pengalaman baik pada klien maupun konselor dengan keduanya perlu mengemukakan pengalamannya pada saat hubungan konseling berlangsung.
A.TEORI KEPRIBADIAN
Baginya cara mengubah dan perhatian terhadap proses perubahan kepribadian jauh lebih penting daripada karakteistik kepribadian itu sendiri. Dalam proses konseling sangat penting untuk memperhatikan perubahan-perubahan kepribadian. Rogers mengungkapkan bahwa terdapat tiga unsure yang sangat esensial dalam hubungannya dengan kepribadian yaitu, self,medan fenomenal, dan organisme. Self disebut juga struktur self  yang merupakan persepsi dan nilai-nilai individu tentag dirinya atau hal-hal yang berhubungan dengan dirinya.
Medan fenomenal adalah keseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Pengalaman yang meliputi peristiwa-peristiwa yang diperoleh dari pengalaman dan dari apa yang pernah dilakukan individu. Pengalaman ada yang bersifat internal (pandangan terhadap dirinya sendiri) dan eksternal (pandangan terhadap dunia luar).
Organisme merupakan keseluruhan totalitas individu, yang meliputi pemikiran, perilaku dan keadaan fisik. Organisme mempunyai satu kecendeungan dan dorongan dasar yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan dan mengembangkan diri.
Kepribadian menurutnya merupakan interaksi yang terus menerus antara organisme, self dan fenomenal. Untuk memahami perkembangan kepribadian perlu dibahas tentang dinamika kepribadian.

B.DINAMIKA KEPRIBADIAN
1. Kecenderungan mengaktualisasikan
    Organisme manusia adalah unik dan memiliki kemampuan untuk mengarahkan, mengatur, mengontrol dirinya dan mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, manusia berkecenderungan untuk mengaktualisasikan diri yaitu untuk mengembangkan seluruh kemampuannya dengan jalan memelihara meningkatkan organisme ke arah otonomi. Kecederungan mengaktualisasikan ini sifatnya terarah, konstruktif dan ada dalam kehidupannya.
2. Penghargaan positif dari orang lain
    Self  berkembang dari interaksi yang dilakukan organisme dengan realitas lingkungannya, dan hasil interaksi ini menjadi pengalaman bagi individu. Lingkungan sosial yang sangat berpengaruh adalah orang-orang yang bermakna baginya, seperti orang tua atau orang terdekat lainnya. Seseorang akan berkembang positif jika di dalam berinteraksi itu mendapatkan penghargaan, penerimaan, dan cinta dari orang  lain.
3. Person yang berfungsi secara utuh
    Individu yang terpenuhi kebutuhannya, yaitu memperoleh penghargaan positif tanpa syarat dan mengalami penghargaan diri, akan dapat mencapai kondisi yang kongruen self dan pengalamannya, pada akhirnya dia akan dapat mencapai secara baik. Pribadi yang berfungsi secara sempurna yang ditandai dengan keterbukaan terhadap pengalaman, percaya kepada dirinya sendiri, mandiri, ekspresif, dan kreatif (Roger, 1970)

HAKIKAT MANUSIA
Hakikat manusia menurut Roger adalah
1. Manusia cenderung untuk melakukan aktualisasi diri, hal ini dapat dipahami bahwa organisme akan mengaktualisasikan kemampuanya dan memiliki kemampuan untuk mengarahkan dirinya sendiri.
2. Perilaku manusia pada dasarnya sesuai dengan persepsinya tentang medan fenomenal dan individu itu mereaksi medan itu sebagaimana yang dipersepsi. Oleh karena itu, persepsi individu tentang medan fenomenal bersifat subjektif.
3. Manusia pada dasarnya bermanfaat dan berharga dan dia memiliki nilai-nilai yang dijunjung tinggi sebagai hal yang baik bagi dirinya.
4. Secara mendasar manusia itu baik dan dapat dipercaya, konstruktif tidak merusak dirinya.
    Asumsi-asumsi tentang manusia ini secara prinsipil menentukan tujuan dan prosedur konseling yang harus diperhatikan oleh konselor yang berpusat pada person.


C.PERILAKU BERMASALAH
-Ketidak sadaran pribadi
-ketidak sadaran kolektif

Kesadaran
Dunia Dalam
Dunia luar


Self adalah titik pusat kepribadian yang mana karena sebagai titik pusat sehingga kemampuan Self dalam mengorganisir sistem dapat terkontelasikan (terkontrol) sehingga Self adalah Diri yang mempersatukan sistem-sistem dan memberikan kepribadian dengan kesatuan, keseimbangan dan kestabilan pada kepribadian


Teori ini di kemukakan oleh Jung yang mana dalam konsep Self secara keseluruhan berperan aktif dalam pembentukan kepribadian namun berbeda hal nya dengan Rogers yang mengatakan bahwa Self di bentuk berdasarkan pengalaman dan hal ini menjadikan bahwa self di bagi menjadi tiga klasifikasi yang mana hubungan antara self dengan pengalaman yaitu self kongruency (congruence) pengalaman yang sesuai dengan self hal ini biasanya oleh individu langsung di lambangkan di simbolisasi, di akui oleh individu, dua tidak kongruency (uncongruence) pengalaman yang tidak sesuai dengan self biasanya hal ini akan di sortir dan di tolak oleh individu, tiga self yang tidak memiliki hubungan dengan pengalaman individu akan di abaikan.
Rogers juga mengatakan pembentukan Self terjadi karena dua proses yang pertama adalah Asimilasi adalah proses pengalaman langsung individu dan ini adalah sebuah proses dimana individu dapat menyusun konsep dirinya tentang siapa dirinya dengan pengalaman yang terjadi pada individu yang kian hari kian bertambah dan hal inilah yang kemudian teridentifikasi sebagai Self-nya, sedangkan proses kedua adalah proses Introyeksi hal ini adalah pembentukan self karena individu berinteraksi dengan individu yang lain dan lingkunganya dan biasanya terjadi pada individu dan lingkungan yang paling dekat dengan dirinya.
Namun pengalaman seseorang yang terjadi baik dari dirinya sendiri,dari orang lain maupun dari lingkungan sekitar tidak serta merta dapat menjadikan hal tersebut sebagai Self individu dan yang paling dominan pengalaman yang menjadi Self individu adalah pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan struktur self jika tidak maka individu akan menolak (denied) pengalaman ini adalah pengalaman yang tidak di akui sebagai bagian dirinya  atau di kaburkan (distortion) pengalaman ini adalah pengalaman yang di sadari namun tetapi dalam bentuk yang dibuat imajinasinya saja.
Distorsi atau penolakan pengalaman dilakukan untuk menjaga integritas struktur self-nya telah terbentuk (Hjelle dan Ziegler, 1981) pengalaman yang tidak sesuai dengan self maka akan menimbulkan ketegangan psikologis setiap pengalam yang tidak selaras dengan self maka akan di amati sebagai sebuah ancaman dan semakin meningkat  maka self akan semakin tegas struktur self untuk mempertahankan diri.
Unhealty mode (Non Overlap)

Healty mode (over lap)
Ideal self
Self as seen by self
    2.    (A)



Self as trought to be seen by others
1.
   





    (B)




Skema pertama adalah bentuk self yang menolak atau tidak sesuai dengan dirinya sedangkan skema yang kedua adalah Self yang menerima pengalam dan sesuai dengan dirinya.
Dan Hal ini menunjukan bahwa kesesuaian  pengalaman dengan self maka akan berdampak pada pembentukan self ataupun bagaiman self tersebut menanggapi pengalaman jika baik maka pengalaman tersebut akan masuk pada konsep diri seseorang namun jika tidak sesuai maka konseptersebut akan di tolak atau di abaikan.
Perilaku bermasalah adalah pengasingan tidak memperoleh penghargaan secara positif dari orang lain ketidakselarasan antara pengalaman dan Self maka individu akan mengalami kecemasan dan di tunjukan oleh ketidakkonsistenan konsep dirinya,defensif, dan berperilaku salah penyesuaianya (Hansen Dkk., 1982)
D.PRINSIP-PRINSIP KONSELING   
Berdasarkan pandangan Rogers tentang hakikat manusia, konseling berpusat pada person dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :
a.    Konseling berpusat pada person difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih sempurna.
b.    Menekankan pada dunia fenomenal klien, dengan jalan memberi empati dan perhatian terutama pada persepsi klien dan persepsinya terhadap dunia.
c.    Konseling ini dapat diterapkan pada individu yang dalam kategori normal maupun yang mengalami derajat penyimpangan psikologis yang lebih berat.
d.    Konseling merupakan salah satu contoh hubungan pribadi yang konstruktif.
e.    Konselor perlu menunjukkan sikap-sikap tertentu untuk menciptakan hubungan terapetik yang efektif kepeda klien.
Penjelasan
a.    Konselor dan klien bersama-sama fokus dan bersiap untuk menghadapi kehidupannya secara lebih baik dan memberikan hal-hal untuk membangun tanggung jawab dan pandangan klien menjadi lebih sempurna.
b.    Konselor memberikan pandangan seperti keterangan di atas, memberi pengertian realitas kehidupannya dengan persepsi yang sesuai dengan kehidupannya tersebut, jadi antara kehidupan klien dengan persepsinya tidak ada ambiguitas atau kesalah jalanan.
c.    Jadi dalam memberikan konseling, hal ini tidak hanya dapat dilakukan pada orang yang benar-benar normal, tapi juga dapat pada seorang yang kurang normal. Akan tetapi konselor yang berperan di sini bukan hanya konselor biasa, tapi memang telah mampu untuk melakukan profesinya dengan baik.
d.    Jadi seperti yang sudah dijelaskan di awal perkuliahan, bahwa konseling di sini bersifat pribadi dan dilakukan di ruangan, bukan di tempat terbuka. Dalam hal ini konseling juga untuk membangun pribadi klien yang sedang goyah, agar dapat bangun kembali dari permasalahan pribadinya.
e.    Meski sebagai konselor kita harus profesional, bukan berarti tidak fleksibel terhadap klien, akan tetapi sikap yang dimaksud di sini adalah sikap yang hangat dan dari hati, dengan perasaan yang mampu membuat klien merasa nyaman dengan kehadiran kita sebagai konselornya.
Tahapan konseling
Tahapan konseling berpusat pada person menurut Boy dan Pine (1981), jika dilihat dari apa yang dilakukan konselor dapat dibuat dua tahap. Pertama, tahap membangun hubungan yang terapetik, menciptakan kondisi fasilitatif dan hubungan yang subtantif seperti empati, kejujuran, ketulusan, penghargaan dan positif tanpa syarat. Tahap kedua adalah tahap kelanjutan yang disesuaikan dengan kebutuhan klien. Sedangkan jika dilihat dari segi pengalaman klien dalam proses hubungan konseling dapat dijabarkan bahwa proses konseling dapat dibagi menjadi empat tahap, corey, (1988) :
1.    Tahap pertama klien dapat ke konselor dalam kondisi tidak kongruensi, mengalami kecemasan, atau kondisi penyesuaian diri yang tidak baik.
2.    Tahap kedua, saat klien menjumpai konselor dengan penuh harapan dapat memperoleh bantuan, jawaban atas permasalahan yang sedang dialami, dan menemukan jalan atas kesulitan-kesulitannya. Perasaan yang ada pada klien adalah ketidakmampuan mengatasi kesulitan hidupnya.
3.    Tahap ketiga, pada awal konseling, klien menunjukkan perilaku, sikap, dan perasaan yang kaku. Dia menyatakan permasalahan yang dialami kepada konselor secara permukaan dan belum menyatakan pribadi yang dalam. Pada awal-awal ini klien cenderung mengeksternalisasi perasaan dan masalahnya, dan mungkin bersikap defensif. Karena kondisi yang diciptakan konselor kondusif dengan sikap empati dan penghargaan, konselor terus membantu klien untuk mengeksplorasi dirinya secara lebih terbuka, jika hal ini berhasil maka klien mulai menunjukkan sikapnya yang lebih menyatakan diri yang sesungguhnya.
4.    Tahap keempat, klien mulai menghilangkan sikap dan perilaku yang kaku, membuka diri terhadap pengalamannya, dan belajar untuk bersikap lebih matang dan lebih teraktualisasi, dengan jalan menghilangkan pengalaman yang didistorsinya.

F.TUJUAN KONSELING

Berangkat dari pandangan Rogers tentang kepribadian, jelas bahwa Rogers menaruh perhatian pada keadaan psikologis yang sehat, yang dapat menyesuaikan secara psikologis. Dari pandangan itu dapat dikemukakan bahwa keadaan yang kongruensi pada seseorang merupakan titik perhatian dalam pendekatan konseling berpusat pada person ini. Artinya bahwa proses konseling diharapkan dapat membantu klien dalam menemukan konsep dirinya sesuai dengan medan fenomenalnya, dia tidak lagi menolak atau mendistorsi pengalaman-pengalamannya sebagaimana adanya.
    Secara ideal tujuan konseling berpusat pada person tidak terbatas oleh tercapainya pribadi yang kongruensi saja. Bagi Rogers tujuan konseling pada dasarnya sama dengan tujuan kehidupan ini, yaitu apa yang disebut dengan fully functioning person, yaitu pribadi yang berfungsi sepenuhnya. Rogers beranggapan bahwa fully functioning person itu kurang lebih memiliki kesamaan dengan self- actualization, meskipun memiliki sedikit perbedaan. Fully functioning person merupakan hasil dari proses dan karena itu lebih bersifat becoming, sedangkan aktualisasai diri sebagaimana yang dikemukakan Maslow lebih merupakan keadaan akhir dari kematangan mental dan emosional, karena lebih merupakan self-being (Cottone, 1991)
    Sahakian (1976) merinci secara detail fully functioning person sebagai berikut:
1.    Dia akan terbuka dalam pengalamannya dan keluar dari kebiasaan untuk defensif.
2.    Karena itu seluruh pengalamannya akan dapat disadari sebagai sebuah kenyataan.
3.    Seluruh yang disimbolisasi atau yang dinyatakan secara verbal maupun dalam tindakan adalah  akurat yang sebenarnya sebagaimana pengalaman itu terjadi.
4.    Struktur self-nya akan kongruensi dengan pengalamannya.
5.    Struktur self-nya akan mampu berubah secara fleksibel sejalan dengan pengalaman baru.
6.    Pengalaman self-nya akan dijadikan sebagai pusat evaluasi.
7.    Dia akan memiliki pengalaman self-regard.
8.    Dia akan berperilaku secara kreatif untuk beradaptasi terhadap peristiwa-peristiwa yang baru.
9.    Dia akan menemukan nilai organismenya terpercaya mengarah pada perilaku yang sangat memuaskan, karena:
·    Seluruh pengalamannya akan dapat disadari;
·    Tidak ada pengalaman yang didistorsi atau ditolak; dan
·    Akibat perilakunya juga akan disadari.
10.    Dia akan dapat hidup dengan orang lain dalam keadaan sangat memungkinkan untuk harmonis, sebab dia tetap menghargai secara positif karakter secara timbal balik.
    Secara singkat tujuan konseling ini mencakup: terbuka terhadap pengalaman, adanya kepercayaan terhadap organismenya sendiri, kehidupan eksistensial yaitu sepenuhnya dalam setiap moment kehidupan, perasaan bebas, dan kreatif.

G. KONDISI KONSELING DAN PERAN KONSELOR
    Dalam pandangan Rogers, konselor lebih banyak berperan sebagai partner klien dalam memecahkan masalahnya. Dalam hubungan konseling, konselor ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan segala permasalahan, perasaan dan persepsinya, dan konselor merefleksikan segala yang diungkapkan oleh klien.
    Agar peran ini dapat dipertahankan dan tujuan konseling dapat dicapai, maka konselor perlu menciptakan iklim atau kondisi yang mampu menumbuhkan hubungan konseling. Kondisi konseling ini menurut Rogers (1961) satu keharusan dan cukup memadai untuk pertumbuhan, sehingga dia menyebutnya sebagai necessary and sufficient conditions for therapeutic change. Kondisi-kondisi yang perlu diciptakan itu adalah sebagai berikut:
1.    Konselor dan klien berada dalam hubungan psikologis.
2.    Klien adalah orang yang mengalami kecemasan, penderitaan, dan ketidakseimbangan.
3.    Konselor adalah benar-benar dirinya sejati dalam berhubungan dengan klien.
4.    Konselor merasa atau menunjukkan unconditional positive regard untuk klien.
5.    Konselor  menunjukkan rasa empati dan memahami tentang kerangka acuan klien dan memberitahukan pemahamanya kepada klien.
6.    Klien menyadari (setidaknya pada tingkat minimal) usaha konselor yang menunjukkan sikap empatik berkomunikasi dan unconditioning positive regard kepada klien.
Kontak psikologis, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rogers terjadi ketika dua orang berinteraksi. Setiap orang mencapai kesadaran yang berbeda dalam lapangan pengalaman dari yang lain.

Minggu, 30 Mei 2010

Model File KomputerTerhadap Kemampuan Mengingat Ayat Al-Qur’an


Pengaruh ”Model File KomputerTerhadap Kemampuan Mengingat Ayat Al-Qur’an

oleh Istianah, S.Psi



Istianah. 2009. Pengaruh ”Model File KomputerTerhadap Kemampuan Mengingat Ayat Al-Qur’an pada Santri TPQ Miftahur Rahman Jombang. Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Dosen Pembimbing: M. Lutfi Mustofa, M.Ag.

Kata kunci: ”Model File Komputer”, Kemampuan mengingat

Ingatan merupakan suatu proses dimana saat manusia mempertahankan dan menggambarkan pengalaman masa lalunya dan menggunakan hal tersebut sebagai sumber informasi saat ini. Proses dari mengingat adalah menyimpan suatu informasi, mempertahankan dan memanggil kembali informasi tersebut. Dalam dunia pendidikan ilmu keagamaan saat ini banyak sekali berbagai metode untuk meningkatkan kemampuan mengingat terutama dalam mempelajari dan menghafal ayat al-Qur’an. Dengan tujuan agar para pesera didik mampu membaca, memahami dan mengetahui isi kandungan dari suatu ayat al-Qur’an.

”Model file komputer adalah salah satu model yang digunakan dalam menghafal al-Qur’an, yang mana model teks ditulis yaitu menggunakan sistem cerita, sistem pengganti, sistem lokasi/loci, sistem angka, dan sistem kalimat. Dalam hal ini, semua surat dalam juz 30 masing-masing surat, nama surat, arti surat dan inti kandungan surat dibuat dalam bentuk gambar untuk memudahkan visualisasi.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ”model file komputerterhadap kemampuan mengingat ayat al-qur’an di TPQ Miftahur Rahman Jombang yang berlokasi di desa Jatirejo, Diwek, Bandung, Jombang. Penelitian ini menggunakan eksperimen semu (experiment quasi) dengan menggunakan menggunakan desain dua kelompok yaitu nonrandomized pretest-posttest control group. Subjek penelitian diambil dengan menggunakan teknik purposive sample (sampel bertujuan), sehingga didapatkan dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 anak. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah ”model file komputer” dan variabel terikatnya adalah kemampuan mengingat. Instrumen yang digunakan adalah tes lisan, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 7 sampai dengan 14 januari 2009 di TPQ Miftahur Rahman Jombang. Analisis data yang digunakan adalah uji Ranking Bertanda Wilcoxon, dengan menggunakan bantuan komputer SPSS 11,5 for windows.

Berdasarkan hasil analisa data, kecepatan mengingat pada kelompok perlakuan diperoleh nilai asym sig= 0,080, dan kelompok kontrol= 0,043. Daerah kritis adalah Ha diterima jika nilai asymp sig > nilai a, maka Ho ditolak yang berarti bahwa ada perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan. Untuk ketepatan mengingat pada kelompok perlakuan diperoleh asym sig= 0,176, dan kelompok kontrol diperoleh= 0,042. Dimana Ha diterima jika nilai asy sig > nilai a, dengan demikian maka Ha diterima yang berarti bahwa tidak ada pengaruh sebelum dan sesudah menghafal pada kelompok kontrol. Nilai asy sig untuk rata-rata kecepatan mengingat yaitu 0,251, untuk ketepatan mengingat yaitu 0,916. Dengan demikian maka Ha ditolak yang berarti bahwa ada pengaruh sebelum dan sesudah perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa ”model file komputer” berpengaruh terhadap kemampuan mengingat santri.

Minggu, 23 Mei 2010

PSIKODINAMIKA PELAKU BULLYING PADA SALAH SATU SMA di Malang


PSIKODINAMIKA PELAKU BULLYING
PADA SALAH SATU SMA di Malang 

Oleh : Nor Amalia Abdiah, S.Psi

Tindak kekerasan terjadi di seluruh dunia bahkan di seluruh segmen
masyarakat. Kekerasan dapat muncul dengan berbagai cara dan dapat dilihat
dalam tindakan yang berbeda. Kekerasan juga dinamakan dengan agresifitas.
Agresivitas manusia merupakan segala bentuk perilaku yang dimaksudkan
untuk menyakiti seseorang baik secara fisik maupun mental.1
Kekerasan dapat terjadi kapan dan di mana saja. Kekerasan dapat
terjadi di rumah tangga, dunia kerja, bahkan dalam dunia pendidikan. Bahkan
seringkali sulit mencegah agar tindak kekerasan tidak menyebar. Kekerasan
bisa disebabkan oleh banyak hal, menindas orang lain karena menganggap
bahwa hal itu wajar dan harus dibalas dengan hal yang serupa tidak akan
memutus rantai kekerasan itu sendiri, tapi akan semakin menyebar dan subur.
Penelitian oleh sosiolog Murray Straus, Richard Gelles, dan Suzanne
Steinmetz melihat bahwa setiap agresi cenderung berlanjut.2 hasil penelitian
mereka yaitu semakin sering orang tua responden bertengkar, semakin sering
pula satu atau keduanya memukuli anak-anak mereka. Selain itu, banyak
orang tua agresif menularkan pandangan agresif mereka kepada anakanaknya.\
Penindasan menjadi sebuah isu hidup dan mati yang sering diabaikan
dalam kehidupan sehari-hari. Sampai akhirnya, berbagai kasus akibat
penindasan ini terungkap satu persatu ke permukaan, dan telah menelan
korban. Penindasan pada hakikatnya tidak bisa diremehkan oleh orang
dewasa, apalagi disangkal. Beberapa ahli sosial menyatakan bahwa
meningkatnya kecenderungan ke arah penindasan mungkin karena semakin
banyak orang yang merasa berhak membalas dendam kepada orang lain yang
mereka anggap telah berbuat salah pada mereka.
Bullying sebagai salah satu tipe agresif yang seringkali terjadi di
masyarakat seringkali tidak disadari keberadaannya. Menurut Pepler dan
Craig Bullying adalah bentuk pernyataan yang tegas akan kekuatan melalui
tindakan agresif.3 Ini terbentuk dan berganti sesuai usia : bullying usia
sekolah dan saat taman kanak-kanak, kekerasan seksual, penyerangan antar
geng, kekerasan dalam rumah tangga, penganiayaan anak, gangguangangguan
di tempat kerja, dan penaganiayaan saat usia lanjut usia. Bentuk
bullying bermacam-macam, di antara kasus-kasus bullying jarang yang yang
berbentuk kekerasan fisik atau berupa kekerasan mental berat. Bullying lebih
sering berupa gangguan yang ditujukan secara individu dalam bentuk
gangguan-gangguan ringan dan komentar-komentar yang tidak berbahaya.
Namun, karena sifat bullying adalah konstan dan tidak menunjukkan belas
kasihan, maka menjadi serangan agresif.
Stephenson dan Smith menjelaskan bahwa bullying digambarkan
sebagai bentuk dari interaksi sosial di mana individu yang dominan
memperlihatkan perilaku agresif dengan intensitas dengan alasan menekan
individu yang kurang dominan. Bullying tidak termasuk perilaku normal
anak-anak seperti perkelahian atau persaingan satu lawan satu antar saudara
kandung atau antar teman sebaya karena tuntutan persaingan.4
Bullying kadang-kadang sangat halus, tidak kentara sehingga kita
tidak sadar telah menjadi korbannya. Data statistic tahun 2003 menunjukkan
16 anak-anak di Inggris mengalami persoalan serius karena kasus Bullying.5
Ketidaksadaran akan bullying ini, menjadi perhatian besar. Bahkan, bisa jadi
pelaku bullying sendiri tidak menyadari bahwa dia telah melakukan tindakan
bullying. Perkataan-perkataan kasar, atau panggilan-panggilan buruk untuk
seseorang adalah salah satu tindakan bullying yang sering terjadi di
masayarakat Indonesia dan dianggap sebagai alat komunikasi yang wajar.
Pada dasarnya, pelaku bullying akan berusaha merendahkan diri
seseorang, dan menyebabkan nya memiliki pandangan negatif tentang diri
sendiri. Hal ini akan mengakibatkan korban bullying merasa tidak bahagia,
memengaruhi kinerja, tetapi juga membatasi relasi dengan orang lain, dan
menciptakan rintangan dalam kehidupan.
Pelaku bullying akan mengganggap bahwa penyelesaian masalah
dengan cara-cara kekerasan atau mengintimidasi orang lain adalah cara yang
harus ditempuh dalam memenuhi keinginannya. Hal ini akan mendorong sifat
premanisme yang akan terbawa hingga dewasa. Sehingga, pengalaman
kekerasan yang terjadi saat ia masa kecil akan berdampak pada perilaku nya
saat dewasa nanti. Bahkan, mereka kelak akan menindas anak-anak mereka
sendiri, gagal dalam hubungan pribadi, serta kehilangan pekerjaan. Jika
sekolah sebagai institusi pendidikan tidak bertindak tegas terhadap kekerasan
antar pelajar, maka ini artinya akan memupuk kekerasan dalam kehidupan
pelajar itu sendiri.
Di Indonesia, kasus bullying melanda beberapa sekolah, beberapa
sekolah di Malang ditemukan adanya kasus bullying dari tingkat sekolah
dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Kasus-kasus ini jarang
menguak ke permukaan karena guru, orangtua, bahkan siswa belum memiliki
kesadaran tentang bullying. Beberapa kalangan masyarakat menganggap
bullying adalah sesuatu yang wajar yang pasti terjadi dalam fase kehidupan,
sehingga ini menjadi kebiasaan turun-temurun.
Pada bulan Agustus 2008, SMA Shalahuddin SMA yang dulunya
bernama SMA Nahdhatul Ulama terdeteksi adanya tindak kekerasan yang
dilakukan oleh siswi kelas XII IPS 2 terhadap teman sekelasnya sendiri, dan
ini menyeruak ke media massa. Tak berselang lama, pada bulan Nopember
2008 kasus serupa terulang kembali dengan kasus bullying yang terjadi di
SMU Cokro Aminoto oleh geng siswi sekolah tersebut. Ironisnya, salah satu
pelakunya dan korban adalah siswi pindahan dari SMA Shalahudin, dan ini
adalah alasan utama peneliti memlih SMA Shalahuddin sebagai tempat
penelitian.
Selain itu, peneliti menemukan 10 siswa dari kelas 1 dan kelas 2 IPS
1 (6 laki-laki dan 4 perempuan) pada SMA Shalahuddin yang teridentifikasi
pernah melakukan aksi bullying baik sebagai pelaku atau sebagai korban.6
Pertengahan Juni 2008 lalu, para remaja putri di Pati, Jawa Tengah.
Kelompok yang menamakan dirinya dengan Geng Nero (neko-neko
dikeroyok) melakukan tindak kekerasan di sekolah, masih duduk di kelas 1
SMA. Kekerasan yang mereka lakukan cukup mengerikan bagi kita, yang
sebelumnya tidak pernah mengira bahwa akan ada kekerasan yang dilakukan
oleh remaja putri. Kekerasan yang dilakukan oleh anak laki-laki, mungkin
sudah biasa bagi kita, bahkan tawuran pelajar kerap mewarnai berita-berita di
media massa atau telinga kita. Namun, geng ini sepenuhnya adalah
perempuan. Hanya karena persoalan sepele, ada sedikit kesalahan, atau ingin
menjadi anggota geng ini, anak kerapkali mendapat ujian atau hukuman
Maraknya aksi bullying atau tindakan yang membuat seseorang
merasa teraniaya di sekolah, baik oleh sesama siswa, alumni, atau bahkan
guru itu sendiri. Bullying yang menyeruak ke permukaan seperti kasus di atas
adalah tipe bullying berjenis kekerasan fisik, sedangkan bullying yang sangat
halus yakni bullying melalui verbal, dan emosional jarang terungkap karena
keidaksadaran akan bullying tersebut.
Bullying di sekolah memiliki akibat buruk saat korban berusaha
menghadapinya, tetapi gagal. Mereka berusaha untuk membolos dan
melakukan perilaku yang buruk, seperti berbohong, tugas sekolah tidak
dikerjakan dengan baik, menjadi tak bersemangat atau bahkan depresi. Anakanak
yang menjadi korban bullying ini menghabiskan banyak waktu untuk
memikirkan cara guna menghindari trauma karena merasa tidak aman di
sekolah dan hanya memiliki sedikit energi untuk belajar.
Beberapa penelitian sebelumnya, yakni penelitian yang dilakukan
oleh Kumpulainen, Whitney, dan Smith7 juga ditemukan perbedaan umur dan
gender yang dapat memengaruhi perilaku bullying. Pada usia 15 tahun, anak
laki-laki ditemukan lebih cenderung mem-bully dengan kontak fisik
langsung, sementara anak perempuan lebih cenderung mem-bully dengan
perilaku tidak langsung. Namun tidak ditemukan perbedaan dalam
kecenderungan melakukan bullying verbal langsung. Pada usia 18 tahun,
kecenderungan anak laki-laki mem-bully dengan kontak fisik menurun tajam,
dan kecenderungannya untuk menggunakan perilaku verbal langsung dan
perilaku tidak langsung meningkat, meskipun anak perempuan masih tetap
lebih tinggi kecenderungannya dalam hal ini.
Menurut survei sebuah media massa, selama tahun 2000-2005
terdapat 30 kasus bunuh diri anak berusia 9-15 tahun sebagai akibat dari
bullying. Mayoritas penelitian tentang fenomena bullying dilakukan di
Negara Eropa dan Australia. Dalam penelitian internasional terhadap perilaku
kesehatan remaja, prosentase pelajar yang dilaporkan paling sedikit dari yang
rendah adalah 15 % - 20 % di beberapa negara sampai tinggi nya mencapai
70 % pernah satu kali menjadi korban bullying dalam perkembangan
hidupnya.8 Fakta keprihatinan lain nya adalah fenomena bullying itu terjadi
satu kali dalam seminggu atau lebih.
Bullying juga salah satu indikasi dari ketidakmampuan seseorang
dalam peneyesuaian diri (maladjustment) yang kadang dihubungkan oleh
miskinnya kesehatan dikarenakan stress yang menghimpit.9 Kaltiala
menemukan bahwa kecemasan dan depresi paling sering dilaporkan sebagai
akibat dari bullying.10
Erich Fromm menuliskan bahwa perilaku kekerasan dipicu oleh
berbagai faktor, dan salah satunya adalah kondisi psikologis. Narsisisme,
salah satu kajian Fromm dalam memahami kekerasan dijabarkan sebagai
kondisi pengalaman seseorang di mana yang ia rasakan sebagai sesuatu yang
benar-benar nyata hanyalah tubuhnya, kebutuhannya, perasaannya,
pikirannya, kekayaannya, atau benda-benda yang masih ada hubungan
dengannya. Sedangkan orang-orang atau benda- benda yang tidak menjadi
bagian darinya atau tidak dia butuhkan, tidaklah menarik, tidak sepenuhnya
nyata, dan hanya dipahami sebatas nalar, sedangkan dari segi perasaan tidak
memiliki bobot dan daya tarik.
Rasa keberhargaan ini bergantung pada gambar diri mereka yang
narsistik, dan bukannya kepada pencapaian-pencapaian mereka yang
sebenarnya. Ketika upaya-upaya mereka dikritik oleh orang lain, mereka
akan bereaksi dengan penuh kemarahan dan kekasaran, seringkali membalas
pengkritiknya dan berusaha menghancurkan mereka sampai habis. Jika kritik
terlalu menohok sehingga mereka tidak sanggup menghancurkan nya, maka
mereka menyimpan kemarahan itu dalam dirinya. Akibatnya, ia akan
memiliki perasaan tak berharga, memandang diri nya secara negatif11.
Bullying sendiri berawal dari perasaan negatif dalam memandang diri
sendiri, dan merasa tidak dicintai. Kemudian individu tersebut berusaha
untuk menghancurkan orang lain supaya ia merasa lebih baik, meskipun ia
sendiri tidak menyadari bahwa ia telah terjebak dalam perilaku negatif.
Dikarenakan pelaku bullying tidak memperoleh penghargaan dan pengakuan
dari orang lain, maka ia berusaha meningkatkan harga diri dengan
menyombongkan diri. Menyombongkan diri juga bisa membuat orang lain
semakin ingin melakukan bullying. Pelaku seringkali menciptakan bualanbualan
agar diperhatikan oleh orang lain. Pada akhirnya, yang tercipta adalah
lingkaran kebohongan.
Kesemua kasus yang cukuplah untuk diakhiri, memang seharusnya
tak hanya menjadi pembahasan para pemerhati pendidikan, maupun para
pemerhati anak karena ini bukanlah topik yang perlu diperbincangkan lagi.
Namun, sudah saatnya lah semua pihak memerhatikan dan mencari solusi
agar kejadian kekerasan tidak terjadi khususnya di institusi pendidikan.
Karena ini akan sangat menampar dunia pendidikan bahwa etika orang
terpelajar sudah semakin bobrok.
Kesadaran sekolah untuk peduli terhadap gerakan anti bullying
(kekerasan antar pelajar) dinilai masih sangat rendah, karena hingga saat ini
ternyata belum ada 1% sekolah yang memiliki program menolak bullying
(Depkom info). Dalam mengatasi masalah bullying di sekolah, pihak yang
paling banyak mengambil peran adalah sekolah itu sendiri.
Penelitian ini dianggap sangat penting, karena semakin hari kekerasan
dalam kehidupan semakin tinggi dan semakin menjamur. Maka dari itu,
peneliti memilih tema yang menggambarkan aspek psikodinamika perilaku
bullying. Selain itu, peneliti juga tertarik terhadap penguakan faktor yang
menunjang terjadinya kasus bullying.

Rabu, 13 Januari 2010

Analisa Kliping Psikologi Belajar


Analisa Kliping Psikologi Belajar
Oleh : Fitriyana Fauziyah S.Psi

BAB I

PENDAHULUAN

Anak usia dini ternyata juga dapat menyibukkan pikiran orang tua, apalagi ketika anak itu memasuki jenjang pra-sekolah. Setumpuk, bahkan segudang rayuan akan meluncur dari bibir sang orangtua agar anak mau bersekolah. Adakalanya mudah, namun adanya juga yang harus menuai kesulitan. Lebih sulit lagi jika anak kita sangat labil, artinya saat-saat tertentu anak-anak mogok. Persoalan ini acapkali terjadi, dan setiap permulaan sekolah hampir dipastikan problema ini selalu muncul, seperti musiman.

Orangtua selalu memeras otak untuk masalah ini, kadangkala harus dibayar orang tua untuk cuti kerja, hanya untuk melancarkan rayuan agar anak mau masuk sekolah. Seorang anak yang tidak mau untuk sekolah, umumnya mengalami hambatan, bisa hambatan dalam belajar atau hambatan dalam bergaul dengan teman. Oleh karena itu jika anak sulit untuk masuk sekolah harus dicari penyebab kenapa anak tidak suka sekolah.

Secara umum anak-anak usia dini pernah mengalami kesulitan dalam belajar (Learning difficulties). Hal ini disebabkan oleh 2 faktor utama, yaitu faktor internal yang berasal dari dalam diri individu anak usia dini sendiri, seperti faktor biologis, kesehatan badan, cacat fisik, gangguan organobiologik atau neurobiologik, kondisi medik umum dan faktor psikologis, yang lain adalah faktor eksternal, yang berasal dari luar dirinya,seperti faktor keluarga, faktor sekolah, masyarakat dan pemerintah.

Adapun ciri-ciri anak usia dini yang mengalami learning difficulties adalah kesulitan dalam membaca (dyslexia), hambatan dalam menulis kata atau kalimat (dysgraphia), hambatan dalam berhitung (dyscalculia), cenderung memiliki sikap kurang positif (misbehavior). Menghadapi anak usia dini demikian, guru pun mengalami hambatan atau kesulitan (teaching difficulties), baik karena faktor guru itu sendiri, faktor anak ataupun lainnya, dampak dari kesulitan belajar (learning difficulties) itu antara lain hasil belajar rendah dan tidak seimbang dengan usahanya, lambat dalam menyelesaikan tugas-tugas dan kadang menunjukkan pola kepribadian negatif. untuk itu perlu adanya upaya pemecahan dengan cara analisis dan diagnosis kesulitan belajar melalui observasi dan pemeriksaan anak usia dini, test diagnostik, test inteligensi, remedial teaching dan remedial test serta memformat ulang cara belajar anak usia dini.

Dalam makalah ini akan mencoba untuk memaparkan cara membimbing belajar anak usia dini dengan membangkitkan motivasi mereka.

BAB II

KAJIAN TEORI


Pengertian Motivasi

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengambil sebuah contoh ; seorang petani yang mencangkul di sawahnya dari pagi sampai petang tanpa henti. Jika kita perhatikan si petani itu, akan muncul pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita, Mengapa si petani melakukan atau bekerja seperti itu? Atau dengan kata lain, Apakah yang mendorong si petani berbuat seperti itu? Atau Apakah motif si petani itu?.

Dari ilustrasi di atas jelaslah bahwa yang dimaksud dengan motif adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Atau Motif adalah suatu pernyataaan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku/perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang.

Pada umumnya suatu motivasi atau dorongan adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan, dan perangsang (incentive). Tujuan adalah yang menentukan dan membatasi tingkah laku organisme itu.

Sedangkan urgensi daripada motivasi adalah sebagai pendorong, pengerak, dan sebagai suatu pengarah terhadap tujuan. Dengan adanya motivasi, segala bentuk kesimpangsiuran dalam menjalankan suatu aktifitas akan bisa terminimalisir.


Jenis dan Sifat Motivasi

Para ahli psikologi berusaha menggolong-golongkan motif-motif yang ada dalam diri manusia atau suatu organisme, ke dalam beberapa golongan menurut pendapatnya masing-masing. Woodworth menggolongkan dan membagi motif-motif tersebut menjadi tiga jenis :

  1. Kebutuhan-kebutuhan organis (Organic Motive)

Motif ini berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dalam tubuh (kebutuhan-kebutuhan organis), seperti : lapar atau haus, kebutuhan bergerak dan beristirahat atau tidur, dan sebagainya.




  1. Motif-motif darurat (Emergency Motive)

Motif ini timbul jika situasi menuntut timbulnya tindakan yang cepat dan kuat karena perangsang dari luar yang menarik manusia atau suatu organisme. Contoh motif ini antara lain : melarikan diri dari bahaya, berkelahi dan sebagainya.

  1. Motif-motif obyektif (Objective Motive)

Motif obyektif adalah motif yang diarahkan/ditujukan ke suatu obyek atau tujuan tertentu di sekitar kita. Motif ini timbul karena adanya dorongan dari dalam diri kita (kita menyadarinya). Contoh : motif menyelidiki, menggunakan lingkungan.

Selain pengklasifikasian di atas, Burton menggolongkan motif-motif tersebut menjadi dua, yaitu motif intrinsik dan motif ekstrinsik.

  1. Motif Intrinsik

Motif intrinsik adalah motif yang timbul dari dalam seseorang untuk berbuat sesuatu atau sesuatu yang mendorong bertindak sebagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalam obyeknya itu sendiri.

Motivasi intrinsik merupakan pendorong bagi aktivitas dalam pengajaran dan dalam pemecahan soal. Keinginan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, keinginan untuk memahami sesuatu hal, merupakan faktor intrinsik yang ada pada semua orang .

  1. Motif Ekstrinsik

Motif ekstrinsik adalah motif yang timbul dari luar/lingkungan. Motivasi ekstrinsik dalam belajar antara lain berupa penghargaan, pujian, hukuman, celaan atau ingin meniru tingkah laku seseorang.


Prinsip Motivasi Belajar

Belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang mantab serta diakibatkan oleh pengalaman. Belajar adalah suatu hal yang membedakan antara manusia dan binatang. Ada banyak perilaku perubahan pengalaman, serta dianggap sebagai faktor-faktor penyebab dasar dalam belajar. Para ahli pendidikan dan psikolog sependapat bahwa motivasi amat penting untuk keberhasilan belajar.

Pembahasan motivasi belajar tidak bisa terlepas dari masalah-masalah psikologi dan fisiologi, karena keduanya ada saling keterkaitan. Yang perlu di pahami dalam Prinsip-prinsip motivasi belajar adalah sebagai berikut:

  • Memuji lebih baik daripada mencela. Perlu diketahui bahwa manusia cenderung akan mengulangi perbuatan yang mendapat pujian atau apresiasi dari pihak lain .

  • Memenuhi kebutuhan psikologi

  • Motivasi intrinsik lebih efektif daripada ekstrinsik

  • Keserasian antara motivasi

  • Mampu manjelaskan tujuan pembelajaran

  • Menumbuhkan perilaku yang lebih baik

  • Mampu mempengaruhi lingkungan

  • Bisa diaplikasikan dalam wujud yang nyata.

Dalam proses pembelajaran, meningkatkan motivasi belajar melibatkan pihak-pihak sebagai berikut.

  • Siswa

Siswa bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri untuk meningkatkan motivasi belajar pada dirinya agar memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Motivasi berupa tekad yang kuat dari dalam diri siswa untuk sukses secara akademis, akan membuat proses belajar semakin giat dan penuh semangat.

  • Guru

Guru bertanggungjawab memperkuat motivasi belajar siswa lewat penyajian bahan pelajaran, sanksi-sanksi dan hubungan pribadi dengan siswanya. Dalam hal ini guru dapat melakukan apa yang disebut dengan menggiatkan anak dalam belajar. Usaha-usaha yang digunakan dalam mengiatkan adalah :

  1. Mengemukakan pertanyaan

  2. Memberi ganjaran

  3. Memberi hadiah

  4. Memberi hukuman/sanksi

Kreativitas serta aktivitas guru harus mampu menjadi inspirasi bagi para siswanya. Sehingga siswa akan lebih terpacu motivasinya untuk belajar, berkarya, dan berkreasi.

  • Orang tua atau keluarga dan lingkungan

Tugas memotivasi belajar bukan hanya tanggungjawab guru semata, tetapi orang tua juga berkewajiban memotivasi anak untuk lebih giat belajar. Selain itu motivasi sosial dapat timbul dari orang-orang lain di sekitar siswa, seperti dari tetangga, sanak saudara, atau teman bermain. Fungsi keluarga adalah sebagai motivasi utama bagi peserta didik, karena memiliki intensitas yang lebih tingi untuk menanamkan motif-motif tertentu bagi proses pembelajaran anak.



BAB III

ANALISA

MEMBIMBING ANAK USIA DINI MENJADI BERPRESTASI

Penulis : Endang Siswati

Sumber: Koran Pendidikan, edisi 237/II/9-15 Desember 2008


Pendidikan bagi anak usia dini telah berkembang luas, baik di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Berbagai macam program pendidikan anak usia dini ini dikembangkan oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat. Minat mengembangkan pendidikan anak usia dini sebenarnya bersumber dari lima macam pemikiran yaitu:

  1. Meningkatkan tuntutan terhadap pengasuhan anak dari para ibu yang bekerja, yang berasal dari berbagai tingkatan sosial ekonomi

  2. Adanya perhatian yang dikaitkan dengan produktivitas, persaingan yang bersifat internasional, permintaan tenaga kerja yang bersifat global, kesempatan kerja yang luas baik bagi wanita maupun bangsa manapun

  3. Pandangan bahwa pengasuhan anak sebagai sesuatu kekuatan utama guna membantu para ibu untuk meningkatkan kualitasnya baik sebagai ibu maupun sebagai sumber daya manusia pada umumnya, sehingga dapat bersaing dalam pasar tenaga kerja

  4. Adanya hasrat untuk meningkatkan kualitas anak sejak usia dini terutama bagi mereka yang orang tuanya kurang beruntung, antara lain yang kurang mampu memasukkan anak ke taman kanak-kanak Program untuk anak usia dini mempunyai dampak positif yang panjang terhadap peningkatan kualitas perkembangan anak. (Mitchell,1989)

Pola belajar yang diterapkan pada anak dini usia tidaklah sama dengan pola belajar pada anak usia SD ke atas. Untuk itu perlu diperhatikan oleh penyelenggara program pendidikan pada anak usia dini terutama sumber belajar atau tenaga pendidik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar haruslah mengetahui bagaimana pola belajar pada anak usia dini.

Pola belajar pada anak usia dini haruslah dibangun berdasarkan atas pertumbuhan dan perkembangan anak secara tepat yang pelaksanaannya dikemas sesuai dengan dunia anak, yaitu bermain. yang merupakan kegiatan rutinitas yang sangat menyenangkan bagi anak, serta melalui bermainlah anak akan belajar.

Proses belajar mengajar tidak bisa terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhi dan menunjang keberlangsunganya. Bagi lembaga pendidikan, setelah menentukan program-progam dan kurikulum pendidikan, haruslah mempunyai prinsip dalam menentukan arah tekhnis pelaksanaan cita-cita dari progam dan kurikulum yang telah dicanangkan. Salah satu penunjang utamanya adalah, adanya motivasi belajar bagi peserta didik yang terstruktur dan terkonstruk dengan baik.

Sebelum membahas tentang pengertian dan pembahasan motivasi belajar, kiranya kita perlu membahas terlebih dahulu tentang peninjauan sudut pandang motivasi itu sendiri. Ada dua macam tinjauan tentang motivasi. pertama motivasi dipandang sebagai suatu proses ilmu pengetahuan, dengan ini seorang guru bisa melakukan prediksi terhadap tingkah laku peserta didik, serta dapat diaplikasikan terhadap orang lain. Kedua, sebagai penentu karakteristik seseorang yang bisa menjelaskan karakteristik lainnya.

Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.

Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

  • Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik.
    Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.

  • Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.

Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.

Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar.
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:

  • Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.

Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

  • Hadiah
    Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.

  • Saingan/kompetisi
    Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

  • Pujian
    Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.

  • Hukuman
    Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

  • Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.

  • Membentuk kebiasaan belajar yang baik.

  • Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok

  • Menggunakan metode yang bervariasi.

  • Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran

Dalam dunia pendidikan terdapat banayak problematika yang harus dihindari oleh seorang guru, karena guru termasuk seorang pemimpin, yakni seorang yang mampu mempengaruhi orang lain, dengan beberapa persyaratan, antara lain, memiliki intelektualitas yang tingi, mampu melakukan hubungan sosial yang baik, kematangan emosional, fisik yang baik, imajiner dan mau berkerja keras.

Ada beberapa persyaratan yang harus dimaksimalkan dalam memecahkan problematika tersebut, karena dalam kenyataanya manusia selalu mengharapkan adanya nasehat dan petunjuk dari orang lain sebagai bentuk kebutuhan primer dari fitrah manusia itu sendiri. Diantara problematika yang perlu di antisipasi dalam lembaga pendidikan kita adalah:

  • Kurangnya Memadukan motif-motif kuat yang sudah ada

Misalnya motif untuk menjadi sarjana tidak dipadukan dengan motif untuk menonjolkan diri yang kebetulan ada pada diri siswa agar berhasil dalam belajar.

  • Tidak adanya kejelasan tujuan yang hendak dicapai

Semakin jelas tujuan belajar semakin kuat motif untuk mencapainya, setidak-tidaknya semakin efektif berbuat. Oleh karena itu sangat ideal apabila guru merumuskan dengan jelas tujuan belajar.

  • Tidak adanya rumusan tujuan sementara

Suatu kegiatan yang mempunyai tujuan yang jauh dapat dipenggal-penggal hingga didapat tujuan sementara atau tujuan jangka pendek.

  • Kurangnya Merangsang pencapaian kegiatan

Semakin dekat tujuan, semakin kuat motif untuk mencapainya. “Kedekatan tujuan” dapat dilakukan dengan membuat tujuan sementara, sebab mencapai tujuan sementara menyadarkan siswa dalam usaha mencapainya.

  • Tidak adanya situasi persaingan

Pada umumnya dalam diri setiap individu ada usaha untuk menonjolkan diri atau ingin dihargai. Kecenderungan ini dapat disalurkan dalam persaingan sehat di mana guru menciptakan suasana setiap siswa giat berusaha.

  • Kurangnya menumbuhkan Persaingan dengan diri sendiri.

Siswa diberi tugas yang berbeda sehingga siswa itu sendiri yang akan melihat tugas mana yang paling baik hasilnya. Dengan demikian dia dapat mempergunakan upaya yang digunakan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang paling baik hasilnya.

  • Kurang maksimalnya laporan hasil yang dicapai

Apabila telah selesai pekerjaan siswa maka beritahukan hasilnya sehingga dia semakin giat mencapainya lagi dengan lebih baik. Inilah keuntungan yang utama bila hasil pekerjaan diberitahukan pada setiap orang.

  • Tidak adanya contoh yang positif dari pendidik

Guru yang mengharapkan sesuatu dari siswanya harus juga memperlihatkan yang dimintainya itu terpancang dalam diri guru. Dengan demikian siswa menilai guru tersebut bekerja baik. Hal ini menimbulkan kegairahan belajar dalam diri siswa. Lebih jelasnya, seorang guru harus mempunyai strategi pendekatan yang mampu mempengaruhi siswa dalam belajar.

BAB IV

KESIMPULAN


Seorang anak pada dasarnya belum mampu untuk mandiri, mereka masih labil, egosentris, belum tahu apa arti prestasi, dan belum bisa membedakan kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki. Oleh karena itu orang yang ada di sekitar anak harus mampu untuk membimbing dan memotivasi mereka, agar mereka menjadi berprestasi baik di rumah maupun di sekolah.

Karena seorang anak belum mengerti tentang dirinya sendiri, maka tugas orang tua dan gurunya adalah selalu member bimbingan dan motivasi kepada anak. Pengertian dasar motivasi atau dorongan adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan, dan perangsang (incentive). Tujuan adalah yang menentukan dan membatasi tingkah laku organisme itu.

Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : Motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. motivasi instrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal darai dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi instrinsik siswa adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan.

Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang dating dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan/tata tertib sekolah, suri teladan orang tua, guru, dan seterusnya merupakan contoh-contoh kongkrit motivasi ekstrinsik yang dapat menolong siswa untuk belajar. Kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal, akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses mempelajari materi-materi pelajaran baik disekolah maupun dirumah.

DAFTAR PUSTAKA


Hamalik, Umar. 2005. Kurikulum Dan Pembelajaran. PT Bumi Aksara. Jakarta.

Nanang, Fatah. 2004. Landasan Manajemen Pendidikan .PT Remaja Rosdakarya. Bandung.

Syah , Muhibbin. 2005. Psikologi Pendidikan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Syah , Muhibbin. 2005. Psikologi Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.


JANGAN JADI CERMINAN SETAN, ASET BERHARGA ADA DALAM DIRIMU

Penulis : Fina Ghoisi Ardillah

Sumber: Koran Pendidikan, edisi 235/IV/25 November-1 Desember 2008


Masa remaja merupakan masa yang paling indah, sangat menyenangkan, serta masa yang paling utama pada kehidupan seseorang. Masa remaja merupakan masa diman seseorang mengalami perubahan-perubahan, baik dalam biologis, sifat, serta perilakunya. Dalam masa remaja mereka telah menyadari dan mengetahui sifat-sifatnya baik yang baik maupun yang buruk, serta dapat menilai sifat-sifatnya tersebut dengan melihat sifat-sifat teman sebayanya. Pada masa remaj ini mereka mulai meninggalkan sifat kekanak-kanakannya berubah menjadi lebih dewasa. Hal ini mendorong mereka untuk memperbaiki kepribadiannya dengan harapan akan memperbaiki penerimaan masyarakat terhadap dirinya.

Pada masa ini seseorang mulai memikirkan tentang cita-cita, harapan dan keinginan, interaksi dengan lawan jenis, dan hubungan dengan lingkungannya. Dalam masa remaja juga merupakan masa yang membingungkan karena remaj mencoba mengadaptasi antara apa yang mereka kehendaki dan yang dikehendaki lingkungan. Seorang remaja harus mampu untuk memilih aktivitas yang dijalani dengan tepat, yaitu menggunakan waktunnya dengan kegiatan yang positif, yang berguna bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Remaja yang bisa memanfaatkan waktunya dengan baik akan memiliki masa depan yang sukses. Selain remaja yang memiliki keinginan untuk sukses di masa depannya, ada pula remaja yang telah menyalahgunakan kesempatan mereka di masa remaja, padahal mereka nantinya akan jauh dari kebahagiaan.

Sekarang ini banyak sekali ditemui kejadian tentang perilaku negative remaja, antara lain; merokok, meneguk minuman keras, monkonsumsi narkoba, dan hubungan seksual diluar nikah. Pada umumnya remaja patuh akan pendiriannya sendiri, mengenai apakah tindakannya itu benar atau salah menurut lingkungannnya mereka tidak menghiraukan hal itu. Jadi, pada masa ini mereka sudah tidak lagi mengindahkan nasehat atau perintah dari lingkungannya. Dalam hal ini seseorang terpengaruh oleh kelompoknya atau teman sebayanya, jika seseorang tidak mengikuti temannya hal yang terjadi adalah akan dijauhi oleh teman sebayanya tersebut. Akan tetapi tidak semua teman sebayanya berpengaruh negative, jadi dalam bergaul haruslah memilih teman yang dapat berpengaruh positif terhadap kita.

Tindakan diatas sangat merugikan mereka sendiri bahkan akan merugikan masyarakat, padahal mereka tahu perbuatan di atas tidak benar, biasa dikatakan perbuatan di atas adalah bujukan setan yang menguasai diri kita, sehingga kita terjerumus dalam perbuatan yang sangat dilarang.


MOBIL PINTAR DIELUKAN SISWA SD PINGGIRAN

Sumber: Koran Pendidikan, edisi 235/IV/25 November-1 Desember 2008


Adanya “mobil pintar” yang beroperasional di daerah pinggiran disambut baik dikalangan guru terutama siswa. Mobil pintar tersebut merupakan mobil bantuan dari SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu), yang menyediakan berbagai buku. Mulai buku teknologi, ilmu pengetahuan, buku anak-anak, hingga buku untuk kaum ibu dan bapak. Ditunjang pula oleh berbagai pelayanan, seperti siswa bisa belajar computer sepuasnya dengan dipandu oleh operator. Dalm mobil tersebut juga terdapat permainan-permainan pendidikan, anak-anak diminta untuk menjawab soal pertanyaan dan yang bisa menjawab hadiah alat tulis dan buku.

Dalam pendekatan belajar yang dikemukakan oleh Biggs, pendekatan belajar siswa dikelompokkan kedalam tiga bentuk dasar, yaitu: 1. Pendekatan surface (permukaan/bersifat lahiriah), 2. Pendekatan deep (mendalam), 3. Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi). Dalam bentuk belajar seperti adanya mobil pintar yang banyak diminati siswa tersebut merupakan bentuk pendekatan deep, yang biasanya siswa mempelajari materi karena memang dia tertarik dan merasa membutuhkannya (intrinsik). Seperti halnya cara belajar siswa yang menyambut dengan senang kedatangan mobil pintar, mereka sangat tertarik dengan adanya mobil pintar, dan sangat membutuhkan ilmu yang akan mereka dapat dari mobil pintar tersebut.


Aster Benedicta Sri Kusrini S. Pd; Ya Guru, Ya Seniman

SELINGI MENGAJAR DENGAN NARI DAN NYINDEN

Sumber: Koran Pendidikan, edisi 235/IV/25 November-1 Desember 2008


Dalam paparan dari kliping ini menunjukkan bahwa seseorang tidak hanya mempunyai satu kelebihan saja, melainkan berbagai macam kelebihan dapat dimiliki seseorang. Seperti halnya kelebihan yang dimiliki aster, selain menjadi guru aster juga mempunyai bakat seniman. Bakat seniman yang dimiliki aster adalah keturunan dari orang tuanya yang berprofesi sebagai ‘wayang wong’. Jadi bakat yang dimiliki seseorang adalah keturunan, jadi seorang anak tinggal mengasah bakat yang telah tertanam dalam dirinya.

Dalam mengajar di kelas aster sering menunjukkan kebolehannya yaitu menyanyi dan menggerakkan tubuhnya seperti menari, dan muridnya terkesan dengan apa yang dilakukan oleh gurunya, dan memberikan pujuain kepada gurunya. Apa yang dilakukan aster bukan untuk mengejutkan atau menggangu belajar mereka akan tetapi bertujuan agar murid tidak mersa bosan dan jenuh di dalam kelas, sehingga dengan selingan menyanyi dan menarinya tersebut siswa semangat kembali untuk melanjutkan materi yang dipelajari.


Belajar Matematika ala SDN Tulungrejo 04

MANFAATKAN KERIKIL DAN UBIN

Sumber: Koran Pendidikan, edisi 235/IV/25 November-1 Desember 2008


Mata pelajaran Matematika selama ini memang menjadi “momok” para siswa, karena banyaknya rumus yang memusingkan, padahal ilmu matematika sebagai mata pelajaran dasar yang harus dikusai siswa di bangku SD. Sehingga seorang guru harus ekstra dalam memgajar, agar anak mengusai mata pelajar tersebut. Akan tetapi Sunarti mempunyai cara yang mudah dan disenangi oleh siswa, yaitu menggunakan kerikil dan ubin untuk perkalian, penambahan, dan pengurangan, pada mata pelajaran Matematika di kelas II SD.

Para siswa dengan senang dan semangat mengikuti pelajaran Matematika, karena mereka bisa menggunakan alat di sekitar sekolahnya dan belajarnya di luar kelas, segingga mereka tidak merasa jenuh seperti di dalam kelas. Seorang guru memang harus memberikan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, agar siswa senang dan merasa tertarik untuk mempelajarinya, sehingga siswa dengan mudah menerima ilmu yang diajarkan, bahkan mereka merasa membutuhkan ilmu tersebut. Seorang guru dikatakan berhasil dalam mengajar, ketika siswanya mengalami perubahan dalam perilaku dan menguasai dan memahami materi yang telah diberikan oleh guru.


MENGENAL LINGKUNGAN LEWAT MOVING HOME

Sumber: Koran Pendidikan, edisi 237/II/9-15 Desember 2008


Cara belajar yang diterapkan oleh SD Anak Sholeh tidak hanya belajar dalam kelas dengan berangan-angan gambar atau foto yang mereka lihat hanya, akan tetapi setiap satu semester belajar di luar kelas yaitu mengenal lingkungan sekitar. Kegiatan tersebut dinamakan moving home, yakni berinteraksi lagsung dengan alam sekitar, antara lain memberi makan, memerah susu, dan mengenal bentuk fisik hewan ternak, seperti kambing dan sapi. Dan semester ini mereka mengadakan moving home di daerah perkebunan, yaitu belajar menanam padi di sawah. Dengan cara itu siswa bisa mengaplikasikan ilmu yang telah mereka dapat di sekolah dan akan lebih dekat dan mengenal lingkungannya.

Metode belajar yang diberikan sekolah selama ini kebanyakan hanya dilakukan di dalam kelas saja. Padahal belajar tidak hanya bisa dilakukan di dalam kelas saja atau hanya membaca buku, mengerjakan tugas rumah saja. Akan tetapi setiap perilaku kita merupakan proses belajar, dan dari proses tersebut seseorang akan mengalami perubahan perilaku. Seperti yang telah diterapkan oleh SD tersebut, membuktikan bahwa belajar tidak hanya dibangku sekolah atau berhadapan dengan buku saja.


AGENDAKAN MANASIK HAJI BERSAMA

Sumber: Koran Pendidikan, edisi 237/II/9-15 Desember 2008


Pada musim haji yang bersamaan dengan hari raya Idul Adha, ibadah haji tidak hanya dilaksanakan di Timur Tengah saja, melainkan di Indonesia banyak sekali lembaga pendidikan yang melaksanakan prkatek manasik haji. Banyak sekolah yang bergabung untuk melakukan praktek manasik haji bersama, dan ada pula yang melakukan secara mandiri yani hanya satu sekolah saja. Kegiatan tersebut bertujuan agar siswa siswa lebih mengenal dengan baik dan dapat mempraktekkan secara langsung ibadah haji, yang merupakan rukun Islam yang terakhir.

Para siswa merasa senang karena bisa mempraktekkan langsung, tidak hanya materi saja seperti yang mereka peroleh selama ini, selain itu para siswa yang mengikuti manasik haji secra bersama dapat mengenal satu sama lain sehingga lebih mempererat tali silaturahmi. Para guru berusaha untuk melakukan manasik haji setiap tahunnya. Karena pembalajaran seperti ini pasti digemari oleh siswa dan tentunya akan lebih efisien dalam belajar siswa.


BELAJAR KEHIDUPAN DARI SECANGKIR TEH

Penulis : Anis Karyawati

Sumber: Koran Pendidikan, edisi 237/II/9-15 Desember 2008


Dalam karya yang ditulis oleh Anis, menunjukkan bahwa siswa atau mahasiswa sekarang, kebanyakan ingin belajar dengan ringan dan memperoleh hasil yang memuaskan, meskipun cara yang mereka tempuh adalah menyesatkan bagi mereka. Misalnya, mereka harus menyontek dalam ujian atau mengerjakan tugas, mau menang sendiri, bahkan membebankan tugasnya pada orang lain dan dia akan menikmati hasil jerih payah temannya tersebut. Dalam dunia pendidikan yang mengajarkan anak untuk berkembang kearah positif, dengan memberikan tugas yang “seabrek”, sulit, dan melelahkan kepada siswa atau mahasiswanya, pasti akan dinilai lembaga sekolah tersebut “tidak enak”, karena banyaknya peraturan dan tugas yang harus dipatuhi dan dikerjakan.

Padahal sebenarnya kehidupan kita ibarat secangkir teh, yang apabila daun teh dituangi air mendidih, rasa teh yang didapat tentunya sangat kental dan enak. Ketika kita menuangi daun teh yang sama dengan air hangat atau hamper dingin, rasa yang kita dapat pasti tidak seenak teh yang pertama.

Dari secangkir teh di atas dapat diartikan bahwa, jika kehidupan kita penuh dengan tempaan hidup dan perjuangan keras maka kita akan meraih kesuksesan. Lain halnya, jika kita berusaha akan tetapi tidak mau terbebani atau tidak mau kerja keras maka kehidupan kita nantinya tidak akan pernah berhasil, seperti kita hanya jalan di tempat, tidak akan pernah mendapatkan apa yang kita inginkan, meskipun ribuan benih telah kita sebar.


Kajian Dinas Pendidikan

ROKOK BUKAN SEKEDAR HALAL-HARAM

Sumber: Koran Pendidikan, edisi 237/II/9-15 Desember 2008

Dari informasi di atas, pelajar yang ada di kota Kediri sangat rentan dengan penggunaan rokok. Hal ini bisa disebabkan proses belajar dari lingkungan yang banyak mempengaruhinya. Seperti banyaknya pabrik rokok yang ada di kota tersebut dan penilaian positif oleh masyarakat serta pemerintah daerah sekitar, sehingga meskipun dengan pengetahuan mereka tentang bahaya merokok atau dampak negative dari penggunaan rokok akan sangat dikesampingkan.

Oleh karena hal di atas, pengaruh belajar lingkunganlah yang menjadi factor utama sebagai latar belakang timbulnya prilaku mereka. Adapun sebagian kecil dari mereka mempunyai motif internal yang positif untuk menjauhi penggunaan rokok yang biasanya diperoleh dari pengetahuan serta pola asuh orang tua. Akan tetapi sebagian besar dari mereka jika dilihat dari usia remaja para pelajar maka sangat rentan sekali dengan pengaruh pergtaulan teman-teman dan orang sekitarnya. Sebagai tawaran untuk menanggulangi permasalahan ini adalah dengan sosialisasi pengetahuan bahaya merokok yang lebih digencarkan lagi serta pemberian hukuman yang efektif baik di lingkungan keluarga maupun sekoalah.

Tri Putri Indiyati

SANG ATLET TAK PERNAH JEBLOK

Sumber: Koran Pendidikan, edisi 237/II/9-15 Desember 2008


Prestasi yang diraih oleh Putri merupakan sebuah hasil dari usaha yang telah ditekuni oleh dia. Dia sering menjadi juara dalam lomba lompat jauh, yang tentunya dia harus sering untuk berlatih agar lebih baik lagi. Meskipun dia sibuk dalam dunia olah raga, dalam prestasi di sekolahnya dia tidak pernah nilai jeblok dan selalu mendapat peringkat sepuluh besar.

Hal tersebut merupakan efisiensi belajar. Efisiensi (bie ; 1985) adalah sebuah konsep yang mencerminkan perbandingan terbaik antara usaha dengan hasilnya. Untuk itu Putri dapat memperoleh prestasi dengan usaha yang telah dia lakukan, serta adanya motivasi dari orang tua, guru dan lingkungannya.