Minggu, 09 Oktober 2011

DEPRESI PADA ANAK

Review Jurnal

Oleh :
M. Hafidz Bahtiar (05410090)

Depresi pada Anak

Depresi adalah suatu gangguan kedaan tonus perasaan yang secara umum ditandai oleh rasa kesedihan, apati, pesimisme, dan kesepian1. Keadaan ini sering disebutkan dengan istilah kesedihan (sadness), murung (blue), dan kesengsaraan.
Gangguan alam perasaan (mood atau afek) pada anak dan remaja semakin dikenali sehingga insiden depresi meningkat secara dramatis dalam 40--50 tahun terakhir ini. Depresi pada anak dan remaja jarang dikenal di Amerika Utara sebelum 1970, karena anak dianggap terlalu muda untuk mengalami yang berhubungan dengan depresi atau alam perasaan, rasa bersalah, dan percaya diri yang rendah. Di Amerika, penyakit ini dilaporkan telah mengenai beribu-ribu anak di bawah usia 18 tahun. Remaja diharapkan dapat melalui periode ketegangan dan badai kehidupan (storm and stress) yang ditandai dengan perubahan alam perasaan sebagai bagian dari perkembangan normal.

Kasus depresi pada anak sebenarnya banyak, tetapi sering tidak terdiagnosis (underrecognised), karena tidak semua penderita mengeluh sedih. Insiden anak prapubertas diperkirakan 1,5--2,5% dan menjadi 4--5% pada masa remaja. Dalton dan Forman melaporkan insiden gangguan depresi berat pada anak prapubertas 1,8%, remaja 3,5--5%, dan anak perempuan lebih banyak dari laki-laki.
Klasifikasi gangguan depresi sangat bervariasi. Dahl dan Brent membagi gangguan depresi dalam tiga kategori, yaitu:
1. Gangguan depresi berat (Mayor depressive disorder) Perasaan sedih selama 2 minggu, jemu, atau lekas marah (irritable) disertai 4 gejala lain menurut kriteria DSM-IV.
2. Gangguan distimik (Dysthymic disorder) Suatu bentuk depresi yang lebih kronis (paling tidak 1 tahun) tanpa ada bukti suatu episode depresi berat. Dahulu disebut depresi neurosis.
3. Gangguan afektif bipolar atau siklotimik (Bipolar affective illness or cyclothymic disorder).

Gambaran Klinis dan Diagnosis
Gambaran klinis yang tampak pada anak dipengaruhi oleh usia dan pengalaman psikologis anak. Hingga usia 7 tahun, umumnya anak belum dapat mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata, tetapi hanya dengan tingkah laku. Komunikasi verbal anak yang belum berkembang akan mempersulit diagnosis depresi pada anak sebelum usia 7 tahun. Komunikasi non-verbal seperti ekspresi wajah dan postur tubuh dapat membantu menegakkan diagnosis depresi pada anak yang lebih muda. Anak yang lebih muda akan menunjukkan fobia, gangguan cemas perpisahan, keluhan somatik, dan perubahan tingkah laku.
Semakin meningkat usia anak, semakin meningkat keluhan anhedonia, variasi diurnal, keputusasaan, retardasi psikomotor, dan halusinasi. Menurut Ryan et al (1987), gambaran depresi pada anak yang menonjol adalah keluhan somatik, agitasi psikomotor, cemas perpisahaan, dan fobia. Sedangkan pada anak remaja adalah anhedonia, hipersomnia, putus asa, perubahan berat badan, dan penyalahgunaan obat. Pada anak dengan depresi psikotik, gambaran klinis yang lebih dominan adalah halusinasinya, sedangkan pada anak remaja dan dewasa delusinasinya.
Diagnosis depresi pada anak maupun dewasa tidak sejelas seperti pada penyakit lain. Tidak ada tes khusus yang dapat membantu menentukan bahwa seseorang individu menderita depresi, dan sangat sedikit yang dapat ditentukan penyebabnya. Untuk mendiagnosis depresi pada anak, dibutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan penderita dewasa. Dalam proses menegakkan diagnosis depresi, harus dilibatkan kedua orangtua dan anak itu sendiri. Orangtua anak hanya melaporkan tanda luarnya saja, seperti lekas marah (irritable), prestasi sekolah menurun, menyingkir dari kegiatan sosial atau aktivitas yang menyenangkan, dan anak lebih merasakan tanda dalam (inward sign) seperti perasaan yang tertekan, rasa bersalah, rasa tak berharga, dan pikiran bunuh diri.
Kriteria diagnostik berdasarkan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 1994 fourth edition). Dikatakan gangguan depresi berat bila sedikitnya ada 5 gejala selama priode 2 minggu pegamatan yang disertai perubahan fungsi berupa:
1.     Alam perasaan terdepresi atau mudah tersinggung, atau
2.     Hilangnya minat atau kesenangan, desertai sedikitnya 4 gejala berikut:
3.     Anak gagal mencapai BB yang diharapkan;
4.     Insomnia atau hipersomnia tiap hari;
5.     Retardasi psikomotor atau agitasi;
6.     Kelelahan atau kehilangan tenaga setiap hari;
7.     Rasa tidak berdaya atau rasa bersalah yang tidak wajar;
8.     Tidak mampu berfikir atau berkonsentrasi;
9.     Fikiran akan kematian yang berulang (recurrent).
Gejala tersebut harus menimbulkan ganggauan sosial atau akademik dan bukan efek langsung alkohol atau kondisi medis umum, misalnya hipotiroidisme. Diagnosis depresi berat tidak dapat ditegakkan dalam 2 bulan setelah kehilangan seseorang yang dicintai, kecuali jika ditemukan gangguan fungsional yang nyata, rasa tidak berharga, ingin bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi prikomotor.

Diagnosis Banding
Depresi harus dibedakan dengan kesedihan yang normal dan gangguan psikiatris lainnya. Sebelum diagnosis psikiatris ditegakkan, kondisi organik yang mirip ataupun yang menimbulkan gejala-gejala psikiatris harus disingkirkan terlebih dahulu seperti gangguan organik, intoksikasi zat, ketergantungan dan abstinensi, distimia, siklotimia, gangguan kepribadian, berkabung, serta gangguan penyesuaian. Keadaan seperti ini sangat bervariasi, tergantung umur. Karenanya, pengetahuan tentang perkembangan anak normal dan penyakit fisik dengan manifestasi psikiatris sangat diperlukan untuk dapat menegakkan diagnosis yang akurat.
Anak prasekolah yang menunjukkan gejala depresi perlu dievaluasi kemungkinan adanya suatu keganasan, child neglect/abuse, gangguan cemas perpisahan, dan gangguan penyesuaian diri dengan alam perasaan (mood) terdepresi.
Anak prapubertas diagnosis bandingnya mencakup gangguan cemas perpisahan, gangguan cemas yang amat sangat (overanxious disorder), dan gangguan konduksi. Anak remaja juga perlu dibedakan dari penyalahgunaan obat, gangguan cemas, dan fase awal skizofrenia,. Juga perlu ditentukan apakah gangguan afektif yang timbul merupakan primer atau sekunder.

Terapi
Perawatan di rumah sakit perlu dipertimbangkan sesuai dengan indikasi, misalnya penderita cenderung mau bunuh diri, atau adanya penyalahgunaan atau ketergantungan obat. Pada umumnya, penderita berhasil ditangani dengan rawat jalan. Sekali diagnosis depresi berat ditegakkan pada anak, psikoterapi dan medikasi merupakan terapi yang harus diberikan. Namun, pengobatan selalu bersifat individual, tergantung pada hasil pertimbangan evaluasi anak dan keluarganya, termasuk kombinasi terapi individu, terapi keluarga, serta konsultasi dengan pihak sekolah.
1.     Psikoterapi
Pengobatan populasi depresi pada umumnya bersifat multi modal, termasuk anak, orangtua, dan sekolah untuk memperpendek episode depresi. Pada anak terdepresi, pengembangan kognitif dan emosi merupakan intervensi psikoterapetik yang harus dibangun. Beberapa pendekatan psikoterapi berbeda yang digunakan telah menunjukkan hasil, seperti:
a.     Psikoterapi perorangan (individual psychotherapy)
b.     Terapi bermain (play therapy)
c.     Terapi berorientasi kesadaran (insight-oriented therapy)
d.     Terapi tingkah laku (behavioral therapy)
e.     Model stres hidup (life stress model)
f.      Psikoterapi kognitif (cognitive psychotherapy).
Hurrington et al (1998) mengatakan bahwa terapi tingkah laku kognitif memberikan hasil baik pada depresi ringan sampai sedang, tetapi belum direkomendasikan untuk kategori berat (Derubies et al).
g.     Lain-lain, seperti terapi kelompok (group therapy), latihan orangtua (parent training), terapi keluarga (family training), pendidikan remedial (remedial education), dan penempatan di luar rumah (out of homeplacement).
2.     Farmakoterapi
Saat ini, belum ada obat yang direkomendasikan oleh FDA. Pengobatan secara farmakoterapi masih kontroversial pada anak dan remaja. Farmakoterapi yang sering digunakan:
a.     Golongan antidepresi trisiklik: Amitriptilin, Imipramin, dan Desipramin.
Berbeda dengan orang dewasa, pada anak tidak menunjukkan perbedaan yang berarti antara antidepresi golongan trisiklik dengan plasebo. Obat ini bersifat kardiotoksik dan cenderung berakibat fatal bila melampaui dosis.
b.     Golongan obat yang bekerja spesifik menghambat ambilan serotinin: fluoksetin dan sertralin.
Obat ini memberikan harapan yang cerah dalam pengobatan depresi pada anak dan remaja. Merupakan obat pilihan pertama pada anak dan remaja karena dapat ditoleransi dengan baik dan efek yang merugikan lebih sedikit dibandingkan dengan antidepresi golongan trisiklik. Sayangnya, sedikit sekali penelitian tentang pengobatan rumatan (maintenance) pada anak dan remaja. Dibandingkan dengan usia dewasa, pada masa remaja cenderung berkembang untuk agitasi atau menjadi mania bila meraka mendapat SSRIs (Selective serotinine reuptake inhibitors). Obat ini juga dapat menurunkan libido.
c.     Litium karbonat
Obat ini telah digunakan untuk pengobatan anak dan remaja yang mengalami agresi, mania, depresi, dan masalah tingkah laku, tetapi lebih berguna pada kasus yang berisiko menjadi bipolar

Prognosis
Apabila depresi berat tidak diobati dan terus berlangsung dalam kurun waktu 7--12 bulan akan berlanjut menjadi episode depresi berulang (recurrent) dengan gangguan sosial yang persisten antar dua episode. Usaha bunuh diri (suicide attempt) dan bunuh diri (suicide) merapukan komplikasi yang sering timbul. Semakin muda usia mulainya depresi, semakin jelek prognosisnya, tetapi erat hubungannya dengan faktor genetik13. Anak yang mengalami depresi berat cenderung untuk menderita depresi berat berulang dan gangguan bipolar. Kebanyakan yang sembuh dalam beberapa bulan, kembali relaps 1--2 tahun kemudian.

Kesimpulan
Depresi dapat terjadi pada anak sebagaimana orang dewasa dan insidennya cenderung meningkat sehingga perlu diagnosis dini untuk memperoleh hasil terapi yang efektif. Psikoterapi yang sesuai dengan perkembangan anak merupakan pilihan awal sebelum farmakoterapi.

Criteria for Major Depressive Episode
A.    Five (or more) of the following symptoms have been present during the same 2 weeks period and represent a change from previous functioning; at last one of the symptoms is either (1) depressed mood or (2) loss of interest or pleasure.
1.     Depressed mood most of the day, nearly every day, as indicated by either subjective report (e.g. feels sad or empty) or observation made by others (e.g. appears tearful). Note: In children and adolescents, can be irritable mood.
2.     Markedly diminished interest or pleasure in all, or almost all, activities most of the day, nearly every day (as indicated by either subjective account or observation made by others).
3.     Significant weight loss when not dieting or weight gain (e.g. a change of more than 5 % of body weight in a month),or decrease or increase in appetite nearly every day. Note: In children, consider failure to make expected weight gains.
4.     Insomnia or hypersomnia nearly every day.
5.     Psychomotor agitation or retardation nearly every day (observable by others, not merely subjective feelings of restlessness or being slowed down).
6.     Fatigue or loss of energy nearly every day.
7.     Feelings of worthlessness or excessive or inappropriate guild (which may be delusional) nearly every day (not merely self reproach or guilt about being sick).
8.     Diminished ability to think or concentrate, or indecisiveness, nearly every day (either by subjective account or as observed by others).
9.     Recurrent thoughts of death (not just fear of dying), recurrent suicidal ideation without a specific plan, or a suicide attempt or a specific plan for committing suicide.
B.    The symptoms do not meet criteria for Mixed Episode.
C.    The symptoms cause clinically significant distress or impairment in social, occupational, or other important areas of functioning.
D.   The symptoms are not due to the direct physiological effects of a substance (e.g. a drug of abuse, a medication) or a general medical condition (e.g. hypothyroidism).
E.    The symptoms are not better accounted for by Bereavement, i.e. after the loss of a loved one, the symptoms persist for longer than 2 months or are characterized by marked functional impairment, morbid preoccupation with worthlessness, suicidal ideation, psychotic symptoms with worthlessness, suicidal ideation, psychotic symptoms, or psychomotor retardation.

Daftar Pustaka

1.     Kaplan HI, Sadock BJ. Buku saku psikiatri klinik. Terjemahan. Jakarta: Binarupa Aksara, 1994. h. 26.
2.     Watkins C. Depression in children and adolescents. Dikutip dari: http://www.baltimorepsych.com/cadepress.htm.
3.     Fassler DA. Childhood Depression. J Am Acad child adolesc psychiatry 1977. Dikutip dari: http://www.aacad.org/whatsnew/fassler.htm.
4.     Kaplan HI, Sadock BJ, Grebh JA. Sinopsis Psikiatri. Edisi ke-7, Terjemahan. Jakarta: Binarupa Aksara, 1997.
5.     Weissman MM, Wolk S, Golgstein RB, dkk. Depressed adolescents grown up. JAMA 1999.
6.     Harrington RC. Child Psychiatry. Medicine 1996.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar