Senin, 18 Januari 2010

Gangguan Penyesuaian


Gangguan Penyesuaian

Oleh :
Hilmi Atho’illah
Devi Dwi Irawati F.
Risa Rahmawati
Iftitah Intikhobah
Meirina Ramdhani



PENDAHULUAN
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang tidak pernah berhenti melimpahkan berjuta kenikmatan dan hidayahNya kepada hamba-Nya. Shalawat dann salam selalu tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan siapa saja yang selalu berusaha melaksanakan sunnahNya.
Manusia merupakan makhluk yang unik dan menarik untuk dipelajari seluk beluknya. Hal ini mencakup semua aspek yang membentuk pribadi individu, baik dari segi individu maupun kehidupan sosialnya. Dalam menjalani kehidupannya, manusia dihadapkan kepada berbagai permasalahan yang bermacam-macam yang harus dicari jalan keluarnya. Permasalahan yang bermacam-macam serta tuntutan untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut kadangkala sering menimbulkan permasalahan baru bagi individu itu, yang sering kita dengar dengan istilah Stress.
Permasalahan yang akan diangkat dalam makalah ini adalah tentang Gangguan Penyesuaian, dan dalam hal ini kami lebih memusatkan pokok bahasan terhadap salah satu gangguan penyesuaian, yaitu Stress. Stress adalah suatu tuntutan yang mendorong organisme untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri. Stress adalah respon fisiologis, psikologis, dan perilaku dari seseorang untuk mencari penyesuaian terhadap tekanan yang sifatnya internal maupun eksternal.
Stress adalah bagian dari kehidupan. Apapun yang terjadi pada fisik maupun di sekeliling yang merupakan gelombang-gelombang kehidupan, menuntut kita untuk menyesuaikan diri. Stress merupakan reaksi awal dari penyesuaian diri tersebut. Sedikit stress membuat manusia menjadi waspada dan ini dibutuhkan agar kita mampu memotivasi diri, menyesuaikan diri, dan segera mencari cara untuk mengatasi stress tersebut. Stress jenis ini dinamakan eustress, yaitu stress yang membuat seseorang jadi bertambah kuat dan mampu menyesuaikan diri.
Dan dalam makalah ini akan dipaparkan beberapa pengaruh stress terhadap tubuh individu yang mengalaminya, termasuk organ tubuh yang terpengaruh oleh adanya stress yang tentu saja dapat menghambat kinerja organ tersebut bagi kelangsungan hidup invidu yang bersangkutan.
Gejala-gejala terjadinya stres ini sering berantai dan berkembang selama waktu tertentu hingga mencapai tingkatan yang sulit dibedakan dari keadaan (tingkah laku) normal. Gejala fisiknya berupa nafas memburu, mulut dan kerongkongan kering, tangan lembab, merasa panas, otot-otot tegang, mencret, sembelit, letih yang tidak beralasan, sakit kepala, dan salah urat.
Sedangkan gejala-gejala yang berwujud perilaku misalnya perasaan bingung, cemas, sedih, jengkel, salah paham, tak berdaya, tak mampu berbuat apa-apa, gelisah, gagal, merasa tidak menarik, kehilangan semangat. Bisa juga berupa kesulitan dalam konsentrasi, berpikir jernih dalam membuat keputusan. Bahkan, sampai pada hilangnya kreativitas, gairah dalam penampilan, dan minat terhadap orang lain.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini jauh dari memuaskan sebagaimana yang diharapkan, oleh karena penulis membuka pintu saran dan kritikan selebar-lebarnya untuk kebaikan kedepannya di masa yang akan datang.


PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN GANGGUAN PENYESUAIAN
Gangguan penyesuaian adalah gangguan psikologis yang paling ringan dan merupakan suatu reaksi maladaptive (tidak bereaksi terhadap lingkungan) suatu stressor yang dikenali dan berkembang beberapa bulan sejak munculnya stressor. Reaksi maladaptive terlihat dari adanya hendaya yang bermakna (signifikan) dalam fungsi sosial, pekerjaan, akademis, atau adanya kondisi distress emosional yang melebihi batas normal.
Reaksi maladaptive dalam bentuk gangguan penyesuaian ini, mungkin teratasi bila stressor dipindahkan atau individu belajar mengatasi stressor. Bila reaksi maladaptive ini berlangsung lebih dari enam bulan setelah stressor (konsekuensinya) dialihkan, diagnosis gangguan penyesuaian perlu diubah.
Menggolongkan “gangguan penyesuaian” sebagai sebuah gangguan mental memunculkan beberapa kesulitan karena tidak mudah mendefinisikan apa yang normal dan tidak normal dalam konsep gangguan penyesuaian. Bila sesuatu yang buruk terjadi pada hidup kita, maka wajar bila kita merasa sedih. Bila ada krisis dalam pekerjaan, saat dituduh melakukan kejahatan, mengalami kebanjiran, bisa dimengerti bila kita mengalami kecemasan atau depresi. Sebaliknya justru apabila kita tidak bereaksi “maladaptif”, paling tidak secara temporar, karena terjadinya peristiwa- peristiwa tersebut, dapat menunjukkan ada yang tidak wajar pada diri kita.
Namun, bila reaksi emosional kita berlebihan, atau kemampuan kita untuk berfungsi mengalami penurunan atau hendaya, maka kondisi ini bisa didiagnosis sebagai gangguan penyesuaian. Jadi, bila kita sulit berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas kuliah karena putus cinta dan nilai akademis menurun, maka ada kemungkinan kita mengalami gangguan penyesuaian.


B. STRES DAN PENYAKIT
Sumber-sumber psikologis dari stress tidak hanya menurunkan kemampuan kita untuk menyesuaikan diri, tetapi secara tajam juga mempengaruhi kesehatan kita. Banyak, bahkan hamper semua penyakit fisik yang dialami orang yang datang memeriksakan diri ke dokter berhubungan dengan stress. Stress meningkatkan resiko terkena berbagai jenis penyakit fisik, dari mulai gangguan pencernaan sampai penyakit jantung.
Bidang ilmu Psikoneurologi mempelajari hubungan antara factor-faktor psikologis, terutama stress dengan cara kerja sistem endokrin atau kelenjar, sistem kekebalan tubuh, dan sistem saraf. Kita akan mempelajari lebih mendalam tentang hubungan-hubungan ini.
· Stress dan Sistem Endokrin
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin.
Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ (kadang disebut sebagai kelenjar sekresi internal), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung ke dalam aliran darah. Hormon berperan sebagai pembawa pesan untuk mengkoordinasikan kegiatan berbagai organ tubuh. hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau organ, yang mempengaruhi kegiatan di dalam sel-sel. Sebagian besar hormon merupakan protein yang terdiri dari rantai asam amino dengan panjang yang berbeda-beda. sisanya merupakan steroid, yaitu zat lemak yang merupakan derivat dari kolesterol. Hormon dalam jumlah yang sangat kecil bisa memicu respon tubuh yang sangat luas.
Hormon terikat kepada reseptor di permukaan sel atau di dalam sel. ikatan antara hormon dan reseptor akan mempercepat, memperlambat atau merubah fungsi sel. pada akhirnya hormon mengendalikan fungsi dari organ secara keseluruhan:
hormon mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan, perkembangbiakan dan ciri-ciri seksual hormon mempengaruhi cara tubuh dalam menggunakan dan menyimpan energi hormon juga mengendalikan volume cairan dan kadar air dan garam di dalam darah.
Beberapa hormon hanya mempengaruhi 1 atau 2 organ, sedangkan hormon yang lainnya mempengaruhi seluruh tubuh. Misalnya, tsh dihasilkan oleh kelenjar hipofisa dan hanya mempengaruhi kelenjar tiroid. Sedangkan hormon tiroid dihasilkan oleh kelenjar tiroid, tetapi hormon ini mempengaruhi sel-sel di seluruh tubuh. insulin dihasilkan oleh sel-sel pulau pankreas dan mempengaruhi metabolisme gula, protein serta lemak di seluruh tubuh.
Organ utama dari sistem endokrin adalah:
a) Hipotalamus
b) Kelenjar hipofisa
c) Kelenjar tiroid
d) Kelenjar paratiroid
e) Pulau-pulau pankreas
f) Kelenjar adrenal
g) Buah zakar
h) Indung telur.
i) Selama kehamilan, plasenta juga bertindak sebagai suatu kelenjar endokrin.
Banyak organ yang melepaskan hormon atau zat yang mirip hormon, tetapi biasanya tidak disebut sebagai bagian dari sistem endokrin. Beberapa organ ini menghasilkan zat-zat yang hanya beraksi di tempat pelepasannya, sedangkan yang lainnya tidak melepaskan produknya ke dalam aliran darah.
contohnya, otak menghasilkan berbagai hormon yang efeknya terutama terbatas pada sistem saraf.
Jika kelenjar endokrin mengalami kelainan fungsi, maka kadar hormon di dalam darah bisa menjadi tinggi atau rendah, sehingga mengganggu fungsi tubuh. Untuk mengendalikan fungsi endokrin, maka pelepasan setiap hormon harus diatur dalam batas-batas yang tepat. Tubuh perlu merasakan dari waktu ke waktu apakah diperlukan lebih banyak atau lebih sedikit hormon.

Hipotalamus dan kelenjar hipofisa melepaskan hormonnya jika mereka merasakan bahwa kadar hormon lainnya yang mereka kontrol terlalu tinggi atau terlalu rendah. Hormon hipofisa lalu masuk ke dalam aliran darah untuk merangsang aktivitas di kelenjar target. jika kadar hormon kelenjar target dalam darah mencukupi, maka hipotalamus dan kelenjar hipofisa mengetahui bahwa tidak diperlukan perangsangan lagi dan mereka berhenti melepaskan hormon. Sistem umpan balik ini mengatur semua kelenjar yang berada dibawah kendali hipofisa.
Hormon tertentu yang berada dibawah kendali hipofisa memiliki fungsi yang memiliki jadwal tertentu. misalnya, suatu siklus menstruasi wanita melibatkan peningkatan sekresi lh dan fsh oleh kelenjar hipofisa setiap bulannya. hormon estrogen dan progesteron pada indung telur juga kadarnya mengalami turun-naik setiap bulannya. Mekanisme pasti dari pengendalian oleh hipotalamus dan hipofisa terhadap bioritmik ini masih belum dapat dimengerti. tetapi jelas terlihat bahwa organ memberikan respon terhadap semacam jam biologis.

· Sindrom Adaptasi Menyeluruh
Peneliti tentang stres Hans Selye (1976) menciptakan istilah sindrom adaptasi menyeluruh (general adaptation syndrome/GAS) untuk menjelaskan pola respons biologis umum terhadap stres yang berlebihan dan berkepanjangan. Selye mengemukakan bahwa tubuh kita bereaksi sama terhadap berbagai stressor yang tidak menyenangkan, baik sumber stres berupa serangan bakteri mikroskopi, penyakit karena organisme, perceraian, ataupun kebanjiran. Model GAS menyatakan bahwa dalam keadaan stres, tubuh kita seperti jam dengan system alarm yang tidak berhenti sampai tenaganya habis.
GAS terdiri dari tiga tahapan yaitu :
a. Reaksi waspada
Tahap pertama dari GAS, ditandai dengan meningkatnya aktivitas simpatis. Persepsi terhadap stressor yang muncul secara tiba-tiba akan memicu munculnya reaksi waspada. Reaksi ini menggerakkan tubuh untuk mempertahankan diri. Diawali oleh otak dan diatur oleh system endokrin dan cabang simpatis dari system saraf otonom. Pola respon ini sebagai reaksi berjuang atau melarikan diri (fight-or-flight reaction). Bagaimana system endokrin merespons stres, pada saat tahap reaksi waspada, kelenjar adrenal, dibawah kendali kelenjar pituitary dalam otak, memompa keluar kortikal steroid dan catecholamines yang membantu pertahanan tubuh.
b. Tahap resistensi
Tahap kedua dari GAS, tahap dimana tubuh berusaha untuk bertahan menghadapi stres yang berkepanjangan dan menjaga sumber-sumber kekuatan (membentuk tenaga baru dan memperbaiki kerusakan). Respon-respon endokrin dan system simpatis tetap pada tingkat tinggi, tetapi tidak setinggi sewaktu tahap reaksi waspada. Pada tahap ini tubuh membentuk tenaga baru dan memperbaiki kerusakan.
c. Tahap kelelahan
Tahap tiga dari GAS, ditandai dengan penurunan resistensi, meningkatnya aktivitas parasimpatis, dan kemungkinan deteriorasi fisik. Meskipun daya tahan terhadap stres antarindividu berbeda, semua individu pada akhirnya kelelahan atau kehabisan tenaga. Tahap kelelahan ditandai oleh dominasi cabang parasimpatis dari ANS. Sebagai akibatnya, detak jantung dan kecepatan nafas menurun.
Apabila sumber stres menetap, kita mengalami apa yang disebut “penyakit adaptasi (diseases of adaptation). Penyakit adaptasi ini rentangnya panjang, mulai dari reaksi alergi sampai penyakit jantung, bahkan sampai pada kematian. Dapat dengan jelas dipelajari disini bahwa stres kronis dapat merusak kesehatan kita, membuat kita lebih rentan terhadap berbagai jenis penyakit dan masalah kesehatan fisik lainnya.
Kortikal steroid mungkin salah satu hal yang menyebabkan stres yang menetap akan memicu masalah kesehatan. Meskipun dalam beberapa hal kortikal steroid membantu tubuh mengatasi stres, sekresi terus-menerus dari steroid ini menekan aktivitas system kekebalan tubuh. Efek kortikal steroid tidak mengganggu bila terlepas secara periodic, akan tetapi sekresi yang terus menerus terjadi menurunkan fungsi kekebalan tubuh dengan cara mengganggu produksi antibody, sebagai akibatnya kita menjadi rentan terhadap berbagai penyakit, bahkan terhadap flu biasa. Proses biologis lainnya kemungkinan terlibat dalam respons terhadap stressor tertentu. Sebagai contoh, reaksi terhadap kebisingan yang berlebihan memunculkan proses tubuh yang berbeda dengan sumber stres yang lain, seperti tertalu berdesakan, atau sumber stres psikologis seperti perpisahan atau perceraian.
· Stress dan Perubahan Hidup
Cara lain yang dilakukan peneliti untuk menyelidiki hubungan stress dengan penyakit adalah dengan memperhitungkan stress dalam kaitannya dengan perubahan hidup. Perubahan hidup menjadi sumber stres bila perubahan hidup tersebut mununtut kita untuk menyesuaikan diri.
Perubahan hidup ini dapat berupa peristiwa menyenangkan seperti pernikahan, dan peristiwa yang menyedihkan seperti kematian orang tercinta. Para peneliti melaporkan adanya hubungan antara pemaparan stressor hidup termasuk perubahan hidup dan masalah sehari-hari, dengan resiko berkembangnya masalah kesehatan fisik, bahkan resiko terluka karena olahraga.
Kita harus berhati-hati dalam menginterpretasikan hasil temuan ini. Hubungan yang ditemukan ini sifatnya korelasional, dan bukan eksperimental. Dengan kata lain, para peneliti tidak boleh mengkondisikan subjek penelitian ketika menghadapi-kondisi perubahan hidup dalam skala perubahan besar atau kecil untuk melihat efek kondisi-kondisi tersebut terhadap kesehatan mereka dari waktu ke waktu.
Oleh karenanya, data penelitian merka didasarkan pada pengamatan terhadap hubungan antara perubahan hidup di satu pihak dengan masalah kesehatan fisik, dilain pihak. Hubungan ini terbuka bagi interpretasi lain. Mungkin saja symptom fisik yang dialami subjek penelitian adalah sumber dari stress itu sendiri dan mengarahkan menjadi sebab bagi perubahan hidup lainnya.
Penyakit fisik dapat menyebabkan gangguan tidur atau beban financial. Jadi paling tidak dalam beberapa kasus, arah sebab akibat bisa berbalik, masalah kesehatanlah yang menyebabkan perubahan hidup. Meskipun perubahan hidup yang menyenangkan (positif) maupun tidak menyenangkan (negatif) dapat menyebabkan stress, perubahan hidup yang positif mengakibatkan gangguan yang lebih ringan daripada perubahan hidup yang negative. Dengan kata lain, stress karena pernikahan lebih ringan daripada stress yang disebabkan karena perceraian atau perpisahan. Atau dapat pula dikatakan, perubahan untuk kehidupan yang lebih baik merupakan perubahan, tapi tidak terlalu mengganggu.
Perlu dicatat pula, bahwa tidak mengalami peristiwa apapun (misalnya tidak ada perubahan hidup) juga dapat menimbulkan stress dan berhubungan kuat dengan resiko masalah kesehatan fisik.
Ada empat tipe kepribadian yang rawan stress ;
a) Orang yang sangat hati-hati. Orang jenis ini perfeksionis, kaku, dan kurang memiliki toleransi terhadap perbedaan. Sehingga, sedikit perbedaan atau sedikit kurang saja dari standarnya bisa menimbulkan kecemasan baginya. Kecermatannya berlebihan dan bisa berkembang menjadi obsesif kompulsif, yaitu kekakuan dan keterpakuan pada suatu aktivitas tertentu saja.
b) Orang yang pencemas. Orang jenis ini sering merasa tidak aman, cenderung kurang tenang, dan sering meresahkan segala sesuatu. Inilah yang membuatnya jadi cepat panik dalam menghadapi suatu masalah.
c) Orang yang kurang percaya diri. Orang jenis ini merasa diri tidak mampu sehingga kurang usaha untuk mengoptimalkan diri dalam mengatasi masalah-masalah vang dihadapinya. Ia selalu berusaha lari dari masalah atau berusaha mencari pelarian. Akibatnya, masalah tidak pernah selesai. Selama masalah tidak selesai, seseorang akan selalu dihinggapi stress.
d) Orang yang temperamental. Orang jenis ini emosinva cepat terpancing. Masalah kecil bisa berakibat besar karena kecenderungannya yang mudah meledak-ledak. Akibatnya, banyak orang yang tertekan dan akhirnya bereaksi. Kondisi ini tentu saja membuat emosinya semakin tegang dan meninggi.
Selain itu ada beberapa pola reaksi yang perlu diwaspadai, yang merupakan pintu masuknya stress yang negatif (distress). Siapapun kita pasti pernah atau akan bertemu dengan pola-pola reaksi ini: kejengkelan, marah dan agresi, kegelisahan, depresi, suasana hati yang cepat berubah, dan menarik diri.
Manajemen Stres
Pertama harus diingat, bukan stres yang merusak, tetapi cara kita menghadapinya. Shakespeare menulis: things are neither good or bad, but thinking makes them so. Ada beberapa orang yang mengalami jenis stres yang sama dan tidak apa-apa, tetapi orang lain ada yang langsung collapse. Anehnya, walau kita tak dapat bekerja maksimal saat stres yang cukup berat, tubuh kita tak akan dapat bekerja tanpa adanya stres. Aturan umum supaya tubuh kita dapat menghadapi segala tekanan yang datang ialah “stres-relaks, stres-relaks”.
Departemen Kesehatan Jepang menemukan lebih dari 50 % orang Jepang mengalami stres dalam bekerja dan persahabatan, dan mereka umumnya menghadapinya dengan cara menonton TV, mengobrol atau meneguk minuman agar bisa santai. Mengetahui batas kemampuan diri sendiri juga merupakan cara yang baik dalam menghadapi stres. Jatuh sakit biasanya merupakan tanda bahwa seseorang betul-betul memerlukan istirahat. Jadi, sebelum sakit, kita sebaiknya sudah sempat beristirahat, mengambil cuti atau berlibur.
Karena stres adalah pengalaman yang mengakibatkan ketakseimbangan dalam diri seseorang. Saat menderita stres, dianjurkan untuk berbincang-bincang dengan orang lain, siapa pun. Yang penting ia dapat membuat penderita memahami keadaan dirinya. Lebih baik lagi kalau konsultan ini membuatnya dapat meningkatkan kualitas hidup. Kondisi terbaik akan tercapai kalau penderita mengakui ia benar-benar menderita karena mengalami stres dan ingin sembuh.
Orang yang berkepribadian matang memiliki daya tahan lebih besar dalam menghadapi stres. Kematangan semacam ini diperoleh dengan bersikap realistis dan berani menghadapi kenyataan. Sikap ini akan meningkatkan kesadaran terhadap batas kemampuan diri, sehingga ia tak akan menuntut dirinya dan orang lain terlalu tinggi, yang akhirnya hanya akan menimbulkan frustasi, yang berujung pada stres berkepanjangan.
Kebiasaan sehari-hari seperti makan, tidur, olahraga yang teratur dan mencukupi dapat meningkatkan ketahanan dalam menghadapi stres. Gizi yang baik maupun kedisiplinan untuk bekerja dan bersantai banyak berguna dalam hal ini. Mempunyai perhatian terhadap hal-hal selain yang dikerjakan rutin juga sangat menolong. Selain memperluas cakrawala pandangan, hal itu dapat menjadi pelarian kalau situasi stres mulai mengancam.
Tak kalah penting adalah faktor-faktor psikis, seperti hubungan yang baik dengan teman, keluarga dan kerabat. Dalam suasana bahagia dan sehat, orang tak mudah jatuh terkena gangguan stres. Penelitian menunjukkan 80% stres memiliki hubungan keluarga yang kurang harmonis.

KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya Dalam ilmu psikologi stres diartikan sebagai suatu kondisi kebutuhan tidak terpenuhi secara adekuat, sehingga menimbulkan adanya ketidakseimbangan. Taylor (1995) mendeskripsikan stres sebagai pengalaman emosional negatif disertai perubahan reaksi biokimiawi, fisiologis, kognitif dan perilaku yang bertujuan untuk mengubah atau menyesuaikan diri terhadap situasi yang menyebabkan stres.
Stres merupakan sebuah terminologi yang sangat populer dalam percakapan sehari-hari. Stres adalah salah satu dampak perubahan sosial dan akibat dari suatu proses modernisasi yang biasanya diikuti oleh proliferasi teknologi, perubahan tatanan hidup serta kompetisi antar individu yang makin berat. Istilah stres semakin populer seiring media menyebutnya sebgai perilaku yang tak lazim pada manusia sebagai akibat dari stres, nervous breakdown, menjadi istilah yang sering dipakai dalam berbagai liputan tentang kehidupan artis yang mengalami permasalahan dalam kehidupannya, bunuh diri, kekerasan dalam rumah tangga, penyalahan narkoba dan berbagai liputan lainnya. Akibatnya orang semakin akrab dengan istilah tersebut.
Ada empat tipe kepribadian yang rawan stress ;
a. Orang yang sangat hati-hati. Orang jenis ini perfeksionis, kaku, dan kurang memiliki toleransi terhadap perbedaan. Sehingga, sedikit perbedaan atau sedikit kurang saja dari standarnya bisa menimbulkan kecemasan baginya. Kecermatannya berlebihan dan bisa berkembang menjadi obsesif kompulsif, yaitu kekakuan dan keterpakuan pada suatu aktivitas tertentu saja.
b. Orang yang pencemas. Orang jenis ini sering merasa tidak aman, cenderung kurang tenang, dan sering meresahkan segala sesuatu. Inilah yang membuatnya jadi cepat panik dalam menghadapi suatu masalah.
c. Orang yang kurang percaya diri. Orang jenis ini merasa diri tidak mampu sehingga kurang usaha untuk mengoptimalkan diri dalam mengatasi masalah-masalah vang dihadapinya. Ia selalu berusaha lari dari masalah atau berusaha mencari pelarian. Akibatnya, masalah tidak pernah selesai. Selama masalah tidak selesai, seseorang akan selalu dihinggapi stress.
d. Orang yang temperamental. Orang jenis ini emosinva cepat terpancing. Masalah kecil bisa berakibat besar karena kecenderungannya yang mudah meledak-ledak. Akibatnya, banyak orang yang tertekan dan akhirnya bereaksi. Kondisi ini tentu saja membuat emosinya semakin tegang dan meninggi.


DAFTAR PUSTAKA
· Greene, Beverly, “Psikologi Abnormal”, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2003
· Mulyani, Sri Martaniah, “Psikologi Abnormal dan Psikopatologi”, Yogyakarta, 2001
· Atkinson, RL, “Pengantar Psikologi” Jilid 2 Edisi 11, Penerbit Interaksara, Baram Centre, 1998
· Http//beranda.blogsome.com//2006/11/13/mengenal stress
· http//pikirdong.org//psikologi//psi08stre.php

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar