Selasa, 12 Januari 2010

BELAJAR DAN EFISIENSI KEBERHASILAN BELAJAR


BELAJAR DAN EFISIENSI KEBERHASILAN BELAJAR
Oleh :

Ari yani

Ridho Hudayana

Lusiana

Eva Teguh Susilo

Junaidi Abdillah



LANDASAN TEORI


a. Arti Penting Belajar
Belajar adalah rey term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan, misalnya psikologi pendidikan dan psikologi belajar. Karena demikian pentingnya arti belaja, maka bagian terbesar upaya riset dan eksperimen psikologi belajar pun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenahi proses perubahan manusi itu.

b. Definisi dan Contoh Belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada disekolah maupun dilingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.
1. Definisi belajar
Sebagian orang beranggapan bawa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk infirmasi/ materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagian besar informasinya terdapat dalam buku teks atau yang diajarka oleh guru.
Skinner, seperti yang diikuti Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-Learning Process, Berendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasan, bahwa belajar adalah:”…a process of progressive behavior adaptation”.Berdasarkan eksperimennya, B.F. Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendapatkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat (reinforcer).
Skinner,seperti juga pavlov dan Guthrie, adalah seorang pakar teori belajar berdasarkan proses conditioning yang pada prinsipny memperkuat dugaan bahwa timbulnya tingkah laku itu lantaran adanya hubungan antara stimuls(rangsangan ) dengan respons Namun, patut dicatat bahwa definisi yang bersifat behaviorisik ini dibuat berdasarkan hasil eksperimen dengan menggunakan hewan, sehingga tidak sedikit pakar yang menentukanya.
Chaplin (1972) dalam Dictionary of psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi acquisition of any relatively permanent change in behavior as a result of practice and experience “ (Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman). Rumusan keduanya adalah process of acquring responses as a result of special practice (Belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus).

2. Contoh Belajar
Dalam mempermudah pemahaman anda mengenai bagemana sebenarnya proses belajar itu berlangsung , berikut ini akan dikemukakan dua contoh sederhana sebagai gambaran. Setelah itu, akan dikemukakan pula sebuah contoh tandingan yang disertai komentar seperlunya.
Seoran anak baliata(berusia dibawa lima tahun) memperoleh mobil-mobilan dari ayahnya. Lalu ia mencoba mainan ini dengan cara memutar kuncinya dan meletakkanya pada suatu permukaan atau dataran. Perilaku “memutar” dan “meletakkan “ tersebut merupakan respons atau reaksi atau rangsangan yang timbul/ ada pada mainan itu (misalnya, kunci dan roda mobil-mobilan tersebut).
Pada tahap permulaan, respons anak terhadap stimulus yang ada pada mainan tadi biasanya tidak tepat atau setidak-tidaknya tidak teratur. Namun, berkat latihan dan pengalaman berulang-ualang lambat laun ia menguasai dan akhirnya dapat memainkan mobil-mobilan dengan baik dan sempuran. Sehubungan dengan contoh ini, berlajar dapat kita pahami sebagai proses yang dengan proses itu sebuah tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi atau situasi atau rangsangan yang ada.
Contoh lainnya, bayangkanlah bahwa isi fulan sedang berada dalam sebua ruangan eksperimen yang pintu dan jendelanya terkunci rapat. Ia sangat lapar, tetapi tidak tahu bageman mengatasi rasa laparnya itu. Apakah yang dapat fulan lakukan? Mungkin ia akan berteriak meminta pertolongan , tetapi ia akan berteriak mementa pertolongan, tetapi ia tidak melakukanya karena akan sia-sia belaka. Daripada berteriak-teriak ia mersa lebih baik mengelilingi ruangan itu, mengamati seluruh bagianya, bahkan meraba-raba sambil mencari sesuatu berkali-kali.
Akhirnya fulan menemukan sebuah tombol kecil dekat sebuah lubang tipis yang lebarnya kira-kira 10 cm. ia menekan tombol itu, lalu terdengar bunyi “tit-tit-tit” diiringi suara laksana jatuhnya sebuah benda ringan. Namun ia tidak melihat apa-apa. Menghadapi situasai seperti ini ia mundur untuk menghindari sesuatu yang mungkin mencelakakanya.
c. Definisi Proses Belajar
Proses adalah kata yang berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan kedepan “. Kata ini mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan menurut Chaplin (1972), proses adalah: any change anyobject or organism, particularly a behavioral or psychological change (proses adalah suatu perubahan khususnya yang menyangkut perubahan tingkah laku atau np-erubahan kejiwaan)
Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberap perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu (Reber,1988).

d. Efisiensi Belajar
Pada umumnya orang melakukan usaha atau belajar dengan harapan memperoleh hasil yang banyak tanpa mengeluarkan biaya, tenaga, dan waktu yang banyak pula, atau dengan kata lain efisien. Efisiensi adalah sebuah kosep yang mencerminkan perbandingan terbaik antara usaha dengan hasilnya (Gie, 1985). Dengan demikian, ada dua macam Efisiensi hasil Belajar, yaitu:
1. Efisiensi usaha belajar
Suatu kegiatan belajar dapat dikatakan efisien kalau prestasi belajar yang diinginkan dapat dicapai dengan usahayang minimal. Usaha dalam hal ini ialah segala sesuatu yang digunakan untuk mendapat hasil belajar yang memuaskan, seperti: tenaga dan pikiran, waktu, peralatan belajar, dan lain-lain hal yang relevan dengan kegiatan belajar. Efisiensi dari sudut usaha ini dapat digambarkan dalam model 6 berikut ini.
MODEL 6
Efisiensi dari Sudut Usaha Belajar

Usaha Belajar


Usaha Belajar


Usaha Belajar


2. Efisiensi hasil belajar
Selanjutnya, sebuah kegiatan belajar dapat pula dikatakan efisien apabila dengan usaha belajar tertentu dapat memberikan prestasi belajar yang tinggi. Untuk lebih jelasnya, perhatikan model 7 sebagai berikut ini.

MODEL 7
Efisiensi dari Sudut Hasil Belajar

Prestasi Rendah


Prestasi Sedang
Prestasi Tinggi


Model 7 diatas memperlihatkan bahwa ibnu adalah siswa yang efisien ditinjau dari prestasi yang di capai, karena ia menunjukkan perbandingan yang terbaik dari sudut hasil. Dalam hal ini, meskipun usaha belajar Ibnu sama besarnya denga usaha Tuty dan Badu (lihat kotak usaha belajar), ia telah memperoleh prestasi yang optimal atau lebih tinggi daripada prestasi Tuty dan Badu.
Ada beberapa factor yang mempengaruri keefisienan belajar, diantaranya ialah :
1. Kemampuan pembawaannya
Karena kita ketahui bahwasannya tidak ada dua orang yang sama pembawaannya. Juga di dalam kemanpuan tiap orang mempunnyai potensi kemampuan sendiri-sendiri.

2. Kondisi Fisiknya
Orang yang belajar tidak terlepas dari kondisi fisiknya. Menurut penyelidiakn yang telah dilakukan oleh saah seorang mahasiswa FIP UGM yogyakarta ternyata kondisi fisik mempengaruhi belajar anak.

3. Kondisi Psikis Anak
Selain kondisi fisik, kondisi psikis juga harus diperhatikan, keadaan psikis yang kurang baik banyak sebabnya, mungkin ditimbulkan oleh keadaan fisik yang tidak baik, sakit, cacat, mungkin disebabkan oleh gangguan atau keadaan lingkungan

4. Kemauan Belajar
Kemauan ini memegang peranan yang penting didalam belajar. Adanya kemauan dapat mendoroang belajar dan sebaliknya tidak ada kemauan dapat memperlemah belajar.

5. Sikap pelajar terhadap guru, mata pelajaran dan pengertian mereka mengenai kemajuan mereka sendiri
Bagaimana sikap merid terhadap guru juga mempengaruhi belajarnya. Murid yang benci terhadap gurunyatak akan lancara belajarnya. Sebaliknya apabila murid suka pada gurunya akan membantu belajarnya. Disini perlu diperhatikan sikap guru terhadap murid. Sikap yang baik, ramah mengenal murid, ini akan menjadi dorongan bagi murid untuk menyukai guru.
Siakp murid terhadap mata pelajaran iipun factor yang penting bagi belajar. Mata pelajaran yang disukai akan lebih lancer di pelajari daripada pelajaran yang kurang disenangi.

6. Bimbingan
Di dalam belajar anak membutuhkan bimbingan. Bimbingan ini perlu diberikan untuk mencegah usaha-usaha yang membuta, hingga anak tidak mengalami kegagalan, melainkan dapat membawa kesuksesan. Bimbingan dapat menghindarkan kesalahan dan memperbaikinya.


PEMBAHASAN

Proses belajar merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam kehidupan seseorang, karena dengan belajar seseorang baru akan mampu membuat perubahan di dalam hidupnya. Perlu di ketahui bahwasannya perubahaan-perubahan tersebut bukan hanya perubahan lahir, akan tetapi perubahan batin juga, tidak hanya perubahan tingkah lakunya yang tampak, tetapi juga perubahan-perubahan yang tidak dapat diamati. Perubahan-perubahan itu bukan perubahan yang negative, tetapi perubahan yang positif, yaitu perubahan yang mengarah kepada kemajuan dan kebaikan.
Setiap perilaku belajar selalu ditandai dengan oleh ciri-ciri yang spesifik. Karakteristik perilaku disebut juga sebagai proinsip-prinsip belajar. Diantara ciri-ciri khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang terpenting adalah:
1. perubahan itu intensional;
2. perubahan itu positif dan Aktif
3. Perubahan itu Efektif dan Fungsional
Dalam proses belajar ada proses mental yang aktif. Pada tingkat permulaan belajar aktivitas itu belum teratur, banyak hasil-hasil yang belum terpisahkan dan masih banyak kesalahan yang di perbuat. Tetapi dengan adanya usaha dan latihan yang terus-menerus, adanya kondisi belajar yang baik, adanya dorongan-dorongan yang membantu, maka kesalahan-kesalahan itu makin lama makin berkurang, prosesnya makin teratur, keraguan-keraguan makin hilang dan timbul ketetapan.
Orang yang belajar makin lama makin dapat mengerti akan hubungan-hubungan dan perbedaan bahan-bahan yang di pelajari, dan setingkat dapat membuat suatu bentuk yang mula-mula tidak ada, atau memperbaiki bentuk-bentuk yang telah ada.
Apabila orang yang belajar maju dari tingkat yang satu ke tingkat yang lain, ia dapat mengerti dan mengartikan bahan-bahan lain yang lebih banyak dan lebih sukar atau lebih kompleks, dan dapat mempergunakan bahan-bahan atau pengetahuan yang lain. Maka penting untuk diperhatikan bahwa perubahan itu pula merupan suatu proses yang mekanistis tetapi disini seluruh kepribadian ikut akatif.
Untuk mecapai hasil belajar yang efisien dan prestasi yang baik, maka seseorang maka seseorang harus memiliki metode-metode belajar tertentu. Selain itu juga seseorang pelajar atau pengajar haruslah memperhatikan juga faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi prosesb belajar, seperti:
1. Kemampuan pembawaannya
Karena kita ketahui bahwasannya tidak ada dua orang yang sama pembawaannya. Juga di dalam kemanpuan tiap orang mempunnyai potensi kemampuan sendiri-sendiri.

2. Kondisi Fisiknya
Orang yang belajar tidak terlepas dari kondisi fisiknya. Menurut penyelidiakn yang telah dilakukan oleh saah seorang mahasiswa FIP UGM yogyakarta ternyata kondisi fisik mempengaruhi belajar anak.

3. Kondisi Psikis Anak
Selain kondisi fisik, kondisi psikis juga harus diperhatikan, keadaan psikis yang kurang baik banyak sebabnya, mungkin ditimbulkan oleh keadaan fisik yang tidak baik, sakit, cacat, mungkin disebabkan oleh gangguan atau keadaan lingkungan

4. Kemauan Belajar
Kemauan ini memegang peranan yang penting didalam belajar. Adanya kemauan dapat mendoroang belajar dan sebaliknya tidak ada kemauan dapat memperlemah belajar.

5. Sikap pelajar terhadap guru, mata pelajaran dan pengertian mereka mengenai kemajuan mereka sendiri
Bagaimana sikap merid terhadap guru juga mempengaruhi belajarnya. Murid yang benci terhadap gurunyatak akan lancara belajarnya. Sebaliknya apabila murid suka pada gurunya akan membantu belajarnya. Disini perlu diperhatikan sikap guru terhadap murid. Sikap yang baik, ramah mengenal murid, ini akan menjadi dorongan bagi murid untuk menyukai guru.
Siakp murid terhadap mata pelajaran iipun factor yang penting bagi belajar. Mata pelajaran yang disukai akan lebih lancer di pelajari daripada pelajaran yang kurang disenangi.

6. Bimbingan
Di dalam belajar anak membutuhkan bimbingan. Bimbingan ini perlu diberikan untuk mencegah usaha-usaha yang membuta, hingga anak tidak mengalami kegagalan, melainkan dapat membawa kesuksesan. Bimbingan dapat menghindarkan kesalahan dan memperbaikinya.

PENUTUP

a. Kesimpulan
Dengan melihat landasan teori serta hasil pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwasannya proses belajar merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam kehidupan seseorang, karena dengan belajar seseorang baru akan mampu membuat perubahan di dalam hidupnya. Perlu di ketahui bahwasannya perubahaan-perubahan tersebut bukan hanya perubahan lahir, akan tetapi perubahan batin juga, tidak hanya perubahan tingkah lakunya yang tampak, tetapi juga perubahan-perubahan yang tidak dapat diamati. Perubahan-perubahan itu bukan perubahan yang negative, tetapi perubahan yang positif, yaitu perubahan yang mengarah kepada kemajuan dan kebaikan.
Efisiensi Belajar terbagi dalam dua ebntuk yaitu:
 Efisiensi usaha belajar
 Efisiensi hasil belajar
Sedangkan yang menjadi factor-faktor yang mempengaruhi proses belajar diantaranya ialah:
1. Kemampuan pembawaannya
2. Kondisi Fisiknya
3. Kondisi Psikis Anak
4. Kemauan Belajar
5. Sikap pelajar terhadap guru, mata pelajaran dan pengertian mereka mengenai kemajuan mereka sendiri
5. Bimbingan

b. Saran
untuk meningkatkan dan memajukan kualitas seorang pelajar, maka dunia pendidikan harus benar-benar memperhatikan factor-faktor apa saja yang akan mempengaruhi prosses belajar sorang anak, serta memperhatikan apa sakah yang mampu memotivasi seorang anak di dalam belajar.

REFERENSI

Mustaqim, Abdul Wahib.1991. Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta: Jakarta

Syah, Muhibbin.1995. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Remaja Rosdakarya: Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar