Rabu, 13 Januari 2010

BUNUH DIRI


BUNUH DIRI

Oleh:

Ulifa Rahma (06410089)

Wardatul mufidah (06410109)

Aprilina Hartanti (06410097)

indri handayani waradani (06410019)



PENDAHULUAN


A. Latar Belakang.

Kasus bunuh diri di negara kita makin mewabah. Berdasar data terakhir WHO terdapat 1 juta kasus dalam satu tahun didunia. Di Propinsi DKI Jakarta, kasus mencapai 5,8% dari jumlah penduduk. Di Kabupaten Gunung Kidul Propinsi DIY,terdapat lebih dari 30 kasus setiap tahun. Kasus bunuh diri sebagian besar menimpa golongan dewasa, dan sedikit yang menimpa remaja. Hal ini sebenarnyabanyak berkaitan dengan status orang dewasa tersebut. Banyak penelitian yang menemukan bahwa sebagian besardari orang-orang yang bunuh diri berlatarbelakang keluarga broken home. Selain itu, tuntutan kebutuhan ekonomi seringmenjadi alasan bunuh diri Penyakit yang tidak kunjung sembuh menjadi alasan berikutnya. Jangan remehkan suasana hati kita, sebab kalau sedang dalam kondisi sangat buruk, seseorang bisa mengakhiri nyawanya sendiri. Ilmuwan Amerika belum lama ini menemukan bahwa kasus bunuh diri di kalangan remaja justru dipicu akibat suasana hati yang buruk.

Kasus bunuh diri di kalangan remaja belakangan mulai meningkat. Data resmi di Kepolisian Daerah Metro Jaya menyatakan, selama 2003 tercatat 62 kasus bunuh diri. Jumlah ini merupakan kelipatan tiga kali lebih banyak daripada angka tahun 2002. Usia pelaku bunuh diri, tidak main-main, ada yang masih belasan tahun.

Apa sesungguhnya pemicu keinginan mengakhiri hidup sendiri itu? Ternyata semua kasus ”horor” tersebut dilandasi pada mood atau suasana hati seseorang. Dr. Ghanshyam Pandey beserta timnya dari University of Illinois, Chicago, menemukan bahwa aktivitas enzim di dalam pikiran manusia bisa mempengaruhi mood yang memicu keinginan mengakhiri nyawa sendiri. Pandey mengetahui fakta tersebut setelah melakukan eksperimen terhadap otak 34 remaja yang 17 di antaranya meninggal akibat bunuh diri. Ditemukan bahwa tingkat aktivitas protein kinase C (PKC) pada otak pelaku bunuh diri lebih rendah dibanding mereka yang meninggal bukan karena bunuh diri

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana bunuh diri dilihat dari ukuran masalahnya?

  2. Siapakah kelompok beresiko yang didiagnostik dalam usaha bunuh diri?

  3. Bagaimana penjelasan tentang depresi , tingkatan depresi, gejala-gejala umum dari depresi?

  4. Apa saja kasus-kasus yang tejadi di dalam bunuh diri?

  5. Apakah penyebab bunuh diri

  6. Bagaimanakah karakteristik pemikiran dari orang yang ingin bunuh diri?

  7. Bagaimanakah bunuh diri dipandang sociodemografik dan faktor-faktor lingkungan?

  8. Bagaimana kita menjangkau orang-oarang yang bunuh diri?

  9. Bagaimana terapi bagi yang mengalami gangguan perasaan dan bunuh diri?


C. Tujuan

  1. Untuk mengetahui bunuh diri dilihat dari ukuran masalahnya

  2. Untuk mengetahui kelompok beresiko yang didiagnostik dalam usaha bunuh diri

  3. Untuk mengetahui penjelasan tentang depresi , tingkatan depresi, gejala-gejala umum dari depresi

  4. Untuk memahami kasus-kasus yang tejadi di dalam bunuh diri

  5. Untuk mengetahui penyebab bunuh diri

  6. Untuk mengetahui karakteristik pemikiran dari orang yang ingin bunuh diri

  7. Untuk mengetahui bunuh diri dipandang sociodemografik dan faktor-faktor lingkungan

  8. Untuk mengetahui kita menjangkau orang-oarang yang bunuh diri

  9. Untuk mengetahui terapi bagi yang mengalami gangguan perasaan dan buhuh diri

PEMBAHASAN

A. BUNUH DIRI

Bunuh diri ialah perbuatan untuk menamatkan hayat atau perbuatan memusnahkan diri kerana enggan berhadapan dengan sesuatu perkara yang dianggap tidak dapat ditangani.

Kejadian membunuh diri ini lazimnya berlaku kepada mereka yang menghadapi tekanan sama ada dari segi mental atau fizikal. Mereka ini akan bertindak di luar pemikiran akal yang waras. Mereka ini juga selalunya daripada individu yang bermasalah seperti masalah dalam keluarga, putus cinta, dan sebagainya.

Siapa yang nekat bunuh diri? Di Negara maju seperti Amerika Serikat, umur puncak rawan bunuh diri adalah antara 24 dan 44 tahun. kasus ini lebih banyak sungguh-sungguh dilakukan oleh kaum laki-laki ketimbang kaum perempuan, namun lebih banyak dicoba oleh kaum perempuan ketimbang kaum laki-laki.

Cara yang populer untuk mencoba bunuh diri di kalangan kaum perempuan adalah menelan pil, biasanya obat tidur; sedangkan kaum laki-laki lebih suka memilih cara yang lebih letal atau mematikan, seperti menggantung diri.

Kebanyakan percobaan bunuh diri di kalangan kaum perempuan maupun laki-laki dilakukan ditengah suasana percekcokan antar pribadi atau tekanan hidup berat lainnya. Kelompok yang beresiko tinggi untuk melakukan percobaan bunuh diri adalah mahasiswa, penderita depresi, para lansia, pecandu alcohol, orang-orang yang berpisah atau bercerai dengan pasangan hidupnya, orang-orang yang hidup sebatang kara, kaum pendatang, para penghuni daerah kumuh dan miskin, kelompok perofesional tertentu, seperti dokter, pengacara da psikolog.

Banyak kasus bunuh diri dilakukan karena stress yang ditimbulkan oleh berbagai sebab, antara lain:

  1. Depresi. Ada indikasi bahwa sebagian besar dari orang yang berhasil melakukan bunuh diri tengah dilanda depresi pada saat tindakan tersebut dilakukan.

  2. Krisis dalam hubungan interpersonal. Konflik-konflik dan pemutusan hubungan, seperti konflik-konflik dalam perkawinan, perpisahan, perceraian, kehilangan orang-orang terkasih akibat kematian, dapat menimbulkan stress berat yang mendorong dilakukannya tindakan bunuh diri.

  3. Kegagalan dan devaluasi diri. Perasaan bahwa dirinya telah gagal dalam suatu urusan penting, biasanya menyangkut pekerjaan, dapat menimbulkan devaluasi diri atau rasa kehilangan harga diri yang mendorong tindakan bunuh diri.

  4. Konflik batin. Di sini stress itu bersumber dari konflik batin atau pertentangan di dalam pikiran orang yang bersangkutan sendiri. Misalnya seorang pria lajang merasa cemas, bingung, ragu-ragu antara memilih hidup atau mati, dan akhirnya memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan teka-teki itu dengan melakukan bunuh diri.

  5. Kehilangan makna dan harapan hidup. Karena kehilangan makna dan harapan hidup, oran merasa bahwa hidup ini sia-sia. Akibatnya orang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Perasaan semacam ini sering dialami oleh orang-orang yang menderita penyakit kronik atau penyakit terminal.

Namun begitu mudahkah seseorang memutuskan niat bunuh diri? Jawabnya tidak, sebagaimana terbukti dari adanya gejala yang disebut Ambivalensi dalam bunuh diri. Artinya, senantiasa terjadi keraguan antaramelaksanakan dan mengurungkan niat pada orang-orang yang berniat bunuh diri. Meminjam kata Hamlet “to be or not to be”, Farberow dan Litman (1970) menggolongkan tiga jenis perilaku bunuh diri berdasarkan kencang atau kendornya niat seseorang untuk menghilangkan nyawa sendiri.

Yang pertama adalah kelompok “To be”, yakni orang-orang yang tidak sunguh-sungguh ingin mati, hanya ingin menyampaikan pesan kepada orang lain tentang kesedihan yang dialaminya dan keinginannya untuk bunuh diri. Maka percobaan bunu dirinya pun tidak sungguh-sungguh, misalnya menelan obat tidur dalam jumlah tidak terlampau banyak, menggores urat nadinya tidak terlampau dalam, dan cara-cara lain yang tidak mematikan. Mereka biasanya juga sudah menyiapkan agar orang lain memergoki mereka dan pasti memberikan pertolongan.

Yang kedua adalah kelompok “Not to Be”, yakni orang-orang yang sungguh-sungguh berniat menghilangkan nyawanya sendiri. Biasanya mereka tidak memberikan peringatan sebelumny dan mengatur situasinya sedemikian rupa sehingga ornag lain tidak akan bisa menolong. Mereka juga memilih cara-cara bunuh diri yang lebih mematikan, seperti menembak dirinya sendiri atau melompat dari lantai teratas gedung bertingkat.

Yang ketiga adalah kelompok “To Be or Not To Be”, yakni orang-orang yang ragu-ragu, apakah ingin terus hidup atau mati. Biasanya mereka lalu menyerahkan keputusan itu pada faktor kebetulan atau nasib. Cara yang dipakai untuk mencoba bunuh diri biasanya berbahaya namun efeknnya relative makan waktu lama, sehingga masih terbuka kesempatan untuk diselamatkan. Misalnya melukai secara serius bagian tubuh yang tidak vital.

Namun, berkaitan dengan ambivalensi di atas, penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang akhirnya melakukan bunuh diri, umumnya sebelumnya telah mengkomunikasikan niatnya itu kepada orang lain baik secara langsung atau tidak langsung. Jadi, fakta ini bertentangan dengan keyakinan umum bahwa orang yang mengancam bunuh diri jarang melaksanakannya secara sungguhan karena ambivelen. Baik langsung maupun tidak langsung., pengkomunikasian niat untuk bunuh diri biasanya merupakan sejenis “teriakan minta tolong”. Orang yang bersangkutan sesungguhnya sedang mengungkapkan kesedihan dan ambivalensi atau kebimbangannya untuk melakukan bunuh diri. Jadi komunikasi semacam itu merupakan peringatan sekaligus permintaan pertolongan.

Pesan bunuh diri semacam itu biasanya ditunjukkan kepada keluarga atau kenalan, bisa dikirim via pos atau ditinggalkan di suatu tempat tak jauh dari tempat bunuh diri. Pesan bunuh diri dapat digolongkan menjadi tiga kategori:

  1. Pesan yang mengandung emosi positif, yaitu berisi ungkapan kasih sayang, rasa terima kasih, atau sikap peduli pada orang yang ditinggalkan. Kebanyakan pesan bunuh diri masuk dalam kategori ini.

  2. Pesan yang mengandung emosi negative, yaitu berisi permusuhan, kebencian, atau emosi negative lain yang ditujukan pada orang-orang yang ditinggalkan. Jumlah pesan ini biasanya sedikit.

  3. Pesan yang mengandung emosi netral, biasanya dimulai dengan kata-kata seperti:”ditujukan kepada siapa saja yang peduli…”

  4. Pesan dengan isi emosi campuran, yaitu campuran emosi positif dan emosi negative.

Upaya mencegah bunuh diri sungguh sangat sulit. Salah satu penyebabnya, orang yang mengalaminya biasanya terjerat oleh cara berpikir sempit dan irrasional, serta tidak menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan. Salah satu bentuk upaya mencegah bunuh diri adalah yang disebut crisis intervention. Tujuannya adalah menolong orang mengatasi krisis hidup yang berat. Bentuknya bisa dengan menyediakan layanan :hot line” via telepon. Seseorang yang mengalami ambivalensi untuk bunuh diri akibat menderita stress berat, misalnya, dapat mengontrak jasa “hot line” ini sebelum melaksanakan niatnya, untuk mendapatkan peneguhan kembali sehingga mau mengurungkan niatnya itu.

Umumnya kita memandang bunuh diri sebagai tindakan yang tidak hanya tragis tetapi juga “keliru”. Namun usaha mencegah orang bunuh diri bukan tanpa pesoalan etis. Berhakkah kita mencegah orang mencabut nyawanya sendiri? Bukankah itu hak pribadnya, untuk hidup maupun untuk mati? Satu-satunya alasan yang mencoba bunuh diri sering tidak sungguh-sungguh ingin, masih ragu-ragu, atau kalau pun bulat niat itu biasanya bersifat sesaat. Maka, upaya pencegahan tersebut secara etis bisa dibenarkan.

Perilaku bunuh diri Emile Durkheim (seorang sosiolog Prancis), mengelompokkan bunuh diri menjadi 3 jenis:

  1. Altruistic suicide, yaitu bila individu merasa terikat pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk bunuh dirikarena identifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, sehingga ia merasa kelompok tersebut sangatmengharapkannya, misalnya harakiri di Jepang.

  2. Egoistic suicide, yaitu apabila individu tidak mampu berintegrasi dengan masyarakat karena masyarakat menjadikanindividu itu seolah-olah tidak berkepribadian, misalnya orang yang kesepian, tidak menikah dan pengangguran.

  3. Anomic suicide, yaitu apabila terdapat gangguan keseimbangan integrasi antara individu dengan masyarakat,sehingga individu mengalami krisis identitas, misalnya orang kaya yang mengalami kebangkrutan dalam usahanya.

Saat ini, kita hidup dalam suatu masyarakat yang oleh Durkheim dinamakan “anomic”, suatu masyarakatdimana perubahan terjadi secara cepat yang menyebabkan kegelisahan dari anggota masyarakatnya. Perubahan inimemberikan pukulan yang hebat terhadap kaum muda yang bisa dilihat pada kasus bunuh Diri yang terjadi di kalanganpemuda.

Sigmund Freud menerangkan masalah Bunuh diri berdasarkan teori Psikoanalisa mengatakan bahwa Bunuh diri adalah suatu bentuk agresi yang ditujukan ke dalam. Seseorang yang Bunuh diri sebetulnya ingin membunuh image (bayangan) Kebencian terhadap orang tua mereka sendiri yang ada di dalam diri mereka. Faktor Penyebab Bunuh diri Karl Menninger, salah seorang pengikut Freud mengajukan teorinya tentang Bunuh diri sebagai bentuk pembunuhan dan orang yang dibunuh berada dalam Diri satu orang. Setiap individu yang bunuh diri secara sadar atau tidak sadar didorong oleh 3 motif yaitu:

  1. Keinginan untuk membunuh : Keinginan untuk membunuh dapat dilihat pada orang yang mempunyai kecenderungan untuk menyakiti orang lain ataumerusak sesuatu

  2. Keinginan untuk dibunuh : Keinginan untuk dibunuh pada orang-orang yang bunuh diri berpangkal pada Perasaan marah dan benci terhadap diri sendiri dan ingin menghukum diri sendiri untuk menhilangkan perasaan tersebut

  3. Keinginan untuk mati :Keinginan untukmati berasal dari bekerjanya kekuatan instink kematian pada orang yang bunuh diri


Bunuh diri-ukuran dari masalahnya:

Bunuh diri adalah masalah yang kompleks dimana tidak ada satu sebab, satu alasan. Itu dihasilkan dari interaksi yang kompleks secara biologi, genetik, psikologi, sosial, budaya dan faktor lingkungan.Sangat sulit untuk menerangkan mengapa beberapa orang memutuskan untuk bunuh diri padahal orang lain yang juga dalam situasi yang mirip atau mungkin lebih parah tidak berusaha bunuh diri. Bagaimanapun juga, kebanyakan bunuh diri dapat dicegah.

Beberapa kelompok beresiko yang didiagnostik dalam usaha bunuh diri:

  • Depresi (dalam bentuk apapun);

  • Gangguan kepribadian (kepribadian anti sosial dan borderline dengan sifat yang impulsif, agresif dan perubahan mood yang sering);

  • Alkoholisme (dan/atau penyalahgunaan zat lain dalam masa remaja);

  • Schizophrenia;

  • Gangguan mental organik;

  • Gangguan mental lainnya.

Walaupun banyak dari mereka yang melakukan bunuh diri memiliki gangguan mental, kebanyakan dari mereka tidak mengunjungi profesional dalam bidang kesehatan mental, bahkan di negara maju.

Depresi
Depresi adalah diagnosa yang paling sering ada dalam kasus bunuh diri. Semua orang merasa depresi, sedih, sendiri dan tidak stabil dari waktu ke waktu, dan perasaan-perasaan seperti itu biasanya dapat dilewati. Tetapi, ketika perasaan-perasaan itu dengan gigih mengacaukan kehidupan normal seseorang, perasaan-perasaan depresif itu berubah kondisi menjadi penyakit depresif.

Tingkatan Depresi :

  1. Depresi tingkat tinggi : frustasi.

  2. Depresi tingkat sedang dan rendah : trauma.

Gejala-gejala umum dari Depresi :

  1. Merasa sedih selama 1 hari penuh/ beberapa hari.

  2. Kehilangan minat dalam kegiatan yang biasa di lakukan.

  3. Kehilangan berat badan, bukan di sebabkan karena diet.

  4. Terlalu banyak/ kurang tidur.

  5. Merasa letih atau lelah secara terus menerus.

  6. Merasa tidak berarti/ berguna, bersalah, dan tidak mempunyai harapan.

  7. Merasa resah, gelisah setiap saat.

  8. Sulit untuk berkonsentrasi , mengingat dan membuat keputusan.

  9. Sering berfikir untuk mati atau bunuh diri.

Kasus-kasus yang tejadi di dalam bunuh diri :

  1. 1/3 kasus kasus bunuh diri yang ada adalah karena ketergantungan pada alkohol dan obat-obatan.

  2. 5-10 % pecandu melakukan bunuh diri.

  3. Niat untuk melakukan bunuh diri yang lebih besar, disebabkan karena penyakit/virus yang memtikan.

  4. Yang memiliki niat untuk bunuh diri lebih banyak laki-laki, tetapi yang melakukannya lebih banyak wanita.

  5. Orang-orang usia 15-35 tahun lebih besar niatnya untuk bunuh diri.

  6. Biasanya dilakukan oleh para dokter, ahli kimia, petani, dokter hewan. Biasanya dilakukan oleh orang-orang yang di PHK

Bunuh diri di sebabkan oleh faktor lingkungan :

  1. Masalah interpersonal atau masalah pribadi seperti bertengkar dengan pasangan, keluarga, teman.

  2. Ditolak teman atau keluarga.

  3. Kejadian merugikan seperti: perusahaan bangkrut atau rugi secara finansial.

  4. Masalah keuangan, kehilangan pekerjaan, pensiun, kesulitan finansial.

  5. Perubahan yang terjadi di masyarakat seperti : perubahan drastis dalam politik atau ekonomi.

Karakteristik pemikiran dari orang yang ingin bunuh diri :

  1. Ambivalensi : Kebanyakan orang yang ingin bunuh diri memiliki perasaan yang campur aduk tentang bunuh diri itu sendiri. Keinginan untuk hidup dan mati beradu dalam orang tersebut, ada keinginan untuk lari dari rasa sakit dan ada juga hasrat untuk hidup. Kebanyakan dari mereka tidak ingin mati, mereka hanya tidak senang dengan hidup mereka.

  2. Impulsitas : Bunuh diri adalah merupakan tindakan impulsif, dan sama seperti tindakan impulsif lainnya, dorongan ini bisa bertahan lama atau hanya beberapa menit atau beberapa jam saja. Biasanya dipicu oleh kejadian-kejadian negatif. Menolak krisis-krisis tersebut dengan lebih banyak bermain dengan waktu, keinginan untuk bunuh diri dapat di kurangi atau dicegah. Rigiditas: Apabila orang ingin bunuh diri, pemikiran, perasaan dan tindakan mereka terbatasi. Mereka berpikir untuk bunuh diri secara konstan dan tidak mampu menerima jalan keluar dari masalah. cara berpikir mereka sangat ekstrim


Bunuh diri-sociodemografik dan faktor-faktor lingkungan:

  1. Jenis kelamin:Lebih banyak laki-laki melakukan tindakan bunuh diri daripada perempuan tetapi lebih banyak perempuan berusaha bunuh diri.

  2. Umur: Rata-rata bunuh diri mempunyai dua puncak umur: 15-35 Tahun dan 75 Tahun keatas

  3. Status Pernikahan: Cerai, janda, dan single adalah orang-orang yang memiliki resiko lebih tinggi dari pada yang sudah menikah. Mereka yang tinggal sendirian atau yang berpisah dari pasangannya lebih rawan.

  4. Pekerjaan:Dokter, Veteran, Apoteker, Ahli Kimia dan petani lebih memiliki resiko lebih tinggi dari pada rata-rata.

  5. Pengangguran:
    Kehilangan pekerjaan lebih beresiko daripada status penganggguran.


Bagaimana kita menjangkau orang-oarang yang bunuh diri?

Seringkali ketika orang berkata " Saya capek akan hidup " atau "tidak ada nilai untuk hidup", mereka yang terhapuskan atau telah diberikan contoh dari orang-orang yang berada dalam kesulitan yang lebih parah. Tidak ada dari respon-respon orang-orang yang ingin bunuh diri.

Kontak awal sangat penting. Seringkali kontak terjadi di klinik, rumah atau tempat-tempat umum dimana biasanya sangat sulit untuk melakukan percakapan pribadi.

  1. Langkah pertama adalah untuk mencari tempat-tempat yang cocok dimana orang dapat bercakap-cakap secara tenang dan bisa mendapatkan keleluasaan.

  2. Langkah berikutnya adalah untuk menentukan waktu seperlunya. Orang yang berkeinginan bunuh diri biasanya membutuhkan waktu lebih untuk melepaskan beban mereka sendiri dan seseorang harus siap secara mental untuk memberikan mereka waktu.

  3. Yang terpenting adalah untuk mendengarkan mereka secara efektif. "Menjangkau dan mendengar saja merupakan langkah yang besar dalam menurunkan tingkat keputusasaan orang tersebut".

Tujuannya adalah untuk menjembatani celah yang terbentuk dari ketidak percayaan, keputusasaan dan hilang harapan dan memberikan orang tersebut harapan bahwa segala sesuatu bisa berubah menjadi lebih baik.



D. TERAPI

PENDEKATAN PSIKODINAMIKA

Psikoanalisa tradisional bertujuan membantu orang yang depresi untuk memahami perasaan mereka yang ambivalen terhadap orang-orang (objek) penting dalam hidup mereka yang telah atau terancam hilang. Dengan menggali perasaan-perasaan marah terhadap objek yang hilang, mereka dapat mengarahkan rasa marah keluar—melalui ekspresi verbal dari perasaan

PENDEKATAN BEHAVIORAL

Pendekatan penanganan behavioral beranggapan bahwa perilaku depresi dipelajari dan dapat dihilangkan(unlearned). Terapis perilaku bertujuan secara langsung memodifikasi perilaku dan bukan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap kemungkinan penyebab yang tidak disadari dari perilaku-perilaku ini. Terapi ini telah terbukti berhasil dalam menangani depresi untuk orang dewasa dan juga anak (Craighead& Ilardi, 1998).

Salah satu program behavioral yang ilustratif telah dikembangkan oleh Lewinshon dan koleganya. Program ini terdiri dari sebuah program terapi kelompok dengan 12 sesi selama 8 minggu yang diorganisasikan sebagai suatu kursus—coping with depression (CWD) course. Kursus ini membantu klien memperoleh keterampilan relaksasi, meningkatkan aktivitas yang menyenangkan, dan membangun keterampilan sosial yang memungkinkan mereka mendapatkan reinforcement sosial.

PENDEKATAN KOGNITIF

Teoretikus kognitif percaya bahwa pikiran yang terdistorsi memainkan suatu peran kunci dalam perkembangan depresi. Terapi kognitif yang dikembangkan Aaron Beck dan koleganya telah mengembangkan suatu pendekatan penanganan yang multikomponen. Orang yang depresi cenderung untuk berfokus pada bagaimana perasaan mereka dan bukan pada pikiran-pikiran yang mungkin mendasari kondisi perasaan mereka. Artinya, mereka biasanya memberikan lebih banyak perhatian pada bagaimana buruknya perasaan mereka dibanding pada pikiran-pikiran yang kemungkinan memicu atau mempertahankan mood yang depresi.


TERAPI DENGAN PENDEKATAN BIOLOGIS

Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan.

  1. Kemoterapi (Chemotherapy)

Chemotherapy atau Kemoterapi dalam kamus J.P. Chaplin diartikan sebagai penggunaan obat bius dalam penyembuhan gangguan atau penyakit-penyakit mental. Adapun penemuan obat-obat ini dimulai pada awal tahun 1950-an, yaitu ditemukannya obat yang menghilangkan sebagian gejala Schizophrenia.

Beberapa tahun kemudian ditemukan obat yang dapat meredakan depresi dan sejumlah obat-obatan dikembangkan untuk menyembuhkan kecemasan.

a. Antianxiety Drugs

Yaitu obat yang dapat menurunkan kecemasan dan termasuk pada golongan yang dinamakan benzodiazepin. Obat-obatan ini sering dikenal dengan transkuiliser (penenang).

b. Anti Depressant

Obat anti depressant sering diberikan pada pasien yang mengalami depresi mayor. Selain itu juga untuk membantu meningkatkan mood individu yang terdepresi. Obat ini lebih memberikan efek pada membangkitkan energi. Obat anti depressant cenderung mengurangi depresi pada aspek fisik. Contohnya, mereka cenderung untuk meningkatkan tingkat aktivitas pasien untuk mengurangi gangguan makan dan tidur.

Orang yang mengalami depresi berat sering mengalami insomnia oleh karena itu pemberian anti depressant harus mempertimbangkan waktu pemberian. Hal ini menjadi pertimbangan manakala beberapa pasien yang berada di rumah sakit selama periode tertentu mempunyai kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.

Akan tetapi pemberian obat anti depressant yang berlebihan akan menyebabkan kematian.

c. Antipsychotic

Obat anti psikotik sangat efektif untuk menghilangkan halusinasi dan konfusi dari satu episode schizophrenia ikut serta membantu pemulihan proses berpikir yang rasional.

Obat ini tidak menyembuhkan schizophrenia, akan tetapi membantu pasien agar dapat berfungsi diluar rumah sakit. Anti psikotik dapat mempersingkat masa perawatan pasien dan mencegah kekambuhan.

Walaupun demikian obat ini memiliki efek samping terhadap mulut menjadi kering, pandangan kabur, konsentrasi berkurang hingga gejala neurologis.

d. Lithium

Bangsa Yunani pertama kali menggunakan metal lithium untuk obat-obatan psycho active. Mereka menentukan kandungan air mineral untuk pasien dengan gangguan bipolar afektif, walaupun demikian mereka belum memahami mengapa hal ini kadang-kadang bisa menghasilkan kesembuhan. Akibat ini kemungkinan besar dikarenakan air mineral yang mengandung lithium.

Metal lithium dalam bentuk tablet dapat meratakan hasil periode tingkah laku depresif pada tingkat sedang dari persediaan norephinephrin.


b. Transkuiliser ini Terdiri dari Transkuiliser Minor dan Transkuiliser Mayor.

  • Transkuiliser Minor

Obat-obat ini biasanya diberikan pada pasien yang mengeluh cemas atau tegang, walaupun beberapa orang sering menggunakannya sebagai pil tidur. Yang termasuk golongan ini adalah valium, librium, miltown, atarax, serax dan equamil.

Valium dan transkuiliser lainnya digunakan untuk menekan aktivitas sistem saraf pusat, mengurangi aktivitas simpatis, mereduksi kecepatan jantung, kecepatan pernafasan dan perasaan gelisah serta ketegangan.

Masalah yang diasosiasikan pada beberapa trankuiliser adalah kecemasan yang mengganjal. Beberapa pasien yang telah menggunakan obat ini secara tidak teratur berakibat pada kecemasannya muncul kembali dan rasa sakitnya bertambah.

  • Transkuiliser Mayor

Transkuiliser Mayor dianggap pada bagian yang luas untuk mengurangi bentuk-bentuk kebutuhan yang bervariasi dari pengendalian dan pengawasan. Dalam beberapa kasus dapat mengurangi agitasi, delusi dan halusinasi. Yang termasuk golongan ini thorazine, mellaril, dan stelazine. Transkuiliser Mayor diberikan pada pasien schizophrenia untuk memimpin sebagian besar kehidupannya secara normal dalam komunitas masyarakat, tempat kerjanya, dan mempertahankan kehidupan keluarganya.

2. Electroconvulsive

Terapi elektrokonvulsif (electroconvulsive therapy) dijelaskan oleh psikiater asal Itali Ugo Carletti pada tahun 1939. Pada terapi ini dikenal electroschot therapy, yaitu adanya penggunaan arus listrik kecil yang dialirkan ke otak untuk menghasilkan kejang yang mirip dengan kejang epileptik. Pada saat ini ECT diberikan pada pasien yang mengalami depresi yang parah dimana pasien tidak merespon pada terapi otak.

Secara khusus, pasien dengan terapi ECT mendapatkan satu treatment dalam tiga atau beberapa minggu. ECT dapat menyebabkan ketidaksadaran, walaupun demikian arus listrik yang dialirkan sangatlah lemah. Arus listrik dialirkan melalui pelipis menuju ke sisi hemisfer serebral non dominan. Individu akan terbangun dalam beberapa menit kemudian dan tidak ingat apapun tentang terapi.

Efek samping dari terapi ECT ini adalah gangguan memori yang menimbulkan kekosongan memori sehingga pasien mengalami gangguan kemampuan untuk menambah informasi baru selama beberapa waktu.

3. Psychosurgery

Pada terapi ini, tindakan yang dilakukan adalah adanya pemotongan serabut saraf dengan penyinaran ultrasonik. Psychosurgery merupakan metode yang digunakan untuk pasien yang menunjukan tingkah laku abnormal, diantaranya pasien yang mengalamai gangguan emosi yang berat dan kerusakan pada bagian otaknya.

Pada pasien yang mengalami gangguan berat, pembedahan dilakukan terhadap serabut yang menghubungkan frontal lobe dengan sistim limbik atau dengan area hipotalamus tertentu.

Terapi ini digunakan untuk mengurangi simptom psikotis, seperti disorganisasi proses pikiran, gangguan emosionalitas, disorientasi waktu ruang dan lingkungan, serta halusinasi dan delusi.


PENUTUP

  1. Bunuh diri ialah perbuatan untuk menamatkan hayat atau perbuatan memusnahkan diri kerana enggan berhadapan dengan sesuatu perkara yang dianggap tidak dapat ditangani. Perilaku bunuh diri Emile Durkheim (seorang sosiolog Prancis), mengelompokkan bunuh diri menjadi 3 jenis: Altruistic suicide, egoistic suicide, anomic suicide.

  2. Beberapa kelompok beresiko yang didiagnostik dalam usaha bunuh diri: Depresi (dalam bentuk apapun), Gangguan kepribadian (kepribadian anti sosial dan borderline dengan sifat yang impulsif, agresif dan perubahan mood yang sering), Alkoholisme (dan/atau penyalahgunaan zat lain dalam masa remaja);, Schizophrenia;, Gangguan mental organik, Gangguan mental lainnya. Karakteristik pemikiran dari orang yang ingin bunuh diri :ambivalensi dan impulsitas

  3. Bunuh diri-sociodemografik dan faktor-faktor lingkungan: Jenis kelamin, umur, status pernikahan, pekerjaan, pengangguran, kehilangan pekerjaan lebih beresiko daripada status penganggguran

  4. Terapi bagi yang mengalami gangguan perasaan dan bunuh diri adalah dengan pendekatan psikodinamika, behavioral, kognitif dan biologis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar