Rabu, 13 Januari 2010

Belajar dalam Perspektif Islam


Belajar dalam Perspektif Islam
Oleh
Fadila Rohmaningrum/05410093
Aprilina Hartanti/06410097

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal pokok dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan merupakaan proses pengembangan individu dan kepribbadian seseorang yang dilaksanakn secara sadar dan penuh tanggung jawab untuk dapat meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, sikap serta nilai-nilai sehingga mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannnya. Pendidikan sangat erat kaitannya dengn proses pembelajaran yang diantaranya diaksanakan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal.
Pemerintah Indonesia kini sedang meningkatkan upayanya untuk memperbaharui Pendidikan Nasional menjadi suatu sistem yang lebih relevan dan lebih serasi serta dapat menjunjung terhadap program-program Pembangunan Nasional. Sebagai warga negara yang baik, kita hendaknya mencari efektivitas, afisien dan produksi dalm penyelenggaraan pendidikan.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sisitem pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 dinyatakan bahwa :
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secar aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara1.
Manusia yang berkualitas adalah hasil daripendidikan yang berkualitas serta pelatihan yang sesuaidengan kebutuhan pasar. artinya Tentunya manusia yang berkualitas demikian dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan dan pelatihan yang berorientasikan pasar.2 Dengan demikian sekolah yang berkualitas tentunya adalah sekolah yang mampu menghsilkan output yang sesuai dengn kebutuhan pasar, artinya dapat bersaing di era globalisasi.
Hal pokok yang berkaitan dengan pendidikan adalah belajar. Belajar merupakan komponen yang tidak bisa dilepaskan dalam dunia pendidikan, baik secar formal, informal dan non formal. Tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap jenis dan jenjang pedidikan. Sehingga secara tidak langsung dapat disimpulkan secar semsntar bahwa keberhasilan pendidiakn tergantung oleh berhasil pulanya proses belajar yang dialami oleh siswa.
Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapatkan tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu termasuk ilmu agama yaitu prespektif islam. Dalam agama islam mengatakan bahwa belajar merupakan kewajiban setiap muslim dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat ilmu pengetahuannya meningkat. Hal ini dinyatakan dalam surat Al- Mujadalah : 11, yaitu:
Artinya : ”Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”


KAJIAN TEORI

A.Definisi Belajar
Banyak definisi belajar yang dikemukakan oleh para tokoh diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Hilgard mengatakan :Learning is the proses by which an activity originates as changed through training procedures (whether in the laboratory or in the natural environment). Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam lingkungan alamiah)
2.Morgan, belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
3.James P. Chaplin, leearning (hal belajar, pengetahuan) yang berarti perolehan dari sembarang yang relative permanent dalm tingkah laku sebagai hasil praktek.
4.Sumadi Suryabrata menyimpulkan dari beberapa tokoh diatas bahwa belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavioral changed, aktual maupun potensial). Perubahan itu ada pokoknya adalah di dapatkan kecakapan baru dan perubahan itu terjadi karena usaha.

B.Belajar Prespektif Agama
Belajar merupakan aktivitas manusia yang sangat vital. Dibandingkan dengan makhluk lain, di dunia ini tidak ada makhluk hidup yang sewaktu baru dilahirkan sedemikian tidak berdayanya seperti bayi manusia. Sebaliknya tidak ada mahkluk lain di dunia ini yang setelah dewasa mampu menciptakan apa yang telah diciptakan manusia dewasa.
Jika bayi manusia yang baru dilahirkan tidak mendapat bantuan dari orang dewasa, niscaya binasalah ia. Ia tidak mampu hidup sebagai manusia jika ia tidak diajar/ di didik oleh manusia lain, meskipun bayi yang baru dilahirkan itu membawa beberapa naluri/ instink dan potensi-potensi yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya.
Dalam prespektif Islam tidak di jelaskan secara rinci dan operasional mengenai proses belajar (belajar), proses kerja sistem memori akal dan proses dikuasainya pengetahuan dan ketrampilan manusia. Namun Islam menekankan dalm signifikasi fungsi kognitif (akal) dan fungsi sensori (indera-indera) sebagai alat-alat penting untuk belajar sangat jelas. Kata-kata kunci seperti ya’qilun, yatafardkkarun, yubshirun, yasma’un dan sebagainya terdapat dalam Al-Qur’an merupakan bukti betapa pentingnya penggnaan fungsi ranah cipta dan karsa manusia dalam belajar dan meraih ilmu pengeatahuan.3
Islam menurut Dr. Yusuf Al- Qardhawi (1984) adalah akidah yang berdasarkan ilmu pengetahuan, bukan berdasarkan penyerahan diri secara membabi buta.4 Hal tersebut terdapat dalam Al-Qur’an Surat Muhammad: 19 yang artinya Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah..
C.Ragam alat belajar
Islam memandang umat manusia sebagai mahkluk yang dilahirkan dalam keadaan kosong, bersih, fitrah dan suci (teori tabula rasa = John Lock). Namun pada kenyataannya Tuhan Ynag Maha Esa memberikan kelebihan baik dari segi jasmaniah maupun dari segi rohaniah sehingga manusia dapat belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk kemakmuran diri manusia itu sendiri.
Potensi yang diberikan kepada manusia oleh Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam organ-organ fisio-psikis manusia yang berfungsi sebagai alat-alat penting untuk melakukan kegiatan belajar. Adapun ragam alat fisio-psikis itu yang terungkap dalam beberapa firman Tuhan adalah sebgaai berikut :
Indera penglihat (mata), yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi visual.
Indera pendengar (telinga) yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi verbal.
Akal, yakni potensi kejiwaan manusia berupa sistem psikis yang kompleks untuk menyerap, mengolah, menyimpan dan memproduksi kembali item-item informasi dan pengetahuan, ranah kognitif.
Alat-alat yang bersifat fisio-psikis dalam hubungannya dengan kegiatan belajar merupakan subsistem-subsistem yang satu sam lain berhubungan secara fungsional.
Dalam surat An-Nahl: 78 Allah berfirman :
Artinya : ”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.
Kata ”af’idah” dalam ayat ini menurut seorang pakar tafsir Al-Quran Dr. Quraisy Shihab, (1992) berarti daya nalar yaitu potensi atau kemampuan berfikir logis atau bisa di sebut dengan akal. Dalam tafsir ibnu Katsir Juz II af’idah artinya akal yang menurut sebagian orang tepatnya di dalam jantung (qalb). Namun, kitab tafsir ini tidak menafikan kemungkina af’idah itu ada dalam otak (dimagh).
Sedemikian pentingnya arti daya nalar akal dalam prespektif ajaran isalm, hal tersebut terbukti dengan dikisahkannya penyesalan para penghuni neraka karena keengganan dalam menggunakan akal mereka untuk memikirkan peringatan Allah. Dalam surat Al-Mulk ayat 10 dikisahkan bahwa mereka berkata
Artinya: ”Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”.
Sehubungan dengan penjelasan yang diuraikan di atas,muncullah pertanyaan tentang bagaimana fungsi kalbu (qalb) bagi kehidupan psikologis manusia? Arti konkret (bersifat fisik) qalb menurut kamus Arab-Inggris Al-Maurid adalah heart (jantung) bukan lever (hati). Kata ”hati” yang biasanya dipakai untuk menterjemahhkan ”qalb” itu dalm bahasa arab disebut kabid. Menurut kamus Arab Indonesia Al- Munawir (1984), arti fisik qolb disamping ”jantung” juga ’hati’. Akan tetapi mungkin pengertian hati ini dimasukkan karena sudah terlanjur populer di kalangan penerjemah kitab-kitab arab di Indonesia. Dalam pengertian non fisik (yang bersifat abstrak) kamus Arab Indonesia mengartikan qalb sebagai al-’aql (akal); al-lubb (inti;akal);al-zakirah (ingatan;mental) dan al-quwwatul’ aqilah (daya pikir).
Selain hal itu, Kamus Arab-Indonesia Al-Maurid memberikan arti non fisik Qolb dengan kata-kata : mind (akal) dan secret thought (pikiran tersembunyi / pikiran rahasia). Pengertian non fisik seperti yang tersebut dalam kamus Al- Munawwir dan Al-Maurid itulah yang lebih cocok untuk memahami kata Qalb. Bahkan untuk memilih arti non fisik akal untuk Qalb terasa lebih sesuai apabila kita memperhatikan firman Allah dalm surat Al-A’araf 179 :
Artinya :”Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)”.
Hati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah organ tubuh ng berwarna kemerah-merahan yang terletak di bagian atas rongga perut yang fungsinya untuk mengambil sari makanan dan untuk memproduksi empedu. Sedangkan secara non fisik, kamus tersebut mengartikan hati sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian-pengertian. Pengertian non fisik menurut KBI sama sekklai tidak mengesankan arti ’tempat’ sebagi sinonim kata hati dalam arti fisik yang konkret.
Berdasarkan penjelasan di atas yang perlu di garis bawahi adalah bahwa hati dalam prespektif disiplin ilmu apapun tidak memiliki fungsi mental seperti otak. Sehingga pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam seluruh bidang study hendaknay di tanamkan dalam otak para pelajar / siswa bukan lah di tanamkan dalam hatinya.
Memori permanen yang tersimpan dalam otak kita berfungsi menyimpan informasi, pengetahuan bahkan dalam keyakinan, (Besr, 1989; Reber, 1988; Anderson, 1990) selain itu memory permanen juga dapat brfungsi sebagai bahan penyimpanan semua kejadian-kejadin yang sudah lama berlalu.

PEMBAHASAN

Terdapat banyak ayat di dalam al-Qur’an dan Hadits tentang perlunya belajar dan mengajar serta perlunya mengembangkan ilmu pengetahuan untuk mencapai kesuksesan di dunia dan keselamatan di akhirat. Pendidikan dan pengajaran yang islami sesungguhnya didasarkan atas dua prinsip utama, yaitu : (1) Keteladanan (oleh Pemerintah, guru, orangtua, dan masyarakat), dan (2) Metode pengajaran yang didasarkan atas sinkronisasi iman, ilmu, dan amal.
Abdullah Yusuf menjelaskan, ungkapan ‘ pengajaran’ dan ‘pembacaan’ yang ada pada ayat-ayat itu mengimplikasikan, pemerintah mengajar dan membaca (meneliti dan sebagainya) tidak terbatas pada penyampaian risalah Allah yang harus dilakukan Rasul, tetapi juga bersifat universal, menukik pada tugas untuk menyebarkan kebenaran oleh semua orang yang membaca dan memahami ajaran Al Quran.
Nilai-nilai dan komitmen Islam itu akan makin tampak bila dikaitkan dengan Hadits A’isyah tentang permulaan turunnya wahyu (lihat al-Bukhari, 18-24), di mana Tuhan menyuruh “membaca” kepada Muhammad. Pertama kali Nabi menolak karena dia tidak bisa membaca. Namun, Tuhan menjelaskan, “membaca” adalah kewajiban manusia; mencari dan mengamalkan pengetahuan adalah sifat intrinsik yang harus ada pada manusia. Hadits ini juga menggambarkan dengan jelas mengenai proses penyampaian pengetahuan dalam Islam, yaitu sifatnya yang sangat menekankan pada penciptaan suasana dialogis dan aktif.
Perintah membaca itu tidak hanya dikhususkan pada Rasulullah saja tapi juga untuk para umatnya. Membaca ticak hanya membaca buku, tetapi juga membaca segala macam fenomena dan peristiwa yang ada di alam dunia ini yang bisa diambil pelajaran hidup bagi kita semua. Belajar tidak mesti harus di sekolah-sekolah, lingkungan akan lebih berpengaruh pada kehidupan kita maka dari itu kita juga perlu belajar tentang dan dari lingkungan kita.


KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Dari uraian-uraian yang telah disampaikan di awal dapat kita ambil beberapa kesimpulan. Pada bahasan pertama kita membahas tentang perlunya belaja, mengetahui dan mengembangakan ilmu pengetahuan. Baik itu pengetahuan tentang umum yang bertujuan pada dunia ataupun pengetahuan tentang agama yang orientsinya pada dunia akhirat nanti. Pada pembahasan awal juga kita membahas tentang pembelajaran atau pendidikan serta bagaimana pengajarannya dikaitkan dengan aspek agama khususnya agama islam.Pendidikan dan pengajaran yang islami sesungguhnya didasarkan atas dua prinsip utama, yaitu yang pertama adalah Keteladanan (oleh Pemerintah, guru, orangtua, dan masyarakat), dan yang kedua adalah Metode pengajaran yang didasarkan atas sinkronisasi iman, ilmu, dan amal.
Pada kajian teori juga sudah dijelaskan tentang apa definisi belajar menurut beberapa tokoh. Bahwasannya inti dari sebuah kegiatan yang kita sebut belajar ini adalah perubahan. Manusia hidup harus selalu melakkukan perubahan dalam hidupnya, tentunya perubahan ke arah positif dan perubahan yang bermanfaat. Karena pada hakikatnya pun manusia juga berubah, berubah fisik yang juga akan mempengaruhi perubahan cara berpikirnya.
Pada pembahasan berikutnya juga dijelaskan tentang ayat dan hadis yang menjelaskan tentang pentingnya belajar dan mencari pengetahuan. Dalam salah satu ayat dalam Al-Qur’an misalnya, Allah SWT memerintahkan pada Rasulullah “Bacalah dengan nama Tuhanmu” perintah membaca dalam ayat tersebut bukan ditujukan hanya untuk Rasulullah tetapi juga untuk para umatnya. Perintah membaca juga bukan hanya membaca buku dan tulisan saja tetapi juga bagaimana kita membaca lingkungan kita dan segala fenomena/peristiwa yang terjadi.


SARAN
Bagi penulis, untuk lebih banyak lagi membaca refrensi-refrensi terutama refrensi yang terbaru terkait dengan tema dan judul yang dibahas agar banyak hal-hal yang diperoleh dan dapat ditulis, pengetahuan juga semakin luas.

Daftar Pustaka
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Rosdakarya. Bandung. 1995
Syah,Muhibbin. Psikologi Belajar. PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta.1999.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), halm.3

H.A.R. Tilaar, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Prespektif Abad 21(Magelang: Indonesia Tera, 1999), hlm.123

Juga dari berbagai sumber di internet

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar