Kamis, 18 Februari 2010

SCHIZOFRENIA


SCHIZOFRENIA

Oleh :
Hamdan Juwaeni (05410012)
Eva Teguh Susilowati (05410017)
Yulia Nisful Laili (05410021)
Ziyadatur Rohmah (05410024)

Nur Istiqomah (05410028)

Miftahul Arifin (05410047)


BAB I

PENDAHULUAN

Masyarakat Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan entah itu dari sisi alam, ekonomi, sosial, budaya, ataupun dari sisi manusianya sendiri. Lihat saja setiap tahun secra beruntun negeri indah ini telah mengalami berbagai bencana, mulai dari banjir, gempa bumi, tsunami, kebaran hutan dan lain sebagainya. Ekonomi kita yang makin terpukur dengan meningkatkan harga kebutuhan pokok, yang menyebabkan masyarakat menjadi terjepit dengan berbagai problema kehidupan. Akibat dari keadaan seperti itulah kemudian timbul berbagai perilaku abnormalitas, seperti perampokan, pembunuhan, korupsi, dan lain sebagainya. Sebagian masyarakat pun mengalami depresi bahkan banyak yang sampai mengalami schizophrenia.
Kali ini kita akan membahas lebih mendalam apa dan bagaimana itu sebenarnya skizofrenia, dan bagaimana seharusnya kita menyikapi, dan mengahadapi orang-orang ini. Karena selama ini banyak sekali orang-orang yang menganggap skizofrenia ini sebagai ketidakwarasan dan dianggap negatif.
Skizofrenia bukan kutukan dan tidak perlu dianggap memalukan. Yang harus kita lakukan adalah dengan pengobatan dini (dalam tahun pertama setelah serangan pertama) yang memadai, sepertiga penderita akan sembuh total, sepertiga lain bisa kembali ke masyarakat meski masih memiliki sedikit disfungsi dan perlu pengobatan lanjut. Sedangkan sisanya menuju kemunduran mental sehingga harus menghuni rumah sakit jiwa.
Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. 75% Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri.
Karenanya, penting untuk mengenal gejala dini skizofrenia. Hal ini mengemuka dalam pertemuan bulanan Himpunan Jiwa Sehat Indonesia (HJSI) di Jakarta, pada hari Sabtu tanggal 29 Januari 2005 (Kompas, 31 Januari 2005).
Untuk lebih jelasnya, dalam makalah ini akan di paparkan secara mendalam tentang segala hal yang berkaitan dengan skizofrenia.


BAB II
LANDASAN PENGETAHUAN

A. PENGERTIAN
Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani yang berarti jiwa yang retak (skizos artinya retak, dan frenas artinya jiwa). Menurut psikiater dr Tubagus Erwin Kusumah SpKJ, jiwa manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu perasaan, kemauan, dan pikiran. Pada orang yang jiwanya tidak retak, ketiga unsur ini senada. ''Artinya kalau perasaan lagi senang, maka kemauan dan pikirannya mendukung. Kalau lagi sedih, ketiga-tiganya menurun,'' papar dokter jiwa pada RSPAD Gatot Subroto ini.
Menurut pendapat lain Skizofrenia berarti “kepribadian yang terbelah”, yaitu hilangnya sebagian besar hubungan kesadaran yang logis antara tubuh dan jiwa (disintegrasi). Sehingga dalam beberapa keadaan perilakunya tidak sejalan dengan keadaan emosinya. Hal ini terjadi karena secara mental, kepribadian penderita gangguan ini memang terbelah sehingga mempunyai kecenderungan tubuhnya hidup pada satu dunia tetapi jiwanya berada pada dunia yang lain yang menyebabkan penderita cenderung dianggap “gila”.
Menurut situs resmi www.schizophrenia.com, skizofrenia adalah penyakit yang diakibatkan gangguan susunan sel-sel syaraf pada otak manusia.
"Skizofrenia merupakan gangguan yang ditandai dengan disorganisasi kepribadian yang cukup parah, distorsi realita dan ketidakmampuan berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari. Seseorang yang mengalami skizofrenia tanpa biasanya pikirannya tidak teratur, dan mungkin mengalami delusi atau halusinasi pendengaran.
Skizofrenia mewakili suatu spectrum gangguan yang luas, sehingga sulit sekali untuk menarik kesimpulan secara umum tentang suatu jenis skizofrenia tertentu. Tetapi terdapat satu perbedaan yang berguna adalah kategorisasi skizofrenia akut, yang berhubungan dengan serangan gejala psikotik yang berat. “psikotik” bergubungan dengan suatu keadaan pada seseorang yang sama sekali tidak berhubungan dengan realitas dan tidak mampu memisahkan antara kenyataan dan ketidaknyataan.

B. SEBAB-SEBAB SKIZOFRENIA
Skizofrenia merupakan suatu gangguan yang menyerang jiwa manusia. Tapi walaupun demikian, factor neurologist juga turut berpengaruih terhadap timbulnya skizofrenia. Di bawah ini terdapat beberapa sebab timbulnya skizofrenia, yaitu:
1. Sebab organis, yaitu adanya perubahan-perubahan pada struktur system syaraf sentral
2. Tipe pribadi yang schizothyme (pikiran yang kacau balau) atau jasmaniah yang asthenis, dan mempunyai kecenderungan menjadi skizofrenia.
3. Gangguan kelenjar-kelenjar; adanya disfungsi pada endokrin seks, kelenjar adrenal dan kelenjar pituitary (kelenjar di bawah otak). Atau akibat dari masa klimakterik atau menstruasi. Kadang-kadang karena kelenjar-kelenjar thyroid dan andrenal yang mengalami athrofi.
4. Adanya degenerasi pada energi mental. Hal ini didukung dengan lebih dari separoh dari jumlah penderita skizofrenia mempunyai keluarga yang psikotis atau sakit mental.
5. Sebab-sebab psikologis; kebiasaan-kebiasaan infantile yang buruk dan salah. Individu tidak mempunyai adjustment terhadap lingkungannya. Ada konflik-konflik antara duperego dan id (Freud).

Tetapi pada beberapa kasus, factor kepuasan terhadap kondisi tubuh juga mempengaruhi terjadinya skizofrenia. Pada orang yang mempunyai cacat pada tubuhnya (defek organis) berpotensi menimbulkan perasaan-perasaan tidak mampu dan min-compleks, atau integrasi kepribadian yang miskin sekali. Perasaaan-perasaan seperti ini cenderung berlangsung secara terus menerus. Meskipun masalah fisik yang ada dapat dikurangi dengan jalan operasi. Yang pada akhirnya menimbulkan pribadi yang abnormal.

C. KARAKTERISTIK SKIZOFRENIA :
1. Gangguan Pikiran
Penderita skizofrenia mengalami gangguan dalam cara berpikir maupun isi pikirannya.
a. Cara berpikir
Neologisme, disini penderita memiliki frasa-frasa kata yang baru dimana frasa kata tersebut hanya bisa dimengerti oleh dia sendiri. Dalam pembicaraanpun mencerminkan asosiasi longgar dimana ide-ide yang dibicarakan meloncat-loncat dan tidak berhubungan. Selain itu penderita dipengaruhi oleh bunyi kata ketimbang maknanya.
b. Isi pikiran
Kebanyakan penderita skizofrenia mengalami waham/delusion ( suatu perasaan atau keyakinan yang keliru yang tidak bisa diubah dengan penalaran maupun penyajian fakta ).
Macam waham/delusion :
a) Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar.
b) Delusion of influence = waham tentang dirinya sendiri dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar.
c) Delusion of passivity = waham tentang gerakan tubuh, pikiran maupun tindakan tak berdaya terhadap suatu kekuatan dari luar.
d) Delusion of perception = waham yang berhubunagn dengan pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas dan biasanya bersifat mistik,
2. Gangguan Persepsi
Penderita seringkali merasakan bahwa dunia tampaknya “berbeda” bagi mereka. Penderita merasa bagian tubuh mereka tampak terlalu besar ataupun terlalu kecil. Gangguan persepsi yang paling dramatis dinamakan halusinasi. Halusinasi auditorik/dengar ( biasanya penderita mendengar suara yang menyuru penderita berperilaku tertentu maupun mengomentari perilakunya ) merupakan halusinasi yang sering terjadi. Halusinasi visual/lihat ( penderita melihat sesuatu yang asing ) agak jarang ditemukan. Halusinasi sensorik lain ( penderita merasa ada suatu bau buruk yang keluar dari tubuhnya, merasa kulitnya ditusuk-tusuk ) juga jarang ditemukan.
3. Gangguan Afek
Pada umumnya penderita tidak merasakan emosi apa-apa. Penderita tidak mampu merespon stimulus emosi dengan benar. Sebagai contoh penderita mungkin tidak menunjukan emosi saat diberitahu kalo anaknya meninggal atau tertawa saat mendapat berita yang tragis.
4. Gangguan Perilaku
Penderita biasanya menunjukan aktivitas motorik dan ekspresi wajah yang aneh. Ada juga yang melakukan gerakan yang tak lazim tanpa berhenti atau mempertahankan dalam periode waktu yang lama atau cenderung mematung.
5. Gangguan Kemampuan untuk Bekerja
Pada umumnya penderita kehilangan motivasi kerja dan keterampilan sosial. Selain itu penderita tak memperhatikan kesehatan ( tidak mau mandi ). Dan tidak mampu berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

D. GEJALA-GEJALA
Tanda awal skizofrenia sering kali terlihat sejak kanak-kanak. Indikator premorbid (pra-sakit) pada anak pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan anak mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh. Penyimpangan komunikasi: anak sulit melakukan pembicaraan terarah. Gangguan atensi: anak tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, serta memindahkan atensi. Pada anak perempuan tampak sangat pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang dan ekspresi wajah sangat terbatas. Sedangkan pada anak laki-laki sering menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin.
Namun secra umum skizofrenia mempunyai beberapa gejala yang seringkali tampak pada penderita gangguan ini. Di antara gejala-gejala yang umumnya terjadi adalah:
o Realitas yang berbeda
Sebagaimana orang yang normal, setiap orang memiliki perspektif sendiri-sendiri dalam menghadapi hidup. Begitu juga pada penderita skizofrenia. Ia juga mempunyai perspektif sendiri dalam menanggapi hidup. Tetapi pada penderita skizofrenia, perbedaan perspektif tersebut terlihat sangat mencolok dan cenderung terbalik daripada perspektif orang lain secara umum, yang tidak ada alasan yang logis terhadap perspektif-perspektif yang ada.
o Halusinasi
Penderita skizofrenia seringkali terganggu oleh hal-hal yang sebenarnya tidak ada (halusinasi). Halusinasi ini meliputi halusinasi auditori atau halusinasi suara; penderita mendengar suara-suara tanpa tahu dari mana datangnya. Biasanya, suara-suara yang didengarnya berasal dari luar kepalanya yang sering digambarkan dengan suara-suara yang berlanjut, peringatan akan bahaya-bahaya yang segera dating atau suara-suara yang memberitahu pernderita tentang suatu hal yang harus dilakukan. Halusinasi visual, yaitu penderita seringkali melihat suatu objek yang tidak dilihat orang lain. Halusinasi peraba, yaitu penderita merasakan sensasi-sensasi tanpa bentuk yang pasti.
o Delusi
Yaitu keyakinan yang salah pada penderita terhadap suatu hal tanpa adanya alasan dan bukti yang logis. Pada gejala ini, penderita seringkali merasa bahwa orang lain akan menangkap dan menyakitinya. Atau sebaliknya, penderita seringkali merasa bahwa ia adalah seorang tokoh yang besar.
o Asosiasi yang tidak logis
Penderita skizofrenia seringkali mengucapkan kata-kata yang tidak berhubungan sama sekali. Pikirannya kacau, sehingga kata-kata yang diucapkan terdengar ngawur dan tidak bisa dimengerti oleh orang normal.
o Hilang perasaan-perasaan
Pada gejala ini, penderita dapat dikatakan mati rasa. Respon penderita terhadap suasana di luar dirinya sangat buruk. Ia tidak merasa gembira pada suasana lingkungan yang gembira, dan ioa tidak merasa sedih walaupun suasana lingkungannya sedang berduka.
o Mental yang buruk
Biasanya, pada awal timbulnya gangguan ini, kondisi mental penderita cenderung menurun, baik itu kecerdasan maupun kemampuan mental penderita dalam menanggapi rangsang dari luar.
o Secara fisik, penderita skizofrenia seringkali mengalami gangguan pda tingkah laku stereotips; kadang-kadang ada gerak-gerak motorik yang lamban, tidak teratur dan kaku dan sering nertingkah aneh.

E. JENIS-JENIS SKIZOFRENIA
a. Schizophrenia Hebephrenic
Skizofrenia jenis ini adalah jenis skizofrenia yang paling umum dengan gejala-gejala:
§ Terjadi regresi total menuju kekanak-kanakan
§ Adanya reaksi sikap dan tingkah laku yang kegila-gilaan, suka tertawa untuk kemudian menangis tersedu-sedu. Mudah tersinggung atau sangat irritable. Sering dihinggapi sarkasme (sindiran tajam) dan kenarahannya meledak-ledak atau jadi eksplosif tanpa sebab.
§ Pikiran selalu melantur, banyak tersenyum-senyum; wajahnya selayu grimassen (perat-perot) tanpa adanya stimulus. Sedangkan halusinasi dan delusinya biasanya bersifat aneh dan mudah berganti-ganti.
b. Schizophrenia Catatonic
Catatonic berarti kaku. Seperti artinya, skizofrenia jenis ini mempunyai beberapa gejala;
§ Urat-uratnya menjadi kaku dan beku (chorea-flexibility) yang terjadi secara tak sadar. Anggota badannya sering berlama-lama dalam posisi yang sama.
§ Adanya pola tingkah laku stereotips, atau adanya gerak-gerak otomatis dengan tingkah laku yang aneh tanpa disadari.
§ Adanya gejala stumor, yaitu merasa terbius disertai delusi-delusi kematian dan tanpa respons sama sekali terhadap lingkungan.
§ Tetapi kadang-kadang disertai catatonic excitement, yaitu sikap yang meledak-ledak dan ribut tanpa sebab.
c. Schizophrenia Paranoid
Skizofrenia jenis adalah jenis yang sangat rentan terhadap delusi, baik itu berupa delusi-delusi yang positif atau yang negative. Gejala-gejala yang sering tampak pada penderita adalah:
§ Penderita seringkali merasa terancam; ditipu, diamati, diikuti, disakiti bahkan hendak dibunuh (jenis persecutory).
§ Pada paranoida jenis lain, penderita sering merasa bahwa dirinya adalah orang yang hebat dan berbakat (jenis grandiose)
§ Penderita sering merasa mencintai (terobsesi) secara mendalam pada seseorang yang melebihi batas kewajaran (jenis erotomatic).
§ Penderita sering merasa dihinggapi sesuatu atau penyakit yang parah yang sebenarnya tidak ada (jenis somatic).
§ Penderita sering merasa cemburu yang berlebihan dan tanpa alasan yang logis pada pasangannya (jenis pencemburu).
d. Schizophrenia Simplex
Skizofrenia jenis ini seringkali timbul pada masa pubertas dengan beberapa gejala;
§ Kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan disertai dengan gangguan proses berpikir.
§ Sering terjadi perilaku-perilaku yang tidak bermakna, tidak ada minat, tanpa tujuan hidup dan penarikan diri secara social.

F. PENANGANAN PENDERITA SKIZOFRENIA
o Sikap menerima adalah langkah awal penyembuhan
o Penderita perlu tahu penyakit apa yang diderita dan bagaimana melawannya.
o Dukungan keluarga akan sangat berpengaruh Keluarga harus membantu menumbuhkan sikap mandiri dalam diri si penderita. Mereka harus sabar menerima kenyataan, karena penyakit skizofrenia sulit disembuhkan.
o Perawatan yang dilakukan para ahli bertujuan mengurangi gejala skizpofrenik dan kemungkinan gejala psychotic.
o Penderita skizofrenia biasanya menjalani pemakaian obat-obatan selama waktu tertentu, bahkan mungkin harus seumur hidup
BAB III
KESIMPULAN

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang ditengarai oleh gangguan pada pikiran, perasaan, dan tingkah laku penderita. Penyakit ini dapat diperoleh dari factor genetic maupun lingkungan. Skizofrenia dapat disembuhkan, atau setidaknya dikontrol gejalanya sehingga penderita bisa produktif. Skizofrenia tidak selalu berasosiasi dengan kegilaan. Seringkali penderita berpenampilan normal, namun ketika diajak bicara terasa tidak nyambung, merasa mendengar suara-suara atau melihat sesuatu/halusinasi tergantung pada tingkat skizofrenia yang diderita.
Sebagian besar penderita skizofrenia banyak mendapatkan manfaat dari pengobatan. Mereka hanya akan mengalami satu kali episode penyakit dalam kehidupannya dan tidak terulang lagi. Namun sebagian yang lain, ada yang mengalami episode penyakit yang berulang selama beberapa minggu atau beberapa tahun selepas sembuh.
Seorang penderita skizofrenia adalah tidak jauh berbeda dengan manusia normal seperti pada umumnya. Perhatian dan dukungan sangatlah ia butuhkan dalam proses penyembuhannya. Oleh karena itu betapa sangat pentingnya dukungan keluarga, teman-teman dan lingkungan sekitar bagi kesembuhan para penderita.
Yang harus dan perlu diingat, jangan pernah memanggil mereka (para penderita Skizofrenia) dengan kata “Orang Gila”. Mereka adalah manusia sama seperti kita, yang butuh perhatian, dukungan, dan kasih sayang, hilangkan persepsi negative tentang mereka dari pikiran anda.

DAFTAR PUSTAKA

Supratinya,A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal.Yogyakarta: Kanisius
Tristiadi, dkk. Psikologi klinis. Graha ilmu. Yogyakarta. 2007.
Www.Schizophrenia.Com. Minggu, 29/08/2004.
Http://Www.Kompas.Com. Kenali Gejala Dini Skizofrenia demi Penyembuhannya. 31 januari 2005.
Http://Www.Ums.Ac.Id/Fakultas/Psikologi/Modules.Php. Skizofrenia, 02 September 2004.
Http://id.wikipedia.org. Skizofrenia 20 Sep 2007
Http://Www.Sivalintar.Com/Skizofrenia.Html. Skizofrenia. 4 Sep 2007




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar