Kamis, 18 Februari 2010

Personality and Emotional Memory: How Regulating Emotion Impairs Memory For Emotional Events


Personality and Emotional Memory: How Regulating Emotion Impairs Memory For Emotional Events

By. Fitriyana Fauziah


SUMMARY JOURNAL
INGATAN TENTANG EMOSI DAN KEPRIBADIAN: BAGAIMANA PENGATURAN EMOSI MENGHALANGI INGATAN PADA KEJADIAN-KEJADIAN EMOSIONAL

Studi 1, menunjukkan bahwa orang yang lebih berusaha dalam menekan perilaku emosi yang expresive selama pemutaran sebuah film yang memuakkan atau menjijikkan, ingatan perincian visualnya kurang bagus dari pada orang yang hanya berusaha seadanya.
Studi 2, sama halnya dengan studi yang 1, menunjukkan bahwa orang yang meletakkan banyak usaha dalam menekan perilaku emosi yang expresive selama pemutaran sebuah film yang argumentative, ingatannya kurang baik tentang apa yang diucapkan dari pada orang yang sedikit usahanya.
Dua studi tersebut memberikan pengertian bahwa pada hakekatnya, upaya-upaya yang termotivasi untuk menekan perilaku yang expresive menjelaskan variasi dalam memory/ingatan. Sebuah dampak sebab musabab pada penekanan expresive ditegaskan dalam study 2, yaitu sebuah manipulasi pada penekanan expresive selam pemutaran sebuah film secara keseluruhan. Penemuan-penemuan ini memberikan kontribusi bagi sebuah perkembangan daftar bacaan, khususnya pada pengaturan emosi dan fungsi kognitif (Baumeister, Bratslaussky, Muraven, dan Tice, 1998; Rassin, 2001; Weqner, Quillian, dan Houston, 1996; Zoellner, Sacks, dan foa, 2003).
Penelitian saat ini juga mengarahkan akibat dari penekanan expresive secara spontan pada memory dalam bentuk yang bermakna secara psikologis. Akhirnya, kita membandingkan penekanan expresive pada gangguan diri yang kita anggap sebagai pilihan respon aktif yang lain dalam masalah emosi. Sati hal yang spekulative yakni, usaha-usaha intensive untuk menjauhi pemikiran tentang sebuah peristiwa mungkin memerlukan sebuah pengorbanan lebih besar pada ingatan dari pada penekanan expresive. Meskipun demikian, hasil-hasil korelatif kita dalam studi 2 menunjukkan bahwa:

- Usaha-usaha untuk menutupi perasaan selama kejadian tertentu,
- Usaha-usaha untuk menjauhi pikiran tentang kejadian seluruhnya, dikorelasikan dengan ingatan dengan tingkat yang sama.
Pada intinya korelasi-korelasi ini bukan sebuah benda pada bentuk pengaturan yang dikorelasikan satu sama lain, ketika variasi minimal yang mereka share-kan satu sama lain dipisahkan. Pada hakekatnya penemuan ini tidak berubah dan penemuan ini menyatakan untuk validitas yang berbeda pada penekanan expresive dan gangguan diri.
Studi yang ke2 itu merupakan penjelasan lanjutan dari studi1, jadi studi yang 1 adalah hasil yang menunjukkan hubungan antagonis atau perlawanan antara penekanan emosi expresive dan ingatan yang terbatas untuk dibentuk dalm konteks yang tidak jelas atau membingungkan. Usaha penekanan yang spontan memprediksikan memory yang sedikit, untuk konteks percakapan secara ekologi yang lebih valid. Studi ke2 menjelaskan, kebingungan yang spontan juga memprediksikan ingatan yang lebih sedikit atau terbatas. Ternyata penekanan emosi dan kebingungan menggunakan efek yang sama pada memory sebagai bukti pada hubungan koefisien yang sama. Penekanan manipulasi dan kebingungan juga menggunakan efek0efek secara statistik tidak bisa dibedakan pada ingatan. Dan analisis yang netral atau pertengahan menemukan efek-efek dari manupulasi ini pada usaha-usaha emosi reguler individu selama pemutaran film. Jadi, hasil ini lebih meningkatkan kepercayaan diri kita bahwa setidaknya beberapa macam usaha-usaha yang terjadi secara natural untuk mengatur emosi memprediksikan dalam ingatan.


ANALISA

Operant Reinforcement Theory: B.F. Skinner
Skinner mempunyai tiga asumsi dasar, yang menjadi asumsi psikologi dan pendekatan ilmiah, asusi itu adalah:
1. Behavior is lawful: tingkah laku itu mengikuti hukum tertentu. Ilmu adalah usaha untuk menemukan keteraturan, menunjukkan bahwa event tertentu berhubungan secara teratur dengan event lain. Sama halnya dengan yang dipaparkan dalam jurnal, bahwa stimulus itu timbul tergantung pada stimulus yang diberikan, jika stimulus yang diberikan itu yang positif maka yang terkonsep dalam pikiran kita adalah yang positif, dan stimulus itu mempengaruhi emosi seseorang.
2. Behavior can be predicted: tingkah laku itu dapat diramalkan. Suatu ilmu bukan hanya menjelaskan akan tetapi juga meramalkan, dan tidak hanya menangani peristiwa masa lalu akan tetapi juga masa yang akan datang. Teori yang berdaya guna adalah teori yang memungkinkan dapat dilakukannya prediksi mengenai tingkah laku yang akan datang dan menguji prediksi itu. Dalam jurnal dijelaskan bahwa emosi seseorang akan timbul jika seseorang itu pernah merasakan, melihat, atau mendengar stimulus yang sama dengan yang dia terima pada saat itu, artinya stimulus yang dia terima sekarang telah tersimpan dimemorinya dan siap untuk muncul ketika mendapat stimulus yang sama pada masa yang akan datang.
3. Behavior can be controlled: tingkah laku dapat dikontrol. Ilmu dapat melakukan antisipasi dan membentuk tingkah laku seseorang. Skinner bukan hanya ingin mengetahui bagaimana tingkah laku, tetapi dia sangat berkeinginan memanipulasinya. Dalam studi 1 dan studi ke2 dalam jurnal disebutkan bahwa tingkah laku seseorang dapat dikontrol, yakni tingkah laku seseorang timbul karena adanya dorongan emosi, dan dengan melihat sebuah film dapat membentuk tingkah laku seseorang.
Mengapa Skinner ingin memanipulasi kehidupan manusia, karena sebagian mengontrol kejadian atau tingkah laku merupakan tes yang baik terhadap suatu teori. Menurut Skinner, functional analysis of behavior: suatu bentuk analisis tingkah laku dalam bentuk hubungan sebab akibat, bagaiman suatu respon timbul mengikuti stimulus atau kondisi tertentu, akan melihat bahwa tingkah laku sebagian besar berada di event antesedennya atau berada di lingkungannya.

Struktur kepribadian Skinner
Skinner tidak tertarik dengan variabel struktural dari kepribadian, menurutnya tingkah laku hanya dapat diubah dan dikontrol dengan mengubah lingkungan, dan kepribadian yang relatif tetap adalah tingkah laku itu sendiri. ada dua klasifikasi tipe tingkah laku, yaitu:
1. Type respondent behavior: organisme menghasilkan respon sebagai hasil langsung dari stimulus spesifik. Respon reflek termasuk dalam kelompok ini. Misalnya: dalam melihat sebuah film yang menyedihkan maka kita reflek meresponnya dengan secara tidak sengaja keluar air mata.
2. Type operant behavior: organisme mengerjakan atau memunculkan suatu respon tanpa adanya stimulus spesifik yang langsung memaksanya melakukannya. Kecenderungan timbulnya respon operan tergantung kepada efeknya terhadap lingkungan atau consequence yang mengikuti respon itu. Didalam jurnal hal ini berbeda, artinya harus ada respon sebagai hasil langsung dari stimulus spesifik, karena dalam melihat sebuah film seseorang yang tidak terstimulus akan menganggap film itu biasa aja atau tidak berkesan.

Dinamika Kepribadian
Dalam dinamika kepribadian Skinner terdapat banyak hal didalamnya, antara lain:
1. Operant conditioning: yang disebut juga instrumental conditioning. Reinforcer tidak diasosiasikan dengan stimulus yang ditimbulkan, tetapi diasosiasikan dengan respon itu sendiri beroperasi memberi reinforcement, dan Skinner menyebut respon itu sebagai operant behavior. Tingkah laku responden adalah tingkah laku reflek, yang dalam kondisioning klasik respon diusahakan dapat dimunculkan dalam situasi yang lain dengan situasi aslinya. Dalam kedua studi diatas reinforcement yang disebutkan adalah emosi yang dimanja dan emosi yang ditekan yang ternyata dalam penelitian menghasilkan respon yang sama, seharusnya keduanya berbeda, dalam emosi yang dimanja akan menghasilkan respon atau memori yang lebih bagus atau lebih kuat, karena seseorang akan merasakan kenyamanan atau akan mendapatkan hadiah setelah melakukan hal tersebut. Sedangkan pada emosi yang ditekan akan menghasilkan respon atau memori yang buruk artinya seseorang akan menganggap hal itu biasa saja bahkan akan melupakannya begitu saja.
2. Schedules reinforcement: dalam memanipulasi tingkah laku, yang penting tidak hanya wujud dari reinforcementnya tetapi juga bagaimana pengaturan pemberiannya. Reinforcement yang diadministrasikan dengan cermat memungkinkan kita untuk membentuk tingkah laku. Skedul pemberian reinforcement adalah sebagai berikut:

Continuous Reinforcement Intermittent Reinforcement

Fixed interval Fixed ratio

Variabel interval Variable ratio

Ø Continuous reinforcement: setiap kali muncul tingkah laku yang dikehendaki diberikan reinforcement. Kalau reinforcement itu dihentikan maka tingkah laku yang dikehendakai dengan cepat akan mengalami ekstingsing dan hilang. Dalam kasus studi diatas dikatakan bahwa jika seseorang melihat tayangan film yang sama dengan kehidupannya maka dengan mudah dia akan hanyut dalam ceritanya, karena film itu sebagai reinforcement untuk mengingatkan kembali apa yang pernah dialami seseorang.
Ø Intermittent: berselang berdasarkan waktu atau berdasarkan perbandingan. Reinforcement yang diberikan misalnya berselang satu hari, maka respon yang didapatkannya juga tidak akan maksimal karena selang waktu yang lama dan kemungkinan akan mudah dilupakannya.
Ø Fixed interval: pemberian reinforcement berselang teratur, misalnya tiap 5 menit sekali. Jadi jika dalam melihat film maka seseorang akan mudah mengingatnya karena reinforcement yang diberikan teratur.
Ø Variabel interval: memberi reinforcement dalam waktu yang tidak tentu, tetapi rata-ratanya sama dengan pengaturan fixed. Pada bagian ini respon yang akn ditangkap lebih lambat dibandingkan fixed.
Ø Fixed ratio: mengtur pemberian reinforcement sesudah respon yang dikehendaki muncul yang kesekian kalinya.
Ø Variabel ratio: memberikan reinforcement secara acak sesudah kesekian kali patukan dengan rata-rata sama dengan fixed ratio, akan tetapi responnya paling lambat terjadi.
Dijelaskan bahwa tingkah laku yang tidak dikehendaki dapat diperkuat tanpa sengaja: terfokus pada kesatuan atau keterdekatan reinforcement dan bukan pada maksud pemberi reinforcement. Misalnya: dalam melihat film yang tidak pernah dia ketahui akan tetapi dalam film itu terdapat tokoh yang sangat dia gemari maka dengan cepat emosi akan memberikan respon sehingga seseorang tertarik untuk melihat film tersebut.
3. Generalisasi dan diskriminasi:
Stimulus generalisasi adalah proses timbulnya respon dari stimulus yang mirip dengan stimulus yang semestinya menimbulkan respon itu. Sedangkan stimulus diskriminasi adalah kemampuan untuk membedakan stimulus, sehingga stimulus itu tidak diberi respon, walaupun mirip dengan respon yang diberi penguat. Hal ini erat kaitannya dengan orang yang belajar, dalam melihat sebuah film yang baru itu akan menjadi pelajaran baru bagi kita. Disini geberalisasi sangat penting karena tidak ada orang yang dapat berada dalam situasi yang sama persis dan melakukan respon yang sama persis pula, begitu juga sebaliknya jika tidak dapat mendeskriminasi situasi, kita akan membuat respon yang sama terhadap situasi yang berbeda, sehingga tingkah laku kita menjadi kacau.

KESIMPULAN

Dalam penelitian yang menjelaskan dua studi yang sama, yang pertama menunjukkan bahwa orang yang lebih berusaha dalam menekan emosinya selama pemutaran film yang menjijikkan diketahui ingatannya kurang bagus dari pada orang yang hanya berusaha seadanya. Sama dengan studi yang kedua, bahwa orang yang banyak berusaha dalam menekan emosinya selama pemutaran film yang argumentative diketahui ingatannya kurang baik dari pada orang yang sedikit usahanya.
Telah dijelaskan dalam asumsi dasar Skinner, Behavior is lawful: yaitu tingkah laku itu mengikuti hukum tertentu, dan menunjukkan bahwa event tertentu berhubungan dengan event lain. Jadi tergantung dengan stimulus yang diberikan, jika seseorang berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menekan emosinya berarti dia tidak mendapatkan stimulus itu artinya sulit untuk membentuk tingkah laku kita. Sebaliknya jika seseorang yang hanya berusaha seadanya itu dia telah mendapatkan stimulus untuk memperkuat sehingga membentuk tingkah laku kita yang telah terkonsep dalam emosi.
Disebutkan juga dalam dinamika kepribadian Skinner, yaitu Operant conditioning dimana reinforcer tidak diasosiasikan dengan stimulus yang ditimbulkan, tetapi diasosiasikan dengan respon itu sendiri yang beroperasi memberi penguatan. Tingkah laku seseorang adalah tingkah laku reflek, yang dalam kondisioning klasik respon diusahakan dapat dimunculkan dalam situasi yang lain dengan situasi aslinya. Dalam kedua studi diatas reinforcement yang disebutkan adalah emosi yang tertata dan emosi yang ditekan yang dalam penelitian dihasilkan respon yang sama, seharusnya keduanya berbeda, dalam emosi yang tertata akan menghasilkan respon atau memori yang lebih bagus atau lebih kuat, karena seseorang mendapatkan stimulus yang kuat. Sedangkan pada emosi yang ditekan akan menghasilkan respon atau memori yang buruk artinya seseorang akan menganggap hal itu biasa saja bahkan akan melupakannya begitu saja, karena memang seseorang itu tidak mendapatkan stimulus untuk dijadikan penguat. Stimulus sendiri lebih aplikatif dalam menentukan emosi seseorang yang akan membentuk tingkah laku, oleh karena itu sesuai dengan kondisi seseorang.
Kepribadian itu tergantung pada stimulus yang diberikan, yang emosional memory berada didalamnya. Jadi jika ada dua orang diberikan stimulus yang berbeda maka kepribadian yang terbentuk juga akan berbeda. Seseorang yang banyak diberikan stimulus akan terus berusaha sebaik mungkin untuk mencapai sesuatu yang dituju, bahkan jika dalam waktu yang berbeda dia mengalami hal yang sama dan diberikan stimulus yang sama pula orang itu akan dengan mudah melakukan hal itu, karena memorinya menerimanya dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang itu tidak diberi stimulus atau hanya sedikit stimulus yang dia terima maka dia tidak akan merespon dengan baik jika dia diberikan hal yang sama ketika dia tidak mendapatkan stimulus pada waktu itu, karena pada konsep memorinya dia tidak memperoleh stimulus.



DAFTAR PUSTAKA

Hall S. Calvin, dan Gardner Lindzey. 1993. Teori-Teori Sifat dan Behavioristik. Yogyakarta: Kanisius.
__ .Pengantar Psikologi Kepribadian Non Psikoanalitik.­__

Tidak ada komentar:

Posting Komentar