Kamis, 18 Februari 2010

REVIEW JURNAL


"Kepuasan hidup orang lanjut usia dalam hubungannya dengan jenis aktivitas, jenis kelamin, religiositas, status perkawinan, tingkat kemandirian, tingkat pendidikan dan daerah tempat tinggal "
By. Fitriyana Fauziah


Latar Belakang

Hampir semua orang yang hidup berkeinginan untuk berumur panjang, dan untuk mencapai hal itu orang mau melakukan apa saja. Keinginan yang besar itu didukung oleh kualitas hidup yang semakin baik sehingga usia harapan hidup semakin tinggi, oleh karena itu jumlah orang lanjut usia semakin bertambah dari tahun ke tahun. Harapan, keinginan, dambaan, dan kebutuhan semua orang adalah kebahagiaan. Kebutuhan ini semakin mendesak pada orang lanjut usia , karena masa usia lanjut merupakan fase terakhir dalam kehidupan manusia. Dan penelitian ini mengungkap kebahagiaan hidup orang lanjut usia melalui kepuasan hidupnya dan melihat hubungannya dengan berbagai factor, yaitu jenis aktivitas, religiositas, tingkat kemandirian , tingkat pendidikan, dan juga perbedaan kepuasan hidup antara orang lanjut usia pria dan wanita, yang menikah dan janda atau duda, dan yang bertempat tinggal di desa dan dikota.
Orang lanjut usia adalah orang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas. Masuknya usia ini ditandai dengan berbagai perubahan, baik fisik maupun psikologis. Perubahan fisik yang terjadi adalah penurunan kekuatan fisik, stamina, dan penampilan. Penurunan intelegensi yang diungkap pada lanjut adalah penurunan dalam hal mereaksi atau pada kemampuan visual motor flexibility, yaitu kemampuan untuk berpindah secara lincah dalam bidang koordinasi mata dan motorik (Haditono, 1989). Terjadinya penurunan pada orang lanjut usia ditandai dengan penurunan aktivitas, dan menurunnya berbagai keterikatan social maupun psikologis (Neugarten, dkk, 1968). Dan menurunnya peran dan partipasi social (Ferraro). Dalam penelitian ini disebutkan bertujuan untuk mengetahui kepuasan hidup orang lanjut usia ditinjau dari jenis aktivitas, religiositas, tingkat kemanditian, dan tingkat pendidikan.


Hipotesis

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kepuasan hidup orang lanjut usia ditinjau dari jenis aktivitas, religiositas, tingkat kemandirian, tingkat pendidikan, dan daerah tempat tinggal. Hipotesis yang digunakan dalam metode ini terdiri atas satu hipotesis mayor dan empat hipotesis minor, juga hipotesis mengenai perbedaan. Sample dalam metode ini terdiri dari 100 orang lanjut usia pria dan wanita yang bertempat tinggal di kota dan 100 orang lanjut usia yang bertempat tinggal di desa, yang diperoleh dengan menggunakan teknik purposive random sampling.

Metode

Kepuasan hidup orang lanjut usia berfungsi sebagai variable tergantung dalam penelitian ini. Ada tujuh variable yang berfungsi sebagai variable bebas yaitu, jenis aktivitas , jenis kelamin, religiositas, status perkawinan, tingkat kemandirian, tingkat pendidikan, dan daerah tempat tinggal. Sebagai variable tergantung yaitu, kepuasan hidup orang lanjut usia.
Populasi dalm penelitian ini adalah ornga lanjut usia yang berusia 60 tahun keatas. Dan sample dalam penelitian ini adalah para lanjut usia pria dan anita yang tidak tinggal di Panti Wreda. Subyek pria dan wanita masing-masing berjumlah 100 orang lanjut usia yang terdiri dari, 50 orang yang tinggal di kota dan 50 orang yang tinggal di desa. Kota yang ditetapkan untuk pengambilan sample adalah daerah yang termasuk dalam wilayah Kota Madya Semarang, dsedangkan desa yang dijadikan untuk tempat pengambilan sample adalah delapan desa swadaya tang yang tersebar di empat kecamatan di ilayah Kabupaten Demak.
Data analisis digunakan dua macam teknik analisis, yaitu analisis regresi dan analisis variansi. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode angket. Ada empat buah angket yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu angkeyt jenis aktivitas, reliogitas, kemandirian, dan kepuasan hidup orang lanjut usia. Jenis kelamin, status perkawinan, dan tingkat pendidikan didasarkan pada data yang diberikan subyek, sedangkan daerah tempat tinggal adalah sesuai dengan tempat pengambilan data yang sudah ditentukan sebelumnya.

Hasil Penelitian

Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara jenis aktivitas, religiositas, tingkat kemandirian, dan tingkat pendidikan dengan kepuasan hidup orang lanjut usia (F=18,316dan p=0,000).
Tidak adanya hubungan yang signifikan antara jenis aktivitas dengan kepuasan hidup orang lanjut usia (r =0,129 dan p=0,067). Tetapi hubungan antara aktivitas hiburan dengan kepuasan hidup orang lanjut usia adalah sangat signifikan (rxly=0,441 dan p=0,000). Sedangkan hubungan antara aktivitas produktif dengan kepuasan hidup orang lanjut usia adalah negative dan sangant signifikan (rx2y=-0,222 dan p=0,001).
Adanya hubungan yang sangat signifikan antara religiositas dengan kepuasan hidup orang lanjut usia (r =0,188 dan p=0,008).
Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat kemandirian dengan kepuasan hidup orang lanjut usia (r =0,316 dan p=0,001).
Ada hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan kepuasan hidup orang lanjut usia (r =0,214 dan p=0,001).
Terdapat perbedaan kepuasan hidup yang sangat signifikan antara orang lanjut usia pria dan wanita (f=69,862 dan p=0,000). Berdasarkan nilai rerata, ternyata bahwa kepuasan hidup orang lanjut usia pria lebih tinggi daripada wanita. Hanya pada aspek kedua kepuasan kepuasan hidup orang lanjut usia, pria dan wanita tidak berbeda (t =1,339 dan p=0,179).
Tidak da perbedaan kepuasan hidup yang signifikan antara orang lanjut usia yang bertempat tinggal di desa dan di kota (f=1,167 dan p=0,1281). Namun demikian, ada perbedaan pada aspek pertama dan kedua dari kepuasan hidup orang lanjut usia dengan rerata orang desa lebih tinggi dari orang kota, sedangkan pada aspek ketiga, rerata orang kota lebih tinggi daripada orang desa.


Pembahasan

Menurut Neugarten, kepuasan hidup adalah ukuran kebahagian dan mempunyai lima aspek, yaitu: merasa senang dengan aktivitas yang dilakukan sehari-hari, menganggap hidupnya penuh arti dan menerima dengan tulus kondisi hidupnya, merasa telah berhasil mencapai cita-cita atau sebagian besar hidupnya, mempunyai citra diri yang positif, mempunyai sikap hidup yang optimistic dan suasana hati yang bahagia. Orang lanjut usia yang mengalami post power sindrom kepuasan hidupnya akan menurun karena mereka belum dapat menerima kenyataan hidup yang dialaminya sekarang, yang dahulunya mereka menjadi orang-orang yang terpandang, berhasil, dan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dan pada usia lanjut mereka kehilangan semua itu.
Aktvitas yang menghasilkan uang jauh lebih tinggi nilainya, sebab hal ini menunjukkan bahwa seseorang masih mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat (Fenfler, 1984). Sedangkan aktifitas produktif bisa dilakukan orang hanya karena kewajiban dan tanggung jawab untuk memberi nafkah bagi keluarga dan bukan karena merasa senang untuk melakukannya. Berhubungan dengan masalah hidup orang lanjut usia, kepuasan hidup pria lanjut usia yang bekerja jauh lebih tinggi daripada yang tidak bekerja. Berbeda dengan wanita, wanita lanjut usia yang tidak bekerja kepuasan hidupnya jauh lebih tinggi daripada wanita yang bekerja (Soenaryo, 1990).
Perbedaan antara pria dan wanita dapat dilihat sebagai hasil interaksi antara faktor fisiologis, pengaruh psikologis, dan pengalaman. Dengan interaksi faktor-faktor tersebut, pria dan wanita berbeda dalam berbagai hal (Kimmel, 1990). Kelompok budaya yang berbeda, berbeda pula dalam menafsirkan kewajiban dan wewenang lelaki dan perempuan baik dalam keluarga maupun dalam lapangan kerja (Jatman, 1954). Stewart dan Shapiro mengatakan bahwa apabila mengalami kegagalan, pria tidak terlalu negatif dalam mengevaluasi dirinya dan mempunyai kemampuan memimpin yang lebih baik daripada wanita. Wanita yang berkewajiban menjalankan tugas-tugas di rumah tidak mengenal pensiun, sehingga kurang mendapatkan kesempatan untuk mencari hiburan. Shaffer dkk mengatakan, bahwa pria lebih mandiri dan kompetitif. Dengan adanya perbedaan tersebut maka menjadikan kepuasan hidup orang lanjut usia pria lebih tinggi daripada wanita.
Religositas berasal dari kata religi yang berarti agama. Religiositas seseorang adalah tingkah laku manusia yang sepenuhnya dibentuk oleh kepercayaan kepada kegaiban atau alam gaib, yaitu kenyataan-kenyataan yang supra empiris. Manusia yang memiliki religiositas, meletakkan harga dan makna tindakan empirisnya di bawah yang supra empiris (Madjid, 1997). Moberg mengatakan bahwa keyakinan terhadap Tuhan akan meringankan penderitaan saat orang merasa sedih, kesepian dan putus asa serta mereka dapat memperoleh kekuatan darinya. Orang lanjut usia yang kurang religius, mempunyai tingkat kepuasan kepuasan hidup yang lebih rendah, sedangkan yang religiositasnya terbina dengan baik menunjukkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi.
Hampir semua orang dewasa akan menikah pada suatu saat dalam hidupnya, tetapi tidak semua orang menikah dan tidak setiap orang yang menikah tetap dalam ikatan perkawinan sampai mati. Orang lanjut usai yang mengalami perceraian, kepuasan hidupnya paling rendah. Menurut Zimbardo bahwa kehilangan pasangan dapat menimbulkan rasa kesepian dan mengakibatkan berkurangnya kepuasan hidup. Sesuai dengan hasil penelitian, bahwa kepuasan hidup orang lanjut usia yang menikah lebih tinggi daripada para lanjut usia yang janda atau duda.
Kemandirian mencakup pengertian dari beberapa istilah, yaitu autonomy, indenpendency, dan self-reliance(Masrun, dkk, 1986). Individu yang mempunyai otonomi, tingkah lakunya merupakan hasil kekuatan atau dorongan dari dalam dan tidak karena pengaruh orang lain, mempunyai kontrol diri, mampu mengembangkan sikap kritis, dan mampu membuat keputusan secara bebas tanpa dipengaruhi orang lain (Brawer dalam Soetjiningsih, 1992). Kehilangan kemandirian dan meningkatnya ketergantungan pada orang lanjut usia tidak selalu karena menurunnya kemampuan fisik maupun mental, tetapi juga karena lingkungan sosial yang menerimanya sebagai hal yang wajar dan membangun ketidak mampuan dengan selalu menawarkan bantuan meski tidak diinginkan dan dibutuhkan (Baltes, 1995). Keinginan untuk mandiri merupakan faktor utama dari kemandirian, yaitu keinginan untuk melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain.
Pendidikan sebagai suatu proses mencakup semua bentuk aktivitas yang menstimulasi individu untuk berfikir, berpartisipasi, dan berbuat sesuatu (Crow dan Crow, 1958). Tingkat pendidikan yang rendah dan kehidupan menjanda atau menduda merupakan prediktor yang signifikan dari ketidakpuasan (Baldassare, dkk, 1984). Pendidikan yang tinggi memungkinkan seseorang untuk mencapai kedudukan yang lebih baik dadalam masyarakat (Haditono dan Singgih, 1991). Dan dalam hasil penelitian di atas menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan kepuasan hidup orang lanjut usia.
Tempat tinggal dibedakan menjadi desa dan kota. Desa adalah unit pemusatan penduduk yang bercorak agraris, jumlah penduduk kecil dan kepadatan penduduk rendah. Pekerjaan di desa banyak tergantung pada alam dan tidak banyak bervariasi. Obyek pekerjaan di desa adalah tanaman dan hewan. Daerah pedesaan pada dasarnya homogen baik dalam bidang pekerjaan, bahasa, dan adat istiadat. Interaksi sosial bersifat personal, langsung berhadap-hadapan dan setiap orang mengenal orang lain secara baik tanpa harus mencatat nama, alamat, dan pekerjaan yang bersangkutan (Khairuddin, 1992). Sedangkan kota adalah suatu pemikiman yang cukup besar, padat dan dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Fungsi kota yang khas adalah sebagai pusat kegiatan seni dan budaya, industri, perdagangan, pendidikan, dan ilmu pengetahuan, pemerintah serta kemewahan. Sirkulasi uang di kota jauh lebih cepat, lebih besar, dan lebih banyak sehingga relatif lebih mudah mendapatkan uang dari pada di desa. Hal ini merupakan faktor penarik yang menyebabkan banyak orang desa melakukan urbanisasi atau pindah kepentingan kota (Soekanto, 1990). Dalam penelitian disebutkan bahwa kepuasan hidup orang lanjut usia di desa tidak berbeda dengan yang bertempat tinggal di kota.



Kesimpulan dan Saran

Adanya hubungan yang sangat signifikan pada kepuasan hidup orang lanjut usia dengan jenis aktivitas, religiositas, tingkat kemandirian, dan tingkat pendidikan, tetapi jenis aktivitas hubungannya tidak dominan dengan kepuasan hidup orang lanjut usia.
Kepuasan hidup antara orang lanjut usia pria dan wanita terjadi perbedaan yaitu, pria lebih tinggi daripada wanita. Begitu juga dengan orang lanjut usia yang menikah dan janda atau duda, adalah orang lanjut usia yang menikah tingkat kepuasan hidupnya lebih tinggi daripada yang janda atau duda. Dan dalam perbandingan antara orang lanjut usia yang bertempat tinggal di desa dan di kota, tidak terdapat perbedaan dalam kepuasan hidup.
Orang lanjut usai yang merasa telah berhasil mencapai cita-cita atau sebagian besar tujuan hidupnya, mempunyai citra diri yang positif, mempunyai sikap hidup yang optimistic dan suasan hati yang bahagia, dan tidak mengalami post power sindrom, pria lebih tinggi daripada wanita, yang menikah lebih tinggi daripada janda atau duda, dan yang berhubungan dengan tingkat pendidikan. Dan orang lanjut usia yang mengaaggap hidupnya lebih berarti dan menerima dengan tulus kondisi kehidupannya, menunjukkan tidak adanya perbedaan antara faktor-faktor diatas.
Sebaiknya orang lanjut usia mendapatkan kesempatan yang luas untuk dapat melakukan aktivitas yang digemarinya. Seharusnya orang lanjut usia meningkatkan religiositas dan tetap mempertahankan kemandiriannya. Dan bagi orang lanjut usia wanita, janda atau duda, dan yang kurang pendidikan, sebaiknya tetap berusaha untuk mencapai kepuasan hidupnya, dan orang lajut usia yang mengalami post power sindrom tetap berusaha memperbaiki dirinya.


1 komentar:

  1. saya mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
    Artikel yang menarik, bisa buat referensi ini ..
    terimakasih ya infonya :)

    BalasHapus