Senin, 20 September 2010

Review Jurnal


Perbedaan tingkat depresi antara
lansia yang tinggal dengan keluarga dan
lansia yang tinggal di panti sosial
tresna werdha “wening werdaya” ungaran
Oleh: Sri Hartati dan Tri Rejeki Andayani

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Klinis

Dosen pembimbing: Tristiadi Ardi Ardani, M.Si






Oleh :
Sadid Al Muqim (05410065)



FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
Mei, 2007


perbedaan tingkat depresi
masa dewasa akhir
pengantar
Bismillahirrahmanirrahim. Ribuan puji kami sembahkan kepada Allah SWT. yang menciptakan akal untuk berpikir dan hati untuk merasa. Lantunan sholawat kami berikan kepada junjungan nabi agung Muhammad SAW. revolusionis dunia dengan ilmu pengetahuan.

latar belakang
Masa lanjut usia (lansia) atau dalam prespektif psikologi perkembangan tertuju pada Masa Dewasa Akhir berkisar dari umur 60 tahun hingga akhir 120 tahun, dimana individu mengalami banyak fase penurunan (terminal drop) atau kemunduran fungsi, baik fungsi fisiologi, psikologi ataupun sosial, atau lebih mudah sebut saja perkembangan ini adalah masa transisi (Levinson). Perubahan yang semakin turun ini akan menimbulkan beberapa proses pemikiran kemunduruan, bahkan diakhiri dengan timbulnya perasaan kematian. Namun ketakutan akan kematian sesekali timbul saat pergaulan pada lingkungan, termasuk orang-orang yang dicintai atau orang terdekat menjadi hilang, juga dengan beberapa kesedihan yang dirasakan atau sakit yang diidentifikasi pada dirinya. Perubahan lain dalam masa dewasa akhir dapat mengakibatkan gangguan psikologis, seperti halnya depresi, dimana akumulasi perasaan yang timbul dari perubahan penghasilan, status sosial dan partisipasi sosial.

pendahuluan
Di negara maju, lansia merupakan salah satu permasalahan yang perlu diperhatikan, terlebih pada persoalan mental. Data US Census Bereau (1980) memperkirakan pada tahu 2020 mendatang terjadi peningkatan jumlah lansia menjadi 15 persen dari jumlah penduduk Amerika atau sekitar 51 juta jiwa, hal ini sering disebut dengan baby boom generation. Data tersebut membuat The Duke Longitudinal Study menyimpulkan (secara umum) bahwa perbedaan harapan hidup lansia yang diproyeksikan tahun 2020 adalah laki-laki 82.0 juta jiwa dan wanita 74.2 juta jiwa, jumlah yang cukup melambung tinggi dibandingkan dengan tahun 1950 yakni laki-laki 71.0 juta jiwa dan wanita 65.5 juta jiwa.
Kombinasi antara panjangnya masa kehidupan dengan peningkatan dramatis jumlah orang dewasa yang hidup menuju usia tua telah membawa peningkatan perhatian terhadap perbedaan periode masa dewasa akhir. Kebanyakan pembatasan menggunakan 2 sub-periode, yakni kelompok Young Old (65-74 tahun) dan kelompok Old Old (berusia diatas 75 tahun), (Gerontologi), walaupun kesepakatan yang pasti mengenai usia yang membatasi 2 sub-periode itu belum disepakati. Bahasa lain yang dipakai oleh  ahli perkembangan adalah Orang Tua Muda atau Usia Tua (65-74 Tahun) dan Orang Tua Yang Tua atau Usia Tua Akhir (75 tahun lebih), (Baltes, Smith & Staundinger, Charness & Bosman, 1992; Neugarten, 1980). Lainnya masih membedakan Orang Tua Lanjut (85 tahun keatas) dari orang dewasa lanjut yang lebih muda (Johnson, 1994; Pearlin, 1994). Begitu juga aspek kesehatan, terbagi atas Well Old atau kelompok lansia yang sehat, dan Sick Old atau kelompok lansia sakit  yang membuutuhkan pertolongan medis dan psikiatris (Suyono, 1997).
Meningkatnya jumlah lansia tersebut membawa dampak terhadap berbagai aspek kehidupan. Secara individu, proses penuangan (aging process) adalah proses alami yang memberi pengaruh pada fisik, mental, sosial dan spiritual. Lansia menjadi gambaran atas integritas atau rasa puas, yakni dimana seorang merasakan kepuasan dari hasil hubungan yang diperoleh dan memberi suatu yang berarti bagi generasi berikutnya (Hurlock, 1991). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa struktur keluarga nuclear family tidak memberi tempat untuk lansia, terlebih dengan adanya perubahan nilai pada masyarakat golongan menengah keatas, terjadi anggapan bahwa keberadaan lansia akan menjadi beban. Kondisi demikian yang sering kali menimbulkan berbagai macam gangguan mental, dan salah satunya adalah depresi (Hawari, 1997).

pembahasan pustaka
Depresi adalah suatu gangguan kedaan tonus perasaan yang secara umum ditandai oleh rasa kesedihan, apati, pesimisme, dan kesepian. Keadaan ini sering disebutkan dengan istilah kesedihan (sadness), murung (blue), dan kesengsaraan2.
Depresi mayor (major depression) adalah suatu gangguan suasana hati (a mood disorder) dimana individu merasa sangat tidak bahagia, kehilangan semangat (demoralized), merasa terhina (self-derogatory) dan bosan. Individu dengan depresi mayor tidak merasa sehat, mudah kehilangan stamina, nafsu makan berkurang, lesu serta kurang gairah.
Depresi adalah gangguan mental yang bisa datang pada siapa dan kapan saja juga dimana saja. Menurut penelitian, depresi menjangkit manusia dengan jumlah mencapai 100 juta jiwa per tahun (Sartorius, 1993), tidak mngecualikan lansia, dan bahkan jumlah itu terus naik. Rasa kehilangan merupakan indikasi depresi pertama bagi lansia (Greist & Jefferson, 1987), seperti halnuya orang yang dicintai atau orang dekat. Plus kemudian problem pensiun, kehilangan pekerjaan perubahan kedudukan, prestise yang akhirnya memunculkan post power syndrome, menurunnya kondisi fisik maupun mental. Sebetulnya depresi juga akibat akumulasi perasaan sedih dan kecewa akibat pengalaman yang tidak menyenangkan dan kemudian tidak ada dukungan dan simpati dari orang lain.
Gejala umum yang spesifik yang ditimbulkan dari depresi adalah kesedihan, perasaan apatis, merasa sendiri. Dari segi psikologis, gejala itu dapat dilihat dari munculnya konsep diri yang negatif, regresif, perubahan kognitif-afektif- motorik, bahkan hingga somatis (beck, 1985; Greist & Jefferson, 1987).
Dari berbagi penelitian, terdapat hasil bahwa kesehatan mental dan komitmen keagamaan bagi para lansia merupakan faktor yang tidak dapat diabaikan(Hawari, 1997). Oleh karena itu depresi hendaknya ditangani sedini mungkin agar tidak menimbulkan kerusakan pola pikir dan kepribadian. Karena itu semua, peran keluarga, kerabat dekat atau agen sosial lain dalam lingkungan juga sangat mendukung kesehatan sempurna pada lansia.

metode
Perbedaan yang dicermati adalah depresi pada lansia antara lingkungan keluarga dan panti sosial Wherda.  Dengan menggunakan metode skor Geriatric Depression Scala (GDS Short Form). Skala tersebut terdiri dari 15 pertanyaan yang masing-masing bernilai satu (1) jika sesuai karakter jawaban. Dan jika nilai tersebut mencapai angka lima (5)berarti menunjukkan gejala depresi.
Penelitian mengambil sampel 59 orang lansia di Panti Sosial Tresna Werdha “Wening Werdaya” di Ungaran, Kabupaten Semarang, dan 40 orang lansia yang tinggal dengan keluarga di daerah Penduruan Tengah, Penduruan Semarang.
Dari 99 orang sampel lansia, teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian adalah T-testuntuk mengetahui perbedaan.

hipotesis
Rendahnya tingkat depresi lansia (lihat pada hasil test) pada kedua kelompok mengindikasikan bahwa lansia masih dapat menikmati sisa masa hidupnya. Bahagia tidaknya lansia tergantung pada perasaan dari penghargaan orang disekitarnya, baik dalan panti sosial Tresna Werdha ataupun dalam keluarga (Zarit, 1980)
Dari sebabnya, depresi terjadi dari kombinasi dan kolaborasi dari berbagai faktor, seperti genetika atau bawaan, lingkungan dan faktor sosial, karena depresi melibatkan faktor psikologis dan biokimia. Selain itu, hilangnya perhatian, tertekan, sedih, stres juga berpengaruh pada depresi (Champbell, 1976; Greist & Jefferson, 1987).
Penelitian Diengsari, menyimpulkan bahwa penghargaan terhadap lansia, terlebih pada negara Indonesia, memiliki nilai yang tinggi dan tata krama yang baik, hal ini karena ppola asuh dan didik yang perhatian sejak kecil, sehingga generasi yang dicetak akan mengikuti norma tersebut.
Hubungan pribadi dengan lingkungan atau keluarga yang labil akan menimbulkan gangguan seperti halnya depresi, maka dari itu figur lingkungan yang baik dan keluarga yang harmonias akan mengurangi tingginya nilai depresi, terlebih pada lansia yang berada pada fase terminal drop. Karena kesalahan pada norma yang telah ada, baik itu disengaja ataupun tidak sekalipun, dapat menambah faktor depresi.

hasil, kesimpulan dan saran
Hasil yang diperoleh dari metode skor Geriatric Depression Scala (GDS Short Form) yangdiberikan pada sampel lansia ditunjukkan dengan nilai Uji-t sebesar 0.711 ; p > 0.05, dengan nilai mean kelompok satu 3.97 dan kelompok dua 3.56, dimana kelompok satu mewakili lansia di Panti Sosial Tresna Werdha dan kelompok dua mewakili lansia yang tinggal dalam keluarga, dan keduanya dalam lingkup daerah Semarang.
Dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwatidak ada perbedaan tingkat depresi antara lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha “Wening Werdaya” dengan lansia yang tinggal bersama keluarganya. Sebenarnya ada perbedaan, namun dengan nilai perbandingan yang sangat kecil, sehingga perbedaan tersebut tidak dapat diidentifikasikan.
Saran yang dapat kami berikan adalah dengan memperhatikan betul geja yang dapat mempengaruhi lansia pada sikap depresi. Tidak lupa juga, bahwa peran keluarga, orang terdekat dan egen sosial lain bahkan lingkungan adalah wadah aktualisasi diribagi lansia dalam menghabiskan sisa kehidupannya.
Terimakasih.


daftar pustaka
·         Psikologi Klinis.
·         Live-Span Development, Jilid II, Edisi Kelima.
·         Poin dari Abdul Mutholib Rambe, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran USU/RSUP H. Adam Malik, Medan.
·         Perbedaan Tingkat Depresi Antara Lansia Yang Tinggal Dengan Keluarga Dan Lansia Yang Tinggal Di Panti Sosial Tresna Werdha “Wening Werdaya” Ungaran, Sri Hartati Dan Tri Rejeki Andayani, Program Studi Psikologi FK Universitas Diponegoro.
·         Keterangan Dosen dalam lokal perkuliahan.

1 komentar:

  1. saya mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
    Artikel yang menarik, bisa buat referensi ini ..
    terimakasih ya infonya :)

    BalasHapus