Senin, 19 Juli 2010

Konsep Kepribadian dalam Psikologi


“Konsep Kepribadian dalam Psikologi”
Dosen Pengampu: Bpk. H. M Lutfi Mustofa , M. Ag
Oleh
Mifta Faridz Verian Artha (09410024)
Fakultas Psikologi
Kelas A
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2009

    a.    Teori Sigmund Freud
·    Teori dasar:
- Determine Psikis (Psychic Determinism)
 - Motivasi tak sadar (Unconscious Motivation)
·1    Struktur kepribadian
Dua asumsi ini membagi struktur kepribadian ke dalam tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego.
     à Id
     à Ego
     à Superego
·2    Dinamika kepribadian
   à  Instink hidup dan mati
   à Pendistribusian dan penggunaan energi psikis (konflik, kecemasan, dan mekanisme pertahanan ego)
·3    Perkembangan kepribadian oral, anal, phallik, laten, dan genital.
·4    Implikasi teori terhadap bimbingan dan konseling
     à Assosiasi bebas               à Transferensi
     à Analisis mimpi                à Reedukasi           
   
b.    Teori Carl Gustaf Jung
·1    Struktur kepribadian manusia
à Dimensi kesadaran manusia (ekstravers dan introvers)
à Dimensi ketidaksadaran manusia
·2    Tahap perkembangan kebribadian yang terbagi menjadi empat tahap
c.    Teori Kepribadian Erik Erikson
·3    Struktur kepribadian
    à Ego Kreatif                         à Aspek Psikoseksual
      à Ego Otonomi Fungsional
·1    Teori Perkembangan Psikososial, dengan delapan tahapan
     
Ø3    Asumsi    d.    Asumsi Sigmund Freud
·1    Teori Dasar
      - Determine Psikis (Psychic Determinism)
Asumsi ini mengemukakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan, dipikirkan, atau dirasakan individu mempunyai arti dan maksud itu semuanya secara alami sudah ditentukan.
- Motivasi tak sadar (Unconscious Motivation)
Freud meyakini bahwa sebagian besar tingkah laku individu (seperti perbuatan, berpikir, dan merasa) ditentukan oleh motif tak sadar.
·2    Struktur Kepribadian
Dua asumsi ini membagi struktur kepribadian ke dalam tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego.
    à Id
Sistem asli (the true psychic reality), bersifat subjektif (tidak mengenal dunia objektif), yang terdiri dari insting-insting, dan gudangnya (reservoir) energi psikis yang digunakan oleh ketiga unsure kepribadian
    à Ego
Berkembang untuk memenuhi kebutuhan id yang terkait dengan dunia nyata. Memperoleh energi dari id. Mengetahui dunia subjektif dan objektif.
    à Superego
Komponen moral kepribadian, terdiri dari dua subsistem: kata hati (yang menghukum tingkah laku yang salah) dan ego ideal (yang mengganjar tingkah laku yang baik).
·3    Dinamika Kepribadian
à Instink
- Hidup
Merupakan motif dasar manusia yang mendorong kearah tingkah laku konstruktif. Unsur ini meliputi dorongan jasmaniah dan diwujudkan dalam berbagai komponen budaya kreatif. Energi yang bertanggung jawab bagi instink hidup adalah libido (bagian-bagian tubuh yang sangat peka terhadap rangsangan yang apabila dimanipulasi dengan  cara tertentu akan terasa nikmat.
- Mati
Merupakan motif dasar manusia yang bersifat destruktif. Freud meyakini meyakini bahwa manusia dilahirkan dengan membawa dorongan untuk mati. Kenyataan manusia pada akhirnya mati, oleh karena itu tujuan hidup manusia adalah mati.
à Pendistribusian dan penggunaan energi psikis
- Konflik
Freud berasumsi bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil dari rentetan konflik internal (dalam diri) yang terus menerus. Konflik internal antara id, ego, superego adalah hal yang biasa. Mengapa demikian? Karena id menginginkan kepuasan dengan segera, sementara ego menundanya sampai ada kecocokan dengan dunia luar, dan superego sering kali menghindarinya.
Freud meyakini bahwa konflik-konflik itu bersunmer kepada dorongan-dorongan seks dan agresif. Alasan mengapa dia menekankan konflik itu kepada kedua dorongan tersebut, karena Freud berfikir bahwa seks dan agresi merupakan dorongan yang lebih kompleks dan membingungkan  control social daripada motif-motif dasar lainnya, dan dorongan seks serta agresi dirintangi secara teratur (reguler) daripada dorongan biologis lainnya.
Konflik sering terjadi secara tidak disadari. Walaupun tidak disadari, konflik tersebut dapat dmelahrkan kecemasan (anxiety). Kecemasan ini dapat dilacak dari kekhawatiran ego akan dorongan id yang tidak dapat dikontrol, sehingga melahirkan suasana yang mencekam/mengerikan. Setiap orang berusaha untuk membebaskan diri dari kecamasan ini yang dalam usahanya sering menggunakan mekanisme pertahanan ego.
- Kecemasan
- Mekanisme pertahanan ego
Merupakan upaya individu yang berupaya untuk mengurangi kecemasan melalui proses mental, yang menggunakan dua karakteristik khusus yaitu (1) tidak disadari dan (2) menolah, memalsukan atau mendistorsi (mengubah) kenyataan.
Mekanisme pertahanan ini terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
#  Represi
Penekanan id untuk keluar dari ego (penguburan kea lam bawah sadar). Misalnya, seorang remaja memiliki hasrat untuk memenuhi kebutuhan biologisnya (seks), namun keinginan itu ditekannya sedemikian rupa karena perbuata tersebut melanggar norma agama.
#  Projeksi
Merupakan pengalihan pikiran, perasaan aatau dorongan diri sendiri kepada orang lain yang bertujuan mengurangi pikiran atau perasaan yang menimbulkan kecemasan. Contoh: Ari bilang, “Doni mencintai Kamu!”, padahal Ari sendirilah yang mencintai wanita itu.
#  Pembentukan reaksi
Merupakan penggantian sikap dan tingkah laku dengan sikap dan tingkah laku yang berlawanan. Mekanisme ini biasanya ditandai dengan sikap atau perilaku yang berlebuhan atau sikap kompulsif. Misalnya, seorang ibu membenci temannya, karena dia merasa menjadi nomor dua darinya. Tetapi dia merasa takut (cemas) untuk berkompetisi dengannya. Untuik menyembunyikan semua itu, dia bersikap dan berperilaku yang sebaliknya, yaitu menaruh perhatian yang berlebihan terhadap temannya tersebut.
#  Pemindahan objek
Merupakan proses pengalihan perasaan dari objek (target)  asli ke objek pengganti. Misalnya, seorang remaja yang dimarahi ayahnya, kemudian remaja itu memukul adiknya sebagai pelampiasan, karena jika menyatakan kebenciannya terhadap target yang asli akan menimbulkan kecemasan atau rasa bersalah.
#  Fiksasi
Merupakan proses kemandegan dalam perkembangan psikis, karena merasa cemas untuk melangkah ke perkembangan berikutnya. Misalnya, anak berusia 7 tahun masih menghisap jempol dan belum berani bepergian tanpa ibunya.
#  Regresi
Merupakan pengulangan tingkah laku yang cocok bagi tahap perkembangan atau usia sebelumnya (perilaku kekanak-kanakan). Tujuannya supaya mendapatkan bantuan untuk menghadapi peristiwa yang traumatik. Misalnya, setelah bertengkar dengan suaminya, seorang wanita muda pulang ke rumah orang tuanya. Disini dia menampilkan diri sebagai seorang anak yang memerlukan perlindungan orang tuanya.
#  Rasionalisasi
Merupakan penciptaan kepalsuan namun dapat masuk akal sebagai upaya pembenaran tingkah laku yang tidak dapat diterima. Misalnya, seorang mahasiswa yang mendapatkan nilai jelek, dia berkata kepada temnnya bahwa hal itu terjadi karena dia tidak belajar.
#  Sublimasi
Merupakan pembelotan libido seksual kepada kegiatan yang secara sosial lebih dapat diterima. Dalam benyak cara sublimasi merupakan mekanisme yang sehat, karena energi social berada dibawah control social. Misalnya, dorongan agrsif seperti senang berkelahi dapat dibelotkan menjadi seorang petinju.
#  Identifikasi
Merupakan proses memperkuat harga diri (self-esteem) dengan membentuk suatu persekutuan (aliansi) nyata atau maya dengan orang lain, baik seseorang maupun kelompok. Misalnya, para kawula muda sering mengembangkan harga diri atau kebanggaan harga dirinya melalui identifikasi dengan para bintang (film, musik, atau olah raga).
·4    Perkembangan Kepribadian
a)    Tahap Oral, adalah periode bayi yang masih menetek dan seluruh hidupnya masih bergantung orang lain. Karena pada masa ini mulut menjadi sumber kenikmatan erotis, maka kegiatan mengisap dan menelan menjadi metode utama untuk mereduksi ketegangan dan mencapai kepuasan.
b)    Tahap Anal, adalah tahap seseorang yang berusia kira-kira 2 sampai 3 tahun. Pusat kinikmatan (libido) pada tahap ini sikan ke daerah anus. Anak akan mengalami ketegangan ketika duburnya penuh dengan ampas makanan dan peristiwa buang air besar yang hal itu merupakan proses pelepasan ketegangan dan pencapaian kepuasan, rasa senang atau rasa nikmat. Setelah melewati masa penyapihan, anak oleh orang tua diajari untuk tidak buang air sembarangan. Inilah nilai-nilai sosialisasi pertama yang sistematis sebagai upaya untuk mengontrol dorongan-dorongan biologis anak.
c)    Tahap Phallik, yaitu tahap yang berlangsung ketika anak kira-kira bersia 4 sampai 5 tahun. Pada masa ini, menurut Freud anak mulai senang memainkan alat kelaminnya sendiri karena libido berpindah ke alat kelamin.
d)    Tahap Latensi, berkisar antara usia 6 sampai 12 tahun (sekolah dasar). Tahap ini merupakan masa tenang seksual karena segala sesuatu yang terkait dengan seks dihambat atau direpres.
e)    Tahap Genital, adalah tahap yang dimulai sekitar usia 12 atau 13 tahun sampai seterusnya, Masa ini ditandai dengan matangnya organ reproduksi anak. Pada periode ini, instink seksual dan egresif menjadi aktif. Seseorang mulai mengembangkan motif untuk mencintai orang lain, atau berkembangnya motif altruis (keinginan untuk memperhatikan kepentingan orang lain)
·5    Implikasi teori terhadap bimbingan dan konseling
1)    Asosiasi Bebas, merupakan teknik utama psikoanalisis. Pasien diminta untuk mengungkapkan apa saja yang berada dipikiran dan perasaannya. Tidak masalah ketika yang dikatakan pasien itu kata-kata cabuaal, tidak logis, atau kata0kata yang tidak penting.
2)    Analisis Mimpi, sangat terkait dengan asosiasi bebas. Ketika  pasien tidur, ego menjadi lemah untuk mengontrol dorongan id atau dorongan lain yang disadari. Ahirnya dorongan ego tersebut dapat mendesak ego untuk memuaskannya melalui mimpi. Dalam hal ini, pasien diminta untuk menceritakan isi mimpinya kepada konselor.
3)    Transferensi, dikenali sebagai mekanisme pertahanan ego dimana impuls tak sadar dialihkan sasarannya dari objek yang satu ke objek yang lainnya. Apabila mekanisme ini muncul dari diri pasien pada pertemuan terapi, maka fenomenanya disebut transferensi. Tepatnya, transferensi muncul apabila pasien mengalihkan sasaran perasaan cinta atau bencinya atas orang tertentu (biasanya orang tua) kepada konselor. Freud yakin bahwa transferensi itu mencerminkan kebutuhan pasien akan objek cinta dengan maksud agar perasaan cinta (atau benci) yang direpresnya bisa diungkapkan, dan terapeut sering dijadikan objek pengganti. Transferensi ini bisa dilihat dari komunikasi verbal atau sikap pasien terhadap konselornya.
4)    Reedukasi, merupakan tahap terahir setelah pasien menyampaikan segenap perasaan cinta atau bencinya terhadap sesuatu hal kepada konselor. Konselor membuka wawasan atau pemahaman baru mengenai masalah yang dialami  pasien dengan cara memberi masukan dan saran yang dapat membantu pasien dalam menyelesaikan permasalahannya.
e.    Asumsi Carl Gustaf Jung
·1    Struktur kepribadian manusia
Jung menjelaskan bahwa “Psyche embracess all thought, feeling, and behavior, concious and unconscious.” (Calvin S. Hall dan Gardner L., 1985: 109) Kepribadian itu adalah seluruh pemikiran, perasaan, dan perilaku nyata baik yang disadari maupun yang tidak disadari,
-    Dimensi kesadaran kepribadian
Dimensi kesadaran dari kepribadian ini adalah ego menurut Sigmund Freud. Ego adalah jiwa sadar yang terdiri dari persepsi, ingatan, pikiran dan perasaan manusia. Ego melahirkan perasaan identitas dan kontinuitas seseorang. Dari segi pandangan sang pribadi ego dipandang berada pada dimensi kesadaran.
C. G. Jung membagi dimensi kesadaran ini menjadi 2 orientasi, yaitu ekstravers dan introvers.
Ekstravers adalah  seseorang yang mempunyai orientasi hidup terbuka terhadap dunia luar karena mengembangkan fikiran positif terhadap lingkungannya.
Introvers adalah orang yang dipengaruhi oleh dunia subjektif, yaitu dunia dalam dirinya sendiri. Penyesuaiannya dengan dunia luar kurang baik, akan tetapi penyesuaiannya dengan batinnya sendiri baik.
-   Dimensi ketidaksadaran kepribadian
Dimensi ini mempunyai dua lingkaran yaitu: (1) ketidaksadaran pribadi; dan (2) ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran pribadi berisi hal yang diperoleh individu selama hidupnya namun tertekan dan terlupakan. Ketidaksadaran pribadi terdiri dari pengalaman yang disadari tetapi kemudian ditekan, dilupakan, dan diabaikan serta pengalaman yang  terlalu lemah untuk menciptakan kesan sadar pada pribadi seseorang. Ketidaksadaran pribadi berisi hal yang teramati, terpikirkan, dan terasakan dibawah ambang kesadaran. Sering kali diwujudkan dalam mimpi seseorang.
Ketidaksakdaran kolektif berisi hal yang  diperoleh seluruh jenis manusia selama pertumbuhan jiwanya melalui generasi terdahulu. Ketidaksadaran kolektif atau transpersonal adalah bekas gudang ingatan laten yang sadaran ini  hampir terlepas dari segala  segi pribadi dalam kehidupan seseorang  dan nampaknya bersifat universal. C. G. Jung menghubungkan sifat universal ketidaksadaran kolektif itu dengan kesamaan struktur otak pada semua ras manusia. Kesamaan struktur otak manusia ini disebabkan oleh evolusi umum.
·4    Tahap perkembangan kebribadian yang terbagi menjadi empat tahap sesuai dengan sifat ekstravers dan introvers dengan menekankan pada fungsi atau cara, yaitu:
a.    Tahap mengindra (sensing)
Membuat sadar fungsi pokok serta sikap jiwa yang ada dalam ketidaksadaran. Dengan cara ini, tegangan dalam batin berkurang dan kemampuan  untuk mengadakan orientasi serta penyesuaian diri meningkat.
b.    Tahap berpikir (thinking)
Membuat sadar imago. Dengan menyadari imago ini, seseorang akan mampu melihat kelemahannya sendiri yang diproyeksikan.
c.    Tahap mengintuisi (intuiting)
Menyadari bahwa manusia hidup dalam berbagai tegangan pasangan yang berlawanan, baik rohaniah maupun jasmaniah. Manusia harus tabah menghadapi masalah ini serta dapat mengatasinya.
d.    Tahap merasa (feeling)
Adanya hubungan yang selaras antara kesadaran dan ketidaksadaran, adanya hubungan yang selaras antara segala aspek kepribadian yang ditimbulkan dititik pusat kepribadian yaitu diri. Diri menjadi titik pusat kepribadian, menerangi, menghubungkan, serta mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadian. Gambaran manusia yang mampu mengkoordinasikan  seluruh aspek kepribadiannya ini disebut manusia integral atau manusia sempurna.
f.    Asumsi Erik Erikson
·2    Struktur kepribadian
a)    Ego kreatif, Erikson menggambarkan adanya sejumlah kualitas yang dimiliki ego, yaitu kepercayaan dan penghargaan, otonomi dan kemauan, kerajinan dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, geneerativitas dan pemeliharaan, seta integritas. Ego dapat memecahkan kreatif atas masalah paada tahap kehidupan. Apabila menemui hambatan atau konflik ego tidak menyerah tetapi bereaksi dengan menggunakan kombinasi antara kesiapan batin dan kesempatan yang disediakan oleh lingkungan. Ego bukan budak justru menjadi pengatur id, super ego dan dunia luar. Jadi ego disamping hasil proses faktor-faktor genetik, fisiologis, dan anatomis, juga dibentuk oleh aspek kultural dan historis.
b)    Ego otonomi fungsional, teori ego dari Erikson yang dapat dipandang sebagai pengembangan dari teori pekembangan seksual-infantil dari freud, mendapat pengakuan yang luas sebagai teori yang khas, berkat pandangannya bahwa perkembangan kepribadian menikuti prinsip epigenetik. Prinsip ini menyatakan bahwa kepribadian kita terbagi menjadi delapan tahap. Satu tahap ditentukan oleh keberhasilan atau ketidakstabilan tahap sebelumnya.
c)    Aspek Psikoseksual, teori perkembangan Erikson ini melengkapi teori Freud dalam dua hal, pertama melengkapi tahapan perkembangan menjadi delapan tahap yakni  tahap bayi (infancy), anak (early childhood), bermain (play age), remaja (adolscence), dewasa awal (young adulthood), dewasa madya (middle adulthood), dan usia tua (late adulthood). Erikson mengakui aspek adamya aspek psikoseksual dalam perkembangan, yang menurutnya bisa berkembang positif (aktualisasi seksual yang dapat diterima) atau negatif (aktualisasi ekspresi seksual yang tidak dikehendaki). Dia memusatkan perhatiannya kepada mendiskripsikan bagaimana kapasitas kemanusiaan mengatasi  aspek psikoseksual itu; bagaimana mengembangkan instink seksual menjadi positif.
·3    Tahap-tahap perkembangan (epigenetik)
Menitikberatkan pada perkembangan maladaption (adaptasi yang keliru yang terlalu percaya terhadap dunia luar) dan malignasi (selalu curiga) dalam keberhasilan tahapannya. Malignasi yang paling berbahaua diantara keduanya karena banyak mengandung aspek negatif dan sedikit sekali memuat aspek positif, seperti orang yang tidak percaya kepada siapapun.
-    Tahap pertama (usia 0-1), menurut Erikson usia ini merupakan masa secara psikososial amat fundamental bagi tahap perkembangan selanjjutnya. Masa ini ditandai dengan sifat dasar “trustmistrust” yang tugas perkembangannya adalah mengembangkan sikap percaya dan menghindari sifat curiga. Untuk menimbulkan sifat percaya dibutuhkan pengalaman yang terus-menerus dan pengalaman yang sama saat dia memenuhi kebutuhannya. Jika si anak tidak mendapatkan kasih sayang serta kebutuhannya tidak dipenuhi maka akan timbul kecurigaan. Ketercapaian sikap ini sangat dipengaruhi oleh  lingkungan individu. Sikap ini akan menjadi dasar perkembangan kepribadian individu.
-    Tahap kedua (usia 2-3), tahap ini anak mempelajari apa yang diharapkan dirinya. Jika si anak diberi kebebasan yang berbatas maka ia akan belajar mandiri. Orang tua hendaknya memberi kepercayaan serta membimbing anak karena jika anak salah mengambil jalan maka akan timbul perasaan bersalah sehingga dia tidak akan percaya  dan jadi ragu pada kemampuan dirinya. Sehingga ia akan tumbuh jadi orang yang pemalu dan kurang  percaya diri.
-    Tahap ketiga (usia 3-6), tahap ini individu akan mampu mengontrol diri dan lingkungannya. Anak mulai memahami perbedaannya dengan orang lain. Karena hal ini, maka akan timbul inisiatif pada diri anak, anak belajar untuk mencapai tujuannya. Anak butuh dorongan untuk melakukan sesuatu dan memenuhi keinginannya dan jika si anak tidak mendapatkan dorongan tersebut maka akan mengalami hambatan dan rasa bersalah. Perasaan ini membuat anak tumbuh menjadi anak nakal.
-    Tahap keempat (7-12 atau lebih), tahap ini terjadi pada usia sekolah. Pada tahap ini anak harus memulai pendidikannya serta mempelajari keterampilan sosial yang sesuai dengan tuntutan yang ada di lingkungan masyarakat tempat ia tinggal hingga mereka mulai mempelajari rasa keberhasilan baik itu bidang akademik maupun sosial. Semua orang di sekitar anak-anak tersebut hendaknya mendukung perkembangan mereka pada usia ini.
-    Tahap kelima (usia 12-18 atau lebih), tugas yang harus dipenuhi pada tahap ini adalah mencapai identitas diri. Daya penggerak batin dalam membentuk identitas adalah ego dalam aspeknya yang sadar dan tidak sadar. Ego mempunya kapasitas untuk membentuk identitas psikososial seseorang. Pada tahap ini individu dihadapkan pada pembentukan identitas yang akan merasakan penderitaan dimasa lalu sehingga jika individu tidak dapat mengatasinya maka akan tmbul krisis identitas.
-    Tahap keenam (usia 20), dalam tahap ini orang dewasa awal siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Mereka mendambakan cinta dan mulai mengembangkan genitalitas seksual yang sesungguhnya. Orang dewasa mulai mampu melinatkan diri dalam hubungan bersama, mereka saling berbagi hidup dengan seorang mitra yang intim. Menurut Erikson cinta adalah pengabdian timbal balik yang mengalahkan antagonisme yang melekat dalam fungsi yang terpecah.
-    Tahap ketujuh (usia 20-50) Pada tahap ini krisis psikososial yang dialami adalah gairah hidup lawan kejenuhan. Ciri tahap ini adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan serta pembentukan dan penetapan garis pedoman untuk generasi mendatang. Nilai pemeliharaan berkembang pada tahap ini.
-    Tahap kedelapan (usia 50), integritas dilukiskan sebagai sebuah keadaan yang dicapai seseorang setelah memelihara benda maupun ide serta setelah berhasil menyesuaikan diri dengan keberhasilan ataupun kegagalan dalam hidup.  Sedangkan keputusan merupakan sikap individu yang kurang bisa menyesuaikan dengan perubahan siklus yang terjadi dalam hidup. Kebijaksanaan merupakan nilai yang berkembang dari integritas dan keputusasaan. Kegiatan baik fisik maupun mental menjadi berkurang sehingga kebijaksanaan ini menjaga integritas dan merupakan keprihatinan objektif terhadap kehidupan, dihadapan kematian.     
Ø4    Variabel    g.    Teori Sigmund Freud
Tingkah laku (serentetan kegiyatan manusia), pikiran (tiap perkembangan dalam ide, konsep, dan sebagainya), perasaan (penginderaan yang merupakan fungsi tubuh ubtuk melakukan kontak dengan dunia luar), penis envy (kecemburuan perempuan karena ingin memiliki penis seperti laki-laki), seks (keinginan untuk menyalurkan hasrat  dengan lawan jenis), neurotik (gangguan jiwa, misalnya kecemasan yang merupakan keadaaan jiwa terjepit), intsting (keinginan untuk melakukan sesuatu dengan dasar), bibir/mulut, dubur, organ seks, mekanisme pertahanan ego, alam sadar (Apa yang disadari manusia pada saat tertentu, penginderaan langsung, ingatan, pemikiran, fantasi, perasaan yang dimiliki), alam pra-sadar (segala sesuatu yang dapat dengan mudah dipanggil kealam sadar, kenangan-kenangan yang walaupun tidak diingat waktu berpikir, tapi dapat dengan mudah dipanggil lagi).
h.    Teori Carl Gustaf Jung
Fantasi (bayangan dari fikiran yang tidak sesuai dengan realita), mimpi (hasil olah alam bawah sadar pada kehidupan yang telah dijalani pada waktu manusia tidur), pengalaman (segala sesuatu yang diperoleh manusia dari lingkungan), arketipe (isi dalam alam bawah sadar), ego dengan identifikasi alam bawah sadar, alam bawah sadar personal (segala sesuatu yang tidak disadari secara langsung, tapi bisa diusahakan untuk disadari), alam bawah sadar kolektif (tumpukan pengalaman kita sebagai spesies, semacam pengetahuan bersama yang dimiliki sejak lahir), bayangan (bagian dari arketipe yaitu seks dan insting), persona (citra diri), libido psike (pertarungan fikiran yang menimbulkan konflik internal), pemikiran, perasaan, tingkah laku, penginderaan (memperoleh informasi melalui kepekaan panca indera), berfikir (menelaah informasi secara rasional dan logis), mengintuisi (pemikiran yang menggunakan hati nurani, jadi bias bersifat irasional/perseptual).
i.    Teori Erik Erikson
Prinsip epigenetik (perkembangan berdasarkan tahapan umur manusia), maladaptive (adaptasi keliru), malignasi (selalu curiga), trustmistrust (kepercayaan), tahapan hidup manusia dari remaja sampai dewasa (berupa identitas versus kekaburan peran, keintiman versus keterasingan, generativitas versus kepentingan diri sendiri, integritas versus keputusasaan), anak-kanak, balita, remaja, identitas pribadi (tahap pencapaian remaja dalam tahapannya),  identitas ego, pemuda, dewasa, generativitas (keterlibatan dengan dunia dan generasi penerus), stagnasi (tidak berbuat apa-apa), usia senja (orang tua), integritas ego (perbuatan manusia dengan usaha yang dimaksimalkan dan menerima kehidupan), putus asa/kekecewaan.
    

Sabtu, 17 Juli 2010

Psikologi Konseling Bersifat Personal

Psikologi Konseling Bersifat Personal
by Faiz dkk

Konseling berpusat pada person dikembangkan oleh Carl Person Rogers salah seorang Psikologi klinis yang sangat menekuni bidang konseling dan psikoterapi.
Konseling bagi memandang berpusat pada person (person centerad) yang memandang klien sebagai partner dan perlu adanya keserasian pengalaman baik pada klien maupun konselor dengan keduanya perlu mengemukakan pengalamannya pada saat hubungan konseling berlangsung.
A.TEORI KEPRIBADIAN
Baginya cara mengubah dan perhatian terhadap proses perubahan kepribadian jauh lebih penting daripada karakteistik kepribadian itu sendiri. Dalam proses konseling sangat penting untuk memperhatikan perubahan-perubahan kepribadian. Rogers mengungkapkan bahwa terdapat tiga unsure yang sangat esensial dalam hubungannya dengan kepribadian yaitu, self,medan fenomenal, dan organisme. Self disebut juga struktur self  yang merupakan persepsi dan nilai-nilai individu tentag dirinya atau hal-hal yang berhubungan dengan dirinya.
Medan fenomenal adalah keseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Pengalaman yang meliputi peristiwa-peristiwa yang diperoleh dari pengalaman dan dari apa yang pernah dilakukan individu. Pengalaman ada yang bersifat internal (pandangan terhadap dirinya sendiri) dan eksternal (pandangan terhadap dunia luar).
Organisme merupakan keseluruhan totalitas individu, yang meliputi pemikiran, perilaku dan keadaan fisik. Organisme mempunyai satu kecendeungan dan dorongan dasar yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan dan mengembangkan diri.
Kepribadian menurutnya merupakan interaksi yang terus menerus antara organisme, self dan fenomenal. Untuk memahami perkembangan kepribadian perlu dibahas tentang dinamika kepribadian.

B.DINAMIKA KEPRIBADIAN
1. Kecenderungan mengaktualisasikan
    Organisme manusia adalah unik dan memiliki kemampuan untuk mengarahkan, mengatur, mengontrol dirinya dan mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, manusia berkecenderungan untuk mengaktualisasikan diri yaitu untuk mengembangkan seluruh kemampuannya dengan jalan memelihara meningkatkan organisme ke arah otonomi. Kecederungan mengaktualisasikan ini sifatnya terarah, konstruktif dan ada dalam kehidupannya.
2. Penghargaan positif dari orang lain
    Self  berkembang dari interaksi yang dilakukan organisme dengan realitas lingkungannya, dan hasil interaksi ini menjadi pengalaman bagi individu. Lingkungan sosial yang sangat berpengaruh adalah orang-orang yang bermakna baginya, seperti orang tua atau orang terdekat lainnya. Seseorang akan berkembang positif jika di dalam berinteraksi itu mendapatkan penghargaan, penerimaan, dan cinta dari orang  lain.
3. Person yang berfungsi secara utuh
    Individu yang terpenuhi kebutuhannya, yaitu memperoleh penghargaan positif tanpa syarat dan mengalami penghargaan diri, akan dapat mencapai kondisi yang kongruen self dan pengalamannya, pada akhirnya dia akan dapat mencapai secara baik. Pribadi yang berfungsi secara sempurna yang ditandai dengan keterbukaan terhadap pengalaman, percaya kepada dirinya sendiri, mandiri, ekspresif, dan kreatif (Roger, 1970)

HAKIKAT MANUSIA
Hakikat manusia menurut Roger adalah
1. Manusia cenderung untuk melakukan aktualisasi diri, hal ini dapat dipahami bahwa organisme akan mengaktualisasikan kemampuanya dan memiliki kemampuan untuk mengarahkan dirinya sendiri.
2. Perilaku manusia pada dasarnya sesuai dengan persepsinya tentang medan fenomenal dan individu itu mereaksi medan itu sebagaimana yang dipersepsi. Oleh karena itu, persepsi individu tentang medan fenomenal bersifat subjektif.
3. Manusia pada dasarnya bermanfaat dan berharga dan dia memiliki nilai-nilai yang dijunjung tinggi sebagai hal yang baik bagi dirinya.
4. Secara mendasar manusia itu baik dan dapat dipercaya, konstruktif tidak merusak dirinya.
    Asumsi-asumsi tentang manusia ini secara prinsipil menentukan tujuan dan prosedur konseling yang harus diperhatikan oleh konselor yang berpusat pada person.


C.PERILAKU BERMASALAH
-Ketidak sadaran pribadi
-ketidak sadaran kolektif

Kesadaran
Dunia Dalam
Dunia luar


Self adalah titik pusat kepribadian yang mana karena sebagai titik pusat sehingga kemampuan Self dalam mengorganisir sistem dapat terkontelasikan (terkontrol) sehingga Self adalah Diri yang mempersatukan sistem-sistem dan memberikan kepribadian dengan kesatuan, keseimbangan dan kestabilan pada kepribadian


Teori ini di kemukakan oleh Jung yang mana dalam konsep Self secara keseluruhan berperan aktif dalam pembentukan kepribadian namun berbeda hal nya dengan Rogers yang mengatakan bahwa Self di bentuk berdasarkan pengalaman dan hal ini menjadikan bahwa self di bagi menjadi tiga klasifikasi yang mana hubungan antara self dengan pengalaman yaitu self kongruency (congruence) pengalaman yang sesuai dengan self hal ini biasanya oleh individu langsung di lambangkan di simbolisasi, di akui oleh individu, dua tidak kongruency (uncongruence) pengalaman yang tidak sesuai dengan self biasanya hal ini akan di sortir dan di tolak oleh individu, tiga self yang tidak memiliki hubungan dengan pengalaman individu akan di abaikan.
Rogers juga mengatakan pembentukan Self terjadi karena dua proses yang pertama adalah Asimilasi adalah proses pengalaman langsung individu dan ini adalah sebuah proses dimana individu dapat menyusun konsep dirinya tentang siapa dirinya dengan pengalaman yang terjadi pada individu yang kian hari kian bertambah dan hal inilah yang kemudian teridentifikasi sebagai Self-nya, sedangkan proses kedua adalah proses Introyeksi hal ini adalah pembentukan self karena individu berinteraksi dengan individu yang lain dan lingkunganya dan biasanya terjadi pada individu dan lingkungan yang paling dekat dengan dirinya.
Namun pengalaman seseorang yang terjadi baik dari dirinya sendiri,dari orang lain maupun dari lingkungan sekitar tidak serta merta dapat menjadikan hal tersebut sebagai Self individu dan yang paling dominan pengalaman yang menjadi Self individu adalah pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan struktur self jika tidak maka individu akan menolak (denied) pengalaman ini adalah pengalaman yang tidak di akui sebagai bagian dirinya  atau di kaburkan (distortion) pengalaman ini adalah pengalaman yang di sadari namun tetapi dalam bentuk yang dibuat imajinasinya saja.
Distorsi atau penolakan pengalaman dilakukan untuk menjaga integritas struktur self-nya telah terbentuk (Hjelle dan Ziegler, 1981) pengalaman yang tidak sesuai dengan self maka akan menimbulkan ketegangan psikologis setiap pengalam yang tidak selaras dengan self maka akan di amati sebagai sebuah ancaman dan semakin meningkat  maka self akan semakin tegas struktur self untuk mempertahankan diri.
Unhealty mode (Non Overlap)

Healty mode (over lap)
Ideal self
Self as seen by self
    2.    (A)



Self as trought to be seen by others
1.
   





    (B)




Skema pertama adalah bentuk self yang menolak atau tidak sesuai dengan dirinya sedangkan skema yang kedua adalah Self yang menerima pengalam dan sesuai dengan dirinya.
Dan Hal ini menunjukan bahwa kesesuaian  pengalaman dengan self maka akan berdampak pada pembentukan self ataupun bagaiman self tersebut menanggapi pengalaman jika baik maka pengalaman tersebut akan masuk pada konsep diri seseorang namun jika tidak sesuai maka konseptersebut akan di tolak atau di abaikan.
Perilaku bermasalah adalah pengasingan tidak memperoleh penghargaan secara positif dari orang lain ketidakselarasan antara pengalaman dan Self maka individu akan mengalami kecemasan dan di tunjukan oleh ketidakkonsistenan konsep dirinya,defensif, dan berperilaku salah penyesuaianya (Hansen Dkk., 1982)
D.PRINSIP-PRINSIP KONSELING   
Berdasarkan pandangan Rogers tentang hakikat manusia, konseling berpusat pada person dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :
a.    Konseling berpusat pada person difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih sempurna.
b.    Menekankan pada dunia fenomenal klien, dengan jalan memberi empati dan perhatian terutama pada persepsi klien dan persepsinya terhadap dunia.
c.    Konseling ini dapat diterapkan pada individu yang dalam kategori normal maupun yang mengalami derajat penyimpangan psikologis yang lebih berat.
d.    Konseling merupakan salah satu contoh hubungan pribadi yang konstruktif.
e.    Konselor perlu menunjukkan sikap-sikap tertentu untuk menciptakan hubungan terapetik yang efektif kepeda klien.
Penjelasan
a.    Konselor dan klien bersama-sama fokus dan bersiap untuk menghadapi kehidupannya secara lebih baik dan memberikan hal-hal untuk membangun tanggung jawab dan pandangan klien menjadi lebih sempurna.
b.    Konselor memberikan pandangan seperti keterangan di atas, memberi pengertian realitas kehidupannya dengan persepsi yang sesuai dengan kehidupannya tersebut, jadi antara kehidupan klien dengan persepsinya tidak ada ambiguitas atau kesalah jalanan.
c.    Jadi dalam memberikan konseling, hal ini tidak hanya dapat dilakukan pada orang yang benar-benar normal, tapi juga dapat pada seorang yang kurang normal. Akan tetapi konselor yang berperan di sini bukan hanya konselor biasa, tapi memang telah mampu untuk melakukan profesinya dengan baik.
d.    Jadi seperti yang sudah dijelaskan di awal perkuliahan, bahwa konseling di sini bersifat pribadi dan dilakukan di ruangan, bukan di tempat terbuka. Dalam hal ini konseling juga untuk membangun pribadi klien yang sedang goyah, agar dapat bangun kembali dari permasalahan pribadinya.
e.    Meski sebagai konselor kita harus profesional, bukan berarti tidak fleksibel terhadap klien, akan tetapi sikap yang dimaksud di sini adalah sikap yang hangat dan dari hati, dengan perasaan yang mampu membuat klien merasa nyaman dengan kehadiran kita sebagai konselornya.
Tahapan konseling
Tahapan konseling berpusat pada person menurut Boy dan Pine (1981), jika dilihat dari apa yang dilakukan konselor dapat dibuat dua tahap. Pertama, tahap membangun hubungan yang terapetik, menciptakan kondisi fasilitatif dan hubungan yang subtantif seperti empati, kejujuran, ketulusan, penghargaan dan positif tanpa syarat. Tahap kedua adalah tahap kelanjutan yang disesuaikan dengan kebutuhan klien. Sedangkan jika dilihat dari segi pengalaman klien dalam proses hubungan konseling dapat dijabarkan bahwa proses konseling dapat dibagi menjadi empat tahap, corey, (1988) :
1.    Tahap pertama klien dapat ke konselor dalam kondisi tidak kongruensi, mengalami kecemasan, atau kondisi penyesuaian diri yang tidak baik.
2.    Tahap kedua, saat klien menjumpai konselor dengan penuh harapan dapat memperoleh bantuan, jawaban atas permasalahan yang sedang dialami, dan menemukan jalan atas kesulitan-kesulitannya. Perasaan yang ada pada klien adalah ketidakmampuan mengatasi kesulitan hidupnya.
3.    Tahap ketiga, pada awal konseling, klien menunjukkan perilaku, sikap, dan perasaan yang kaku. Dia menyatakan permasalahan yang dialami kepada konselor secara permukaan dan belum menyatakan pribadi yang dalam. Pada awal-awal ini klien cenderung mengeksternalisasi perasaan dan masalahnya, dan mungkin bersikap defensif. Karena kondisi yang diciptakan konselor kondusif dengan sikap empati dan penghargaan, konselor terus membantu klien untuk mengeksplorasi dirinya secara lebih terbuka, jika hal ini berhasil maka klien mulai menunjukkan sikapnya yang lebih menyatakan diri yang sesungguhnya.
4.    Tahap keempat, klien mulai menghilangkan sikap dan perilaku yang kaku, membuka diri terhadap pengalamannya, dan belajar untuk bersikap lebih matang dan lebih teraktualisasi, dengan jalan menghilangkan pengalaman yang didistorsinya.

F.TUJUAN KONSELING

Berangkat dari pandangan Rogers tentang kepribadian, jelas bahwa Rogers menaruh perhatian pada keadaan psikologis yang sehat, yang dapat menyesuaikan secara psikologis. Dari pandangan itu dapat dikemukakan bahwa keadaan yang kongruensi pada seseorang merupakan titik perhatian dalam pendekatan konseling berpusat pada person ini. Artinya bahwa proses konseling diharapkan dapat membantu klien dalam menemukan konsep dirinya sesuai dengan medan fenomenalnya, dia tidak lagi menolak atau mendistorsi pengalaman-pengalamannya sebagaimana adanya.
    Secara ideal tujuan konseling berpusat pada person tidak terbatas oleh tercapainya pribadi yang kongruensi saja. Bagi Rogers tujuan konseling pada dasarnya sama dengan tujuan kehidupan ini, yaitu apa yang disebut dengan fully functioning person, yaitu pribadi yang berfungsi sepenuhnya. Rogers beranggapan bahwa fully functioning person itu kurang lebih memiliki kesamaan dengan self- actualization, meskipun memiliki sedikit perbedaan. Fully functioning person merupakan hasil dari proses dan karena itu lebih bersifat becoming, sedangkan aktualisasai diri sebagaimana yang dikemukakan Maslow lebih merupakan keadaan akhir dari kematangan mental dan emosional, karena lebih merupakan self-being (Cottone, 1991)
    Sahakian (1976) merinci secara detail fully functioning person sebagai berikut:
1.    Dia akan terbuka dalam pengalamannya dan keluar dari kebiasaan untuk defensif.
2.    Karena itu seluruh pengalamannya akan dapat disadari sebagai sebuah kenyataan.
3.    Seluruh yang disimbolisasi atau yang dinyatakan secara verbal maupun dalam tindakan adalah  akurat yang sebenarnya sebagaimana pengalaman itu terjadi.
4.    Struktur self-nya akan kongruensi dengan pengalamannya.
5.    Struktur self-nya akan mampu berubah secara fleksibel sejalan dengan pengalaman baru.
6.    Pengalaman self-nya akan dijadikan sebagai pusat evaluasi.
7.    Dia akan memiliki pengalaman self-regard.
8.    Dia akan berperilaku secara kreatif untuk beradaptasi terhadap peristiwa-peristiwa yang baru.
9.    Dia akan menemukan nilai organismenya terpercaya mengarah pada perilaku yang sangat memuaskan, karena:
·    Seluruh pengalamannya akan dapat disadari;
·    Tidak ada pengalaman yang didistorsi atau ditolak; dan
·    Akibat perilakunya juga akan disadari.
10.    Dia akan dapat hidup dengan orang lain dalam keadaan sangat memungkinkan untuk harmonis, sebab dia tetap menghargai secara positif karakter secara timbal balik.
    Secara singkat tujuan konseling ini mencakup: terbuka terhadap pengalaman, adanya kepercayaan terhadap organismenya sendiri, kehidupan eksistensial yaitu sepenuhnya dalam setiap moment kehidupan, perasaan bebas, dan kreatif.

G. KONDISI KONSELING DAN PERAN KONSELOR
    Dalam pandangan Rogers, konselor lebih banyak berperan sebagai partner klien dalam memecahkan masalahnya. Dalam hubungan konseling, konselor ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan segala permasalahan, perasaan dan persepsinya, dan konselor merefleksikan segala yang diungkapkan oleh klien.
    Agar peran ini dapat dipertahankan dan tujuan konseling dapat dicapai, maka konselor perlu menciptakan iklim atau kondisi yang mampu menumbuhkan hubungan konseling. Kondisi konseling ini menurut Rogers (1961) satu keharusan dan cukup memadai untuk pertumbuhan, sehingga dia menyebutnya sebagai necessary and sufficient conditions for therapeutic change. Kondisi-kondisi yang perlu diciptakan itu adalah sebagai berikut:
1.    Konselor dan klien berada dalam hubungan psikologis.
2.    Klien adalah orang yang mengalami kecemasan, penderitaan, dan ketidakseimbangan.
3.    Konselor adalah benar-benar dirinya sejati dalam berhubungan dengan klien.
4.    Konselor merasa atau menunjukkan unconditional positive regard untuk klien.
5.    Konselor  menunjukkan rasa empati dan memahami tentang kerangka acuan klien dan memberitahukan pemahamanya kepada klien.
6.    Klien menyadari (setidaknya pada tingkat minimal) usaha konselor yang menunjukkan sikap empatik berkomunikasi dan unconditioning positive regard kepada klien.
Kontak psikologis, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rogers terjadi ketika dua orang berinteraksi. Setiap orang mencapai kesadaran yang berbeda dalam lapangan pengalaman dari yang lain.

Jumat, 16 Juli 2010

Ekonomi DalamPerspektif Psikologi

EKONOMI
Dalam Perspektif Psikologi

Dosen pembimbing :
Fathul Lubabin Nuqul M.Si

Oleh:
Ahmad Faiz Guzairi             06410099.

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
FAKULTAS PSIKOLOGI
April 2008
Sebuah Renungan Kecil.
Ekonomi siapa juga yang tidak kenal dengan istilah tersebut,berbicara tentang ekonomi pasti yang terbayang adalah sebuah hubungan yang sangat erat dengan Uang ya meskipun notabene yang terjadi tidaklah demikian keadaannya.Sebuah Negara yang makmur sekalipun jika ekonomi tergunjang dan labil yang terjadi adalah sebuah ketidak stabilan pada banyak aspek yang runtutanya adalah berkepanjangan bisa di contohkan moneter, ya kata itu sudah akrab di telianga kiat sejak 1998 yang lalu,momok yang sampai saat ini menjadi “teman”yang selalu mengiringi langkah setiap warga Negara yang baik ataupun yang tidak sadar bahwa masih memiliki Negara! Ironis memang teman yang kita ajak jalani hidup ini adalah sebuah krisis ekonomi dengan antek anteknya.Bukan hanya koloni belanda saja yang memiliki antek tapi benda yang tak terlihat inipun juga memiliki antek yang tak kalah kejamnya dengan belanda yang pernah menjajah negeri kita kurang  lebih 350 tahun.antek-antek dari krisis ekonomi adalah berkenaan dengan masalah psikologis pada setiap orang yang negaranya terkena dampak dari krisis ekonomi.Begitu besarkah sebuah pengaruh yang di timbulkan oleh “mahluk” bernama ekonomi ini ?
Sebelum berbicara tentang manusia yang memiliki begitu banyak “need”salah satunya adalah kebutuhan untuk bertahan hidup dan memiliki kenyamanan dalam menjalani hidup.ekonomi adalah di katakan sebuah yang bisa menopang kebutuhan fisik yang hanya kebanyakan di peroleh dengan stabilitas ekonomi baik ekonomi pada dirinya maupun negaranya.
Ekonomi yang makmur dalam setiap negara adalah seperti tonggak yang dapat menopang yang sebuah gedung yang sangat besar.ekonomi pada sebuah negara yang maju,berkembangan dan tertinggal sekalipun adalah sebuah prasyarat yang mutlak bagi negara dalam mencapai pembangunan.dalam tatanan negara terkadang kestabilan meskipun tidak hanya faktor ekonomi saja yang akan membuat sebuah negara maju.
Jika di kaitkan dengan aspek yang sangat manusiawi sekali “need” yang ada pada manusia sangat besar adalah kebutuhan fisik dan itu tidak lepas dari ekonomi dan pembagian-pembagianya.seperinya ekomomi masuk dalam lini yang berhubungan dengan aspek manusia tentang kebutuhan fisiknya dan itu yang membuat kenapa krisis ekonomi yang terjadi berpengaruh besar dalam tatanan kehidupan manusia.
Uang mungkin adalah segalanya menurut sebagian orang,karna dengan uang kita bisa mewujudkan apa yang kita inginkan.kini dalam zaman yang makin complicated ini semuanya di hadapkan bagaimana pikiran dan konsentrasi kita di arahkan untuk dapat bersaing dalam masalah keuangan.secara psikologis orang cenderung untuk lebih mempercayai tentang standart ekonomi untuk sebuah status seseorang maupun dalam hal lain mungkin di karnakan adalah ekonomi bisa berbentuk “nyata” dengan kekayaan yang di miliki.
Pembahasan yang sangat menarik jika dalam konstek kesinambungan antara konsep kebutuhan yang jelas jika ekonomi mewakili kebutuhan fisik dan psikologi berbicara fisik maupun psikis.perbincangan ini nyata ada dalam kehidupan kita sehari-hari dan kita sudah banyak tahu tentang dua konsep tersebut akan tetapi pertanyaan yang tampak adalah kenapa ekonomi yang tidak stabil membuat begitu banyak masalah yang timbul baik itu msalh fisik atau psikis?
Dari malakah yang kita susun di sana ada hubungan langsung akan tetapi tidak tampak yaitu bagai mana proses sebuah krisis yang menjalar pada krisis-krisis yang lain.multi krisis yang terjadi di negara kita ini adalah salah satu penyebabnya adalah  dari krisis ekonomi yang mana sosial dan budaya bangsa sudah tidak lagi menjadi acuan bagi masayarakat akan tetapi mereka sibuk dengan “perut”mereka hingga mereka lak lagi mau peduli dengan sesama yang di sebut “mati rasa”.sepertinya tidak ada lagi kepercayaan pada pemimpin,sesama,krisis moral dan lain sebagainya semua ini adalah bentuk dari dampak ekonomi yang tidak stabil akan tetapi bukan hanya faktor ekonomi saja tentunya.
Multi krisis yang terjadi hingga saat ini adalah menjadikan tatanan dalam sebuah sistem baik masyarakat ataupun negara sepertinya menyerukan pada aspek individualisme dan mereka cenderung lebih bersifat hedonisme,alangakah ironis memang ketika ekonomi di negara yang berkembang menjadikan sebuah negara itu seperti terkatung-katung untuk mengejar kemakmuran.Siapa yang patut di salahkan tentang ini semua dan kita harus memulainya dari mana tentang tatanan yang baru agar pemikiran kita tidak serta merta adalah ekonomi yang di pertahan kan?


Binekha tunggal ika,semboyan yang kita kenal dari waktu kita sekolah dasar tentang persatuan kesatuan yang meski kita tidak tahu arti sebenarnya dari semboyan yang di karang oleh Mpu Tantular tersebut dan juga kita tidak pernah tahu tentang kayanya negeri kita, besarnya potensi alam kita,dan begitu hebatnya kita dan yang jelas kita hanya tahu bahwa kita itu satu negara yaitu indonesia.
Prolog di atas mengingatkan saya tentang masa di mana semua masih bisa “bernyanyi” begitu juga alam yang saya tinggali di bumi ini.dulu ketika beras dan sembilan bahan pokok yang paling di butuhkan masyarakat dengan harga yang sangat murah untuk ukuran sekarang pesta tahunan di desa masih di adakan dengan berbagai macam hasil padi yang di panen meski saya hanya ingat sebagian tentang memori itu yang hanya bisa melihat terang di siang hari pada masa itu.akan tepati tidak ada masyrakat seperi yang saya lihat saat ini mereka kini makin tidak peduli dengan sesama yang saya pikir mereka sedikit iri dengan kemakmuran yang lebih dari para tetangga yang sedikit lebih beruntung ekonominya dari pada diri mereka yang kurang mampu.
Motivasi muncul disana untuk maju dan memiliki kehidupan yang layak dengan ekonomi yang makmur akan tetapi terkadang mereka lera untuk tidak peduli lagi dengan sosial,budaya dan pergeseran nilai yang mungkin akan segera punah di akibatkan oleh kesenjangan Ekonomi.
Mungkin indonesia di bangun berdasarkan prinsip kemakmuran ekonomi oleh pemimpinya dan kesalahan yang besar terjadi adalah ketika ekonomi tidak tercapai pada taraf yang baik maka yang terjadi adalah separti yang terjadi sekarang di bangsa kita ini yati subuah krisis ekonomi yang berdampak pada multi krisis yang lain.bisa kta bandingkan dengan negara tetangga contoh malaysia,negara itu membangun konsep masyarakatnya dengan konsep Pendidikan yang harus di kedepankan wsalah satu keuntungan yang di dapat adalah jika pendidikan itu tidak terbentuk secara baik maka dampak yang di timbulkan tidak separah konsep ekonomi akan tetapi karna keilmuan adalah sebuah konsep tertinggi maka secara tidak langsung terjadi sebuah peradapan yang akan berdampak pada tatanan masyarakat yang memiliki pandangan lebiha baik dan lebih siap dalam segala bidang serta lebih bisa berfikir tentang segala sesuatu tidak di kaitkan dengan hanya berfikir hedonisme.
Kembali pada krisis ekonomi yang terjadi pada bangsa ini.sebegitu parahkah yang terjadi di dalam kehidupan ini tentang dampak dari krisis ekonomi tersebut sehingga menimbulkan masalah-masalah baru yang makin memperpanjang burukya tatana negara kita? Sehingga mungkin penyebab utama dari banyaknya korupsi yang terjadi adalah karna krisis moral yang ada pada diri masing-masing pemimpin kita dan itu di sebabkan oleh takut akan Ekonominya  menjadi lemah dan jetu miskin?sangat relefan jika kris moral yang di sebakan oleh faktor luar beruapa ketakutan pada tidak stabilnya ekonomi maka yang harus di buat indikatora adalah moral.yaitu berupa bagian dari psikis dan ini adalaha sngat berhubungan sekali dengan psikologi sehingga mungkin dari ketakutan akan lemahnya ekonomi tersebut bisa di atasi dengan cara penanaman sebuah konsep psikologi baik itu psikologi islam ataupun psikologi barat maka yang bisa di harapkan adalah tentang bagaimana krisis ini setidaknya agar lebih berpatokan pada yang fisik saja sehingga tatanan masyarakat tidak kehilangan seluruh aspek fisik maupun psikis dan dari sini mungkin lambatlaun akan hilang krisis multi dimesi menju krisis ekonomi saja dan apabila krisis yang lain sudah tidak ada dalam artian ego sentris masing-masing baik pemimpin atau rakyatnya peduli ingin memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya maka akan berangsur masalah ekonomi menjadi satbil yang akan membuat satu negara berada pada posisi yang tertinggi tentang tatanan sebuah peradapan yang maju.


“Mungkin renungan kecil dari analisis yang semrawut ini akan mengajarkan kita
dan khususnya pada diri saya sendiri agar tidak “mati rasa”
di karnakan makin terhimpitnya masalah
tentang krisis ekonomi dan krisis multi dimensi
ada pada sebuah do’a saya yang tersayup ketika saya ingin
membuat sebuah tatanan masyarakat dengan konsep keilmuan
agar kelak dalam memadang hidup ini lebih bermakna jika di pandang dari segi keilmuan”.

Rabu, 14 Juli 2010

Ruang Diskusi

Ruang Diskusi
Dalam ruang ini, mengajak temen-temen untuk berdiskusi bersama tentang semua hal yang berkaitan dengan psikologi ataupun semua permasalahan hidup teman-teman.



Selasa, 13 Juli 2010

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL


Perkembangan Psikososial Bayi
Oleh:
Neni Prasetyani, Muhammad Velix, Sri Winarti, Mifta Faridz Verian A., Amaliyah Fatmala, Ulfa Kurniawati, 

I. PENDAHULUAN
Masa bayi merupakan masa awal kehidupan manusia. Perkembangan masa bayi sangat mempengaruhi dasar dari perilaku individu di kehidupan selanjutnya. Untuk itu sangat perlu diperhatikan, sehingga selain penulis menyampaikan tugas yang menjadi amanah dosen, penulis berkesempatan untuk mengetahui perkembangan sosio-emosional yang dalam hal ini sangat bermanfaat bagi kita semua.
Dalam perkembangan sosio-emosi, khususnya pada masa bayi, memiliki hubungan dengan perihal keterikatan (attachment), otonomi bayi, perkembangan psikososial, temperamen, perkembangan rasa percaya, peran ayah sebagai pengasuh anak, tempat pengasuhan anak (day care), dan emosi yang akan dibahas kali ini.

II. PEMBAHASAN/ANALISIS
PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
Perkembangan psikososial bayi dimulai pada usia 1-2 bulan memperlihatkan rasa senang-nyaman berdekatan dengan orang yang dikenal, usia 4-7 bulan memberikan respon emosional terhadap kontak sosial, dan usia 9-10 bulan mulai lepas dari pengasuhnya karena sudah dapat merangkak atau meraih sesuatu. Usia 1 tahun tampak interaktif rasa aman dengan ibu atau pengasuhnya dan usia 2 tahun mulai mengikuti perbuatan.
Adanya gangguan psikososial ini kemungkinan dapat memperkirakan apakah anak akan cendrung menjadi pendiam atau hiperaktif. Adanya gangguan ini perlu mendapatkan perhatian orang tua, karena biasanya berhubungan dengan gangguan lainnya seperti hiperaktif dengan terlambat bicara.
Sebelumnya kita telah membahas tentang teori-teori dalam psikologi perkembangan. Salah satunya terdapat teori psikososial erikson, yang menyatakan bahwa kepribadian terbentuk ketika seseorang melewati tahap psikososial seumur hidupnya. Dimana masing-masing tahap memiliki tugas perkembangan tang khas,dan mengharuskan individu menhadapi dan menyelesaikan krisis yang di alami. Sedangkan perkembangan psikososial berhubungan dengan perubahan-perubahan perasaan atau emosi dan kepribadian srta perubahan dalam bagaimana individu berhubungan dengan oranglain (adaptasi dengan lingkungan)
Perkembangan psikososial masa bayi juga berhubungan dengan perubahan-perubahan perasaan atau emosi dan kepribadian dalam berhungan dengan oranglain. Meskipun dalam pemenuhan kebutuhannya bayi sangat tergantung pada ibunya atau pengasuhnya. Namun, bukan berarti bayi tersebut aktif, dia juga mengalami prubahan-perubahan dari pengalamannya sejak lahir. Sehingga, semakin bertambah dan berpartisipasi aktif dalam perkembangan psikososialnya sendiri, mengamati, serta berinteraksi dengan orang-oran disekitarnya.
Sebagai bayi yang sedang tumbuh lebih dewasa, dia memiliki kedekatan dan keterkaitan emosional denga orang-orang yang peting dalam hidupnya. Bayi juga berpartisipasi dalam menjalin huungan dengan cara-cara yang halus. Lebih dari itu, bayi juga menyatakan perasaan atau kebutuhannya dengan cara-cara yang membigungkan
Perilaku demikian menunjukakan adanya dua tema utama dalam perkembangan psikosial selama masa bayi, yaitu keprcayaan dan otonomi. Bayi mempelajari apa yang di harapkan dari orang-orang yang penting dalam hidupnya. Mereka mengembangkan suatu perasaan mengenai siapa yang mereka senangi dan makanan apa yang di senangi serta yang tidak disenangi.
PERKEMBANGAN EMOSI
Emosi adalah perasaan atau afeksi yang melibatkan gejolak fisiologis dan perilaku yang tampak sekaligus. Emosi pun diklasifikasi menjadi dua yaitu, afektifitas positif (antusiasme, kegembiraan, kesabaran, dan ketenangan) dan afektifitas negatif (kecemasan, kemarahan, rasa bersalah, dan kesedihan). Sedangkan, yang dinamakan dengan emosionalitas pada perangai bayi adalah kecenderungan untuk mengalami kesulitan (distressed).
Dalam perkembangan anak, emosi memiliki peranan-peranan tertentu, seperti, media untuk penyesuaian diri dan mempertahankan kelangsungan hidup (adaptation&survival). Emosi pun memiliki fungsi sebagai media pengaturan diri (regulation). Dan juga berfungsi sebagai media komunikasi.
Gejala awal perilaku emosional adalah keterangsangan umum terhadap stimulus yang kuat. Keterangsangan berlebih-lebihan tampak dalam aktivitas yang banyak pada bayi yang baru lahir. Meski begitu, reaksi emosional pada bayi yang masih dalam periode neo natal, kurang spesifik, karena hanya menampakan reaksi terhadap kesenangan dan ketidak senangan. Seiring pertambahan usianya, ekspresi emosional bayi sekitar satu tahun, telah menyerupai ekspresi yang ditampakkan oleh orang dewasa.
Biasanya, emosi pada bayi hanya ditunjukkan dengan menangis dan tersenyum, karena kedua hal itu adalah mekanisme yang terpenting untuk mengembangkan komunikasi bayi tersebut.
Para ahli telah lama mempercayai bahwa kemampuan untuk berkreasi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir seperti menangis, tersenyum, dan frustasi, bahkan beberapa peneliti percaya bahwa beberapa minggu setelah lahir bayi dapat memperlihatkan bermacam-macam ekspresi dari semua emosi dasar termaksud kebahagiaan, perhatian, keheranan, kemarahan, ketakutan, kesedihan, dan kemuakan sesuai dengan situasinya untuk mengetahuinya apakah bayi benar-benar mengekspresikan emosi tertentu, Carroll Izord (1982) mengembangkan suatu sistem pengkaderan ekspresi wajah bayi yang berkaitan dengan emosi tertentu yang dikenal dengan maximally discrimunative facial movement coding system, berdasarkan sistem klasifikasi Izord,diketahui beberapa ekspresi emosi selama masa bayi, yaitu :
Perkembangan Emosi bayi
Umur
Umur ekspresi emosi
0 – 1 bulan
3 bulan
3 – 4 bulan
4 bulan
4 – 7 bulan
5 – 9 bulan
18 bulan

Senyuman sosial
Senyuman kesenangan
Kehati-hatian
Kelurahan
Kegembiraan, kemarahan
Ketakutan
malu

Ekspresi berbagai emosi tersebut mempunyai pesanan yang sangat penting bagi perkembangan anak. Brethertun et al (1981) menyebutkan 3 fungsi utama ekspresi emosi bayi,yaitu adaptasi dan kelangsungan hidup,regulasi.komunikasi
Fungsi penyesuaian diri dan kelngsungan hidup berbagai ketakutan adalah bersifat adaptif, karena ada kaitan yang jelas antara gejolak perasaan dengan kemungkinan bahaya.fungsi pengaturan,yaitu berkaitan dengan emosi yang mempengaruhi informasi yang di seleksi anak-anak dari dunia presepsi dan prilaku yang diperlihatkan.kemudian yang berkaitan dengan fungsi komunikasi, anak-anak menggunakan emosi untuk menginformasikan pada orang lain tentang perasaan dan kebutuhan-kebutuhannya.
Menurut Wasz-Hockert dan kawan-kawan (1968), bayi memiliki tiga jenis tangisan yaitu tangisan dasar atau basic cry (ketika menunjukan rasa lapar), tangisan marah atau anger cry (variasi basic cry yang menunjukan kegusaran), dan tangisan sakit atau pain cry (tangisan merintih yang butuh upaya menarik nafas cukup lama dan menunjukan rasa sakit).
Menurut Emde, Gaensbauer, dan Harmon (1976), bayi memiliki dua tipe senyuman yaitu senyum refleksi atau reflexive smile (bukan karena rangsang luar) dan senyum sosial atau social smile (respon atas stimulus).
PERKEMBANGAN TEMPERAMEN.
Temperamen merupakan sebuah aspek karakter yang menyelubungi seseorang secara umum, yang dibentuk oleh kecenderungan-kecenderungan pola-pola khusus reaksi emosional, perubahan suasana hati, dan tingkat kepekaan yang dihasilkan rangsangan. Temperamen juga bisa dilihat sebagai reaksi seseorang terhadap respon lingkungannya. Temperamen umumnya diperoleh seseorang melalui orang tuanya dengan cara diturunkan, juga dipengaruhi lingkungan sekitar.
Goleman (1995) :
The moods that typify our emotional life”
Baltes (1998) :
an individual’s behavioral style and characteristic way of responding”
Seifert dan Hoffnung (1994) :
temperament refers to individual differences in responsivensess and self regulation that are present at birth, are relatively stable and enduring over time and cross situation, and influenced by the interction of heredity, maturation and experience”
Jadi Tempramen adalah : Perbedaan kualitas dan intensitas respons emotional serta pengaturan diri yang memunculkan perilaku individual yang terlihat sejak lahir, yang relatif stabil dan menetap dari waktu ke waktu dan pada semua situasi yang dipengaruhi oleh interaksi antara pembawaan, kematangan, dan pengalaman
Beberapa bayi sangat aktif menggerakkan tangan, kai dan mulutnya tanpa henti-hentinya, tetapi bayi lain terlihat sangat tenang. Sebagian bayi merespons dengan hangat kepada orang lain cerewet, rewel dan susah diatur. Semua gaya perilaku ini merupakan tempramen seorang bayi.
Alexander Tomas dan Stella Chess mengklasifikasikan tempramen atas tiga pola dasar :



  • Pertama : Bayi yang bertempramen sedang (easy babies), menunjukkan suasana hati yang lebih positif, keteraturan fungsi tubuh dan mudah beradaptasi dengan situasi baru.



  • Kedua : Bayi yang bertempramen tinggi (difficult babies), memperlihatkan suasana hati yang negatif, fungsi-fungsi tubuh tidak teratur, dan stres dalam menghadapi situasi baru.



  • Ketiga : Anak yang bertempramen rendah (slow to warm up babies) memiliki tingkat yang rendah dan secara reletif tidak dapat menyesuaikan diri dengan pengalaman baru, suka murung serta memperlihatkan intensitas suasana hati yang rendah (Thomas & chess, 1977)
Konsistensi tempramen ini ditentukan oleh faktor keturunan, kematangan dan pengalaman, terutama pola pengasuhan orang tua.
Menurut http://theangel.wordpress.com/2008/09/20/kenali-temperamen-bayi-anda/temperamen bayi diklasifikasikan sebagai berikut :



  • Pendiam
Bayi yang digolongkan ke dalam temperamen pendiam tidak terlalu banyak tingkah, sangat kalem. Ia tidak sulit untuk disuapi atau dimandikan. Jika menangis, ia mudah sekali ditenangkan. Memiliki bayi yang bertemperamen seperti ini menyenangkan namun umumnya lambat dalam tahap perkembangannya dibandingkan bayi-bayi lainnya. Cara yang baik dalam mengasuh bayi berjenis temperamen ini adalah orang tua hendaknya memberikan stimulasi berupa nyanyian, cerita, ataupun mainan yang dapat merangsang gerak motoriknya.



  • Aktif
Bayi yang memiliki jenis temperamen ini, begitu terlihat aktif sejak ia bangun hingga menjelang tidur. Mereka hanya perlu sedikit tidur, lalu energinya kan penuh seperti semula. Ia akan memainkan semua hal yang menarik perhatiannya, dan menjadi rewel jika ia merasa bosan. Bayi yang memiliki temperamen seperti ini umumnya memiliki kematangan fisik di atas bayi-bayi seusianya. Karena sulit dilarang untuk melakukan suatu kegiatan, cara pengasuhan yang baik adalah dengan membuat lingkungan yang aman untuk dijelajahi.



  • Tergantung
Keadaan bayi tergantung pada kehadiran orang lain. Ia protes apabila orang tuanya meletakkannya dalam box sendirian. Semua aktifitas akan dilakukannya dengan mudah jika ada orang di dekatnya, apalagi orang tua. Sepanjang ada yang menemani, maka ia akan makan, main, atau tidur dengan mudah. Namun jika bayi berjenis temperamen ini tidak melihat seseorang disampingnya, ia akan rewel. Cara yang baik dalam mengasuhnya adalah dengan membuat bayi yang memiliki temperamen ini menjadi mandiri, sehingga ia dapat berpisah dengan orang tuanya dengan intensitas yang sering. Meski awalnya ia akan rewel, namun ia akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan orang yang menggantikan posisi orang tua dalam merawatnya.



  • Ceria
Bayi dengan jenis temperamen ini mudah dibedakan dari bayi-bayi lainnya karena ia memiliki ekspresi yang selalu tersenyum dan tertawa. Jika melihat orang lain, bayi yang memiliki temperamen seperti ini umumnya akan menggerakkan tangan dan kakinya, seolah-olah hendak menyapa. Bayi ini umumnya akan tumbuh menjadi anak yang mudah bergaul dan disenangi teman-temannya. Untuk mengimbanginya, cara yang baik dalam mengasuh bayi jenis ini adalah dengan memperkenalkan bayi pada kegiatan yang lebih tenang, misalnya mendengarkan musik sendirian, agar ia terbiasa sendiri.



  • Tahu yang ia mau
Bayi seperti ini umumnya tahu benar apa yang diinginkannya, bahkan sejak bayi dilahirkan. Jika bayi tidak ingin tidur, orang tua kesulitan menidurkannya. Begitu pula dengan aktivitas yang tidak diinginkannya. Jika orang tua memaksanya, ia akan rewel (memprotes) berjam-jam tanpa lelah. Untungnya, bayi ini biasanya ketika tumbuh berubah menjadi anak yang lebih mudah berkomunikasi dan bernegosiasi. Ketika ia masih bayi, cara yang baik dalam mengasuhnya adalah dengan orang tua dituntut mengenali kebutuhan dan memberikan rutinitas yang sama setiap harinya. Kegiatan yang terprediksi dari waktu ke waktu dangat dibutuhkan untuk mengimbangi kebutuhannya.
PERKEMBANGAN ATTACHMENT
Bayi yang baru lahir telah memiliki perasaan sosial untuk berinteraksi dan melakukan penyesuaian sosial terhadap orang lain. Oleh sebab itu, tidak heran kalau bayi dalam semua kebudayaan mengembangkan kontak dan ikatan sosial yang kuat dengan orang yang mengasuhnya, terutama ibunya.
Kontak sosial pertama bayi dengan pengasuhnya ini diperkirakan mulai terjadi pada usia 2 bulan, yaitu pada saat bayi mulai tersenyum ketika memandang wajah ibunya dan hal itu untuk memperkukuh hubungan ibu dan anak. Perkembangan awal kontak sosial pada bayi ini merupakan dasar bagi pembentukan hubungan sosial di kemudian hari.
Pada usia 8 bulan, muncul “objek permanen” bersamaam dengan kekhawatiran terhadap orang yang tidak di kenal, yang disebut stranger anciety. Pada masa ini bayi mulai memperlihatkan reaksi ketika didekati olehorang yang tidak dikenalnya. Setelah usia 8 bulan, seorang bayi dapat membentuk gambaran mental tentang orang- orang atau keadaan, yang disebut skema . pada usia 12 bulan umumnya bayi melekat erat pada orang tuanya ketika ketakutan atau mengira akan ditinggalkan. Ketika mereka bersama kembali, mereka akan mengumbar senyuman dan memeluk orang tuanya, perasaan cinta antara bayi dan ibu ini disebut dengan attachment.
Attachment adalah sebuah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh J. Bowlby tahun 1958 untuk menggambarkan pertalian atau ikatan antara ibu dan anak. Kebanyakan ahli psikologi perkembangan mempercayai bahwa attachment pada bayi merupakan dasar utama bagi pembentukan kehidupan sosial anak di kemudian hari. Menurut J. Bowlby, pentingnya attachment dalam tahun pertama kehidupan bayi adalah karena bayi dan ibunya secara naluriah memiliki keinginan untuk membentuk suatu katerikatan. Ada 4 tahap perkembangan attachment pada bayi :



  1. Tahap indiscriminate sosibility (0-2 bulan),
Bayi tidak membedakan antara orang- orang dan merasa senang dengan atau menerima dengan senang orang yang dikenal dan yang tidak dikenal.



  1. Tahap attachment is the makin (2-7 bulan),
Bayi mulai mengakui dan menyukai orang-orang yang dikenal, tersenyum pada orang yang lebih dikenal.



  1. Tahap specific, clear-cut attachment (7-24 bulan),
Bayi telah mengembangkan keterikatan dengan ibu atau pengasuh pertama lainnya dan akan berusaha untuk senantiasa dekat dengannya, akan menangis ketika berpisah dengannya.



  1. Tahap goal-coordination partenerships (24- seterusnya)
Bayi merasa lebih aman dalam berhubungan dengan pengasuh pertama, bayi tidak merasa sedih selama berpisah dengan ibunya atau pengasuh pertamanya dalam jangka waktu yang lama.

Kegagalan membentuk keterikatan dengan sesorang atau beberapa orang pada tahun pertama kehidupannya, akan berakibat ketidakmampuan mempererat hubungan sosial yang akrab pada masa dewasa. Penelitian Baltes dan rekan-rekannya juga menunjukkan bahwa ibu-ibu yang diperkenankan berinteraksi segera setelah dia melahirkan anaknya, ternyata di kemudian hari jarang ditemui persoalan- persoalan, seperti ibu yang melalaikan anak, menyiksa atau pergi meninggalkan anak.
Sejumlah peneliti berkesimpulan bahwa semua bayi terikat pada ibunya dalam tahun pertama. Akan tetapi kualitas ikatan tersebut berbeda-beda, sesuai dengan tingkat respon ibu terhadap kebutuhan mereka. Ainswoth (1979) membedakan keterikatan bayi atas dua bentuk, yaitu keterikatan yang aman (secure attachment) dan keterikatan yang tidak aman (insecure attachment).
PERKEMBANGAN RASA PERCAYA
Menurut Erik Erikson (1968), pada tahun pertama (bayi usia 1-2 bulan) kehidupan ditandai dengan adanya tahap perkembangan rasa percaya dan rasa tidak percaya. Erikson meyakini bayi dapat mempelajari rasa percaya apabila mereka diasuh dengan cara yang konsisten. Rasa tidak percaya dapat muncul apabila bayi tidak mendapatkan perlakuan yang baik. Gagasannya tersebut banyak persamaanya dengan konsep Ainsworth tentang keterikatan yang aman ( secure attachment).
Rasa percaya dan tidak percaya tidak muncul hanya pada tahun pertama kehidupan saja. Tetapi rasa tersebut muncul lagi pada tahap perkembangan selanjutnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat anak-anak memasuki sekolah dengan rasa percaya dan tidak percaya dapat mempercayai guru tertentu yang banyak memberikan waktu baginya sehingga membuatnya sebagai orang yang dapat dipercayai. Pada kesempatan kedua ini , anak mengatasi rasa tidak percaya sebalumnya. Sebaliknya, anak-anak yang meninggalkan masa bayi dengan rasa percaya pasti pada tahap selanjutnya masih dapat memiliki rasa tidak percaya, yang mungkin terjadi karena adanya konflik atau perceraian kedua orang tua nya. Erikson menekankan bahwa tahun kedua kehidupan ditandai oleh tahap otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu.
Ketika bayi baru lahir, maka dapat tahapan sampai bayi berusia dua bulan sebagai berikut:



  • Bayi 0-1 bulan
Kelekatan hanya bisa tercipta jikalau orang tua mengenal bayi dan mengurus sendiri bayi sejak awalnya. Jika orang tua sedang menantikan kelahiran bayi pertama, lebih baik untuk memilih lahir normal (jika memungkinkan). Sekalipun kedengarannya lebih mengerikan dibandingkan dengan operasi, kelahiran normal memberikan memory tersendiri antara anda-suami-anak. Memory itu dapat mempererat hubungan orang tua. Dalam tahap ini, orang tua utamanya ibu lebih baik memilih tidur sekamar dengan bayi. Keberadaan ayah di tengah malam juga sangat menolong. (bread feeding father)



  • Bayi 1-2 bulan
Sekitar usia 6 minggu, sistem penglihatan bayi sudah mulai berkembang. Pada level ini, bayi mulai memasuki level interaksi sosialnya. Ia mulai menatap wajah ibu dan mulai membesarkan matanya. Pada saat inilah untuk pertama kalinya ibu merasa si bayi memandangi wajahnya dan mulai berinteraksi lebih hangat lagi dengan si bayi.
Bagi orang tua hendaknya memberikan mainan yang berbunyi di dekat mata bayi dan gerakan dari kiri ke kanan dan sebaliknya, jauh - dekat, dan sebaliknya. Hal ini dapat melatih penglihatan bayi. Pada waktu usia 2 bulan, orang tua akan menemukan bayi tersenyum manis didepannya. Bukan lagi senyum refleks pada saat tidur, tapi senyum yang memancing respond anda untuk membuatnya tersenyum lebih lebar. Pada saat inilah orang tua mengetahui bahwa tiba saatnya perannya dibutuhkan untuk mulai pendidikan sosial bagi bayi. Sekalipun pada usia ini senyumannya belum terarah kepada orang tertentu (karena keterbatasan penglihatan), stimulasi orang tua sangatlah dibutuhkan. Pada saat bayi tersenyum, orang tua hendaknya memberikan respon dengan mengajak berbicara, tersenyum kembali, atau menggelitik dagunya. Bayi akan tersenyum kembali, kadang lebih lebar atau bahkan tertawa dan mengeluarkan suara. Respon bayi ini akan mendorong orang tua untuk memberikan stimulasi kembali. Maka terjadilah interaksi atau komunikasi yang sederhana antara bayi dengan orang tua. Diketemukan bahwa interaksi seperti ini mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak. Anak-anak yang mencapai nilai tinggi dalam test intelegensi telah mendapatkan stimulasi yang baik dari orang tua ketika mereka masih bayi: orang tua mengajak berbicara, tersenyum, bermain, mendengarkan, meniru, dan memberikan respon yang konstan kepada senyuman bayi.
Pada usia 2 bulan bayi akan menggapaikan tangannya di hadapan mukanya. Pada saat seperti itu orang tua dapat membiarkannya sendiri di baby box dan pergi mengerjakan hal-hal lain.
PERKEMBANGAN OTONOMI
Menurut Chaplin (2002)
Otonomi adalah kebebasan individu manusia untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai, dan menentukan dirinya sendiri.
Sedangkan menurut Seifert dan Hoffnung (1994)
The ability to govern and regulate one’s own thoughts, feeling, and action freely and responsibly while overcoming feelings of shame and doubt. (Kemampuan untuk memerintah dan mengatur pikiran sendiri, perasaan, dan tindakan bebas dan bertanggung jawab sementara mengatasi perasaan malu dan ragu.red)
Menurut Erikson
Otonomi (Kemandirian) merupakan tahap kedua perkembangan psikososial yang berlangsung pada akhir masa bayi dan baru berjalan.
Otonomi dibangun diatas perkembangan kemampuan mental dan kemampuan motorik. Pada tahap ini bayi tidak hanya dapat berjalan tetapi mereka juga dapat memanjat, membuka dan menutup, menjatuhkan, menolak dan menarik, memegang dan melepas. Bayi merasa bangga dengan prestasi ini dan ingin melakukannya dengan sendiri. Penting bagi orang tua untuk mengenal motivasi balita berjalan untuk melakukan apa yang dapat mereka lakuan sesuai dengan kemampuan. Mereka dapat belajar mengendalikan otot dan dorongan keinginan mereka sendiri. Dengan demikian, setelah memperoleh kepercayaan bayi mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah milik mereka sendiri dan menyatakan rasa mandiri (otonomi).
Dalam tahap ini, orang tua selalu memberikan dorongan kepada anak agar dapat melatih kemampuan, sebaliknya jika orang tua cenderung menuntut terlalu banyak atau membatasi untuk menyelidiki lingkungan, maka anak akan mengembangkan rasa malu dan ragu tentang kemampuan mereka untuk mengendalikan diri sendiri dan dunia mereka.
Erikson yakin bahwa tahap Otonomi versus rasa malu dan ragu memiliki implikasi yang penting bagi perkembangan kemandirian dan identitas selama masa remaja. Perkembangan otonomi selama tahun balita memberi remaja dorongan untuk menjadi individu yang mandiri, yang dapat memiliki dan menentukan masa depan mereka sendiri.
PENGASUHAN OLEH AYAH
Pengamatan yang diadakan Parke dan Sawin (1980) menunjukan bahwa seorang ayah mampu untuk bertindak responsif terhadap bayinya. Seorang laki-laki dewasa secara kompeten dapat mengasuh bayi dengan aktif, berinteraksi dengan baik, dan juga sabar.
Berbeda dari interaksi bayi dengan ibu yang biasanya berada dalam lingkup pengasuhan (mengganti popok dan memberi makan), interaksi bayi dengan ayah cenderung berada dalam lingkup aktivitas permainan fisik (melambungkan bayi dan menggelitik).
Michael Lamb mengadakan investigasi (1977) yang membuktikan bahwa bayi, terutama yang sedang dalam keadaan stres, cenderung memperlihatkan keterikatan yang kuat dengan ibu mereka.
TEMPAT PENGASUHAN ANAK (DAY CARE)
Day Care atau tempat pengasuhan anak, merupakan sebuah tempat dimana bayi dan balita diasuh sementara di sebuah tempat manakala kedua orang tuanya bekerja atau tidak bisa mengasuhnya sendiri. Banyak pro—kontra atas kehadiran Day Care yang berfungsi untuk mengasuh anak sementara waktu.
Menurut Jay Belsky (1989), pada umumnya Day Care itu berkualitas buruk dan memberikan perkembangan negatif pada anak, seperti yang sering terjadi pada anak Amerika Serikat yang memiliki pengalaman yang ekstensif selama setahun pertama kehidupannya yang menunjukan adanya keterikatan yang tidak aman, meningkatnya agresi, ketidakpatuhan, dan kemungkinan penarikan diri secara sosial ketika sang anak memasuki usia pra sekolah dan awal masa sekolah.
Kesimpulan kontroversional dari Belsky menarik para peneliti lainnya seperti Andersson (1992), serta Broberg, Hwang, dan Chase (1993) untuk menetang pendapatnya yang menganggap Day Care akan berdampak buruk pada anak. Meski begitu, Belsky tetap didukung oleh studi yang dilakukan oleh Vandell dan Corasaniti (1988).
Karena adanya beragam pro—kontra yang terjadi, maka Jerome Kagan, Kearsley, dan Zelazo (1978) mengadakan program percontohan yaitu dengan membangun sebuah Day Care yang terdiri dari seorang dokter anak, seorang direktur pengelola, dan disertai setiap pengasuh yang maksimal menjaga tiga bayi, tak ketinggalan pula ada beberapa asisten pengasuh.
Edward Zigler (1987) pun memberi solusi yang berisi tentang sekolah yang bukan sekedar sebuah lembaga, melainkan tempat dimana terjadi kegiatan belajar-mengajar dan juga menjadi tempat pengasuhan dan pengawasan anak yang kompeten.
III. KESIMPULAN
Dalam perkembangan sosio-emosi pada masa bayi, memiliki hubungan dengan perihal keterikatan (attachment), otonomi bayi, perkembangan psikososial, temperamen, perkembangan rasa percaya, peran ayah sebagai pengasuh anak, tempat pengasuhan anak (day care), dan emosi
Perkembangan sosio-emosi pada bayi menjadi hal penting yang banyak dikaji. Karena beragam hal yang dialami pada masa bayi akan membentuk pola perilaku tertentu dengan efek psikologis tertentu. Perkembangan yang terjadi pada masa bayi mempengaruhi pola perkembangan di tahap berikutnya. Untuk itu hendaklah orang tua yang memiliki bayi, memperhatikan setiap kejadian yang tengah terjadi pada masa tumbuh kembang bayi supaya bayi dapat berkembang menjadi orang yang diharapkan oleh orang tua kelak

DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, Rita L., Richard C. Atkinson, dan Ernest R. Hilgard. 1983. Pengantar Psikologi I, edisi kedelapan. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA
Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan Anak I, edisi keenam. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Santrock, John W. 1983. Life—Span Development : Perkembangan Masa Hidup I, edisi kelima. Jakarta : Penerbit Erlangga.











Senin, 28 Juni 2010

Kampoenk Jenius English 6 Minggu Bisa! di Kota Malang! (Angkatan ke-2)


Kini Kampoenk Jenius English 6 Minggu Bisa!, Hadir di Kota Malang! (Angkatan ke-2)

“For 6 years I learnt English in my school, I never get good score. Even I never understand what the grammar is. When I leant English, I had felt pessimist for learning it because I was not self confident that I could learn it. Before joining in SBS I couldn't make sentence in English. I couldn't speak English in fluently. I couldn't read English well, etc. But after joining in SBS, English became my favorite lecture. SBS gave method to learn English easily. I like the method very much. I can master the grammar (16 tenses) in 30 minutes.” Fitriansyah, mahasiswa Politeknik Pontianak.

“We are changed from zero to hero, like Kungfu Panda movie. Sang Bintang School changed my life”
Brigita Elita, Presenter Ruai TV

“Saya sangat tertarik kepada program Kampoenk Jenius. Ketika mendengar dari teman saya tentang program ini, saya berteriak: Ini yang sejak lama saya tunggu-tunggu!. John Thompson, Pengacara

Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang harus dikuasai oleh mereka yang berniat mengembangkan diri secara maksimal. Namun sayang meski telah bertahun-tahun mempelajari, banyak diantara kita yang tidak mendapatkan apa-apa dari proses belajar bahasa Inggris itu. Ada apa sebenarnya?

Untuk memecahkan masalah itu, Sang Bintang School memberi solusi dengan metode kampoenk jenius. Metode yang mengantarkan para pendirinya meraih penghargaan Pemuda Emas Kalbar(KNPI & LP2ES) tahun 2007, dan kemudian menjadi Juara I dalam kompetisi Wirausaha Muda Mandiri se-Kalimantan tahun 2008 yang diadakan oleh Bank Mandiri. Metode ini telah pula dibukukan dalam buku Wirausaha Muda Mandiri karya Prof. Rhenald Kasali dan buku Keajaiban Belajar karya Yunsirno, salah satu pendiri lembaga ini. Di kampoenk Jenius English 6 Minggu bisa dipelajari sebagai skill bukan sebagai pengetahuan seperti pembelajaran konvensional pada umumnya. Oleh jarena itu belajar bahasa Inggris menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Setelah sukses menggelar 27angkatan Kampoenk Jenius English 6 Minggu Bisa! di Pontianak, kini kami akan memberikan kesepatan kepada warga Malang untuk bergabung bersama kami dengan membuka Kampung Jenius English 6 Minggu Bisa! Angkatan yang ke-dua Di kota Malang. Terbuka untuk Remaja (SMA sederajad) dan dewasa. Hanya dalam 6 minggu, peserta belajar akan dilatih untuk menguasai lebih dari 1000 kosakata, menguasai 16 tenses & grammar, tekhnik berbicara, membaca,mendengar, tekhnik menulis dan presentasi.

Masa pendaftaran 24 juni dan berakhir tanggal 8 juli 2010. Formulir pendaftaran bisa diunduh di http://sbsmalang.blogspot.com atau langsung menghubungi kantor SBS Cab. Malang. Formulir yang sudah diisi bisa dikirimkan ke email kami: sbsmlg@gmail.com atau diserahkan langsung ke kantor Sang Bintang School. Untuk biaya program Kampoenk Jenius 6 Minggu Bisa! adalah sebesar Rp. 1,5 juta jika mendaftar satu orang, Rp. 1,2 Juta jika mendaftar 2 orang dan hanya Rp. 950 ribu untuk pendaftar lebih dari 4 orang. Peserta dibatasi hanya 50 orang untuk satu angkatan.

Anda juga dapat langsung menghubungi Sdr. Erik di telp 0852-3338-2937 dan 0341-9412398 atau datang langsung ke kantor SBS di Lt 2 Ged. Eramedia, jln. Soekarno-Hatta Kav. 1 B Malang. Telp 0341-9412398